Kisah tentang seorang pangeran yang masa lalunya dipenuhi dengan lika-liku kehidupan yang penuh dengan emosi, karena ibundanya yang diperlukan kasar oleh permaisuri ayahandanya. Prabu Kawiswara Arya Ragnala. Raden Cakara Casugraha tidak tahan dengan perlakuan seperti itu. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk keluar dari istana. Namun siapa sangka di luar istana ia menghadapi berbagai masalah. Ayahandanya mendapatkan petunjuk, bahwa anaknya Raden Cakara Casugraha harus masuk Islam untuk mengendalikan amarahnya yang sangat merugi. Sementara ibundanya, ratu Dewi Anindyaswari merasa keberatan. Namun akhirnya Raden Cakara Casugraha masuk Islam karena ingin memperbaiki dirinya.
Hingga kejadian yang sangat tidak diinginkan oleh siapapun, Yaitunya kematian sang prabu. Dari 7 putra putri yang dimiliki sang prabu, hanya Raden Cakara Casugraha yang pantas menjadi raja
Akan tetapi, ada rahasia yang harus dijaga olehnya. Rahasia yang tidak boleh ia katakan pada siapa saja termasuk ibundanya
bisakah Raden Cakara Casugraha menyimpan rahasia ia hingga akhir hayatnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Retto fuaia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KEMARAHAN DAN BENCI
...***...
Nyai Arum Sari memeluk erat anaknya, hatinya sangat hancur ketika melihat Putri Agniasari Ariani menebas tubuh anaknya.
"Apa yang telah kau lakukan pada anakku?!." Kepala desa Alam Gempar Raya sangat marah, hatinya sangat tidak terima sama sekali.
"Anakku!." Tangisan Nyai Arum Sari semakin mengisi ruangan itu. "Maafkan ibuk nak!." Dadanya terasa sesak, hatinya pedih ketika anaknya telah pergi meninggalkan dirinya?.
"Uhukh!."
Namun saat itu terdengar suara batuk dari anaknya.
"Sesak, sesak sekali." Rintihnya.
"Anakku?!."
"Ibuk? Apa yang ibuk lakukan?." Pemuda itu tampak kebingungan. "Kenapa aku dipasung buk?." Ada perasaan sakit di hatinya. "Kesalahan apa yang telah aku lakukan? Sehingga aku dipasung?."
"Bapak, anak kita pak?."
Kepala desa Alam Gempar Raya langsung mendekati anaknya.
"Pak? Kenapa aku dipasung? Aku telah melakukan apa?."
"Maafkan bapak nak, nanti bapak jelaskan." Dengan perasaan yang bercampur aduk ia segera membebaskan anaknya. "Maafkan bapak." Ucapnya lagi.
"Alhamdulillah hirobbil'alamin, semuanya telah selesai." Putri Agniasari Ariani sangat bersyukur, karena telah membebaskan pemuda itu dari gangguan jin
...***...
Istana Kerajaan Suka Damai.
"Nanda Prabu." Syekh Asmawan Mulia melihat Prabu Asmalaraya Arya Ardhana menunduk di tanah. Syekh Asmawan Mulia tidak tahu harus berbuat apa untuk menenangkan sang prabu?.
"Rayi Prabu." Terdengar suara Raden Hadyan Hastanta dari gerbang istana yang baru saja datang dari luar. "Ada apa rayi Prabu? Apa yang telah terjadi di sini?." Raden Hadyan Hastanta begitu mencemaskan keadaan adiknya.
Prabu Asmalaraya Arya Ardhana mendongakkan kepalanya, ia melihat kedatangan Jaya Satria, ia terlihat sedih.
"Ada apa Gusti Prabu?." Jaya Satria langsung merendahkan dirinya di hadapan sang Prabu. Namun Prabu Asmalaraya Arya Ardhana malah menyambutnya dengan pelukan, membuatnya sedikit kaget, apalagi sang Prabu menangis?.
Raden Hadyan Hastanta, Raden Ganendra Garjitha, dan Syekh Asmawan Mulia hanya diam melihat itu.
