Hidup dalam kemiskinan memang membuat kita sering kali terjebak dan tak bisa berkutik. setiap kali ingin bangkit, ada saja badai yang menghalangi.
ini adalah seorang anak yang berjuang membantu perekonomian keluarga nya menjadi lebih baik. tak henti henti nya Ali bangkit dari badai yang menerpa nya.
bagaimana kisah nya, apakah Ali akan berhasil membawa keluarga nya terbebas dari kemiskinan tersebut..... ikuti kisah Ali disini...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putrinw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
"Pak, itu bukan nya si dewa?" ucap Romlah yang melihat dewa berkeliling menggunakan sepeda tua.
Saat ini mereka menggunakan mobil dan berhenti di pinggiran sawah. mereka baru saja mengantarkan Raka ke kota. karena anak nya akan bersekolah di tempat sepupu nya.
Ini juga berat bagi Romlah, apalagi harus berjauhan dengan anak nya. Dan ini semua gara gara anak nya dewa. tatapan kebencian masih tersimpan di hati nya buk Romlah dan pak Rusdi.
"Benar Bu, itu dewa." ucap nya dengan nada tak Suka saat melihat dewa. Entah mengapa hatinya begitu sakit. Apalagi saat anak nya raka dikeluarkan dari sekolahan.
"Pak, ibu punya ide." ucap nya dengan senyum smirk memandang dewa dengan penuh niat busuk.
"Bu, apa ibu yakin?" tanya pak Rusdi yang merasa ragu. Sebab ini juga akan membahayakan posisi nya kalau sampai ketahuan.
"Bapak liat di sekeliling kita. Ga ada satu pun orang yang lewat. Ayo pak, balaskan dendam keluarga kita. Gara gara anak nya si ali, putra kesayangan ku, harus jauh tinggal nya. Ayo pak, cepat!"
"Tabrak dia pak, kita langsung kabur, sebelum ada orang yang lewat!"
karena merasa apa yang dikatakan istri nya benar, dengan tatapan tajam memandang dewa, pak Rusdi menjalankan mobil nya. senyum Bu Romlah merasa puas, dan langsung berpegangan erat di tempat duduk nya. Kali ini mereka benar benar sudah gelap mata, dan merasa bahwa tindakan mereka benar.
"Ayo pak, singkirkan dewa!"
Sedangkan saat ini dewa masih tetap mengayuh sepeda tua nya dengan penuh semangat. tak ada rasa lelah sedikitpun di hati nya. Kue kue yang di jual juga sudah tinggal beberapa lagi habis terjual.
"Ya Allah, terima kasih atas rezeki mu hari ini!" gumam nya tersenyum tipis dan tetap mengayuh sepeda tua nya di hari yang hampir senja itu.
"Sebentar lagi magrib, ya Allah pasti anak dan istri ku sudah menunggu di rumah."
Dengan Bergegas dewa melajukan sepeda nya, agar bisa sholat magrib bersama dengan keluarga nya. Tanpa sadar, bahwa bahaya telah mengintai nya.
Arah mobil pak Rusdi terus melaju ke arah dewa. Dari arah belakang pak Rusdi menabrak dewa, dan membuat nya terpental kuat.
"Brak.....
"Brugh......Argh......teriakan dewa menggema membuat pak Rusdi dan istri nya panik.
"Cit......mobil nya terhenti dan pak Rusdi langsung terpaku di tempat.
"Jalankan mobil nya pak cepat!" bentak Romlah yang langsung panik.
"Bu, bagaimana ini?" pekik pak Rudi dengan tubuh yang bergetar.
"Jalankan mobil nya pak, sebelum ada orang yang melihat!"
"Tapi Bu....dewa bisa mati!" ucap nya terpaku dan tertegun dengan perbuatan nya saat ini.
"jalankan mobil nya pak, sebelum ada warga yang liat, dan kita nanti bisa di penjara!"
Dengan bergegas mereka langsung kabur sebelum ada warga yang melihat.
Pak Rusdi benar benar masih begitu shock dengan perbuatan nya. sedangkan dewa terkapar di tanah dengan tubuh yang terluka parah. Belum ada yang sadar bahwa ada seseorang yang terluka.
Ali yang baru pulang dari rumah pakde Sutomo, berjalan melewati sawah yang akan siap panen itu. Tapi tiba tiba tatapan nya terpaku pada satu barang yah sangat dia kenali.
"Kue buatan ibu." gumam nya yang melihat kue berserakan di tanah.
"Sepeda ayah." pekik nya kaget saat melihat sepeda itu rusak di sebrang sana.
"Ayah..... Ayah." teriak nya dengan tubuh yang bergetar hebat.
"Deg..... Saat melihat ayah nya terbaring tak berdaya, air mata Ali menetes deras.
"Ayah.......tidak, ayah....hiks......ayah....tolong....tolong."
Melihat ayah nya berlumuran darah, membuat Ali benar benar histeris. bahkan anak itu langsung memeluk ayah nya dengan begitu erat.
"Jangan tinggalin aku ayah."