Demi rasa cinta yang besar, seorang perempuan menyembunyikan kebenaran. Baginya kebenaran tidak ada gunanya tanpa kepercayaan.
Rasa cinta yang memudar seiring dengan kepercayaannya kepada perempuan itu, ia berusaha mencari kebenaran untuk ibundanya, tetapi ia justru terjebak dalam cinta yang lain.
Sedangkan dia memegang kunci kebenaran yang di sembunyikan perempuan tersebut, dan juga kepercayaan yang di berikan tapi ia juga terjebak dalam cinta yang salah.
Akankah mereka berhasil mencari kebenaran?
Apakah perempuan itu mendapat kepercayaan?
Apakah dia dapat terbebas dari cinta yang salah?
Penasaran? langsung baca yuk
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sri devi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berantakan
Jira terbangun keesokan harinya, dengan kondisi masih berkostum dinner dan make up full. Matanya menyipit menatap Arsa yang sudah lebih dulu bangun.
"Sori soal semalam," kata Arsa seraya melirik Jira yang perlahan bangkit.
"Kamu pulang jam berapa?" tanya Jira sambil memegang kepalanya yang terasa berat. Rasa sakit perlahan menyergap kepalanya.
"Kamu kenapa, Ji?" tanya Arsa sambil mendekat.
"Nggak tahu, dari semalam sakit kepala, makanya aku ketiduran karena minum obat."
Arsa meletakkan tangannya di dahi Jira. Suhunya tampak normal, tangannya kembali dia tarik tapi Jira menahannya. "Kenapa semalam nggak bangunin aku?" tanya Jira.
"Kamu tidur nyenyak. Ya udah kamu siap-siap, aku tunggu di bawah."
"Ke mana?" tanya Jira sambil memijat dahinya.
"Pulang." Arsa menjawab pelan sambil berdiri dan meninggalkan Jira yang terbengong.
Jira pikir Arsa akan mengganti makan malam yang gagal dengan menghabiskan hari bersama. Jira sudah mengkhayalkan bermesraan berdua Arsa di rumah itu tapi ternyata Arsa sudah menunggunya di mobil tanpa memberi waktu untuk sarapan. Jira bahkan hanya sempat mandi tanpa berdandan.
"Sa, buru-buru banget. Ada kerjaan?" tanya Jira heran saat memakai safety belt.
"Nggak ada."
"Jadi, kenapa harus pulang sekarang?"
"Terus kenapa nggak harus pulang sekarang?" Arsa balik bertanya.
Jira menoleh, menatap wajah Arsa dengan bingung. "Kamu ada masalah?" tanyanya curiga.
"Nggak ada." Arsa kembali menjawab datar. Jira akhirnya memilih diam karena kesal dan tak mau menambah keributan. Sepanjang perjalanan dia berusaha terpejam tapi gagal karena perutnya yang sejak semalam belum diisi terasa lapar.
Arsa juga tak lagi bicara, sepanjang jalan dia sibuk memikirkan cara untuk membahas rekaman cctv Jira dan Andini. Pikiran yang tak fokus pada jalanan membuatnya hampir dua kali menabrak penyebrang jalan.
"Sa, kamu kenapa, sih?!" Jira memekik kaget untuk yang ketiga kali saat Arsa mengerem mendadak. "Kalau nggak konsen biar aku yang nyetir!" Jira hampir membuka safety belt untuk berpindah tempat tapi Arsa menjawab dengan dingin. "Nggak perlu!"
"Tapi kamu nggak fokus!"
"Aku bilang nggak perlu, Ji!"
"Kalau nggak mau, aku pulang sendiri! Aku nggak mau mati konyol begini!" Jira bersikeras membuka pintu tapi suara keras Arsa menghentikannya.
"Masuk!"
"Nggak, aku pulang sendiri!"
"Kamu bisa nggak sih jadi istri yang nurut?!"
Jira terdiam, ucapan Arsa terdengar tak masuk akal tapi pria itu malah menatapnya tajam. "Jangan jadi istri pembangkang! Masuk!"
Lalu dengan kasar Arsa menutup paksa pintu Jira dan mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Jira tak lagi bersuara karena benaknya dipenuhi berbagai pertanyaan.
