Sekuel dari "Bukan Salah Cinta"
Siapkan tissu, lap, atau kanebo ya readers 🤧
Takdir seseorang tidak ada yang bisa menebak. Takdir mampu mempertemukan seseorang, takdir juga yang mampu memisahkan orang itu.
Pertemuan tidak sengaja oleh takdir antara Melodi dengan pemuda hangat dan humble bernama Ben Damian Ezra.
Disaat cinta mulai tumbuh, terjadilah sebuah tragedi yang mengharuskan Melodi meninggalkan Ben.
Tahun-tahun berlalu, bagaimanakah kehidupan mereka?
Akankah takdir mampu mempertemukan mereka kembali?
Mampukah Melodi memaafkan Ben hingga mereka bersatu kembali?
"Dunia mungkin akan mampu mengubah hidupku, tapi tidak dengan rasa cintaku padamu."
"Kamulah Takdirku"
Happy reading ya guys, i hope you'll enjoy it😉
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riana Kristina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
Happy reading
💕💕💕💕💕
"I love you," ucap Melodi lembut sebelum guyuran hujan menimpa atap dan tubuh mereka berdua.
"I love you Kak," ulang Melodi dengan kesadaran penuh.
Melodi harus mengumpulkan keberanian ketika dengan lancang tangannya berani menyentuh wajah Ben. Dadanya berdetak kencang, tapi kenekatannya kali ini sudah mencapai persentase seratus persen.
Menyentuh pipi Ben adalah keinginannya sejak awal, dan mengucapkan 'i love you' secara langsung dengan serius adalah suatu keberanian yang tidak pernah dia duga sendiri. Dia serius. Sangat serius.
Melodi tak pernah mengenal kata cinta, bahkan dia tidak tahu apa yang disebut cinta. Lantas, kenapa secepat itu dia mengucap cinta? Benarkah ini cinta? Entahlah, Melodi juga tidak mengerti dengan pasti perasaan apa ini. Yang jelas, dia merasa berbeda ketika bersama Ben.
Ben, pemuda yang baru dikenalnya. Namun, mampu membuat Melodi tersentuh, membuatnya merasa nyaman dan aman. Senyum yang lembut dan sorot mata yang hangat milik Ben, menghipnotisnya. Darahnya seakan berdesir, diiringi debaran jantung yang bekerja secara tak biasa. Kelembutan dan kehangatan sikap Ben, mampu melebur gangguan panic attack yang biasa menggerogoti diri Melodi.
Ben terlihat bingung, dia segera memutuskan kontak mata dengan Melodi. Ini sungguh diluar dugaannya. Melodi akan secepat ini mengungkap perasaannya.
"Ayo pulang, udah malam." Hanya kalimat itu yang terlontar dari bibir Ben. Dia berjalan lebih dulu meninggalkan Melodi yang masih mematung, menunggu balasan perasaan Ben untuknya.
Bagi Ben, Melodi terlalu polos. Terlalu lugu. Gadis itu belum mengerti secara pasti perasaannya. Melodi tidak bisa membedakan perasaan nyaman dengan cinta, dan Ben tidak ingin memanfaatkan itu.
Memang tidak bisa Ben pungkiri jika dirinya kerap merasakan getaran yang berbeda saat bersama Melodi. Ada suatu dorongan dalam diri Ben yang menginginkan untuk melindungi Melodi. Menjaganya dan membuatnya agar selalu tersenyum. Namun, Ben belum berani memastikan itu adalah cinta. Dia tidak ingin terburu-buru memutuskan, jika perasaannya ini salah justru Melodi yang akan paling terluka. Karena jika boleh jujur, saat bersama Melodi, Ben masih kerap membayangkan Angel. Dia takut Melodi hanya alat pelampiasan rasa rindunya pada Angel.
Melodi hanya bisa diam. Gadis itu menunduk dan mengikuti Ben saat berpamitan pada penjaga villa. Dia juga ikut menyalami penjaga villa itu.
Sepanjang perjalanan di dalam mobil yang melaju, baik Melodi maupun Ben sama-sama terdiam. Bagaikan dua orang asing yang tidak saling mengenal. Tidak ada sepatah kata apa pun yang terlontar dari keduanya. Mereka seakan larut dan tenggelam dalam pikiran masing-masing. Ben yang merasa bersalah karena tidak mampu memutuskan, sedangkan Melodi yang merasa malu bercampur kesal karena Ben mengabaikannya.
