NovelToon NovelToon
Pak Bos, Tolong Lepaskan Aku!

Pak Bos, Tolong Lepaskan Aku!

Status: tamat
Genre:CEO / One Night Stand / Cinta Terlarang / Percintaan Konglomerat / Mengubah Takdir / Wanita Karir / Office Romance / Tamat
Popularitas:28.1k
Nilai: 5
Nama Author: Kartika

Di hari yang sama, **Kirana Halim** ditinggalkan kekasih empat tahunnya hanya karena dianggap "tidak selevel"—dan di hari yang sama pula, nomor teleponnya diserahkan sang ayah kepada penagih utang demi utang keluarga **Rp 2 miliar**. Malam itu, dalam keadaan mabuk dan hancur lebur, Kirana melakukan satu kesalahan fatal: tidur dengan bosnya sendiri—**Arka**, manajer dingin yang diam-diam diidamkan seluruh karyawati **PT Cakra Nusantara**.

Paginya, Kirana cuma ingin menganggap semuanya tidak pernah terjadi. Tapi Pak Bos yang biasanya tak tersentuh itu malah berubah jadi pria yang tak sudi melepasnya.

"Anggap saja tidak pernah terjadi, Pak."
"Kamu terlalu manis. Mana bisa kulepas?"

Dari karyawan kontrak bergaji **Rp 6 juta**, Kirana bertekad naik dengan tangannya sendiri—memenangkan tender, diangkat jadi karyawan tetap, naik jadi manajer, sampai kursi direktur. Sementara itu, fitur **"JodohMatch"** di aplikasi Belio terus mencocokkan jodohnya sesuai penghasilan: dari satpam, pegawai kantoran… sampai akhirnya menunjuk pria yang sama—Arka.

Di antara mantan yang menyesal, saingan anak konglomerat, cinta lama yang tiba-tiba kembali, tekanan "bibit-bebet-bobot", dan badai keluarga yang merenggut segalanya, hanya satu hal yang tak pernah berubah: **Arka selalu memilih Kirana.** Dan Kirana? Ia bersumpah akan menjadi perempuan yang pantas—untuk Arka, dan untuk siapa pun.

Tapi kalau pada akhirnya takdir benar-benar mempertemukan mereka lagi… kira-kira, siapa yang akan melamar lebih dulu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kartika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 34

Bab 034: Karena Kamu

Dua tiket Danau Angsa tetap berada di atas meja.

Kirana tidak menyentuhnya lagi. Arka juga tidak. Untuk beberapa menit, apartemen yang biasanya terasa aman berubah menjadi ruang tunggu yang terlalu sunyi. Dari jendela, lampu kota Surabaya berkedip jauh di bawah, seperti hidup orang lain yang tidak ikut menunggu jawaban.

Arka akhirnya bergerak lebih dulu.

Ia mengambil amplop putih itu, memasukkan kembali dua tiket dan kartu bertuliskan baris tengah, lalu menutupnya dengan rapi. Setelah itu ia mengambil ponsel, membuka kontak Larissa, dan meletakkannya di meja agar Kirana bisa melihat layar.

"Aku tidak mau kamu percaya hanya karena aku bilang tidak akan pergi," katanya.

Kirana menatapnya.

Arka mengetik tanpa tergesa.

Arka: Saya tidak akan datang ke pertunjukan itu. Tolong jangan kirim hal pribadi ke apartemen saya lagi. Kalau ada urusan kerja sama atau acara umum, hubungi lewat jalur resmi.

Ia berhenti sebentar, lalu menambahkan satu kalimat.

Arka: Masa lalu kita sudah selesai.

Jari Arka melayang di atas tombol kirim. "Kamu mau aku ubah sesuatu?"

Pertanyaan itu membuat dada Kirana sakit dengan cara yang aneh. Arka tidak sedang meminta izin untuk menolak Larissa. Ia sedang memastikan Kirana tidak lagi berdiri di luar percakapan tentang hubungan mereka.

"Tidak," kata Kirana. "Kirim."

Pesan itu terkirim.

Tidak ada suara dramatis. Hanya tanda centang kecil di layar. Tetapi bagi Kirana, itu lebih jelas daripada seribu janji.

Arka lalu berdiri, mengambil jaket, dan berjalan ke pintu.

"Mau ke mana?"

"Ke lobi. Amplop ini aku titip balik lewat kurir besok pagi. Aku tidak mau benda ini bermalam di meja kita."

Meja kita.

Kirana menelan ludah. Ia tidak menghentikan Arka.

Ketika Arka kembali beberapa menit kemudian, tangannya kosong. Wajahnya masih tegang, tetapi ada sesuatu yang selesai di garis bahunya. Ia berhenti di ambang ruang tamu, seolah takut satu langkah salah akan membuat Kirana kembali menjauh.

