NovelToon NovelToon
RANJANG BALAS DENDAM

RANJANG BALAS DENDAM

Status: tamat
Genre:Misteri / Patahhati / Balas Dendam / Duda / Konflik Rumah Tangga-Pernikahan Angst / Menikah dengan Musuhku / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:2.3M
Nilai: 5
Nama Author: Min Ziy. Minfiatin FauZiyah

Dinikahi karena ingin membalaskan dendam kematian sang kakak yang meninggal karena bunuh diri.

Mahendra Addison Wijaya, duda anak satu yang tampan, kaya dan berkuasa. Menyimpan dendam pada seorang gadis muda cantik bernama Alisia.

Kakaknya, Brahmana. Ditemukan meninggal di apartemennya gantung diri. Dan semua bukti yang ada mengarah pada Alisia sebagai penyebabnya.

Akankah cinta bersemi di hati Mahendra yang sudah terlampau benci pada Alisia, dan apakah cinta Alisia tetap singgah dalam hati setelah menerima kekejaman demi kekejaman dari Mahendra?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Min Ziy. Minfiatin FauZiyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CERAI

*Kau yang tahu, jika sejak awal hubungan ini tak benar-benar ada. Kau yang tahu, jika sejak awal ini semua hanyalah sebuah rencana. Kau yang tahu, dan aku tidak.

Apapun alasannya, perpisahan selalu menyisakan luka. Bukan kau saja, dan bukan aku saja, kita sama-sama menderita atas ini semua.

Entah bagaimana hidup kita masing-masing selanjutnya, tapi nyatanya kita memang tak bisa tetap bersama*.

Siya menggerakkan pena membuat coretan-coretan ungkapan isi hati seperti hari-hari kemarin. Jam sudah menunjukkan pukul 1 malam.

'*Tok tok*?' suara pintu diketuk sangat pelan. Siya mendongak dan diam, ini sudah larut malam bukan? Tidak ada ketukan lagi, tapi Siya juga penasaran.

Siya menyimpan buku lalu turun dari ranjang dan melangkah membuka pintu.

'*Kleek*'

Mahend berdiri menunduk di sana, hingga Siya datang dan Mahend lekas mendongak. Matanya sembab.

"Boleh aku tidur di sini?" suara Mahend terdengar lirih.

"M-ma mau apa?" Siya gugup.

"Aku tidak bisa tidur di kamarku." jawab Mahend.

Tak ada balasan ucapan dari Siya. Keduanya dalam kebisuan. Hingga Mahend pun menyerah, Mahend mengangguk lalu melangkah gontai hendak kembali ke kamarnya.

"M-ma masuklah...." entah apa yang ada dalam pikiran Siya. Tapi yang jelas, ia tak tega. Dan dia memilih mempersilahkan Mahend masuk ke dalam kamarnya.

Mahend menoleh, ia melangkah pelan memasuki kamar Siya. Lantas naik ke ranjang dan membaringkan tubuh di sana.

"Kau tidurlah, biar aku tidur di sofa!" ucap Siya mengambil bantal di dekat Mahend. Dengan gerakan cepat Mahend menahan tangan Siya.

"Temani aku... Kumohon!" suara Mahend sangat lirih.

Untuk sesaat Siya berpikir, dan tidak ada salahnya, Mahend tengah terpuruk, dia butuh seseorang untuk menguatkannya.

Siya pun berbaring di dekat Mahend. Mereka saling berhadapan. Mata Mahend sudah terpejam, namun buliran-buliran bening itu selalu lolos begitu saja dari sudut matanya.

Siya dengan ragu-ragu mengusap air mata Mahend yang terus menetes dalam diam.

'*Dia demam*?' wajah Mahend ternyata panas, dan Siya baru menyadari itu. Mahend sakit. Siya hendak bangun, namun lagi-lagi Mahend menahan tangannya.

"Jangan pergi." Mahend sama sekali tak membuka mata.

"Aku akan meminta Lim untuk memanggil kan Tom. Kau sakit?" Siya cemas.

"Tidak, aku tidak mau, aku hanya mau tidur bersamamu." Mahend masih terus menangis dalam diam. Dan matanya yang terasa sangat panas terus saja terpejam.

Siya akhirnya menurut, ia kembali berbaring menghadap Mahend dengan benar.

