Copyright ©2026, Kembalikan Anakku, Adinata oleh Doubleareya.
Adinata Hardiyanto menikah dengan Nadine Ayunda bukan akibat perjodohan, accident atau kontrak semata, tapi karena rasa cinta untuk memiliki. Dari awal menikah orang tuanya selalu ikut campur dan tidak memberi akses untuk dirinya bisa memimpin keluarga kecilnya sendiri. Adinata tetap bersabar sampai ia harus kehilangan sang istri—Nadine Ayunda.
Nadine Ayunda memilih berpisah dengan sang suami—Adinata Hardiyanto yang hidupnya selalu disetir oleh sang mertua. Nadine pergi dengan membawa sang buah hati yang dikandung di perutnya.
Tapi jika memang sudah digariskan oleh takdir, sejauh apapun langkah membawa, ia pasti akan kembali menjadi satu lagi. Untuk kembali artinya perlu dijemput, apakah Adinata bisa menjemput istrinya kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon doubleareya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
11. Pemeriksaan di rumah sakit
“Nomor 40, ya, Nad. Masih lama, Nad. Ini baru sampai di nomor 23.” Andin yang duduk disebelah Nadine menatap kertas antrian di tangan Nadine dan berganti melihat layar di depannya yang menampilkan antrian sekarang.
“Tidak apa-apa. Aku ‘kan bukan pasien VIP, An.”
Andin tertawa kecil. “Kamu lapar tidak, Nad?”
Nadine menatap Andin. “Kamu lapar, ya?”
“Tidak terlalu lapar, tapi kalau kamu ingin makan, aku bisa menemani kamu makan juga.” Andin terkekeh.
Nadine tertawa. “Dalam hatimu pasti bilang kalau kamu lapar, An. Tidak usah gengsi di depanku.”
“Setidaknya hargai usahaku untuk menutupinya, Nad. Aku ingin seperti perempuan lainnya,” ucap Andin.
Nadine semakin tertawa mendengar ucapan Andin. “Perempuan lain mana, An? Jadi dirimu sendiri saja, Andin.”
“Ish,” decak Andin. “Padahal aku ingin keluar dari zona nyamanku.”
“Kamu punya pacar, ya, An?” Nadine memberi senyuman tipis dan tatapan penasaran ke Andin.
“Tidak ada. Aku belum ingin punya pacar, Nad. Seperti apa, ya. Aku belum siap saja.”
“An, kehidupan manusia itu berjalan ke depan dan terus ke depan. Jangan selalu terpatri dengan masa lalu, ya, An. Kamu juga berhak melanjutkan hidupmu dan dicintai oleh orang lain.” Nadine menggenggam tangan Andin.
Andin tertawa, tapi tawanya terdengar seperti paksaan. “Rasa percaya diriku sepertinya ikut menghilang, Nad. Rasanya aku masih tidak yakin untuk dicintai oleh laki-laki lain.”
“An, ingat ‘kan bagaimana om dan tante mencintai kamu? Mereka rela bertaruh nyawa untuk melindungi kamu dari kejahatan.” Nadine tersenyum tipis. “Tidak apa-apa. Sekarang ‘kan ada aku didekat kamu, An. Cobalah untuk membuka hatimu lagi.”
“Atas nama Nyonya Nadine,” panggil suster dari arah depan.
Nadine menatap Andin.
“Masih nomor 31, Nad. Nama kamu kok dipanggil?”
“Saya, Sus.”
Suster tersebut menghampiri tempat duduk Nadine di kursi tunggu. “Nyonya Nadine sudah diperbolehkan masuk, ya. Dokter Xavier sudah menunggu di dalam. Silahkan, Nyonya.”
“Sebentar, Sus. Dokter Xavier? Bisa suster sebutkan nama lengkap dokter tersebut?” Nadine menatap sang suster dengan perasaan yang cemas.
“Nad, kenapa?” Di sebelahnya, Andin menatap Nadine dengan tatapan cemas juga.
Wajah Nadine benar-benar terlihat kepanikannya. Dalam hatinya, Nadine berharap disela-sela kenyataan agar bukan nama tersebut yang menjadi dokternya.
“Dokter Xavier Borero, Nyonya.”
