Afgans Radithia Zafran harus menikah dengan wanita bernama Alisya, gadis yang tidak dikenal dan merupakan calon pengantin dari adiknya sendiri. Sang adik yang bernama Vincent hilang entah kemana sehari sebelum seharusnya dia menikahi kekasihnya tersebut.
Karena keluarga Afgan sudah mengeluarkan banyak uang untuk acara pernikahan dan undangan pun sudah di sebar, maka terpaksa Afgan menggantikan sang adik.
Satu tahun pernikahan mereka, Vincent tiba-tiba kembali dan meminta kakaknya itu mengembalikan wanita yang seharusnya menjadi istrinya, sementara benih-benih cinta sudah terlanjur hadir di hatinya dan dia sudah bisa menerima Alisya sebagai istrinya.
Seperti apa kisahnya? Mampukan Afgan mempertahankan wanita yang bernama Alisya itu sebagai istrinya? dan apakah istrinya itu masih bisa setia setelah sang adik yang seharusnya menjadi suami gadis itu kembali dan menggoyahkan biduk rumah tangga yang sudah susah payah mereka bangun?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reni t, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Makan Malam Romantis?
Alisya perlahan membuka mata, mengedipkan pelupuknya secara perlahan mencoba menyesuaikan sinar lampu yang menyala di atas langit-langit kamar yang begitu menyilaukan.
Dia pun merentangkan kedua tangannya, membuka mulutnya lebar-lebar dan seketika merasakan hawa dingin menyapu permukaan kulitnya kini, dia pun baru menyadari bahwa tubuhnya masih dalam keadaan polos, setelah itu Alisya kembali meringkuk menutup seluruh tubuhnya dengan selimut tebal.
Sekejap, dia pun kembali memejamkan mata, namun, Alisya pun seketika kembali membuka mata saat dirinya menyadari bahwa sang suami tidak lagi berada di sisinya.
''Hmm ... Abang kemana?'' gumam Alisya. Bangkit lalu duduk dengan menutup bagian depan tubuhnya dengan selimut tebal.
Dia pun menatap sekeliling mencari keberadaan sang suami yang semula tertidur bersamanya itu.
''Abang ...?'' teriak Alisya dengan suara nyaring seperti biasanya.
Ceklek ...
Pintu kamar pun di buka, Afgan sang suami memasukan separuh kepalanya.
''Kamu sudah bangun? cepat mandi, aku tunggu di luar ya ...'' pinta Afgan segera menutup pintu seketika itu juga.
''Tunggu ...''
Alisya kembali berteriak namun, suaminya itu tidak menunjukkan batang hidungnya lagi, membuat Alisya akhirnya hanya bisa mendengus kesal.
''Ish ... Dasar, main tutup-tutup aja.'' Gerutu Alisya bangkit lalu berjalan ke arah kamar mandi.
30 menit kemudian, Alisya pun sudah bersiap dengan dress selutut berwarna hitam, rambutnya yang panjang basah di biarkan tergerai memenuhi punggung, dia pun menambahkan jepit rambut berbentuk hati di bagian sisi rambutnya.
''Hmm ... masih ada yang kurang gak ya?'' gumam Alisya berdiri di depan cermin.
Alisya pun nampak mendekatkan wajahnya ke arah cermin lalu mulai memoles bibir mungilnya dengan lipstik berwarna merah menyala, hingga bibirnya seketika berubah sensual dan terlihat menggoda.
''Aduuuh ... Ko aku lupa, Abang 'kan gak suka kalau aku pakai lipstik warna merah, gimana ini?'' gerutunya lagi berniat untuk menghapus merahnya lipstik di bibirnya.
''Hmm ... tapi kalau di hapus, muka aku belepotan nanti, sayang 'kan udah dandan cantik kayak gini, nanti rusak lagi, heuh ...! biarin deh, kalau gak suka suruh dia aja yang hapus sendiri,'' ucap Alisya masih berbicara sendiri.
Akhirnya, setelah merasa yakin bahwa penampilannya sudah benar-benar sempurna dengan lipstik merah menyala, Alisya pun keluar dari dalam kamar, dia berjalan seraya menatap sekeliling mencari keberadaan suaminya.
''Abang ...? kamu dimana?'' teriak Alisya memekikkan telinga.
