“Aku hanya membutuhkanmu untuk melahirkan pewarisku. Tidak lebih!”
Itulah kata paling menyakitkan yang diucapkan Duke Cassian Clyvedon kepada Elowen Whitmore. .
Semua orang di kerajaan tahu bahwa Duke Clyvedon adalah pria yang ditakuti, dingin, kejam, dan tak pernah mempercayai siapa pun.
Sementara Elowen Whitmore hanyalah putri kedua dari keluarga bangsawan yang hampir bangkrut… seorang gadis yang bahkan tidak bisa berbicara.
Ia tidak seharusnya menjadi pengantin sang duke.
Namun ketika kakaknya melarikan diri dari perjodohan yang telah diatur kerajaan, Elowen dipaksa menggantikan posisi itu demi menyelamatkan kehormatan keluarganya.
Kini ia terjebak dalam pernikahan tanpa cinta dengan pria paling menakutkan di kerajaan.
Semua orang yakin pernikahan ini hanya akan berakhir dengan kehancuran.
Tapi tidak seorang pun menyadari satu hal, bahwa sang duchess bisu mungkin adalah satu-satunya orang yang mampu meluluhkan hati sang Duke.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon farchahcha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Elowen ingin menolak saran Cassian yang mengatakan ingin sekamar lagi dengannya. Tapi bayangan Cleona yang terlihat di balik tembok tak jauh dari tangga membuat Elowen mengangguk.
Tidak mungkin menolak pria yang diinginkan oleh saudaramu. Apalagi dia adalah suamimu sendiri.
Entah ini karena itu atau ada alasan lain. Yang pasti Elowen sudah mengiyakan usulan Cassian.
Tidak ada ekspresi yang berlebihan dari Cassian. Pria itu hanya menarik sudut bibirnya. Lalu, memanggil Jimmy.
Elowen buru-buru menulis sesuatu di catatannya.
“Tidak perlu memindahkan barang-barang dari kamarku. Aku hanya akan tidur di sana sampai Cleona pergi.”
Ada raut kecewa di mata Cassian.
Elowen tidak tahu kenapa dia harus kecewa. Tapi saran untuk tidur bersama itu bukannya karena ada tamu lain di kastil ini? Seperti hadirnya Dowager Duchess dan juga Putri Lidya.
“Bersihkan saja kamarnya.” Cassian menyuruh Jimmy.
Kepala pelayan itu langsung undur diri untuk melaksanakan perintah majikannya.
Tapi setelah itu Cassian tidak mengatakan apapun pada Elowen, dan berlalu begitu saja.
Elowen mengangkat gaunnya dan menyusul Cassian. Pria itu berjalan cepat tanpa menoleh ke belakang.
Di sisi lain, Cleona yang sedang menguping jelas tidak tahu apa yang sedang Cassian dan Elowen bicarakan. Jaraknya sangat jauh untuk bisa melihat apa yang ditulis Elowen untuk Cassian.
“Sial! Kenapa sih dia harus bisu? Aku jadi tidak mengerti yang sedang mereka bicarakan.”
Cleona menghentakkan kakinya kemudian kembali ke kamar yang disiapkan Nyonya Wilson atas perintah Elowen.
Itu adalah kamar tamu dengan ranjang di tengah ruangannya. Hiasannya sederhana, meski tidak bisa disebut sederhana karena ada hiasan emas dan ornamen lukisan yang menambah kesan mewah.
Tapi Cleona tetap tidak puas.
“Aku ingin tahu dimana kamar Duchess.”
Wanita itu bertanya pada salah satu pelayan yang sedang merapikan kain pelapis di kasurnya.
“Kamar Duchess ada di sayap timur dekat dengan ruang baca Sang Duke, Nona.”
“Antar aku ke sana.”
Pelayan itu terdiam sesaat. Gaya bicara Cleona terdengar sangat memerintah mereka. Itu membuat mereka tidak nyaman.
Wanita itu bersikap tidak sopan kepada pelayan. Menyuruh mereka mengganti kain pelapis kasurnya dengan sutra. Selain itu dia juga meminta para pelayan untuk memberikannya gaun dengan hiasan perak seperti milik Duchess.
Awalnya para pelayan itu mengadu pada Nyonya Wilson. Tapi wanita paruh baya itu menyuruh para pelayan untuk sementara menuruti Cleona. Semua ini karena Elowen yang menyuruhnya melayani saudara perempuannya dengan baik.
Setelah sebelumnya Elowen bilang tidak nyaman, tapi karena Cassian mengatakan Cleona baru saja mengalami perampokan. Sang Duchess sedikit kasihan dengan kakak perempuannya.
Karena itulah Nyonya Wilson diminta untuk sementara menuruti permintaan Cleona.
Cleona sudah berganti pakaian seperti yang dia inginkan. Setelah itu seorang pelayan mengantarkannya ke kamar Duchess.
“Ini kamar Duchess, Nona.”
“Buka pintunya.”
Pelayan itu tercengang. “Maaf?”
“Buka pintunya,” ulang Cleona. "Kalau kubilang buka, itu artinya kau harus membukanya," sentak Cleona.
“Tapi Nona… saya tidak berani karena ini kamar Duchess.”
Si pelayan terlihat takut karena itu sangat lancang.
“Kau boleh membukanya,” sebuah suara mengagetkan mereka.
