“Kita sudah sama-sama tahu kan, pernikahan ini keinginan orang tua kita, jadi kamu jangan terlalu banyak berharap pada diriku. Asal kamu tahu, dengan pernikahan ini, kebahagiaanku sudah terrenggut. Jangan kuatir, aku tidak akan meminta hak ku sebagai seorang suami. Sampai saatnya nanti tiba, aku akan tetap memperjuangkan kebahagiaanku.”
“Kamu tahu... gara-gara pernikahan ini, semua rencanaku berantakan, termasuk tinggal di rumah ini bersama istri pilihanku. Rumah ini sudah aku persiapkan untuk dia...”
Karena kalimat itulah, seorang gadis yatim piatu bernama Karina menjalani kehidupan yang penuh liku-liku dengan sorang anak laki-laki yang merindukan sosok ayahnya.
Sementara saat Karina akan belajar membuka hatinya pada sosok laki-laki yang sangat menyayangi anaknya, datang seorang gadis yang sedang hamil anak laki-laki itu.
Masih adakah bahagia yang dapat dia raih? Apa jawaban yang harus diberikan pada anaknya?
Ikuti terus ceritanya ya. Dukung dg vote, like & komen biar smangat
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Astirai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 34
Arseno
Dan sekarang…. Dia sudah bertemu kembali dengan Seno. Ingatan Karina melayang pada semua kata-kata Seno beberapa tahun yang lalu. Dadanya terasa sesak, seolah-olah semua ucapan Seno terngiang di telinganya.
Ah… pasti dia sudah hidup bahagia dengan isteri pilihannya. Kata Karina dalam hati. Kemudian dia terbayang wajah Sam yang sangat mirip dengan Seno. Semakin Sam besar, kemiripan itu makin nyata.
Bahkansetelah sampai di Medanpun, Karina tidak bisa lepas dari bayangan wajah Seno. Setiap kali ingatannya pada sosok Seno muncul, ada getaran halus pula yang muncul di hatinya, dan ini sangat menyiksa. Ada apa
dengan perasaanku….? Tanya Karina dalam hati.
Sementara itu, sepeninggalan pak Kristo dari ruangannya, Seno merenung. Kerinduannya pada sosok Karina yang menghilang beberapa tahun, kini muncul lagi. Kemanakah Karina selama ini? Apakah dia baik-baik saja? Apakah dia sudah punya kekasih, atau bahkan sudah menikah dan punya anak? Apalagi dengan wajah yang cantik dan penampilan yang anggung, sangat mustahil kalau tidak ada laki-laki yang tertarik. Berbagai pertanyaan muncul dalam pikiran Seno. Terus saja bayangan wajah Karina bermunculan di hadapan Seno. Aku harus berjuang. Kata Seno dalam hati. Seno bertekad akan mencari jejak Karina. Apa yang sudah jadi miliknya, akan dia dapatkan kembali dan tetap menjadi miliknya. Bukankah Karina masih secara sah menjadi isterinya?
Tiba-tiba lamunannya dibuyarkan oleh kemunculan sosok cantik di hadapannya.
“Hai… kok ngelamun sih….?” Terdengar suara merdu sudah ada di depan Seno yang membuat dia tergagap.
“Eh…. kamu Via. Ngapain siang-siang nongol…?” Tanya Seno dengan wajah datar.
“Aku kangen kamu mas….. Kita makan keluar yuk….” Suara manja masih terdengar.
“Sory…. Aku lagi banyak kerjaan…..”
“Ayo dong…. please…. Aku udah sengaja nggak makan nih…” Gadis itu sengaja mendekati Seno dan menyandar di bahunya, yang membuat Seno risih.
“Psst… jangan kolokan, ini di kantor…!!” Muka Seno makin menunjukkan kekesalannya, tetapi gadis itu tetap saja tidak mau bergeser, bahkan tangannya diusah-usapkan ke bahu Seno.
“Via… kamu bisa duduk di sofa nggak… ini kantor…!!!”
“Tapi kamu janji, kita makan keluar….!”