"Kira."

"Ya?"

"Aku minta maaf."

"Kamu sudah minta."

"Belum cukup." Ia berjalan pelan, lalu duduk di kursi seberang, bukan di sampingnya. "Aku seharusnya cerita sebelum nama itu dipakai orang lain untuk menyakitimu. Aku pikir diam berarti masa lalu itu tidak punya kuasa. Ternyata diam membuat kamu harus menerima pukulannya tanpa persiapan."

Kirana memandang jari-jarinya sendiri. "Aku benci merasa seperti orang terakhir yang tahu."

"Aku tahu."

"Aku benci membayangkan kamu mencintai seseorang selama lima tahun."

Arka tidak menyangkal. "Aku pernah mencintainya."

Kalimat itu tetap menusuk, tetapi Kirana menghargai kejujurannya.

"Tapi aku tidak lagi hidup di sana," lanjut Arka. "Kalau yang kamu butuhkan adalah aku pura-pura tidak pernah punya masa lalu, aku tidak bisa. Tapi kalau yang kamu butuhkan adalah bukti bahwa masa lalu itu tidak memegangku lagi, aku akan memberikannya setiap kali kamu perlu."

Kirana menatapnya. "Setiap kali?"

"Setiap kali."

"Kamu tidak akan capek?"

"Mungkin. Tapi aku lebih capek kalau kamu diam karena takut dianggap tidak dewasa."

Kirana tertawa kecil, pendek dan basah. "Aku memang sempat ingin pura-pura dewasa."

"Jangan."

"Kamu suka menyuruh."

"Kebiasaan lama."

"Aku juga punya kebiasaan lama. Kalau sakit, aku biasanya mundur dulu."

Wajah Arka berubah. Bukan panik besar seperti saat demam, tetapi ada bayangan yang sama di matanya.

Kirana melihatnya. Kali ini ia tidak membiarkan bayangan itu membesar sendirian.

"Aku belum mundur," katanya.

Arka tidak bergerak.

"Aku cuma... butuh melihat kamu memilih sekarang. Bukan karena aku takut kalah dari Larissa. Aku tidak mau hubungan kita menjadi lomba dengan hantu masa lalu."

"Kamu tidak sedang berlomba."

"Aku tahu. Kepalaku tahu." Kirana menyentuh dadanya pelan. "Bagian ini agak lambat."

Arka akhirnya berdiri dan duduk di sampingnya, masih memberi jarak satu telapak. "Boleh aku pegang tanganmu?"

Pertanyaan itu hampir membuat Kirana menangis.

Ia mengulurkan tangan lebih dulu.

Arka menggenggamnya dengan hati-hati. Tidak menarik, tidak memaksa. Hanya ada di sana, hangat dan nyata.

"Waktu Larissa pergi," katanya, "aku merasa bodoh karena pernah percaya. Waktu kamu datang, aku lebih takut lagi karena aku percaya tanpa sempat memutuskan. Kamu masuk bukan lewat rencana. Kamu masuk lewat semua celah yang kupikir sudah kututup."

Kirana menatap genggaman mereka.

"Aku tidak memilihmu karena kamu lebih baru," lanjut Arka. "Bukan karena kamu datang setelah aku terluka. Aku memilihmu karena kamu membuatku ingin berhenti hidup seperti orang yang selalu siap ditinggalkan."

Mata Kirana panas.

"Dan kalau kamu bertanya kenapa aku tidak pergi ke pertunjukan itu, jawabannya bukan karena Larissa jahat, bukan karena aku takut kamu marah, bukan karena aku ingin terlihat baik."

Arka mengangkat tangan Kirana ke dadanya, tepat di atas detak jantungnya.

"Karena kamu."

Kirana memejamkan mata.

Dua kata itu tidak menghapus masa lalu. Tidak mengubah fakta bahwa Larissa pernah ada lima tahun. Tidak membuat dunia luar berhenti berbisik. Tetapi dua kata itu menempatkan Kirana di masa kini Arka, bukan sebagai pengganti, bukan sebagai pemenang lomba, melainkan sebagai alasan.

"Aku juga memilih percaya bukan karena aku tidak takut," bisiknya.

Arka menunduk mendekat.

"Karena kamu," kata Kirana.

Napas Arka tertahan. Kali ini, ketika ia memeluk Kirana, tubuhnya tidak menuntut jawaban lain. Ia hanya menahan Kirana seperti seseorang yang tahu kepercayaan bukan barang murah.

Malam itu berubah perlahan, bukan meledak. Arka tidak mengejar bukti apa pun, dan justru itu yang membuat Kirana mendekat lebih dulu. Ia mencium Arka dengan sisa cemburu yang belum sepenuhnya selesai, dengan lega yang baru belajar percaya, dengan keberanian untuk berkata bahwa masa lalu boleh ada tetapi tidak boleh mengambil tempatnya.