Ketika mobil berbelok memasuki halaman Croissant, Jira segera melompat dari mobil meski Arsa belum memarkirnya dengan sempurna. Dibantingnya pintu mobil dengan keras lalu ditinggalkannya Arsa sendirian. Tergesa Jira masuk ke dalam rumah tapi di ruang depan dia dihadang Crystal.
"Kak, aku mau ngomong."
"Nanti ya, aku sakit kepala." Jira menolak tapi Crystal menahan tangannya.
"Aku mau ngomong sekarang!" Crystal bersikeras.
"Crys, plis, nanti aku ke kamarmu." Jira menarik tangannya lalu menjauh.
"Nggak!" Crystal memekik seraya menarik kembali tangan Jira yang tanpa sengaja menepisnya. Crystal terjatuh, di depan mata Arsa.
"Crys! Kamu nggak apa-apa?" tanya Arsa panik sembari membantu Crystal berdiri.
"Aku nggak sengaja, maaf." Jira segera berlalu tapi ucapan Arsa menghentikannya.
"Nggak sengaja?" tanya Arsa dingin.
"Berapa kali kamu nggak sengaja begini?" tanya Arsa lagi.
"Kamu ngomong apa sih, Sa? Aku beneran nggak sengaja!" Jira menjawab dengan tersinggung.
Arsa hampir menambah keributan tapi saat itu Crystal tiba-tiba merintih kesakitan hingga terjatuh.
"Crys, kamu kenapa?" Arsa dan Jira bersamaan memeriksa keadaan Crystal.
"Sakit! Kepalaku sakit!" Crystal merintih seraya memegang kepalanya dengan kuat. Jira baru saja akan melihat wajah Cystal tapi Arsa segera mengangkatnya ke kamar seraya berteriak agar dipanggilkan dokter.
Selama Crystal mengeluhkan sakitnya, selama itu pula Arsa menenangkannya. Memijat pelan dahi Crystal, mengabaikan Jira yang dalam diam mulai terbersit perasaan curiga.
Menurut Jira, perhatian Arsa pada Crystal mulai berlebihan. Arsa bahkan sama sekali tak menanyakan keadaan Jira yang juga sedang sakit kepala, seharian pria itu bolak balik ke kamar Crystal untuk memastikan obat dari dokter diminum.
**
"Bu, sudah tiga kali Ibu minum obat ini, nggak ke dokter aja?" tanya Reyna cemas.
"Nggak, ini sakit kepala biasa." Jira menolak seraya melirik pintu kamar Crystal yang terbuka. "Crystal sudah tidur?" tanyanya penasaran.
"Sudah, tapi bapak masih di sana."
Jira memejamkan mata, dia ingin menemui Crystal tapi malas bertemu Arsa. Sebaliknya Arsa juga sengaja menemani Crystal agar tidak bertemu Jira.
Di balik kekerasan hati untuk saling menghindari, keduanya mulai mengartikan sikap masing-masing. Arsa mencurigai ketidakpedulian Jira yang mengabaikan Crystal. Jira mencurigai perhatian berlebihan Arsa untuk Crystal.
Baik Arsa maupun Jira masih saling menghindari hingga akhirnya tak ada lagi celah untuk menghindar karena malam sudah datang. Tak ingin mengundang pertanyaan penghuni rumah lain, Arsa masuk ke kamar mereka.
"Sa, jelasin semuanya." Jira menodong Arsa yang baru selesai mandi.
"Apa, Ji?"
"Apa?" Jira balik bertanya.
"Kamu nyadar nggak sikapmu seharian ini aneh?!" Jira memekik kesal.
"Aneh?" Arsa malah bertanya hingga Jira merasa kesal.
"Kamu seharian ini kasar sama aku!"
"Kamu bahkan lebih kasar sama Crystal."
"Aku nggak sengaja!" Jira merasa frustrasi tapi Arsa justru mendekat dan menatap matanya. "Apa semua kekasaranmu itu selalu karena ketidaksengajaan?" tanya Arsa dingin.
"Apa maksudmu?" tanya Jira bingung.
"Kamu bisa gampang menampar orang lain bahkan adikmu sendiri, apa semua itu nggak sengaja?"
