Keira Khiu bukan tipe sekretaris yang kamu lihat di drama.
Dia gemuk, biasa-biasa saja, dan lebih suka makan bakso pinggir jalan daripada makan malam di restoran mewah. Tapi di balik penampilannya yang sederhana, Keira adalah orang yang paling dipercaya oleh Rayhan Kie — Direktur Utama Gemilang Group, konglomerat properti terbesar di kota ini.
Rayhan tampan, kaya, dan terbiasa mendapatkan apa pun yang dia inginkan. Wanita datang dan pergi dari hidupnya tanpa meninggalkan bekas. Tapi Keira? Dia berbeda. Dia menolak semua godaannya. Dia menamparnya ketika dia mencoba memeluknya. Dia bahkan pernah mematahkan tangan seorang pria yang menyentuhnya tanpa izin.
Selama bertahun-tahun, Rayhan menganggap Keira hanya sebagai asisten terbaiknya. Sampai dia menyadari — dia tak bisa hidup tanpanya.
Tapi Keira punya lukanya sendiri. Cinta pertamanya, Arya, memilih wanita lain setelah sepuluh tahun kebersamaan. Dan di balik kemewahan keluarga Kie, tersembunyi rahasia gelap: istri Rayhan, Sanya, mengandung anak pria lain. Adik tirinya, Selene, merencanakan segalanya dari balik bayangan. Dan Kevin — sepupu Keira sendiri — terjerat di tengah-tengah semuanya.
Ketika kebenaran terungkap, hanya satu orang yang bisa dipercaya Rayhan.
Dan orang itu justru ingin pergi meninggalkannya.
**"Aku mencintaimu, Rayhan. Tapi aku tak bisa menjadi burung dalam sangkar emasmu."**
---
*Sebuah kisah tentang wanita biasa yang menolak menjadi milik siapa pun — kecuali dirinya sendiri.*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 34
Bab 34: Jessy
Jessy datang ke hidup Arya melalui pintu yang sangat masuk akal.
Ia mengaku sebagai staf konsultan sosial untuk proyek pelatihan warga di wilayah yang sedang diperiksa dinas kota. Cantik, rambut sebahu, cara bicara ringan, dan selalu membawa map yang cukup rapi untuk terlihat profesional tetapi tidak terlalu rapi sampai mencurigakan.
Pertemuan pertama terjadi di kantor Bambang. Arya baru selesai rapat saat Jessy menghampirinya.
"Pak Arya? Saya Jessy. Kita pernah email soal data peserta pelatihan."
Arya membuka ponsel. Memang ada email. Singkat, formal, dengan lampiran.
"Oh, iya. Ada yang perlu dikoreksi?"
"Beberapa nama dobel. Saya takut nanti jadi masalah audit."
Kata audit membuat Arya langsung memberi perhatian. Beberapa bulan terakhir, Bambang makin keras memeriksa proyek yang bersinggungan dengan Yong. Arya tahu ayahnya tidak disukai, tetapi ia juga tahu pekerjaan harus bersih.
Jessy tidak langsung menggoda. Justru itu yang membuatnya efektif.
Ia datang membawa data. Bertanya dengan sopan. Meminta arahan. Mengirim pesan hanya di jam kerja. Lalu suatu hari, ketika hujan membuat rapat lapangan tertunda, ia mengirim foto jalan banjir dan tulisan:
Pak Arya, kalau saya terlambat, jangan dimarahi ya. Saya takut sama bapak-bapak dinas.
Arya tertawa saat membacanya.
Keira melihat tawa itu malamnya.
Mereka sedang makan di warung dekat apartemen. Hubungan mereka tidak putus, tetapi juga tidak maju. Arya masih datang, masih membantu Vania, masih menanyakan kabar Keira. Namun setelah semua rahasia Kevin, Sanya, dan keluarga memenuhi hidup Keira, ruang untuk manis menjadi sempit.
"Apa yang lucu?" tanya Keira.
"Staf proyek. Dia takut dimarahi."
"Perempuan?"
Arya menatapnya, lalu tersenyum. "Kamu cemburu?"
Keira menyesal bertanya. "Aku hanya bertanya."
"Namanya Jessy. Urusan kerja."
"Baik."
Jawaban itu seharusnya selesai. Tetapi Arya tampak kecewa karena Keira tidak cemburu lebih jauh. Keira melihatnya, dan rasa lelah yang akrab kembali datang.
Beberapa hari kemudian, Jessy mengirim pesan di luar jam kerja.