"Tidurlah!"

...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...

*Sebercanda itukah mereka orang-orang yang telah tega melakukan pengkhianatan? Kecurangan? Mengotori suatu hubungan? Tanpa memikirkan perasaan orang-orang yang tersakiti akibat lawakan mereka? KONYOL*.

Selama 3 hari Mahend sakit, Tom yang mengobati, Siya merawat dan mengurusnya dengan sangat baik selama sakit. Meski mereka terlihat dingin satu sama lain, jarang terjadi pembicaraan. Namun itu cukup menenangkan suasana rumah ini.

Al juga justru merasa senang, selama Papahnya sakit, dia memiliki waktu lebih banyak bersama papahnya sepulang sekolah, dan mereka bertiga, Mahend, Al, dan Siya. Menghabiskan waktu sore bersama di kamar Siya sampai malam tiba.

Lim merasa sangat senang dengan perubahan sikap Bosnya pada Siya, memang tak ada yang tahu apa yang sebenarnya terjadi, bukti skandal itu adalah rahasia mereka bertiga. Mahend, Siya, dan Tom.

Lastri, dan bahkan Tom pun ikut senang dengan kedamaian yang tercipta dalam keluarga kecil itu.

Suasana yang terasa menyenangkan hari demi hari membuat Siya terlena. Seperti bunga layu yang kembali mendapat perawatan yang tepat, disiram, dipupuk, itulah yang terjadi pada Siya saat ini.

Sikap Mahend padanya berubah begitu hangat, cinta dalam hati Siya perlahan kembali teumbuh dengan megah. Meski semenjak sakit, Mahend dan Siya tak pernah melakukan hubungan suami istri, tapi mereka menjadi cukup dekat, seperti sepasang ABG yang baru PDKT. Terkadang keduanya malu-malu dan salah tingkah. Lucu.

Siya terlena dan melupakan keinginannya untuk berpisah dengan Mahend. Inilah sejatinya yang seharusnya terjadi pada mereka. Jika saja kesalahpahaman itu tak pernah terjadi. Dan Mahend tak pernah menyiksa Siya.

Mahend sudah aktif lagi bekerja. Ia tak lagi menunjukkan keterpurukan. Diam-diam tanpa sepengetahuan Siya. Mahend dan Tom masih terus menyelidiki tentang kematian Bram, dan kunci mereka saat ini adalah harus bisa bertemu dengan Anita.

Pagi ini terlihat sangat cerah, Al dan Mahend berangkat bersama. Siya mengantar mereka sampai di halaman depan teras. Menunggui mereka masuk ke dalam mobil lalu mobil itu bergerak keluar dari gerbang meninggalkan rumah mewah Wijaya.

"Dadah, Siyaa?"

"Daahh, Jagoan?"

Mereka saling melambaikan tangan sebelum benar-benar berpisah. Senyum semuanya mengembang sempurna. Inilah keluarga samawa yang diimpakan itu.

Siya kembali masuk ke dalam rumah sambil tersenyum bahagia setelah mereka pergi.

Siya ingin kembali ke kamar, namun suara Sabrina yang lantang ketika berada di ruang tengah menghentikan langkah Siya.

"Tunggu?"

"Mamah?"

Sabrina duduk angkuh di sofa ruang tengah. Siya pun melangkah mendekat, Sabrina masih terlihat sama, dingin dan angkuh, ia masih menganggap Siya adalah penyebab dari semua kehancuran keluarganya. Karena kebenaran yang sengaja disembunyikan darinya demi kesehatannya.

"Mamah? Mamah butuh sesuatu?" Siya berdiri di dekat Sabrina yang menatap lurus begitu tajam tanpa menoleh pada Siya. Ada sebuah map di tangannya yang bersedekap, lalu Sabrina melempar map itu ke atas meja.

"Tanda tangani surat ini." Sabrina melemparkan benda terbuat dari kertas itu begitu angkuh dan dingin.

"Surat?" jantung Siya berdegup kencang.

"Baca." Sabrina merasa tidak tahan melihat Mahend yang semakin hari semakin dekat dengan Siya. Bahkan putranya itu tak pernah lagi menyiksa Siya. Meski Sabrina tak menginginkannya, tapi kilat benci dari netra Mahend kepada Siya telah sirna. Sabrina tidak bisa membiarkan Mahend jatuh cinta dan justru menikmati hidup bersama Siya. Wanita yang menyebabkan putranya mati, hingga suaminya pun ikut mati karena masalah yang sama.

