"Kesalahanku adalah karena aku menerima tawaran itu sehingga aku mulai merasa nyaman dengannya."
Melani Pricillia adalah seorang sekretaris baru di Perusahaan Haditama. Ia baru saja bekerja selama 6 bulan pada perusahaan yang dipimpin oleh seorang pria dingin bernama Revan Haditama.
Sebuah tawaran dilayangkan oleh Revan kepada Melani yang membuat wanita itu tergiur dengan isi dari kontraknya. Sebuah kontrak yang mengharuskan Melani berpura-pura menjadi pacar Revan sebagai alasan Revan agar terhindar dari perjodohan yang telah direncanakan oleh orang tuanya. Namun tidak hanya itu, di luar dugaan Revan pun meminta Melani menjadi istrinya dengan bayaran 1 Miliar.
Bagaimana hubungan Revan dan Melani di akhir kontrak? Akankah cinta dapat tumbuh dan menyatukan keduanya dalam sebuah ikatan hati?
Follow Instagram Author : ekapradita_87
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eka Pradita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penyelamat
Selamat membaca!
Setelah puas menghabiskan waktu di Bundaran Hotel Indonesia, Melani dan Diana kini sudah berpindah lokasi ke kota tua, salah satu kota bersejarah di Jakarta yang terkenal dengan makanan khas Betawi yang bertebaran di sekitarannya.
Ibu dan anak itu tampak sibuk memandangi makanan yang begitu menggugah selera.
"Mah, aku mau makan bubur ayam itu deh, kata temanku bapak yang jualan itu legendaris banget di kota tua karena udah jualan sejak 30 tahun yang lalu. Buburnya itu enak banget lho, kalau setiap lihat fotonya aja aku selalu dibuat ngiler. Kita makan itu yuk, Mah!" ajak Melani kepada sang ibu sambil menunjuk salah satu gerobak bubur ayam sederhana yang bercat hijau tua.
Namun, pandangan Diana malah tertuju ke arah tukang penjual kerak telor yang berada di seberang jalan tempatnya berada saat ini.
"Mel, kamu aja ya yang makan bubur. Mama mau beli kerak telor sama selendang mayang aja di seberang sana, kangen banget makan makanan khas Betawi punya."
"Oh iya boleh kok, Mah, mumpung lagi ada di kota tua jadi Mama boleh makan apa aja makanan kesukaan Mama. Aku tunggu di tempat bubur ayam enggak apa-apa 'kan, Mah karena ngantri banget di sana."
"Iya enggak apa-apaapa, Mel, nanti Mama nyusul ke tempat kamu ya." Diana pun beranjak pergi dari posisinya dan mulai menyebrang jalan yang tampak ramai lalu lintas tanpa melihat ke arah jalan karena pandangannya begitu fokus menatap ke arah tukang kerak telor dan selendang mayang tersebut.
Saat langkahnya terus menyebrangi jalan, tanpa Diana sadari ada sebuah mobil sedan yang melaju dari arah kanan melintas dengan kecepatan sedang dan nyaris menabrak Diana. Namun, beruntung sesosok pria yang baru saja keluar dari Acaraki Cafe datang menyelamatkan wanita paruh baya itu, walau tubuh pria itu harus terserempet bumper mobil sedan tersebut, yang langsung menambah kecepatannya setelah menabrak seseorang.
Teriakan Diana dan beberapa pengunjung yang menyaksikan insiden tersebut membuat Melani segera menoleh ke arah tempat kejadian.
"Mama..." Teriak wanita itu dengan histeris sambil berlari menghampiri Diana yang saat itu masih terduduk di trotoar dengan wajah syok.
"Ya Allah, Mama. Apa Mama terluka?" tanya Melani yang saat ini duduk bersimpuh di depan Diana dengan wajah panik sambil meraba wajah dan lengan Diana untuk melihat apa ibunya terluka atau tidak.
"Mama baik-baik aja karena tadi ada orang yang menolong Mama, tapi, orang itu malah tertabrak. Kamu lihat dia ya, Mel."
Melani pun langsung menoleh ke arah seorang pria yang sudah menyelamatkan nyawa ibunya yang saat ini masih terbaring di aspal dengan posisi yang membelakanginya. Saat Melani hampir dekat untuk menghampiri pria itu, Melani dibuat terkejut saat pria yang hendak ditemuinya itu memutar tubuhnya untuk melihat Diana. Ya, ternyata pria yang sudah menyelamatkan ibunya adalah Revan, pria yang memang sangat dikenalnya.
"Tu--Tuan Revan. Jadi kamu yang sudah menolong Mamaku?" tanya Melani yang begitu terkejut sekaligus tak percaya, ia pun segera duduk di samping Revan dan langsung memapah pria itu untuk membantunya berdiri.
Revan saat itu terlihat sangat payah dan mengerang kesakitan saat luka di tangannya tersentuh oleh Melani.
"Eh, maaf Tuan. Saya tidak sengaja. Apa kamu terluka parah?" tanya Melani dengan raut wajah yang terlihat cemas.
"Sepertinya iya. Kenapa kamu datang ke tempat ini mengajak Mama Diana kalau kamu malah lalai saat menjaganya sih, Mel? Hampir saja Mama kamu tertabrak mobil sialan itu yang saat ini sudah kabur." Revan malah mengajukan protes sambil menyentuh lukanya dengan perlahan.
"Bukan gitu, Tuan. Tadi Mama nyebrang karena mau beli kerak telor sama selendang mayang sedangkan saya mau beli bubur ayam. Saya juga enggak tau kalau kejadiannya akan seperti ini," jawab Melani dengan terisak karena ia merasa takut kehilangan Diana.
"Jangan cengeng dan jangan panggil saya Tuan, Melani. Kamu ingat 'kan di sini ada Mamamu!" titah Revan dengan berbisik di depan daun telinga Melani saat kedua matanya melihat sosok Diana mulai datang menghampirinya.
"Iya saya ingat. Ya sudah, kita ke klinik ya, luka-luka kamu harus ditangani secepatnya biar tidak infeksi. Kamu kuat jalan atau mau dipanggilkan ambulance?" tanya Melani yang masih panik melihat darah di lengan Revan dan juga di area dahi pria itu.
"Ya ampun, Nak Revan. Maaf ya gara-gara menyelamatkan Mama kamu jadi seperti ini. Apa kamu baik-baik saja?" tanya Diana yang kini duduk di samping Melani sambil menatap wajah Revan yang sudah tampak darah terlihat di dahinya.
"Mah, Revan baik-baik aja kok, Mama enggak perlu merasa bersalah ya! Lain kali kalau Mama mau apa-apa minta beliin aja ya sama Melani," jawab Revan yang begitu menunjukkan perhatiannya pada Diana. Bahkan pria itu menggenggam tangan calon ibu mertuanya itu dengan erat.
Perkataan Revan sungguh membuat hati Melani begitu terenyuh dengan segala perhatian yang diberikan oleh pria itu. Kini hati Melani seketika menjadi luluh setelah melihat pengorbanan dan perhatian Revan pada Diana yang tampak begitu tulus.
"Aku enggak nyangka kamu akan sehangat ini sama Mama aku, Van. Ternyata kamu tidak seburuk apa yang aku pikirkan. Bahkan kamu rela terluka demi menyelamatkan Mamaku," batin Melani di kedalaman hatinya yang merasa haru.
🌸🌸🌸
Bersambung ✍️
Berikan komentar positif kalian ya.
Terima kasih banyak