NovelToon NovelToon
The Savior

The Savior

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Misteri / Action / Fantasi / Sci-Fi / Horor
Popularitas:63
Nilai: 5
Nama Author: Sizzz

Semua berawal dari malam ia melarikan diri dari kejaran prajurit kerajaan. Dia dan ibunya berlari terpisah di tengah kekacauan kota. Karena terburu-buru, sang ibu tak menyadari bahwa ia tertinggal.

Keringat dingin membasahi punggungnya. Ia tersesat, berlari tanpa arah di lorong-lorong gelap yang asing. Dan sialnya, di setiap ujung jalan, bayang-bayang prajurit mulai mengepungnya.

Tepat sebelum tangan kasar seorang prajurit menyentuh kerah bajunya, tiba-tiba mereka berjatuhan. Satu per satu, tanpa suara. Sany berdiri di depannya, dengan ujung jari telunjuk masih teracung ke depan.

Setelah mengantarnya ke tempat yang aman, Sany memberinya beberapa emas dan pergi begitu saja. Tanpa nama. Tanpa alasan. Tanpa janji.

Tapi dia, tak akan pernah melupakan siapa yang menyelamatkannya malam itu.

Dan suatu saat nanti... ia yakin akan menemukan bertemu lagi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sizzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bertemu Penyihir

Di hutan.

Saat Will dan Clara sedang mengikuti arah kompas.

Tiba-tiba, Will menginjak sesuatu.

Tanah di bawah kakinya terasa berbeda, seperti ada ruang kosong di bawahnya.

Sebelum ia sempat menarik kaki, lingkaran cahaya biru menyala di tanah.

Jebakan sihir.

Clara sempat menoleh saat cahaya itu meledak. Sangat terang, seperti matahari jatuh ke tanah.

Energi terang menyambar tubuh Will, menyelimutinya dalam sekejap, lalu menghapusnya tanpa sisa.

Tidak ada daging, tidak ada tulang, tidak ada sisa dari tubuhnya.

Will lenyap begitu saja.

"Will?"

Suara Clara gemetar. Ia menatap tanah kosong di hadapannya.

Tidak ada jawaban.

Tapi tiba-tiba, di udara. Lebih tepatnya di atas bekas tubuh Will menghilang, energi gelap mulai berkumpul.

Seperti kabut hitam yang menari-nari, ditiup angin tak terlihat.

Clara mundur selangkah. Tangannya meraih pisau.

Energi gelap itu semakin padat. Bergulung dan membentuk sesuatu.

Lengan.

Bahu.

Kepala.

Pakaian.

Keberadaan Will muncul dari pusaran gelap itu. Ia membuka matanya yang merah.

Ia hanya berdiri di sana, napasnya berat, tubuhnya utuh.

Clara tidak bergerak. Pisau masih di tangan.

"Will... kau baik-baik saja?"

Will mengerjap.

Ia menunduk, melihat tangannya sendiri. Lalu ke tanah, ke lingkaran cahaya biru yang kini sudah padam.

"Aku... baik," jawabnya pelan, dengan suara serak.

"Apa yang baru saja terjadi?" tanya Clara.

Will menggeleng. "Aku tidak tahu,"

Clara menghela nafas.

"Yaudah, ayo lanjutkan perjalanan," ucap Clara.

"Iya," balas Will.

Will melangkah lebih dulu.

Ia berjalan beberapa langkah, Will tidak sengaja menginjak jebakan yang sama. Sekali lagi, lingkaran cahaya biru menyala di bawah kakinya.

Cahaya terang meledak. Tapi kali ini berbeda.

Tidak ada tubuh yang hilang. Will hanya berdiri di tengah-tengah ledakan cahaya itu, seperti patung yang tidak tergoyahkan.

Cahaya itu memudar. Lingkaran sihir di tanah padam.

Tubuh dan pakaian Will baik-baik saja.

Ia sudah beradaptasi dengan serangan itu. Membuat serangan yang sama, tidak bisa bekerja dua kali padanya.

Bahkan, Will sekarang lebih kuat dari siapa pun yang memasang jebakan itu.

Ia menunduk, melihat telapak tangannya. Tidak ada luka. Tidak ada bekas.

Will mengepalkan tangannya. Ia merasa, lebih kuat dari sebelumnya.

Dia mendongak dan menoleh ke arah Clara.

"Aku baik-baik saja," katanya pada Clara.

Clara hanya bisa melihatnya dengan keheranan. Mulutnya terbuka sedikit. Matanya tidak berkedip.

Dia tidak menyangka dengan apa yang dilihatnya.

"Ayo," kata Will.

Clara mengangguk pelan.

Ia berjalan di belakang Will, matanya tetap waspada ke tanah, sesekali melirik ke punggung Will.

"Anak ini..."

"Benar-benar aneh," batin Clara.

Will tahu, siapa pun yang memasang jebakan ini, pasti sudah berniat untuk membunuh siapa pun yang menginjaknya. Karena kemampuan netralisir keabadian dari Imaginary, sudah tercampur di dalam jebakan sihir ini.

Tapi Will tidak terpengaruh.

Alih-alih mati karena tubuhnya terhapus total, dia justru bisa mengembalikan keberadaannya menjadi semula dan meregenerasi seluruh tubuhnya.

