Kinara pergi ke Korea untuk menemui ayahnya tapi tiba-tiba dia dipaksa untuk menjadi pengantin pengganti oleh saudara tirinya, Winter. Karena Winter sedang sakit.
Dan penderitaan Kinara benar-benar dimulai saat menikahi Sian. Pria itu mengira bahwa Kinara adalah Winter...
Bagaimana nasib Kinara selanjutnya?
Update seminggu sekali
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arik Tri Buana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34. Aku Akan Menghilang Dari Sisimu
“Di mana dia?”
Sian melemparkan pandangan ke sekeliling kamar, mencari sosok Kinara tanpa hasil. Sian ingat betul, bahwa setelah pergulatan panas mereka. Sian benar-benar memenjarakannya dalam pelukannya namun sekarang dia tidak di sampingnya.
Sian langsung bergegas menuju lantai satu. Saat kakinya berpijak pada anak tangga. Ia mendengar suara bising dari arah dapur. Sian kembali menajamkan pendengarannya. Sian menduga bahwa di dapur ada lebih dari dua orang lalu siapa orang yang ke tiga?
Sian buru-buru menuju ke dapur dan mendapatkan tiga anak manusia sedang asyik memasak sambil bercanda.
Sian memandang ke arah Kinara yang saat itu sedang menertawakan sesuatu yang dikatakan lelaki di hadapannya.
Sian tertegun. Itulah pertama kalinya Sian melihat Kinara tertawa. Dan Sian mendapati dirinya bertanya-tanya apa yang dikatakan Lee Hyuk sampai bisa membuat dia tertawa seperti tadi.
“Sian.”
Kinara tersentak saat Lee Hyuk memanggil Sian. Gadis itu langsung berhenti tertawa dan menoleh ke samping. Seorang pria jangkung, ramping, dan berambut gelap berhenti melangkah di hadapan Kinara.
“Apa yang kamu lakukan di rumahku sepagi ini? Bukankah aku menyuruhmu untuk pergi ke Inggris,” ucap Sian.
“Tenang saja, aku sudah mengirimkannya pada Henry. Nanti malam, aku akan berangkat.”
Kinara memicingkan matanya. Menatap Sian dan Lee Hyuk secara bergantian. Sela yang berada di sana juga melihat keanehan mereka bertiga. Kinara layaknya orang yang sedang diperebutkan oleh mereka berdua.
Ini seperti cinta segitiga.
“Sepertinya makanannya sudah masak. Ayo kita makan,” ucap Sela.
Sela menelan ludahnya sendiri saat ditatap oleh Sian dan Lee Hyuk secara bersama.
Apakah aku membuat kesalahan?
Saat ini mereka berempat sudah duduk manis dan menikmati sarapan yang mereka buat. Kinara melahapnya dengan penuh semangat. Gadis itu tidak memedulikan dua pasang mata yang selalu mengawasinya.
“Makanlah lebih banyak,” ucap Lee Hyuk.
Pria itu menaruh sepotong daging di mangkuk Kinara. Kinara menatap Lee Hyuk dengan tersenyum sementara Sian yang melihatnya merasa kesal, lebih tepatnya tidak suka.
Pria itu tak mau kalah dari Lee Hyuk. Sian juga memberikan sepotong daging dan juga sayur.
“Makanlah!”
Kinara langsung menatap Sian dan berdehem sebelum melahapnya. Sian yang melihatnya tersenyum samar melihat makanan yang ia berikan dimakan lahap oleh Kinara.
“Apa rencana kalian hari ini?” tanya Sela.
“Tidak ada,” ucap Sian singkat.
“Kamu tidak bekerja?” tanya Lee Hyuk.
“Aku bekerja dari rumah.”
Lee Hyuk mengerutkan keningnya tak mengerti.
Sian menatap Kinara dan ingin melihat reaksi gadis itu. Tapi sepertinya, dia tidak begitu tertarik. Gadis itu masih fokus pada makanannya. Alhasil, Sian menendang kaki Kinara dengan pelan namun sayangnya targetnya salah.
“Aduh,” keluh Sela.
“Kenapa?” tanya Kinara khawatir.
“Tidak, aku tidak apa-apa,” ucap Sela sambil melihat ke arah Sian dengan takut. Karena Sian melihat ke arahnya.
“Sela, apa rencanamu hari ini? Ingin pergi keluar denganku?” tanya Kinara.