"Jaya satria."
"Ya, hamba mengerti." Jaya Satria mencoba menenangkan Prabu Asmalaraya Arya Wiguna. "Gusti Prabu telah bertemu, dengan orang yang telah membunuh mendiang Prabu kawiswara arya ragnala." Jaya Satria mengerti arti tangisan sang Prabu.
Deg!.
Mereka semua sangat terkejut mendengarnya, apakah Jaya Satria memang memahami perasaan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana?. Sehingga mengetahui apa yang telah membuat Prabu Asmalaraya Arya Ardhana menangis seperti itu.
"Namun kita tidak boleh mengeluarkan amarah itu." Ucapnya. "Gusti Prabu kawiswara arya ragnala akan marah, jika kita lepas kendali." Lanjutnya.
"Kita? Apa maksudnya?." Raden Hadyan Hastanta dan Raden Ganendra Garjitha merasa sedikit heran. "Rasanya aku semakin bingung dengan mereka ini." Raden Hadyan Hastanta merasa pusing memikirkan itu semua.
"Aku tidak bisa menahan diriku, aku tidak bisa menahan diriku, jaya satria." Sang Prabu menangis pilu, sang Prabu melepaskan pelukannya, menatap mata Jaya Satria. "Dia telah membunuh ayahanda Prabu." Hatinya terasa sesak. "Dan sekarang dia ingin ikut campur dalam perperangan ini." Hatinya sangat sakit, merasa sesak mengingat masa lalu.
"Rayi Prabu?." Dalam hati Raden Hadyan Hastanta.
...***...
Kerajaan Mekar Jaya.
Suasana hati Ratu Ardningrum Bintari hanya diisi oleh kegelisahan yang sangat luar biasa.
"Apa yang terjadi sebenarnya?." Dalam hatinya bingung. "Apakah benar? Mereka telah melakukan hal terkutuk pada ayahandaku?." Dalam hatinya memperhatikan Prabu Rahwana Bimantara yang sedang terbaring di tempat tidurnya. "Mereka benar-benar kejam." Hatinya telah diisi oleh kebencian. "Aku tidak menduga jika mereka lebih sadis." Dadanya terasa sesak. "Dari apa yang aku bayangkan." Dalam hatinya merasa sangat marah.
"Dinda ardiningrum bintari."
Deg!.
Ratu Ardningrum Bintari hampir tidak percaya dengan apa yang dilihatnya saat itu.
"Dinda ardiningrum bintari."
"Kanda Prabu!." Ratu Ardningrum Bintari segera mendekati Prabu Kawiswara Arya Ragnala. "Kanda Prabu." Ratu Ardiningrum Bintari menangis di pelukan Prabu Kawiswara Arya Ragnala. "Kanda Prabu, bantu ayahanda Prabu, sembuhkan ayahanda Prabu."
"Tenanglah dinda, jangan menangis." Prabu Kawiswara Arya Ragnala mencoba untuk menenangkan Ratu Ardningrum Bintari.
"Dinda mohon, sembuhkan ayahanda." Perlahan-lahan Ratu Ardningrum Bintari melepaskan pelukan itu.
"Sepertinya ini akan memakan waktu yang lama." Prabu Kawiswara Arya Ragnala dapat melihat sosok gaib yang menyerang Prabu Rahwana Bimantara.
"Kanda Prabu, apa yang terjadi pada ayahanda Prabu?." Ia menangis sedih. "Ini semua pasti ulah cakara casugraha!." Dengan perasaan yang bergemuruh, ia berkata seperti itu.
"Dinda ardiningrum bintari!." Prabu Kawiswara Arya Ragnala menatap tajam ke arah Ratu Ardningrum Bintari. "Dinda masih saja belum berubah!." Tatapan mata sang Prabu sangat tajam. "Kenapa dinda masih saja suka menuduh? Nanda cakara casugraha melakukan perbuatan yang tidak pantas?!."
Deg!.
Ratu Ardningrum Bintari terbangun dari tidurnya, perasaannya saat itu bercampur aduk.
