NovelToon NovelToon
OMAH SIMBAH

OMAH SIMBAH

Status: tamat
Genre:Horor / Tamat
Popularitas:303.8k
Nilai: 5
Nama Author: Mari Ani

Mohon maaf untuk tidak boom like reader!
terimakasih.

Omah simbah ini, merupakan cerita fiksi
penulis saja, omah simbah adalah rumah yang sudah di tempati tiga generasi.

Rumah besar dengan gaya kuno ukiran pintu dari kayu jati dengan model kupu tarung semakin memberikan kesan aneh dan seram.

Prameswari merupakan gadis generasi keempat usianya kini memasuki enam belas tahun dengan postur tinggi, kulit coklat, dan tomboy.

Mempunyai kelebihan yang tak di sadarinya
hingga perjalanan mistis yang di laluinya dengan tanpa sengaja membawanya mundur beberapa puluh tahun silam.

Perjalanan yang membawanya mengenal siapa dia sebenarnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mari Ani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 35 . SIMBAHKU

pagi ini ibu nampak tergesa-gesa menuju rumah Simbah, terdengar teriakan tetangga.

"Nur cepat, ibumu jatuh di teras .... "

Pram yang terkejut dengan teriakan yang keras dari tetangga, bergegas bangun dan langsung lari keluar, tak terpikir lagi mata Pram yang masih ada beleknya atau pipinya yang masih berbekas air liur. Ibu telah berjalan dulu dan Pram mengikuti di belakangnya.

Dengan langkah terburu, di tikungan Pram menabrak seorang ibu-ibu menggunakan hijab. "M ... maaf, maaf saya nggak sengaja," ucap Pram, sambil terus berjalan.

"Pelan-pelan Nak!" Pram tak menjawab tetapi hanya membungkukkan tubuhnya untuk minta maaf.

Tak berapa lama akhirnya sampai juga di rumah Simbah, ibu sudah masuk lebih dulu bersama beberapa tetangga.

Aku yang masih di halaman tiba-tiba langkahku terhenti. "Sebentar Pram suara seseorang di telinga, Simbah leluhur akan memagari dirimu dulu."

Setelah berhenti beberapa saat, Pram kembali mendengar suara yang berbisik.

"Masuklah," dengan langkah ringan Pram masuk ke dalam rumah, melihat Simbah di tidurkan di ranjang ruang tamu.

Pram sedikit mendekat sesaat ibu sudah menarik agar sedikit menjauh. "Kenapa kamu kemari Pram?" tanya Ibu dengan suara lirih.

"Pram ingin melihat Simbah Bu!" ucap Pram tanpa menghiraukan tatapan ibu, kemudian Pram mendekat.

Menatap wajah Simbah, pucat dan seperti sedang ... Pram tak melanjutkan pikiran jeleknya.

Tanpa memperdulikan Ibu, Pram memegang tangan Simbah. "Bu ... panggil Dokter," ucap Pram.

Tetapi ibu menggeleng. "Simbah tadi nggak apa-apa Pram!" jawab Ibu lagi.

"Tetapi tangannya dingin Bu."

Pram langsung duduk di sisi simbah dan bersila seketika sukmaku telah keluar. Saat ini Pram tengah di halaman rumah Simbah tepatnya di bawah pohon sawo.

Melihat tubuh Simbah tengah di bopong beramai-ramai, tapi yang membopong simbah wujudnya sangat aneh. Pram langsung melangkah mendekat namun secara tiba-tiba ada Simbah leluhur yang menghalangi.

"Jangan merebut Simbah mu dari mereka, salurkan saja energi mu ke Simbah mu Pram," perintah Simbah leluhur.

Namun, Pram sedikit ragu.

"Tapi bagaimana jika Simbah di bawah mereka?" tanya Pram dengan khawatir.

"Belum waktunya Pram saat ini Simbahmu tengah berjuang, bantu salurkan energi mu."

"Simbah leluhur yang akan menuntunmu, kembalilah sebelum terlambat gunakan keyakinan mu."

Kini Pram sudah kembali ke raganya, mengatur napas dengan teratur, melihat ibu sudah duduk membacakan ayat-ayat al quran.

Pram masih memegang tangan Simbah .

"Saatnya Pram," ucap leluhurku yang sudah menyalurkan energi hangat dan sudah mengalir ke seluruh tubuh Pram dan keluar melalui tangannya yang bersentuhan dengan tangan Simbah, hingga hampir satu jam tapi tak ada respon dari Simbah.

"Sudah Pram kita tinggal menunggu reaksi Simbah mu, bacakan dua kalimat syahadat Pram di telingannya."

Setelah membacakan dua kalimat syahadat di telinga Simbah, nampak tak ada perubahan napasnya sudah teratur tapi tubuhnya masih dingin dan kini makin dingin.

"Bu ... Pram mau ke Dokter sebelah," ucap Pram sembari berlalu.

"Pram ... teriak Ibu tapi tak Pram hiraukan."