Cleona menoleh ke arah sumber suara begitu juga si pelayan.
Ternyata itu adalah suara pelayan yang bersama Elowen. Sang Duchess menyuruh pelayan itu mengucapkan apa yang dia tulis di catatan.
Cleona mengatupkan bibirnya, kesal melihat Elowen yang berjalan bersama beberapa pelayan. Duchess begitu anggun saat mendekatinya.
Seolah Elowen sedang mempertunjukkan bahwa dialah tuan rumah di kastil Clyvedon.
Elowen menulis di catatannya, dan itu momen Cleona terkekeh. Elowen mengangkat kepalanya, matanya mengerut. Cleona melipat bibirnya dan menatapnya sambil tersenyum palsu.
“Apa ada yang lucu?” tulis Elowen pada Cleona.
“Tidak ada. Tapi Elowen, bukankah terlalu lama untuk berbicara denganmu. Kalau harus menunggu kamu selesai menulis,” kata Cleona. Jelas itu sebuah ejekan.
Elowen hanya diam, menutup catatannya.
“Ah, maaf. Apa kamu marah? Aku memanggilmu dengan nama lagi, ya… Maafkan aku Elowen, susah sekali mengingat bahwa kamu adalah seorang Duchess. Maaf ya.”
Jelas itu bukan sebuah permintaan maaf.
Elowen menarik napas panjang. Lalu menoleh ke arah pelayan di sampingnya. Lalu menuliskan pesan untuk dibaca pelayan itu.
Pelayan itu membacanya perlahan kemudian mengangguk setelah menyelesaikannya. Elowen langsung pergi begitu saja tanpa menoleh lagi ke arah Cleona.
Si pelayan langsung menatap ke arah Cleona.
“Duchess mengatakan, anda diperbolehkan untuk melihat kamar Duchess tapi anda dilarang untuk menyentuh setiap barang-barangnya, Lady Remus,” ucap si pelayan.
Lady Remus?
Rahang Cleona langsung mengeras seketika mendengar dirinya dipanggil dengan nama gelar sang suami yang jahat itu.
Panggilan yang sangat Cleona benci. Cleona sangat membenci gelar itu. Gelar istri seorang Remus, rakyat jelata, pria kejam dan serakah itu.
Cleona menggeram, darahnya mendidih.
“Sialan Elowen!” umpatnya dalam hati.
Di sisi lain Elowen berjalan dengan wajahnya yang juga tegang. Dia tidak ingin mengatakan itu pada Cleona.
Meski saudara perempuannya itu sudah menyakitinya tapi menyindirnya di depan para pelayan… itu sangat merendahkannya.
“Maafkan aku Cleona, karena aku tidak mau lagi diam untuk kamu permalukan. Ini rumahku, kastilku, dan aku tuan rumah di sini. Aku kasihan padamu karena kamu baru saja mendapat musibah. Tapi kata-katamu yang menyinggung kekuranganku sungguh menyakitkan. Dan, aku juga bisa menyinggung lukamu.” Ujar Elowen dari dalam hati merasa bersalah.
Elowen tahu dia salah karena melawan Cleona dengan lukanya sendiri. Itu sangat kejam, dan bisa saja wanita itu akan tambah membencinya.
Tapi, Cleona tidak semestinya bersikap seperti itu di depan para pelayan. Tidak kepadanya.
Nyonya Wilson menghampiri Elowen yang kini duduk di ruang tengah kastil. Menikmati pemandangan malam di jendela luas.
“Your Grace. Makan malam sudah siap. Duke sudah menunggu anda di meja makan.”
Elowen mengangguk dan berdiri. Bersama Nyonya Wilson dia pergi ke ruang makan.
Cassian sudah duduk di kursinya yang ada di ujung.
Elowen langsung duduk di samping kanan Cassian. Pria itu menatapnya singkat, tidak berkomentar apapun. Begitulah sikap Cassian, tidak ada yang perlu diprioritaskan atas ketidakpeduliannya.
Tapi, beberapa saat kemudian Cleona yang seharusnya duduk di sisi Elowen. Memilih duduk di samping kiri Cassian.
Posisi ini menjadi seperti Cassian diapit oleh dua wanita yang seolah-olah memiliki dua istri. Karena apa, Cleona mengganti gaunnya dengan hiasan mirip dengan apa yang dikenakan Elowen. Dia memakai hiasan perak juga.
Penampilan yang seharusnya tidak digunakan seorang tamu di meja makan.
Elowen mencoba menahan penghinaan ini. Karena sekarang mereka berada di meja makan dan ada Cassian di sini.
Tapi siapa sangka, Cassian malah berdiri dari kursinya.
Sesaat Elowen berpikir Cassian akan pergi meninggalkan ruang makan karena tidak nyaman. Tapi tidak, pria itu berpindah ke sisi Elowen. Meninggalkan kursinya di ujung hanya untuk duduk berdampingan dengan Elowen.
Dengan begitu Cassian memperjelas siapa yang sedang dia pilih. Tentu saja, istrinya.
Elowen mengedipkan matanya cepat karena air matanya hampir tumpah. Sang Duke membelanya, memilihnya, lagi.
***
Semangat ya thooor.... terimakasih sdh up dan sllu kutunggu up mu banyak2😍
klo di rupiah kan setara dgn berapa kah...?
auto lsg tanta mbh gogle
you're amazing writer