"Kanda Prabu!." Dadanya terasa sesak, jika ingat ucapan itu. "Kenapa kanda hanya membela keluarga dewi anindyaswari?." Hatinya semakin dipenuhi oleh perasaan dendam yang sangat kuat. "Kenapa kanda tidak pernah mendengarkan? Apa yang aku katakan?." Hatinya semakin sakit, jika ingat masa lalunya. "Semoga saja anak-anakku bisa memenangkan perperangan." Perasaan sakit itu semakin kuat dirasakan.
...***...
Di rumah Kepala desa Alam Gempar Raya.
Putri Agniasari Ariani telah dijamu dengan baik, setelah keadaan pemuda itu terlihat membaik.
"Maafkan kami nini." Ia memberi hormat. "Karena kami berpikiran buruk padamu." Nyai Arum Sari menatap sedih. "Saat itu aku takut sekali, sungguh."
"Tidak apa-apa nyai." Balasnya. "Yang penting anak nyai telah selamat."
"Sekali lagi maafkan kami nyai." Kali ini kepala desa Alam Gempar Raya yang berbicara.
"Tidak apa-apa tuan." Balasnya. "Sikap curiga memang salah satu sifat yang kita miliki." Lanjutnya. "Saya maklumi itu."
Keduanya tampak lega mendengarnya.
"Terima kasih nini." Kembali ia memberi hormat. "Karena bantuan nini anak kami selamat."
"Ya, terima kasih nini."
"Alhamdulillah hirobbil'alamin, semuanya karena Allah SWT."
"Allah? Siapa itu Allah?." Keduanya tampak kebingungan.
"Astaghfirullah hal'azim ya Allah." Dalam hati Putri Agniasari Ariani hanya bisa menahan perasaan itu. "Maaf? Kepercayaan apa yang nyai, dan tuan pegang saat ini?." Dengan hati-hati Putri Agniasari Ariani bertanya.
Sedangkan keduanya saling bertatapan satu sama lain.
"Kepercayaan?." Keduanya bertanya lagi.
"Kami hanya menyembah pohon, dan kami selalu memberikan persembahan setiap awal purnama."
"Astaghfirullah hal'azim ya Allah." Putri Agniasari Ariani cukup terkejut mendengarnya. "Pantas saja anak tuan dan nyai diganggu jin."
"Diganggu jin?."
"Ya, jin yang berasal dari pohon sesembahan nyai, dan juga tuan."
"Apa? Bagaimana bisa itu terjadi?."
"Ya, padahal kami selalu rutin menyembahnya!."
"Tuan? Nyai? Semakin nyai sembah pohon itu?." Balasnya. "Maka ia akan menggerogoti tubuh anak kalian, karena baginya? Itu seperti tumbal yang sangat enak."
Deg!.
Keduanya sangat terkejut mendengarkan penjelasan itu.
"Saya sarankan, keluarga tuan belajar ilmu agama yang lebih baik, dari pada melakukan hal yang merugikan."
...***...
Halaman Istana Utama Kerajaan Suka Damai.
"Aku sangat menyesal sekali." Ungkap sang Prabu. "Karena tidak bisa membantu ayahanda prabu pada saat itu." Tangisannya terdengar pilu. "Harusnya aku bisa menyelamatkan ayahanda Prabu pada saat itu jaya satria." Tangisnya terdengar terisak, ia tidak bisa menahan perasaannya.
"Tenanglah Gusti Prabu." Jaya Satria mencoba menenangkan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana. "Jangan menangis Gusti."
"Andai saja waktu itu ayahanda tidak mengurungku?." Dada sang Prabu terasa sesak. "Aku bisa membantunya menyerang Prabu wajendra bhadrika." Suaranya terdengar sesegukan menangan tangis. "Aku yakin ayahanda masih bersama kita jaya satria." Rasa penyesalan yang begitu dalam, membuatnya menangis pilu jika ingat kejadian itu.