Berjalan dengan tergesa hingga tiba di gang sebelah, setelah tiba di depan rumah Dokter, Pram langsung menekan bel dengan keras dan berkali- kali.

Hingga tak berapa lama keluar seorang ibu-ibu dengan tergesa membuka pintu.

"Nyari siapa Nduk ?" tanya ibu- ibu tadi.

"Dokter Edi nya ada?" tanya Pram dengan sedikit terengah.

"Lah barusan berangkat dinas Nduk," jawab ibu-ibu ini.

"Waduh terlambat," ucap Pram.

Mengetauhi Dokter Edi tak berada di rumah

kini Pram kembali berjalan menuju ke rumah Simbah. Hingga sapaan dari seseorang yang mengejutkan Pram.

"Hei Pram, dari mana kok ke buru suara seorang laki-laki."

"Eh .... Rian, dari Dokter Edi. Tetapi orangnya sudah berangkat," ucap Pram sembari berjalan dengan tergesa-gesa.

"Pelan-pelan, ayo cerita siapa yang sakit," tanya Rian.

"Simbah jatuh di teras," kata Pram masih sambil berjalan.

"Kini Rian malah mengikuti Pram ke rumah Simbah berjalan beriringan hingga kami tiba di halaman Rian berhenti.

"Masuklah dulu, sebentar lagi aku menyusul."

Pram tak menghiraukan Rian, meninggalkan Rian begitu saja di halaman. Begitu Pram masuk rumah, terlihat ibu nampak kuwalahan memegang tubuh Simbah.

"Pram ... teriak ibu memanggil." Pram dengan bergegas mendekat dan membantu ibu memegang Simbah.

"Kenapa, Simbah Bu?" tanya Pram heran.

"Panas ... teriak Simbah kini matanya sudah melotot merah menantang."

"Panas ... panas ... teriak Simbah lagi."

Kini tangan Simbah mencoba meraih tangan Ibu.

"Siapa yang menyuruhmu membacanya."

Hardik Simbah dengan suara besarnya dan berat, bukan seperti suara Simbah.

"Kamu! Apa yang kamu bisikkan padaku. Hah!!" ucap Simbah dengan mata melototnya.

Mendengar keributan ini, beberapa saat kemudian Rian masuk langsung duduk bersila di depan simbah.

"Pram bantu aku membaca surat Al fateha itu saja," ucap Rian memastikan.

Setelah Pram membaca surat al fateha kini Rian menatap.

"Tahan pergerakan Simbah Pram," ucap Rian.

Pram langsung mengangguk, Rian langsung melafalkan beberapa ayat suci al quran. Simbah semakin meronta dan berteriak.

"Panas ... panas ... panas ... teriak Simbah."

Namun, Rian tak peduli dengan teriakan Simbah. Rian masih terus membaca hingga Simbah terkulai lemas.

Melihat Simbah terkulai lemas, Rian langsung menghentikan membaca ayat-ayat suci al quran. Sedikit mendekat melihat Simbah.

"Apa yang kau pelajari untuk hari ini Pram?" tanya Rian. Kini Pram hanya tertunduk diam.

"Datanglah ke ibu," ucapnya sembari melangkah keluar.

Hingga tak lama, Rian melangkah. Nampak Rian berbalik dan seperti mengingat sesuatu, kemudian memanggil.

"Pram ... kini Rian memanggil."

Saat Pram mendekat dia langsung menatap lama kemudian tersenyum.

"Meski ada air liur yang menempel di pipimu dan matamu belekan tapi tetap cantik," ucap Rian yang membuat Pram malu.

"Blusss ... mendengar ucapan Rian membuat Pram seketika menunduk."

"Cuci mukamu dan ambil air wudhu pinjam hijab ibumu, ayo kita kirim doa ke makam itu."

Pram masih terdiam. "Lha kok diam aku tunggu," ucapnya lagi.

Untuk menutupi rasa malu, akhirnya Pram pun mencubit Rian. "Ya ... batalkan wudhuku," ucap Rian lagi.

"Ayo kita wudhu sama-sama sembari menyeretku ke belakang."

Setelah selesai berwudhu Pram menghampiri ibu yang sedang menunggu Simbah.

"Bu bawa hijab?" tanya Pram pelan.

"Ini. Ada Pram," jawab ibu sambil mengeluarkan hijab dari dalam tasnya

dan langsung memberikan pada Pram.

Melihat Rian sudah keluar dari kamar mandi dan langsung menatap. "Nah begitu kan tambah ayu," ucap Rian tanpa filter.

"Gombal," ucap Pram sembari mencoba mencubit Rian lagi.

"Eh ... kalian," ucap ibu mengejutkan.

"Ayo! Pram," ajak Rian. Berjalan menuju halaman rumah dan kemudian duduk di sisi makam. "Memang ini makam siapa Pram?" tanya Rian pelan.

"Bapak, namanya Sipun."

Rian menatap makam itu sejenak kemudian tersenyum menatap Pram.