Siya meraih Map itu, dan dia membuka lalu membacanya.

"Divorce?" tangan Siya bergetar. Ibu mertuanya telah menyiapkan surat cerai antara dirinya dengan Mahend yang suami.

Yah, meskipun Siya menginginkan hal itu terjadi beberapa waktu lalu. Namun, setelah semua berubah, hatinya pun turut berubah, dan itu tak bisa disalahkan. Tuhanlah yang merubah rasa itu, sang maha pembolak-balik hati yang agung .

"Jika kau masih punya harga diri, maka cepat tanda tangani surat itu, dan keluar dari rumahku hari ini juga." suara Sabrina sangat lantang dan tegas.

"Mamah?" Siya sudah menangis, ia mencintai Mahend, dan Mahend juga mencintainya, bahkan Mahend sudah berubah. Tapi kini, mereka justru akan dipisahkan oleh sang mamah mertua.

"Kau tahu kan, Siya? Apa alasanmu dibawa ke rumah ini, apa alasan Mahend menikahimu? Apa kau sebodoh itu hingga kau tetap akan bertahan dalam kepalsuan pernikahan?"

Siya hanya menangis tersedu mendengar ucapan Sabrina yang dilontarkan kepadanya, karena nyatanya itu memang benar.

"Dengar Siya. Aku muak melihatmu ada di rumahku, cepat tanda tangani surat itu, dan pergi dari sini, pergi ke tempat jauh yang tak mungkin bisa aku temukan atau Mahend temukan, jika tidak. Nyawa ayah dan adikmu akan kujadikan sebagai ganti dari nyawa putra dan suamiku. Pikirkan itu." ucap Sabrina tegas lantas berdiri angkuh masuk kembali ke kamarnya.

"Hiks hiks hiks hiks." Siya kembali rapuh, ia menangis sambil menggenggam map itu. Bagaimanapun. Perpisahan ini nyatanya sangat menyakiti hatinya. Tapi mendengar ancaman Sabrina yang membawa nama ayah dan Silvi. Jelas itu semakin menggetarkan hati dan membuat Siya merasa takut.

Biar bagaimanapun, Sabrina adalah wanita berkuasa. Yang meski hanya berdiam diri di rumah, pasti dengan mudah dia akan memerintahkan orang untuk menghabisi orang yang tak disukainya.

'Apa yang harus aku lakukan? Haruskah aku pergi dan melepaskanmu, mas?'

...****************...

1
Eka Pramesti
suka
Mischa Chantika
Luar biasa
Cis Siu
y
Rimayanti Ismaya
meteor garden
Rasmiati Nur
seru..aku suka ceritax
Rasmiati Nur
seru aku suka ceritax
Erni Zalukhu
bisa jd Al bukan anak kandung mahen,kan Anita wanita jalang
Ririn Nursisminingsih
mama sabrinalah yg ikut andil.mnghancurkan semuanya
Ririn Nursisminingsih
iyaa thor mkin penasaran
Ririn Nursisminingsih
jg2 al anaknya anita sama ayahnya
Ririn Nursisminingsih
ayoo tom bantu sya
Ririn Nursisminingsih
ayoo sya temukan buktinya kmu tak bersalah
Ririn Nursisminingsih
kabur aja sya jg bodoh
Ririn Nursisminingsih
ayoo sya jg lemah kmu
Rastika Ima
waduuuh,pasti Anita
Diankeren
👍🏻👏🏻👏🏻
Diankeren
lano sirik aja deh, tggl peluk tuh yg dsmping lu klo pngen
tng ca w bla'in
Diankeren
klo dsitu ada Rangga bisa d lmpar pulpen lu lano 😝 aduuh knpe w trbyg² trus ama ayang Nico wktu muda ye 🙈 uh gmez
anjirr... anjirr... w bnci otak w sndri 🤦🏻‍♀️
🏃🏻🏃🏻🏃🏻🏃🏻🏃🏻🏃🏻🏃🏻💨
Diankeren
bubur woii... eh slah bubar bkn buyar malih.... 🤣
Diankeren
maen kcok²an Mak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!