"Rayi Prabu." Raden Hadyan Hastanta dapat merasakan kesedihan itu, ia juga menyesal karena tidak bisa membantu ayahandanya. "Kau merasa bertanggungjawab atas kematian ayahanda Prabu, sedangkan aku?." Dalam hatinya juga sedih karena tidak bisa berbuat apa-apa untuk ayahandanya.
"Kau tidak usah berpura-pura sedih! Atas kematian ayahanda, cakara casugraha!." Raden Ganendra Garjitha muak melihat itu, ia sangat marah?.
"Raka!." Bentaknya keras. "Kau sangat keterlaluan sekali!."
"Astaghfirullah hal'azim ya Allah." Syekh Asmawan Mulia juga terkejut.
Jaya Satria bangun dan matanya melotot menatap Raden Ganendra Garjitha. "Bukankah sudah aku katakan? Jaga ucapanmu!." Tunjuknya kasar. "Apakah perlu aku perlihatkan? Bagaimana kesedihan Gusti Prabu kepadamu?." Jaya Satria benar-benar emosi tingkat tinggi.
"Sudahlah jaya satria." Sang Prabu menekan Jaya Satria. "Tidak ada gunanya kau marah-marah padanya." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana menghapus air matanya, mencoba untuk bangkit.
"Maafkan hamba Gusti Prabu." Jaya Satria memberi hormat. "Hanya saja ucapannya tidak bertempat." Jaya Satria ingin menghajar Raden Ganendra Garjitha yang tidak bisa menjaga ucpannya.
"Biarkan saja jaya satria."
"Asal kau tahu saja cakara casugraha!." Tegasnya. "Aku mempercepat perang ini, karena kau telah mengirim dukun teluh, untuk mencelakai kakek Prabu!." Amarahnya keluar begitu saja. "Dan aku akan menuntut kau! Karena kau telah berbuat curang sebelum perang."
Deg!.
Ucapan itu membuat mereka semakin terkejut, bagaimana mungkin?. Hanya alasan dan tuduhan kejam seperti itu?. Mereka melakukan perang dalam waktu yang cepat?.
Prabu Asmalaraya Arya Ardhana menghela nafasnya pelan, dan ia lakukan untuk menenangkan dirinya.
"Raka!." Bentaknya keras. "Kau masih saja menuduh rayi Prabu yang telah berbuat kejahatan?!." . "Sudah berapa kali aku mengatakan padamu? Tidak mungkin rayi Prabu melakukan itu!."
"Aku tidak menuduh! Hanya berkata yang sebenarnya"
"Jaga bicaramu Raka!."
Raden Hadyan Hastanta hampir saja mengeluarkan amarahnya, namun saat itu Prabu Asmalaraya Arya Ardhana berkata.
"Aku dan jaya satria pernah terkena santet, yang dikirim oleh Prabu wajendra bhadrika, aku dan jaya Satri masih bisa menahannya." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana masih ingat itu. "Aku yakin yang berbuat ulah adalah dia, dia yang ikut masuk dalam perperangan ini." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana menekan perasaan sesak itu. "Karena itulah, ia ingin kita saling membenci, saling membunuh satu sama lain." Sang prabu mencoba untuk menjelaskan padanya, tapi apa?.
"Kau tidak perlu membela dirimu, hanya untuk menutupi kebusukan mu! Cakara casugraha!." Apa yang barusan ia katakan?.
Duakh!.
Hantaman keras mendarat di bahu kiri Raden Ganendra Garjitha, namun bukan jaya Satria atau prabu Asmalaraya Arya Ardhana yang melakukannya, namun Raden Hadyan Hastanta yang melakukan itu.
"BEDEBAH!." Bentaknya dengan suara yang keras. "KAU ITU MEMANG BEDEBAH GANENDRA GARJITHA! KEPARAT KAU!." Hatinya sedang dikuasai oleh amarah yang membara.
"Raka?." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana tidak menduga itu.
"Astaghfirullah hal'azim, Raden." Syekh Asmawan Mulia juga terkejut melihat itu.