"Ayo. Pram, kita bacakan surat Al fateha dan surat yasin," ucapnya.

Membaca dengan khusuk, suasana yang awalnya sepi. Kini angin bertiup dengan ramah, tetapi kini angin berubah berhembus dengan kencang, menimbulkan suara berisik dari daun pohon sawo, seakan ingin beradu suara dengan suara Pram dan Rian sesekali Rian melirik ke arah Pram, tetapi tetap bibirnya melafalkan ayat-ayat suci al quran.

Suara daun sawo semakin berisik tetapi Rian tak menghentikan bacaannya dan setelah di tutup dengan kata amin Rian kembali menatap.

"Aku bangga padamu Pram, kamu bisa mengontrolnya meskipun aku tahu kamu sudah tak sabar ingin melabraknya."

Semoga setelah ini Bapak kamu bisa tenang," ucap Rian sembari terus menatap.

Merasa Rian terus menatap, tiba-tiba Pram menjadi tersentuh.

"Jangan buat Pram menangis dengan ucapanmu Rian. Pram sudah lama mengubur semua keinginan untuk bertemu dengan Bapak, kamu membuat rindu Pram pada Bapak makin menjadi," ucap Pram berkaca-kaca.

Mendengar ucapan Pram Rian seketika menghentikan tatapannya.

"Maaf Pram! Kalau kamu rindu Bapak kirimlah banyak-banyak doa," ucapnya sembari berdiri.

"Ayo. Lihat Simbahmu sebelum aku pulang."

Entah kenapa semua perkataan Rian begitu menenangkan hati, kini Pram sudah berjalan di belakangnya. Begitu memasuki rumah, Pram melihat Simbah masih tertidur di ranjang dengan tenang.

Belum juga Pram duduk, suara Ibu membuat Pram sedikit terkejut.

"Pram pulang, jangan tidur di sini! Biar ibu saja yang menginap," ucap Ibu dengan nada khawatirnya.

Mendengar ucapan Ibu Rian langsung menatap. "Turuti ucapan ibumu Pram!"

Pram memegang tangan Simbah sejenak, ada senyum di bibir Pram. saat mengetauhi tangan Simbah kini sudah sedikit menghangat.

"Apa ibu berani?" tanya Pram memastikan.

"Kau ini. Ini rumah masa kecil ibu Pram, ibu tak akan takut," ucap Ibu pelan.

Mendengar ucapan Ibu Pram sedikit tersenyum. "ya sudah. Kalau begitu Pram pulang Bu," ucap Pram sembari berdiri.

Melihat Pram bersiap pulang, Rian langsung menawarkan niatnya.

"Ayo barengan sama aku Pram."

"Saya permisi dulu tante. Besok pagi saya kemari lagi," ucap Rian sembari mersih tangan Ibu.

"Terima kasih yo Le," ucap ibu.

1
Nur Bahagia
lhah sejak kapan bu Nur mahfum dgn hal2 seperti ini.. biasanya dia menolak, menentang, menghindar.. sueerr aku pusyiiingg Thor 😵😫
Nur Bahagia
hal lain yg bikin bingung adalah penulisan kalimat saat ngobrol.. campur baur.. tolong di koreksi kak 🙏
Nur Bahagia
ceritanya bagus.. tp penyebutan tokohnya bikin bingung
Nur Bahagia
tau2 penyebutan Nur menjadi ibu 😅
Nur Bahagia
takut mulu.. protes mulu.. pingsan mulu ntar 🤣
Nur Bahagia
yaa kamu juga kenapa ga bisa menerima keadaan?
Nur Bahagia
etdah sering banget pingsan Nur 🤦‍♀️
Nur Bahagia
kok bisa gatau ya.. emang selama ini gimana keseharian Nur dan mbah Rum
Nur Bahagia
om wowo kah yg ganggu? 😱
Nur Bahagia
kayaknya perewangan nya mbah Rum ini.. melindungi Nur dan Prameswari
Nur Bahagia
apa kegiatan mu mbah Rum.. kok sering bepergian 🤔
Nur Bahagia
tersenyum misterius.. hemmm nek 🤨
Nur Bahagia
ohh bayi nya terbungkus air ketuban thoo.. kirain tadi bayi nya suruh bungkus Rum 🙏😅
Nur Bahagia
aku nggak nahan2 lhoo 🤣
Nur Bahagia
wah nama ku Thor 😅
Mai Esya Noor
ya betul betul..sepatutnya sat set sat set..lancar..
Shyfa Andira Rahmi
kenapa ngga ditebang aja siihh pohon jmbunya....ko jdi ikut meringing yaaa😬😬😬
Sri Wiludjeng
Cerita nya seru ... kayak nyata gthu ... Keren dech
Mari ani: Terima kasih Kak, udah mampir di cerita aku
total 1 replies
Shyfa Andira Rahmi
bapanya kemana mbah😅😅
Asih Sulastri
Luar biasa
Mari ani: Terima kasih Kak, sudah singgah di karya aku
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!