Padahal, seharusnya Will tidak bisa meregenerasi.

Kekuatan Daimos telah menembus batasan itu.

Dia menyerap jebakan itu. Mempelajarinya. Membalikkannya.

Dan sekarang...

Dia berjalan melewati jebakan yang sama, ledakan demi ledakan mengenainya. Tapi Will tidak peduli, justru Clara yang khawatir.

"Kalau jebakan itu mengenaiku, mungkin aku yang akan mati," pikir Clara.

Di perjalanan.

Will dan Clara terus berjalan mengikuti arah kompas. Hutan mulai terasa lebih terbuka. Cahaya matahari lebih mudah masuk. Tapi suasana tetap tegang.

Tiba-tiba, Will mengangkat tangannya. "Ada sesuatu,"

Clara berhenti.

Dari kejauhan, sebuah sosok terbang melintas di antara pepohonan, ia mengenakan topi penyihir di kepalanya.

Sosok itu mendekat secara perlahan. Lalu mulai mendarat di hadapan mereka.

"Hei, kalian. Kenapa kalian bisa selamat dari jebakan sihir?"

Suaranya tinggi. Nada bicaranya seperti orang yang tidak sabaran.

Will mengerutkan kening. Tangannya secara refleks mengepal.

"Kau siapa?"

Sosok itu membungkuk sedikit, membuka kedua tangannya lebar-lebar, seperti aktor di atas panggung.

"Aku Irana. Sih penyihir remaja!"

Ia berpose. Topinya hampir jatuh, tapi ia menangkapnya dengan cepat.

Clara tidak terkesan. Matanya tajam.

"Apa kau yang memasang jebakan itu?"

Irana menggeleng cepat.

"Bukan. Tapi prajurit istana yang memasangnya,"

Will dan Clara menoleh satu sama lain.

"Prajurit istana?" tanya mereka bersamaan.

"Iya. Mereka memasang jebakan ini untuk mencelakai penyihir yang masih muda. Biar kami mati sebelum dewasa,"

Irana menyilangkan tangan di dada.

"Tapi harus kuakui, cara itu tidak berhasil,"

Clara menyipitkan mata.

"Lalu, kau mau apa di sini?"

Irana tersenyum. Senyum yang aneh. Tidak ramah. Tapi juga tidak sepenuhnya bermusuhan.

"Kalian pernah dengar mitos... memakan manusia, membuatmu cepat dewasa?"

Suasana berubah.

Udara di sekitar mereka terasa lebih dingin. Daun-daun bergesekan pelan seperti berbisik.

Will menatap Irana. Matanya tidak berkedip.

Clara menggenggam pisaunya.

"Jangan bilang kau mau memakan kami?" tanya Will, suaranya datar tapi matanya tajam.

Ia ingin memastikan.

Irana tersenyum. "Hmm, tahu saja kamu,"

Will dan Clara bersiap.

Irana mulai menggerakkan tangannya. Gerakannya lambat, tapi aneh seperti sedang menari sendirian di tengah sunyi.

"Aku akan membuang salah satu dari kalian, dan mempermalukannya," katanya.

Will dan Clara sempat menoleh satu sama lain.

Mata mereka bertemu. Saling mengerti tanpa kata.

Lalu mereka menoleh kembali ke Irana.

Tapi saat Will menoleh, ia terkena serangan energi dari Irana.

Sesuatu yang panas menyambar dadanya, membuat tubuhnya terpental, bukan ke belakang, tapi ke arah yang tidak ia kenali.

Will terlempar ke masa depan.

Itu karena Irana, menyerang Will yang belum siap.

Di masa sekarang.

Clara tidak sadar kalau Will menghilang.

"Baiklah, Will. Ayo maju," ucap Clara.

Karena tidak ada respons, Clara menoleh ke arah Will.

Will menghilang. Tanpa suara. Tanpa peringatan.

Clara mengerutkan kening.

"Will?"

Sunyi.

Hanya suara angin dan dedaunan yang bergesekan pelan.

Clara menatap Irana, perempuan bertopi penyihir itu tersenyum kecil

"Dia tidak akan kembali," kata Irana.

Clara menggenggam pisaunya lebih erat dari sebelumnya, sampai jarinya memutih karena tekanan.

"Kau apakan dia!?" tanya Clara, suaranya terdengar emosi. Ada getar di antara marah dan cemas.

Irana tidak terburu-buru menjawab. Ia justru melangkah perlahan mendekati Clara. Langkah kakinya nyaris tanpa suara di atas dedaunan kering.

"Kau tidak akan tahu. Sekarang hanya ada kita berdua,"

Clara bersiap. Kaki kanannya mundur setengah langkah, dalam posisi menyerang. Pisau kecil di tangannya diarahkan ke leher Irana.

Tapi sesuatu yang mengejutkan terjadi.

Irana berhenti tiba-tiba. Matanya membesar. Mulutnya terbuka sedikit.

"Apa!? Bagaimana bisa kau kembali dari masa depan?"

Suaranya meninggi. Bukan karena marah, tapi terkejut. Mungkin juga sedikit takut.

Ternyata, Will muncul di sebelah Clara. Dia berhasil kembali ke masa sekarang.

Tanpa suara dan peringatan.

Bersambung...​

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!