Note :
JANGAN PLAGIAT ATAU TAMBAL SULAM!
INGAT AZAB
Carilah Rezeki yang halal dengan mencari ide sendiri.
_
_
Drama percintaan beda usia ✅
Novel yang nggak ada konfliknya ✅ (Tapi Bohong)
Hidup Marsha dan Jeremy berubah seratus delapan puluh derajat. Gara-gara sebuah pakaian berbentuk mirip kacamata alias kutang, mereka terjebak dalam sebuah pernikahan konyol yang sejatinya sudah direncanakan oleh nenek-nenek mereka.
Bagaimana bisa Jeremy seorang CEO tampan nan tajir harus menikahi gadis berumur sembilan belas tahun yang lebih pantas menjadi keponakannya?
"Nahasnya aku harus mengambil alih beban keluarga Tyaga" ~ Jeremy
cover by Tiadesign_
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adinasya mahila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35 : Jujur Menyukai
Malam harinya, Rey duduk di mini bar yang ada di rumah sang nenek. Ia menggoyang-goyangkan kaleng bir yang baru saja dia tenggak setengah. Bukan tanpa alasan dia duduk di sana, dia menunggu sang kakak yang tadi berkata akan segera mandi sepulang kerja dan menemaninya minum di sana.
Rey tengah menyesap minuman beralkohol itu saat suara Jeremy menyapa. Pria itu langsung menuju kulkas dan mengambil bir yang sama seperti yang dirinya minum, tak lupa sekotak buah potong juga Jeremy ambil dari dalam sana. Pria itu lalu duduk tepat di depan Rey, dia mendorong kotak buah ke arah sang adik sebelum memalingkan muka sambil menenggak minuman di tangan.
“Aku dengar kamu tadi pergi bersama nenek ke toko perhiasan,” ucap Jeremy membuka percakapan.
“Hem … aku bertemu dengan calon istri kakak,” jawab Rey.
“Marsha?”
“Ckck … siapa lagi calon istri kakak kalau bukan dia?” Rey nampak sedikit sebal, dia menggelengkan kepala seolah meledek ketidaksinkronan otak sang kakak.
Namun, jangan salah sangka. Rey adalah pemuda cerdas, dia meletakkan kaleng bir setelah mencibir lalu melirik Jeremy dengan tatapan curiga.
“Tunggu!” ucap Rey. “Benar, aku ingat kakak pernah bilang kalau kakak menyukai gadis yang bekerja sebagai seorang dokter.”
Jeremy menelan ludah, dia sengaja berpura-pura tergelak sebelum membuang muka lagi untuk menghindari kontak mata dengan Rey. Bodoh! Jeremy merutuki kesalahannya sendiri. Ia seharusnya memikirkan kemungkinan pertanyaan dan jawaban saat mandi tadi, bukannya malah sibuk bernyayi. Padahal sudah sejak beberapa menit yang lalu dia tahu dari pembantu, bahwa sang adik diajak neneknya menemui Marsha dan Nova.
“Kapan aku berkata seperti itu?” Jeremy melempar balik pertanyaan dan memasang ekspresi heran, dia tidak mau menyangkal, tapi untuk saat ini berbohong adalah pilihan yang tepat baginya. “Itu sudah beberapa tahun yang lalu Rey, kamu terlalu lama berada di luar negeri sampai lupa kejadian di sini,” imbuhnya dengan senyuman di sudut bibir, terkesan meremehkan.
Rey tak bertanya lebih jauh, ini karena dia seratus persen percaya pada Jeremy. Sejak kecil kakaknya itu jarang sekali dan hampir tidak pernah dia tahu Jeremy berbohong. Meski begitu Rey juga tidak bisa menyembunyikan rasa penasarannya soal Marsha, kenapa bisa Jeremy berhubungan dengan gadis yang jarak usianya terbilang sangat jauh itu.
“Bagaimana kakak mengenal Marsha? dia baru lulus SMA kenapa ingin menikah? Come on, dia saja jauh lebih muda dariku, apa semua ini hanya bisnis?” terka Rey.
Karena pertanyaan sang adik, Jeremy sampai urung menenggak bir yang sudah hampir menempel ke permukaan bibir. Ia mendesau sebelum berdecak dan malah semakin membuat Rey curiga ada sesuatu yang dia sembunyikan.
“Semua ini karena kutang.”
“Brtttt … “
Rey menyemburkan minuman di dalam mulut tepat ke depan muka Jeremy, beruntung cipratannya tak sampai mengenai wajah sang kakak. Jeremy pun dengan sigap mengambil tisu dan memberikannya ke sang adik, dia bahkan berjalan ke arah belakang dan memanggil pembantu untuk membersihkan meja.
“Apa kakak sedang bercanda? kutang? Maksudnya baju dalaman itu ‘kan?” tanya Rey sambil membuat gerakan setengah memutar tepat di depan dada. “Apa kakak sedang cosplay menjadi Joko Korup saat itu? Ha? Mencuri baju bidadari yang sedang mandi di sumur?”
“Hish … enak saja, kalau harus menjelaskanmu dari awal, aku yakin satu karton bir tidak akan cukup untuk menemani kita.”
Jeremy bersedekap lalu menggelengkan kepala. Sejak dulu dia memang selalu terbuka dan jujur ke Rey tentang banyak hal. Bagi pria berwajah ganteng itu, tak mengapa sang adik tahu tentang perjodohan konyol yang berawal dari kutang putri Richard Tyaga itu, yang terpenting kesepakatannya dan Marsha aman.
“Lalu apa kakak menyukainya, dia gadis yang baik dan manis,” ucap Rey setelah pembantu selesai mengelap meja mini bar yang basah akibat semburannya tadi.
“Manis? Kamu belum mengenalnya saja. Kalau sudah, aku yakin kamu pasti akan dibuat kesal. Dia itu banyak tingkah dan menyebalkan,” ketus Jeremy. Dia menunjukkan wajah geram dan membuat Rey mengenyitkan dahi.
“Lalu kalau begitu, apa aku boleh mengenalnya lebih dekat?”
“Apa?”
“Sabtu ini dia mengajakku jalan-jalan ke cipeyem,” kata Rey. “Jujur saja aku menyukainya,” imbuhnya dengan senyuman manis.
nanti tak pinjemin ke Orang tua ku....