Elara tumbuh sebagai putri tunggal dari pemimpin organisasi mafia paling kejam di negeri ini. Dididik dengan kekerasan dan dicengkeram doktrin psikopat oleh ayahnya, ia terpaksa mengenakan topeng apatis dan minim empati.
Saat berusia 14 tahun, dalam sebuah misi untuk menghabisi geng lokal, takdir mempertemukannya dengan seorang remaja laki-laki yang tengah dikeroyok.
Bukannya takut melihat aksi kejam Elara, pemuda itu justru jatuh cinta pada pandangan pertama dan dengan sukarela menawarkan dirinya untuk masuk ke dalam dunia hitam organisasi demi bisa bersamanya.
Tahun demi tahun berlalu. Remaja laki-laki itu kini telah tumbuh menjadi pengawal pribadi Elara yang paling tangguh dan tepercaya. Tanpa mengetahui rencana pengkhianatan Elara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Skyline Scribe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20 : PERSIMPANGAN DUA IBLIS
𝐃𝐀𝐍𝐓𝐄 (𝐊𝐚𝐦𝐚𝐫 𝐏𝐞𝐫𝐚𝐰𝐚𝐭𝐚𝐧 𝐒𝐚𝐲𝐚𝐩 𝐁𝐞𝐥𝐚𝐤𝐚𝐧𝐠)
Bau antiseptik menyengat di udara ruangan itu, namun bau itu kalah pekat dengan aroma karat dan darah di dermaga, semuanya masih melekat di benak Dante.
Pria itu duduk di tepi ranjang perawatan, menolak bantuan tim medis keluarga. Dengan gerakan kasar, ia menuangkan cairan alkohol langsung ke atas luka terbukanya, membiarkan sensasi terbakar yang luar biasa menusuk sarafnya.
Rasa sakit fisik ini tidak ada apa-apanya dibanding dengan gejolak di dadanya sejak semalam.
Dante menatap telapak tangannya yang besar. Tangan yang ditempa hanya untuk satu tujuan: melindungi Elara.
Namun semalam, saat Elara harus menghadapi puluhan orang faksi maritim, Dante justru terjebak dalam blokade jalanan, mengumpat seperti orang gila di balik kemudi dengan jantung yang berpacu liar.
𝘒𝘢𝘶 𝘵𝘦𝘳𝘭𝘢𝘮𝘣𝘢𝘵, 𝘋𝘢𝘯𝘵𝘦. 𝘛𝘪𝘬𝘶𝘴𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘮𝘢𝘵𝘪.
Kalimat Elara kembali terngiang, memicu rasa ngilu yang lebih hebat daripada luka sayatan di pundaknya.
Dante memejamkan mata, bayangan sosok Elara yang berdiri di tengah genangan darah dengan gaun yang basah.
Dia sangat cantik.
Keindahan yang mengerikan itu justru membuat Dante bersumpah tidak akan membiarkan Elara bersimbah darah lagi.
Langkah kaki yang halus di luar pintu kamar memutus lamunan Dante. Instingnya seketika menajam. Itu bukan langkah kaki pengawal, bukan juga langkah kaki Elara.
Pintu bergeser terbuka.
Julian Vance berdiri di sana, bersandar pada bingkai pintu dengan perban yang masih menempel di hidungnya dan senyum miring yang memuakkan.
"Masih meratapi keterlambatanmu, Dante?" cemooh Julian, suaranya mengalun santai penuh provokasi.
Dante tidak bergerak dari tempat duduknya, matanya menatap Julian dengan kebencian. "Keluar dari sini sebelum aku menghancurkan sisa wajahmu yang belum diperban."
Julian tidak mundur setapak pun. Ia justru melangkah masuk, memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana, menikmati aura membunuh yang dipancarkan oleh Dante. Duel fisik mereka tempo hari berakhir seri, dan Julian tahu betul bahwa secara otot, Dante adalah lawan yang merepotkan. Tapi secara psikologis? Dante adalah papan catur yang sangat mudah dibaca.
"Kau tahu, Dante..." Julian berjalan memutari ranjang, matanya menilai luka di pundak Dante. "...semalam aku melihat rekaman CCTV Dermaga 9 sebelum dihapus oleh Tuan besar. Dan aku menyadari satu hal."
Julian sengaja menjeda kalimatnya, menunduk sedikit untuk menyamakan tinggi pandangannya dengan Dante yang masih duduk.
"Nona Elara tidak membutuhkanmu," bisik Julian, memprovokasi Dante. "Dia bukan putri manja yang butuh kau lindungi setiap malam. Dan semalam, saat kau datang dengan wajah panikmu yang menyedihkan itu, kau terlihat seperti aksesori usang yang datang terlambat ke pesta."
Rahang Dante mengeras hingga terdengar bunyi gemeletuk gigi yang beradu.
Julian tersenyum semakin lebar melihat reaksi itu. Ia menegakkan tubuhnya, menatap Dante dengan pandangan menghina.
"Kau mencintainya dengan cara yang menjijikkan, Dante. Kau ingin dia bergantung padamu agar kau merasa berharga. Tapi kenyataannya? Kau hanyalah alat. Dan alat yang mulai tidak berfungsi dengan cepat... biasanya akan segera digantikan oleh model yang baru."
Dante perlahan bangkit berdiri. Tubuhnya yang besar menjulang di depan Julian, memancarkan tekanan fisik bagi Julian.
"Kau pikir kau bisa membacanya, Julian?" suara Dante merendah, bergetar dengan kemarahan. "Kau hanya melihatnya sebagai mahakarya. Kau terobsesi karena kau pikir kau pintar."
Dante melangkah maju, hingga ujung sepatu mereka bersentuhan.
"Tapi aku tahu rasanya saat jemarinya yang berdarah menyentuh kulitku. Aku tahu rasanya menjadi satu-satunya tempat di mana dia melepaskan topeng dinginnya. Kau boleh memegang akses seluruh sistem digital rumah ini. Tapi jika kau berani melangkah satu senti saja lebih dekat ke arahnya..."
Dante mendekatkan wajahnya ke telinga Julian, berbisik dengan desisan yang membuat bulu kuduk berdiri.
"...aku akan memastikan sistem pertahanan terbaikmu sekalipun tidak akan bisa melacak di bagian pelabuhan mana aku akan membuang potongan tubuhmu."
Julian merasakan detak jantungnya sendiri berpacu cepat, ia merasakan kepuasan yang luar biasa. Dante telah sepenuhnya masuk ke dalam perangkap psikologisnya. Pria besar ini sedang ketakutan karena posisinya mulai goyah.
"Mari kita buktikan, Dante," Julian mundur selangkah, memperbaiki posisi kacamatanya dengan senyum miring yang tak pernah pudar. "Mari kita lihat, siapa di antara kita yang akan bertahan lebih lama di sisi Elara... ketika aku mulai membakar papan caturnya."
Julian berbalik dan melangkah pergi, meninggalkan Dante yang berdiri di tengah kamar perawatan dengan napas memburu.
Nggak bisa nebak endingnya 💪💪
qu rasa nanti hadir laki" yg melebihi mrk smua
juliaaan👍👍
takut nii
semangat kak💪💪
bikin penasaran
kenapa feeling ku bilang ini sad ending yaa🤔🤔
semangat kak💪💪
sebenarnya apa niat dia yaa 🤔
jangan bilang ini belum kemampuan elara yang sebnernya..