Kali ini, Nadine tidak ingin berharap lebih lagi. “Saya sudah diperbolehkan masuk, ya, Sus? Tidak apa-apa kalau saya ditemani dengan sepupu saya ‘kan?”
“Boleh, Nyonya. Silahkan.”
Nadine menatap Andin dengan senyuman tipis, tapi Andin tahu jika pancaran mata Nadine tidak tenang.
“Kita bisa pulang kalau kamu tidak mau masuk ke dalam, Nad.” Andin membalas Nadine dengan senyum tipis dan memberi elusan di tangan Nadine.
Nadine menggelengkan kepalanya. “Tidak apa-apa. Temani aku masuk ke dalam, ya, An.”
Nadine memilih untuk tetap masuk ke dalam. Bertemu dengan seseorang yang ia kenal. Seseorang yang Nadine tahu, akan sulit jika Nadine memintanya untuk membantu Nadine. Tapi Nadine akan berusaha untuk mendapatkan bantuan dari Dokter Xavier.
Sambil berjalan, Nadine melihat nomor antrian yang sedang ia pegang. Memang benar, dokter kandungan yang akan memeriksa dirinya adalah Dokter Xavier Borero. Salah Nadine karena tidak melihatnya lebih dulu.
Tidak ada kesalahan ketika Nadine masuk ke dalam ruangan pemeriksaan.
“Hai, Nad. Apa kabar?” Xavier menyapa Nadine dengan senyuman.
“Baik, Dok.”
Xavier tertawa. Ia mempersilahkan Nadine dan perempuan di sebelahnya untuk duduk di depannya. “Panggil aku seperti biasa kamu memanggilku, Nad. Tidak bersama dengan Adinata?”
“Xav, bisakah kamu tidak memberi tahu Adinata kalau aku disini?”
Senyum di bibir Xavier perlahan menghilang. Begitu juga dengan Andin yang mendesah dengan kasar.
“Dia mengenal Adinata, Nad?”
Nadine menatap Andin. “Dia sahabatnya Adinata.”
“Adinata tidak mengetahuinya?”
Nadine menggelengkan kepalanya. “Aku dan Adinata sudah bercerai, Xav.”
Xavier menatap Nadine. “Kamu ingin aku tutup mulut tentang kehamilanmu?”
“Bisa seperti itu. Kalau tidak, kamu cukup lupakan pertemuan kita hari ini, Xav.” Nadine hanya tidak ingin berurusan dengan Adinata lagi. “Aku meminta kebaikanmu, Xav.”
“Nad, kamu lihat kalau adalah teman dekat Adinata. Bagaimana mungkin aku ikut berdiam diri?” Xavier berdecih.
“Aku tidak bisa memberimu apa-apa,” lirih Nadine.
“Kamu kira aku ingin apa-apa darimu?” tanya Xavier dengan suara mengejek. “Karena ibunya Adinata ‘kan?”
“Aku rasa kamu tidak perlu tahu, Xav.”
“Kamu ini penasaran sekali, Pak Dokter. Bisakah kamu tidak banyak tanya? Segera periksa sepupuku dan setelahnya kami akan pulang.” Andin menatap Xavier dengan jengkel.
“Wajar kalau aku banyak tanya. Sepupumu ini istri dari teman dekatku, Nona.” Xavier membalas tatapan Andin.
“Mantan istri,” ralat Nadine.
“Selagi Adinata belum bilang kepadaku, aku masih menganggap kamu adalah istri Adinata, Nadine,” ucap Xavier. “Ohya, aku tidak bisa tidak memberi tahu Adinata.”
“Kamu ingin aku dihina oleh ibunya Adinata, Xavier?”
Xavier tertawa kecil. “Sudah ‘kuduga kalau penyebabnya hal itu. Aku akan membantumu, tapi dengan syarat.”
“Sebutkan.”
“Selalu periksakan kandunganmu ke aku sampai anakmu keluar dari perutmu. Aku akan tetap tutup mulut di depan teman-temanku.” Xavier melipat tangannya di depan dada.
Nadine menganggukkan kepalanya. “Aku setuju.”
“Nad, kamu percaya dengannya?” bisik Andin.
“Hey, Nona. Aku dan teman-temanku selalu menepati ucapan kami.”
“Adinata tidak menepati ucapannya, Pak Dokter.”
Xavier meringis. “Hanya Adinata. Aku tidak.”