''Hey ... Terompet tahun baru, Abang'mu di sini,'' sayup-sayup terdengar suara Afgan dari luar Vila.
Alisya menoleh dan mencari sumber suara, dan mendapati suaminya berada di luar Vila. Keadaan yang memang sudah larut membuat suaminya terlihat samar-samar membuat Alisya harus sedikit mengerutkan keningnya.
''Lagi apa dia malam-malam begini di luar,'' gumam Alisya berjalan menghampiri.
Seketika Alisya pun terkejut dengan apa yang dilihatnya di luar sana, halaman yang tidak terlalu luas itu nampak telah di sulap menjadi begitu ramai dengan balon warna-warni yang dibiarkan tersapu angin malam, jumlahnya yang ratusan memenuhi halaman vila itu membuat tubuh Alisya yang sedang berjalan sedikit tertutup oleh balon warna-warni tersebut.
''Abang ...? apa ini?'' tanya Alisya tersenyum senang dengan mata yang berbinar.
''Hmm ... makan malam romantis.''
''Ini tuh bukan makan malam romantis, tapi pesta ulang tahun, Abang ...'' jawab Alisya terkekeh.
''Emang sengaja, apa kamu lupa hari ini hari apa?''
''Hari Minggu ...''
''Bukan.''
''Terus?''
''Kamu ingat sekarang tanggal berapa?''
''Hmm ...'' Alisya menggelengkan kepalanya.
''Astaga Alisya, otak kamu ini isinya apa si?''
Afgan menggenggam dengan kepala istrinya dengan kedua tangannya lalu mengecup pucuk kepala Alisya dengan sedikit hentakan merasa gemas.
Cup ...
''Abang ... Rambut aku jadi kusut 'kan? jepit rambut aku juga, jadi rusak 'kan?'' rengek Alisya layaknya anak kecil.
''Hmm ... Dasar terompet tahun baru, kalau udah merengek kayak gini, persis kayak anak kecil yang minta di beliin es krim. Sini aku rapiin lagi deh,'' jawab Afgan, mengusap kepala istrinya, lalu membenahi posisi jepit rambut Alisya.
Mata Afgan nampak menatap bibir merah menyala Alisya dengan kening yang dikerutkan dan tersenyum begitu lebar.
''Bibir kamu kenapa? habis makan daging mentah ya?'' ucap Afgan terkekeh menatap tajam bibir yang kini terlihat begitu sensual.
''Abaaaaaang ... Ikh, jahat banget si. Ya udah kalau gak suka, hapus aja sendiri,'' ucap Aliya merengek manja.
''Kata siapa aku gak suka?''
''Itu tadi.''
''Abang 'kan cuma nanya, bibir kamu kenapa? sayang ...''
''Ya udah, hapus kalau gak suka,'' Alisya memejamkan mata, dengan bibir yang dikerucutkan sedemikan rupa.
Tapi bukannya lipstik di bibirnya itu di hapus, kini dia malah mendapatkan kecupan mesra dengan bibir yang dibenamkan sedemikian rupa, membuat Alisya sontak membuka mata lalu tertawa menatap bibir suaminya yang kini nampak merah menyala, karena lipstik yang dikenakannya berpindah kini ke bibirnya.
''Abang ... Ha ... ha ... ha ...'' tawa Alisya terdengar renyah.
''Apa ...?''
''Bibir kamu ...''
''Kenapa ...?''
''Merah tau, ha ... ha ... ha ...'' tawa Alisya, membuat Afgan akhirnya meraih ponsel lalu menatap wajahnya sendiri dari layar ponsel.
''Aduh ... kenapa bibir aku jadi kayak gini, gara-gara kamu nih,'' ucap Afgan mengusap lembut bibirnya.
''Apaan, siapa suruh main cium-cium aja, jadinya gini 'kan? rasain, kalau mau kasih ciuman itu kasih kode dulu, jangan main sosor aja, ha ... ha ... ha ...''
''Kasih kode ...? kayak gini?''
Afgan mengedipkan satu matanya, lalu langsung menyambar buas bibir istrinya itu, melu*atnya sedemikan rupa dengan tangan yang diletakkan di kedua sisi pipi Alisya membuat merahnya lipstik benar-benar berpindah kini ke bibirnya.
''Abang nakal ...'' bisik Alisya sesaat setelah suaminya itu melepaskan ciuman panas tersebut.
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️