"Aku di sini," bisiknya ketika Arka berhenti, seolah masih bertanya tanpa suara.

Arka menatapnya lama. "Aku juga."

Di kamar yang lampunya sengaja dibiarkan redup, mereka saling memilih lagi tanpa terburu-buru. Tidak ada nama lama di antara mereka. Tidak ada tiket, tidak ada pertunjukan, tidak ada perempuan dari masa lalu yang berhak duduk di tepi ranjang itu. Hanya dua orang yang memakai kedekatan untuk mengunci satu hal sederhana: sekarang adalah milik mereka.

Ketika Kirana kemudian bersandar di dada Arka, luka kecil di dadanya belum hilang, tetapi tidak lagi berdarah sendirian.

"Aku masih mungkin cemburu kalau namanya muncul lagi," kata Kirana setelah lama diam.

"Aku tahu."

"Dan aku mungkin akan bertanya dengan nada tidak enak."

"Tanya saja."

"Kamu yakin? Aku bisa sangat menyebalkan."

"Aku sudah pacaran dengan kamu cukup lama untuk tahu itu."

Kirana mencubit punggung tangannya. Arka tidak menghindar. Ia malah menggenggamnya lebih erat.

"Aku tidak mau kamu menjadi orang yang harus selalu sempurna menjawab masa laluku," kata Arka. "Kalau sakit, bilang sakit. Kalau marah, bilang marah. Jangan simpan sampai berubah menjadi jarak."

Kirana mengangguk pelan. "Kamu juga. Kalau takut aku pergi, bilang. Jangan demam dulu baru tanya dia atau aku."

Arka terdiam.

Lalu ia menghela napas. "Itu akan masuk daftar kesalahan paling memalukan dalam hidupku."

"Bagus. Simpan di folder khusus."

"Folder apa?"

"Folder hal-hal yang tidak boleh diulang oleh pacar Kirana Halim."

Untuk pertama kalinya sejak tiket itu datang, Arka tertawa. Tidak besar, tetapi cukup untuk mengembalikan apartemen pada bentuknya semula. Tempat yang punya daftar belanja di kulkas, yogurt yang disusun terlalu rapi, dan dua orang yang sedang belajar mencintai tanpa menghapus bagian rusak masing-masing.

Kirana mengangkat wajah. "Besok kamu pastikan amplop itu benar-benar dikirim balik?"

"Aku sendiri yang akan cek ke lobi."

"Dan kalau Larissa menghubungi lagi?"

"Aku jawab seperlunya. Kalau dia melewati batas, aku berhenti menjawab."

"Kalau aku ingin tahu?"

"Aku kasih lihat."

Jawaban itu sederhana. Transparan. Kirana menyadari bahwa yang ia butuhkan bukan janji bahwa hidup mereka tidak akan pernah diganggu masa lalu, melainkan kepastian bahwa ia tidak akan dipaksa menebak sendirian.

Ia menyandarkan kepala lagi ke bahu Arka.

"Oke," bisiknya. "Aku percaya untuk malam ini."

"Besok?"

"Besok kita ulangi kalau perlu."

Arka mencium puncak kepalanya. "Aku siap."

Menjelang tengah malam, ponsel Kirana bergetar di meja.

Ia mengira itu Mega. Atau notifikasi Belio. Tetapi nama yang muncul membuat tubuhnya langsung tegak.

Fajar Pratama.

Pesannya singkat, terlalu sopan untuk seseorang yang pernah meninggalkannya di restoran mahal.

Fajar: Kir, aku dengar kamu sekarang sering pegang proyek besar. Aku sedang di Surabaya minggu ini. Bisa ketemu? Ada yang ingin aku bicarakan baik-baik.

Arka membaca dari samping. Suhu ruangan seperti turun beberapa derajat.

"Fajar?" tanyanya.

Kirana menatap layar, lalu tertawa pelan. Kali ini tawanya tidak sakit. Hanya heran, sedikit lelah, dan sedikit tajam.

"Sepertinya masa lalu sedang antre malam ini."

1
harianti hasanuddin
👍
Normida Naibaho
Mksh cefitanya tbor..👍
Linda Nuraini
ceritanya bagus banget 👍👍
🌹 Mommy caeeeem 😍
novel semenakjubkan begini kok sepi pembaca sih,, heran deh akoh,,,
woyyyyyyyy,,,buruan,,,,ayo baca novel ini,,, sumpah,,, bagus banget ceritanya,,,
Ira Widiyastuti
Terima kasih sudah membuat cerita yang bagus
aisiteru
ceritanya menarik walaupun harus mikir alurnya
aisiteru
cerita ini udah tamat ato blm thor? aku tunggu up tp g ada
Kam1la
💪💪👍, hebat langsung sehari jadi banyak bab....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!