Pak Arya, maaf ganggu. Saya di daerah apartemen Bapak untuk ambil dokumen, tapi dompet saya ketinggalan. Boleh pinjam uang taksi? Besok saya kembalikan.
Arya tahu seharusnya ia meminta driver kantor membantu. Namun pesan itu datang saat Keira membatalkan makan malam karena harus menemani Vania mengurus dokumen pelatihan. Ia sedang sendirian di unitnya, merasa dirinya selalu menjadi pilihan kedua.
Ia turun.
Jessy menunggu di lobi dengan wajah basah terkena hujan. Dress-nya sederhana, make-up sedikit luntur, dan ia tampak benar-benar malu.
"Maaf, Pak. Saya bodoh sekali."
"Tidak apa-apa."
Arya memberi uang. Jessy menerima dengan dua tangan.
"Boleh saya transfer sekarang? Baterai saya tinggal dua persen. Atau saya naik sebentar untuk charge?"
Kalimat itu seharusnya membuat alarm menyala.
Tapi Arya melihat satpam lobi, melihat hujan, melihat perempuan muda yang tampak tidak berbahaya, dan berkata, "Sebentar saja."
Di lantai atas, Jessy duduk di ruang tamu Arya, mengeringkan rambut dengan tisu. Ia memuji rak buku. Memuji cara Arya menyusun dokumen. Menertawakan dirinya sendiri karena takut pada pejabat dinas.
Arya merasa ringan.
Di dekat Keira, ia selalu merasa sedang membayar masa lalu. Di dekat Jessy, ia merasa menjadi pria baik yang dikagumi.
Itu racun yang rasanya seperti teh manis.
"Pacar Bapak tidak marah kalau saya naik?" tanya Jessy.
"Dia bukan..."
Arya berhenti.
Jessy mengangkat alis. "Bukan?"
"Hubungan kami rumit."
"Pasti perempuan yang hebat sampai membuat Pak Arya ragu menyebut status."
Kalimat itu seharusnya terdengar seperti sindiran. Tapi Jessy mengucapkannya dengan nada kagum, membuat Arya tersenyum pahit.
"Dia memang hebat."
"Kalau begitu, Pak Arya pasti sering merasa harus mengejar."
Arya menatapnya.
Jessy menunduk cepat. "Maaf. Saya sok tahu."
"Tidak apa-apa."
Malam itu tidak terjadi apa-apa. Jessy turun setelah ponselnya cukup terisi. Namun sebuah foto sudah terkirim dari lobi ke nomor Vincent: Jessy masuk lift bersama Arya.
Langkah pertama selesai.
Langkah kedua terjadi seminggu kemudian.
Arya menghadiri acara kecil terkait pelatihan warga di sebuah hotel bisnis. Jessy ada di sana, mengenakan blus krem dan senyum yang lebih percaya diri. Setelah acara, ia meminta Arya menandatangani beberapa dokumen tambahan di lounge.
Satu gelas mocktail. Dua percakapan. Satu keluhan tentang hidupnya yang selalu dianggap perempuan kecil yang bisa disuruh.
Arya mendengarkan.
Ia seharusnya pulang karena Keira menunggu di Rumah Khiu untuk membicarakan Vania. Ia bahkan sudah menerima pesan Keira:
Kalau selesai, kabari. Papa bikin sate ayam.
Arya membaca pesan itu, lalu melihat Jessy yang berkata, "Pak Arya, saya iri pada perempuan yang punya rumah untuk pulang."
Ia membalas Keira:
Masih lama. Jangan tunggu.
Malam itu, Vania pulang dari pelatihan komputer lebih awal karena kelas dibatalkan. Ia melewati lobi hotel yang sama untuk berteduh dari hujan, berniat memesan ojek online.
Di sudut lounge, ia melihat Arya.
Awalnya Vania hampir menyapa. Lalu ia melihat Jessy duduk terlalu dekat. Tangan Jessy menyentuh lengan Arya. Arya tidak menarik diri.
Beberapa detik kemudian, Jessy berdiri, tubuhnya sedikit goyah. Arya menahan pinggangnya.
Mereka berjalan ke arah lift hotel.
Vania berdiri membeku di balik pilar, ponsel di tangan, darahnya seperti mengering di sekujur tubuhnya.
Di layar ponselnya, nama Keira terbuka.
Hujan menahan suara kota di luar kaca.
Ia ingin menelepon, tetapi jarinya tidak bergerak sedikit pun.