"Itu masa lalu, maksudmu apa sih ngungkit lagi?!"
"Aku ingin tahu apa alasanmu ...."
"Mbak ... Mbak maaf menganggu!" suara panik Bi Ami yang diiringi gedoran di pintu menghentikan perdebatan antara Jira dan Arsa.
"Ya, Bi, kenapa?" Jira segera membuka pintu.
"Mbak Crystal demam. Dia ngigau nyariin Mbak Jira."
Tanpa bicara, Jira segera berlari ke kamar Crystal. Sejenak Jira tertegun menatap Crystal yang mengigil sambil menyebut namanya, begitu pun Arsa yang melihat dari pintu.
"Crys, ini aku!" Jira melompat ke tempat tidur, memeriksa kondisi Crystal.
"Kak. Aku adikmu, kan?" racau Crystal.
"Iya." Jira menjawab singkat sambil menerima kompres yang diserahkan Bi Ami.
"Panggil dokter lagi, Bi." Arsa memberi perintah yang tak ditanggapi Jira. Dia terlalu serius menenangkan Crystal yang terus memanggil namanya.
"Crys, kamu kenapa, sih?" tanya Jira heran. Tapi tak ada jawaban, Crystal malah memeluknya dengan erat, tak mau ditinggal meski dokter sudah selesai memeriksanya. Jira terpaksa menemani Crystal, terjaga sepanjang malam sambil memikirkan sikap aneh Arsa.
**
"Crys, kemarin mau ngomong apa?" tanya Jira saat keesokan harinya Crystal terbangun.
Crystal yang duduk di tepi ranjang hanya diam, kepalanya menunduk di lutut yang dia tekut. "Hey, kamu kenapa?" tanya Jira heran.
"Aku nggak mau ke JiSa lagi," kata Crystal semakin membuat Jira heran. "Kenapa?"
"Pokoknya nggak mau! Aku mau di rumah aja." Crystal tampak ketakutan dan Jira bertambah heran.
"It's okay, nggak masalah. Kalau nggak mau ya nggak usah ke sana lagi." Jira menyerah lalu berdiri tapi Crystal menarik tangannya.
"Kemarin ada perempuan gila di sana."
"Perempuan gila apa?" tanya Jira heran.
"Dia bilang aku bukan anak mama. Dia bilang ibu kita nggak sama. Katanya aku punya saudara lain."
Jira terperanjat, ditatapnya Crystal yang masih ketakutan. "Crys, siapa perempuan itu?"
"Nggak tahu. Dia bilang aku nggak boleh kasih tahu Kakak. Namanya Briana, adiknya Giana. Siapa Giana, Kak? Memangnya bener dia ibu kandungku?"
Jira merasa kepalanya tak lagi sakit tapi seperti mau pecah. Dia tak menyangka masih ada anggota keluarga Crystal yang berkeliaran.
"Dia bilang apa lagi?" selidik Jira.
"Katanya ...."
"Apa, Crys?!" tanya Jira tak sabar.
"Katanya Kakak cuma pura-pura sayang aku. Orang itu agak gila jadi aku lari waktu dia maksa mau cerita lebih banyak. Dia salah kan, Kak?"
Jira menarik napas panjang lalu memeluk Crystal yang tampak kacau. Tapi kacaunya penampilan Crystal tak bisa mengalahkan hati Jira yang lebih berantakan. Dia harus menemukan wanita bernama Briana itu.
"Kak, jadi siapa Briana itu?"
"Nggak tahu, yang pasti orang gila. Mungkin salah satu lawan bisnis kita. Nggak usah dipikirkan." Jira menenangkan Crystal sembari memikirkan Briana yang dia sebut gila. Jauh dalam hatinya, Jira merasa dirinyalah yang sebentar lagi akan gila.
ga nyangka dia bakal pergi padahal yg berjuang sekuat tenaga adalah jira
kirain endingnga jira bakal bahagia padahal bahagianya hanya sementara
keren sih authornya memang ku akui ceritanya berat banget full masalah tapi itu yg jadi keseruan tersendiri gimana dia bisa menjalani semuanya dan bisa melindungi orang orang yg di sayangi