Di luar, jalanan terlihat sangat sepi. Tidak ada kendaraan yang lewat sepanjang perjalanan mereka tadi. Hujan juga masih turun dengan derasnya. Tetesan-tetesan air hujan memenuhi kaca mobil dan tampak mulai mengembun.
Masih dengan berpura-pura fokus mengemudi, Ben sesekali melirik Melodi melalui ekor matanya. Gadis itu tengah sibuk memandang keluar melalui kaca mobil.
"Apa kau merasa kedinginan?" tanya Ben memecah kesunyian di antara mereka. Dia melihat Melodi mengusap-usap lengannya.
"Tidak juga," jawab Melodi tanpa mengalihkan pandangannya dari kaca mobil.
"Tapi aku perhatikan kau sedari tadi mengusap lenganmu. Apa perlu AC-nya aku matikan?" Tangan Ben sudah hampir mencapai tombol AC mobil saat Melodi menghentikannya.
"Tidak usah Kak, aku suka dingin." Melodi menatap Ben sekilas sebelum kembali memandang ke luar kaca mobil.
"Apa yang ada di luar lebih menarik bagimu?" Ben kembali mengalihkan fokus Melodi.
"Aku menyukai hujan," sahut Melodi tanpa menatap Ben lagi. "Aku selalu suka hujan, air hujan, bau hujan, aku sangat menyukainya." Melodi tersenyum sekilas. "Hujan mengingatkanku akan masa-masa bahagiaku sewaktu kecil. Masa-masa bahagia bersama ayah." Wajahnya menerawang jauh, kembali ke masa kanak-kanaknya.
Lama-lama pandangan Melodi menjadi berkabut sama halnya dengan kaca mobil yang tertutup tetesan air hujan.
"Aku rindu ayah. Aku rindu saat ayah mengajakku mandi hujan. Kami bermain dan bernyanyi bersama di bawah guyuran air hujan. Aku rindu. Aku sangat merindukan ayahku." Melodi menunduk, menumpahkan air mata yang sedari tadi coba ditahannya.
Melodi tidak tahu, kenapa dia begitu lemah, begitu cengeng, begitu mudah meneteskan air mata di depan Ben?
Ben merasa terenyuh kembali, menatap pilu bahu Melodi berguncang dan terisak di hadapannya. Hatinya bagaikan disayat. Sakit dan perih. Ben seolah ikut merasakan duka yang Melodi alami.
Segera Ben menepikan mobilnya. Tanpa berbicara apa pun dia membuka pintu dan keluar dari mobil. Kemudian, tanpa memperdulikan hujan Ben berjalan menuju ke sisi Melodi dan membuka pintu.
"Ayo keluar!" perintahnya yang langsung menarik lengan Melodi. Mengajak gadis itu ke tengah jalan. Tidak ada kendaraan yang lewat, tidak ada permukiman penduduk, dan tidak ada siapa pun saat ini di sekitar mereka. Hanya mereka. Mereka berdua.
"Kak, apa yang kau lakukan?" tanya Melodi di sela-sela isak tangisnya. Suaranya nyaris tidak terdengar karena beradu dengan suara derasnya air hujan.
"Mengajakmu mandi hujan," jawab Ben santai yang kembali menarik lengan Melodi untuk berlari bersamanya menerobos derasnya hujan.
"Malam-malam begini?"
❤️❤️❤️❤️❤️
Spoiler
"Maafkan aku jika mengabaikanmu," ucap Ben yang menangkup kedua pipi melodi. Mereka masih berdiri di tengah jalan dan di bawah curahan air hujan yang masih mengguyur deras. Tubuh keduanya sudah basah kuyup dan Melodi sudah terlihat menggigil.
Ben masih menatap lekat Melodi. Jarinya mengusap lembut bibir bawah gadis itu yang sudah memucat.
Melodi mengerjap pelan. Kemudian, perlahan memejamkan mata, menikmati sentuhan jari Ben yang menyusuri bibirnya.
Tanpa melepas pandangannya, perlahan tapi pasti, Ben mulai mengikis jarak di antara mereka. Mendekatkan wajahnya ke wajah Melodi. Kemudian, memiringkan kepalanya, "Maaf ...."
🙈🙈🙈🙈🙈
Maafkan othor yang selalu menggantung kalian 😆
Yukkkk absen dulu🤭🤭🤭
Dukung aku yuk dilapak sebelah, bacanya juga sama tanpa koin,
Jgn lupa mampir ya krna ada give away di akhir bulan,
Aku tunggu 😊