Sian yang mendengar ajakan Kinara langsung menatap Sela dengan tajam. Sadar bahwa Sian tidak suka dengan rencana Kinara. Sela buru-buru menolaknya.
“Aku tidak bisa, hari ini aku masuk kerja.
“Sayang sekali,” ucap Kinara dengan kecewa sementara Sian terlihat senang.
.........
Minji saat ini tengah menunggu seseorang di bandara. Wanita itu sedari tadi memainkan ponselnya untuk memberikan pesan pada seseorang di seberang.
Sebuah pesan yang muncul dari ponselnya, membuatnya langsung berdiri dari tempat duduknya. Ia langsung mendongakkan kepalanya.
Netra matanya langsung menangkap sosok perempuan yang mengenakan masker, kacamata hitam dan juga mengenakan topi. Wajahnya sama sekali tidak bisa dikenali namun Minji hafal betul dengan perawakannya. Dia adalah Winter. Winter yang asli.
Minji lantas menghampirinya dan mengambil alih koper yang diseretnya.
“Bagaimana keadaanmu?”
“Seperti yang kamu lihat. Aku baik-baik saja.”
“Bibi dimana?”
“Mamaku pulang lusa.”
Mereka berdua langsung memasuki mobil. Minji berada di balik kemudi sementara Winter berada di kursi penumpang depan.
Mobil itu meninggalkan bandara dengan melesat. Winter menikmati pemandangan yang berada di luar mobil. Keningnya mengerut saat melihat jalan yang mereka lewati bukan jalan menuju ke rumahnya.
“Dimana kita akan pergi? Ini bukan jalan menuju rumahku.”
“Kita akan ke rumahku.”
“Rumahmu? Kenapa harus ke rumahmu? Apakah Kinara berada di rumahmu?” tanya Winter kebingungan.
“Tidak.”
“Tidak? Lalu mengapa aku harus ke rumahmu? Aku harus bertemu dengan Kinara agar aku bisa segera bertukar identitas dengannya.”
“Aku tahu tapi kamu harus menunggu.”
“Apa maksudmu aku haru menunggu? Kamu yang menyuruhku untuk segera kembali lantas kenapa aku harus menunggu lagi?”
Minji tidak langsung menjawab pertanyaan Winter, dia masih fokus dengan jalanan. Setelah beberapa menit, Minji membelokkan mobilnya dan berhenti di sebuah rumah.
“Kinara ada pengambilan iklan sore nanti jadi untuk sementara waktu kamu tinggal di rumahku.”
Winter mengerutkan kening, ia tidak mengerti apa tujuan Minji sebenarnya.
“Aku sudah ada di sini kenapa kamu masih saja ingin Kinara berpura-pura menjadi diriku? Aku bisa menjalani pengambilan iklan itu!”
“Aku mempunyai rencana. Aku akan menjelaskan detailnya nanti malam.”
“Kenapa kamu melakukan ini padaku?”
“Winter, percayalah padaku. Sekarang ayo kita masuk dan istirahatlah.”
.........
Saat ini Kinara duduk di sofa empuk dengan televisi yang menyala di depannya. Pagi hingga siang nanti ia tidak ada kegiatan. Di sore hari ia akan mengambil pengambilan iklan bersama Ruhi.
Kinara begitu tenggelam dengan acara yang dilihatnya. Segera setelah itu, ia merasakan guncangan sedikit di sampingnya.
Ia diam-diam menoleh ke samping dan menemukan Sian tengah duduk tegap dengan tangan memegang sebuah tab.
Dia begitu sempurna, dilihat dari sudut mana pun.
“Apa yang kamu lihat?”
Kinara langsung berdehem dan menjadi salah tingkah saat ia ketahuan sedang mengaguminya.
“Tidak hanya saja aku akan mematikan televisi agar tidak mengganggumu.”
“Tonton saja televisimu. Suara kecil itu tidak akan menggangguku.”
Kinara sedikit gelisah. “Benarkah?”
“Hm.”
Hanya kamu yang bisa menggangguku.
Beberapa menit kemudian tanpa sadar Kinara mulai mengeluh. “Aku bingung setelah ini aku akan melakukan apa?”
Sian melihat televisi di depannya dan beralih kembali pada Kinara, “Nonton satu film lagi,”
Kinara langsung menoleh. “Aku sudah menonton film dua kali.”
“Kalau begitu pergilah makan.”