Ya… gadis itu bernama Novia, yang sudah hampir satu tahun ini mendekati Seno dan mengejar cintanya, tetapi Seno tidak pernah menanggapi. Mereka berkenalan pada saat acara makan malam keluarga. Orang tua Novia adalah rekan bisnis pak Baskoro, dan orang tua Novia sangat berharap anaknya menjadi menantu keluarga Baskoro agar kerajaan bisnisnya makin besar dan kuat. Tapi sayangnya, Seno tidak pernah merespon dan tertarik dengan Novia, gadis yang manja, keras kepala dan semua keinginannya harus dituruti. Novia sudah benar-benar jatuh cinta dengan Seno sejak pertama bertemu, dia tidak peduli dengan sikap Seno padanya, dan dia akan terus berupaya agar Seno menjadi miliknya. Tanpa malu-malu, Novia sering mendatangi Seno di kantornya hanya
untuk sekedar mengajak makan siang ataupun ngobrol. Terkadang Seno tidak bisa menolak untuk memenuhi permintaan Novia, karena Novia terkadang berbuat nekad yang akan membuat Seno malu. Bahkan sikap Novia begitu posesif terhadap Seno, yang membuat Seno makin risih. Novia merasa, seolah-olah Seno sudah menjadi
kekasihnya. Malam minggu pun, tanpa malu-malu, Novia mendatangi Seno di rumahnya untuk minta ditemani jalan, atau hanya sekedar ngobrol dengan keluarga Seno. Kedua orang tua Seno tidak mau lagi memaksa Seno, mereka membiarkan saja apapun keputusan Seno, meskipun terkadang mereka merasa tidak enak dengan sikap Seno pada Novia.
“Ayo mas…. Kok malah bengong sih….” Novia mulai cemberut.
“Kita pesan makan aja, makan di sini…!”
“Nggak mau. Kalau sekarang makan di sini, entar malam kita makan di luar ya….?”
Seno makin kesal saja mendengar omongan Novia. Dia berpikir, kalau sekarang menolak makan siang keluar, pasti Novia akan tetap menunggu di ruangannya sampai dia pulang dan mengajak makan malam di luar. Novia memang gadis yang nekad dan keras kepala.
“Oke… kita keluar sekarang…!” Itulah keputusan yang paling aman menurut Seno, dari pada bekerja dengan Novia yang terus menunggu di ruangannya.
Novia tersenyum bahagia karena Seno bersedia makan keluar. Merekapun berjalan keluar menuju lift. Sepanjang jalan Novia memeluk lengan Seno tanpa malu-malu dengan senyum yang selalu ada di wajahnya, sedangkan Seno tetap dengan wajah dingin dan cuek. Novia seolah ingin menunjukkan ke semua orang, kalau Seno adalah miliknya. Memang, siapapun yang melihatnya pasti setuju kalau mereka adalah pasangan yang serasi, cantik dan ganteng, meskipun yang laki-laki berwajah dingin.
“Pak ada kabar yang tidak menggembirakan dari kantor cabang kita di Canada…” Kata Robby, asisten Seno, sesaat setelah Seno kembali dari makan siang bersama Novia.
“Ada masalah apa…?” Tanya Seno sambil mengerutkan keningnya.
“Ada laporan penggelapan dana perusahaan, kemudian ada beberapa kontrak kerjasama dengan perusahaan lokal yang dibatalkan karena missmanagement.”
“Siapa pelakunya…?” Tanya Seno sudah mulai emosi.
“Belum tahu pak, pasti ada orang dalam. Saya pikir, kita perlu kesana untuk memulihkan kondisi dan kepercayaan para rekan bisnis.”
Seno terdiam mendengar omongan Robby. Pikirannya benar-benar kacau. Di satu sisi dia sangat geram memikirkan kondisi cabang perusahaannya yang sudah susah payah dia rintis, sedang di sisi yang lain, dia memikirkan niatnya untuk berusaha kembali bersatu dengan Karina. Yang dia lakukan sekarang hanya memijit-mijit keningnya yang mendadak terasa pusing.
“Kira-kira berapa lama kalau kita harus beresin di sana?” Tanya Seno akhirya.
“Ya…. kalau marathon mungkin sekitar dua mingguan pak , mudah-mudahan kelar.”
“Oke, jadwalkan besok malam kita berangkat. Pekerjaan kantor biar diatur pak Rudy sama bu Santi…!”
“Siap pak. Saya akan mempersiapkan dokumen-dokumen yang harus dibawa…”
Kemudian Robby pamit untuk kembali ke ruangannya.
Sepeninggalan Robby, kembali Seno merenung atas pertemuan yang tidak sengaja dengan Karina. Keinginannya untuk kembali bersama Karina sangat menggebu-gebu. Tadi saat mengobrol dengan pak Kristo, sebenarnya ada
keinginan untuk mengorek, mencari informasi tentang Karina, tapi keinginan itu dia tahan, karena Seno tidak ingin timbul pertanyaan macam-macam dari pak Kristo.
*****
Haloooo readers..... up lagi ya.....
Trims banyak untuk kalian yang tetap setia & mohon maaf belum bisa memenuhi untuk crazy up.
Semuanya masih on proses, di sela-sela kesibukan pekerjaan akhir tahun.
Trims juga untuk kesabaran kalian menunggu up.
Jangan bosan ya, ikutin terus dan dukung dengan vote, like & komen.
I love U all...🥰🥰🥰