"Kegh!." Raden Ganendra Garjhita meringis kesakitan.
"APAKAH KAU TULI?!." Hatinya sangat membara. "APAKAH HATIMU SUDAH MATI RASA?!." Suaranya semakin tinggi. "HINGGA TIDAK MAU LAGI MENDENGARKAN PENJELASANNYA?! HAH?!." Kemarahannya memang tidak bisa ia kendalikan lagi.
"Raka?!."
"Raden?!." Syekh Asmawan Mulia juga terkejut melihat itu, melihat pertengkaran mereka.
"Tunggu saja pembalasanku!." Balasnya. "Akan aku bunuh kalian semuanya!."
Setelah itu ia pergi ke meninggalkan halaman Istana Kerajaan Suka Damai.
"Hufh!." Raden Hadyan Hastanta menghela nafasnya.
"Tenang lah raka."
"Terbuat dari apa hatinya?." Tatapan matanya sangat sedih. "Hingga tidak lagi mau mendengarkan perkataan, yang jelas begitu sesuai dengan faktanya." Raden Hadyan Hastanta menjatuhkan tubuhnya. "Aku tidak pernah bermimpi, memiliki saudara kandung seperti dia!."
"Raka." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana mendekati Raden Hadyan Hastanta.
"Rayi Prabu? Aku harap kau tidak memikirkannya." Tanpa sadar air matanya mengalir begitu saja. "Ucapannya memang sangat menyakitkan hati." Ia peluk adiknya itu. "Maafkan kesalahanku di masa lalu rayi." Raden Hadyan Hastanta menangis sedih. "Aku telah membuat kau terusir dari istana ini, aku telah salah rayi."
"Tenanglah raka." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana berusaha menenangkan kakaknya. "Jangan ingat lagi, kesalahan masa lalu."
Raden Hadyan Hastanta menangis sedih, hatinya terluka parah, mendengarkan tuduhan tentang adiknya Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.
...***...
Namun masih ada satu lokasi yang masih belum selesai masalahnya, dan ia adalah Senopati Mandaka Sakuta, ia masih bertarung dengan Raden Gentala Giandra.Matahari benar-benar telah condong ke barat, sebentar lagi akan berganti malam.
"Kau akan mengingat hari ini senopati bodoh!." Ucapnya. "Kau akan menjemput kematianmu!." Tubuh mereka benar-benar telah terluka, namun masih saja bertarung.
"Diam kau pengkhianat!." Balasnya. "Meskipun aku mati? Namun aku mati membela negeriku!." Ucapnya dengan tegas. "Sedangkan kau?! Jika kau mati?!." Ia menyeringai lebar. "Tentunya sebagi seorang pengkhianat busuk!."
Dan mereka kembali bertarung, mengadu kesaktian mereka, mereka tidak peduli lagi ketika mereka bertarung malam telah menyapa.
Raden Gentala Giandra memberikan pukulan keras ke dada Senopati Mandaka Sakuta, pukulan yang dilambari dengan tenaga dalam. Pukulan batu menghantam bumi, itulah nama pukulan itu, hingga Senopati Mandaka Sakuta terjajar beberapa langkah ke belakang. Ia tidak dapat lagi menghindari serangan itu dan terlempar jauh ke belakang.
"Rasakan kau!." Ada kepuasan di dalam dirinya karena berhasil menghajar Senopati Mandaka Sakuta.
"Ohok!." Senopati Mandaka Sakuta memuntahkan darahnya. Serangan kali ini memang sangat menyakitkan, hingga ia tidak bisa menahannya.
"Bersiaplah untuk menerima ajalmu." Mata itu melotot tajam, seakan-akan ia hendak menelan Senopati Mandaka Sakuta hidup-hidup.
Setelah itu ia melakukan beberapa gerakan jurus yang hendak ia lepaskan ke arah Senopati, namun seorang prajurit istana datang
"Mohon ampun Gusti Senopati." Ia memberi hormat. "Gusti Prabu asmalaraya arya ardhana, menyuruh Gusti untuk kembali ke istana, perang ini telah selesai."