“Aku sudah kenyang,” ucap Kinara sambil melihat bungkus camilan yang berserakan di meja.
“Ayo pergi jalan-jalan,” ucap Sian segera pria itu menarik Kinara.
“Huh?”
Mereka berjalan-jalan ke taman. Untuk sementara waktu, Kinara melupakan apa yang terjadi ke depannya dengan Sian. Gadis itu berlarian ke sana-ke mari.
Sian yang melihatnya seperti melihat kenangan lama yang samar. Pria itu segera mengenyahkan pemikirannya.
Sian melihat perlahan gadis itu mendekatinya.
“Ada apa?”
“Aku ingin mengambil beberapa foto denganmu. Bolehkah aku—“
“Ayo.”
Sian segera menarik tangan Kinara agar berada lebih dekat dengannya. Pria itu mencondongkan tubuhnya dan mengambil beberapa foto bersama.
Kinara tampak cantik dengan senyum merekah nan manisnya sementara Sian tampak tampan meskipun wajahnya sedikit kaku.
“Apakah kamu haus?”
“Hm.”
“Aku akan membeli minum. Tunggu di sini!”
“Ya.”
Sian lalu meninggalkan Kinara namun baru saja mencapai beberapa langkah, pria itu kembali.
“Jangan bergerak dari tempatmu sama sekali.”
Kinara tersenyum dan berkata, “Iya.”
Ketika sosok Sian sudah mulai menghilang dari pandangannya. Kinara mulai bosan di tempatnya. Ia dengan samar mendengar suara musik.
Kinara didorong oleh rasa ingin tahu yang menggebu. Alhasil Kinara berada di tengah kerumunan. Butuh perjuangan saat Kinara mencapai tempat di depan.
Di sana rupanya ada beberapa orang pria yang sedang melakukan cover dance. Ia sangat bersemangat. Saat musik mulai berhenti orang-orang mulai memberikan tepuk tangan tak terkecuali Kinara.
Kinara ingin memberikan sedikit uangnya. Saat ia mengambil uang dari dompetnya. Tiba-tiba seseorang menarik dompetnya dengan paksa.
“Pencuri!”
Kinara menjerit dan mengejarnya. Namun kekuatannya tak sebanding dengan pria pencuri itu. Ia terengah-engah mengejarnya. Namun seorang pria seperti kilat berlari di depannya. Ia juga mengejar pencuri itu.
Pencuri itu sepertinya kelelahan. Ia melemparkan begitu saja dompet Kinara dan kabur ke gang sempit.
“Lihat apa ada yang hilang?”
Kinara mendongak dan melihat bahwa pria yang mengejar pencuri itu adalah adiknya sekaligus pria yang menari cover.
“Nathan.”
“Kakak.”
“Apa yang kamu lakukan? Kamu? Itu di sana tadi?”
“Aku hanya iseng. Tenang saja, aku tidak setiap hari
melakukannya. Dan kakak, kenapa kamu di sini? Bagaimana jika aku tidak di sini, kakak akan kehilangan dompetmu?”
“Aku di sini hanya... ah, benar aku bersama Sian tadi.”
“Kamu pergi kemana saja?”
Kinara dan Nathan langsung menoleh ke samping dan menemukan Sian dengan ekspresi yang menyeramkan.
“Aku pergi untuk melihat pertunjukkan dan dompetku tadi dicuri.”
“Bagaimana bisa kamu?”
“Tenang, dompetku sudah ketemu dan Nathan yang sudah menyelamatkanku.”
“Siapa dia?”
“Orang yang—“
“Ah aku ingat kamu. Terima kasih, kami akan pergi dulu.”
Sian langsung menyeret Kinara menjauh. Kinara langsung menolehkan kepalanya dan memberikan isyarat pada Nathan bahwa ia akan meneleponnya nanti. Nathan menjawab oke dengan tersenyum lalu melambaikan tangan.
“Aku paling benci pada wanita yang tidak patuh.”
“Maaf.”
“Sekarang dompet hilang bagaimana jika suatu hari nanti orangnya juga akan ikut hilang.”
Kinara yang mendengar ucapan Sian seketika menghentikan langkahnya. Gadis itu terpaku di tempatnya. Tiba-tiba rasa bersalah, sedih dan sakit meraung menggerogoti hatinya.
Pada kenyataannya, ia akan menghilang dari sisi Sian untuk selamanya.
tp lakon Yo tetep lakon