"Apa kau bilang? Perang sudah selesai?."
"Benar Raden, perang telah usai."
"Lalu bagaimana dengan keadaan raka ku ganendra garjitha? Dan rayiku ambarsari?."
"Mohon ampun Raden." Balasnya. "Yang hamba ketahui bahwa, Raden ganendra garjitha kembali ke istana kerajaan mekar jaya." Ia memberi hormat. "Sementara Gusti Putri ambarsari belum diketahui." Lanjutnya. "Karena kondisi perang ini sangat kacau." Jelasnya. "Kerajaan jin yang dipimpin oleh Prabu wajendra bhadrika, ikut serta dalam perang ini Raden."
"Itu tidak mungkin!."
"Mari Gusti Senopati, Gusti Prabu asmalaraya arya ardhana sangat mencemaskan keadaan Gusti Senopati." Prajurit itu membantu Senopati Mandaka Sakuta untuk meninggalkan tempat itu.
"Rayi ambarsari?." Mendadak hatinya merasa sedih, karena prajurit itu mengatakan tidak mengetahui keberadaan adiknya?. "Jagat dewa batara, rayi ambarsari?." Hatinya yang gelisah mencoba mencari keberadaan adiknya. Ia akan menuju ke sana, ia ingin tahu bagaimana nasib adiknya, apakah masih bisa diselamatkan atau tidak.
***
Kita tinggalkan dulu Raden Gentala Giandra yang mencemaskan adiknya, mari kita lihat keterlibatan Prabu Wajendra Bhadrika dalam perperangan itu. Kembali dua hari sebelum perperangan antara kerajaan Suka Damai dan Kerajaan Mekar Jaya terjadi.
"Apa?." Responnya. "Apakah kau tidak salah? Kau telah memastikan itu?."
"Benar Gusti Prabu." Balasnya. "Hamba sangat jelas mendengarkan pembicaraan penduduk suka damai." Jelasnya. "Yang mengatakan rajanya akan berperang dengan raja rahwana bimantara, dari kerajaan mekar jaya."
Prabu Wajendra Bhadrika nampak sedang berpikir, ia menatap Nini Kabut Bidadari yang duduk di sebelah kirnya.
"Mohon ampun Gusti Prabu, itu terdengar menguntungkan bagi kita."
"Keuntungan apa? Yang akan kita dapatkan dari perang itu nini?."
"Kita bisa memanfaatkan kelengahan mereka di saat berperang." Jawabnya. "Dengan mengerahkan pasukan jin, yang tidak bisa lihat secara mata biasa." Nini Kabut Bidadari menjelaskan. "Hamba yakin mereka tidak akan bisa menghindari serangan itu." Ia terlihat senang. "Hasilnya mereka semua akan saling membunuh satu sama lain." Lanjutnya. "Kita serang pihak Prabu rahwana bimantara, biar pekerjaan lebih mudah."
Prabu Wajendra Bhadrika memikirkan kembali apa yang dikatakan abdi setianya itu, apakah sang Prabu akan melakukannya?. "Mengapa seperti itu?."
"Jika kita menyerang pihak Prabu rahwana bimantara?." Jawabnya. "Hamba yakin mereka akan menuduh raja suka damai, yang telah berbuat kecurangan sebelum berperang." Lanjutnya. "Itulah yang harus kita manfaatkan sebaiknya gusti Prabu."
Prabu Wajendra Bhadrika tampak berpikir lagi, ide itu memang bagus. "Bagaimana dengan istana itu?."
"Gusti Prabu bisa mengerahkan sebagian pasukan untuk menyerbu istana." Jawabnya. "Atau mengacau di kota raja?."
"Ho?." Prabu Wajendra Bhadrika tampak tertarik dengan ucapan Nini Kabut Bidadari.
"Untuk mengalihkan mereka dari yang masih tersisa di istana, agar keluar untuk menghentikan kerusuhan itu." Ucapnya lagi. "Dan sebagian pasukan lainnya menghancurkan istana." Ia terlihat bersemangat. "Hamba yakin, istana benar-benar kosong, Karena tidak mungkin raja tidak ikut dalam perperangan." Nini Kabut Bidadari menjelaskan semuanya.
"Ide yang bagus, kau memang hebat nini." Prabu Wajendra Bhadrika sangat kagum.
"Mohon maaf ayahanda Prabu." Ia memberi hormat. "Bolehkah aku menyarankan sesuatu?."
"Silahkan putriku, katakan."
"Mengapa tidak kita santet saja prabu Rahwana Bimantara?." Ucapnya. "Aku yakin perang semakin berkobar." Senyumnya terlihat sangat menikmati atas apa yang ia bayangkan. "Karena pihak Prabu rahwana bimantara akan menganggap bahwa." Lanjutnya. "Pihak Raja suka damai telah melakukan kecurangan?."
"Kenapa kau berpikiran seperti itu putriku?."
"Itu adalah taktik adu domba ayahanda, mereka berperang karena kita."
Prabu Wajendra Bhadrika juga nampak berpikir lagi. "Yang dikatakan putriku benar juga." Ia melirik ke arah Nini Kabut Bidadari. "Dari pada menunggu perang itu terjadi? Hanya karena lamanya persiapan perang." Ia merasa tertarik dengan ide anaknya. "Baiklah, aku akan menggabungkan ide kalian berdua." Seringaian lebar terlihat jelas di wajahnya, ia akan melakukan kedua ide itu.
Dan kembali ke masa setelah perang selesai, dan ia terlempar jauh karena serangan prabu Asmalaraya Arya Ardhana. Ia sangat marah karena serangan itu tidak sama sekali ia sadari. Membuat sukmanya kembali dengan paksa ke jasadnya, yaitunya istana kerajaan kegelapan miliknya.
"Ayahanda." Ia mendekati ayahandanya. "Bagaimana ayahanda Prabu? Apakah berhasil?."
"Gagal."
"Apa? Ayahanda Prabu gagal?."
"Aku tidak menyangka." Jawabnya sambil menahan sakit. "Musuh memiliki mantram aneh untuk menjaga istananya." Ia berusaha berpikir dengan benar. "Dan aku tidak menyangka dia berada di istana."
"Apa maksud ayahanda?."
"Mantram yang mereka bacakan membuat pasukanku kesakitan." Jawabnya. "Pasukanku semuanya hancur lebur sebelum memasuki gerbang istana." Ia sangat kesal. "Bahkan tubuhku terasa panas, mendengarkan mantram yang ia bacakan."
Seketika Putri Gempita Bhadrika ingat ketika melawan orang bertopeng itu, dan ia ingat bahwa orang bertopeng itu juga membacakan mantram aneh yang membuat ia kepanasan.
"Aku rasa mereka juga memiliki ilmu dukun yang sakti mandraguna ayahanda Prabu."
"Ya, ayahanda kira seperti itu."
"Lalu apa yang akan kita lakukan setelah ini?."
"Kita masih punya rencana bagus, untuk mendapatkan salah satu kerajaan besar." Hatinya masih belum menerima kekalahan itu. "Karena Prabu rahwana bimantara, masih dalam pengaruh santet nini kabut bidadari."
"Betul sekali ayahanda Prabu, kita tidak benar-benar kalah."
"Kalau begitu, kita suruh nini kabut Bidadari menguasai tubuh prabu rahwana bimantara, untuk menyerang keluarga mereka sendiri."
"Tentu saja putriku." Prabu Wajendra Bhadrika tentunya tahu apa yang akan ia lakukan, selama Prabu Rahwana Bimantara masih berada di dalam genggamannya. "Ternyata masih gagal?." Dalam hatinya sangat kesal. "Ternyata dia memang musuh yang tangguh." Dalam hatinya lagi. "Bahkan? Ketika aku menyerangnya melalui pasukan jin? Dia pun dapat mengalahkan semuanya." Hatinya sangat benci.
Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Simak dengan baik kisahnya.
...***...
Semoga crta terbaru bagus ya..