Akira tewas terbunuh karena ledakan bom yang di pasang di mobilnya, oleh musuh. Namun keajaiban terjadi, dia terbangun di tubuh wanita bernama Elvira, seorang istri yang tak di anggap oleh suaminya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Whidie Arista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34 - Akhirnya dia tahu
Klek...
Suara pintu tertutup, Elvira berjalan masuk sambil menyampirkan tas di pundak.
“Vira,” panggilan Zavian membuat langkahnya terhenti.
“Dari mana saja, kenapa baru pulang?”
“Selingkuh,” jawabnya sambil melipat tangan di dada.
Zavian hendak mendebat namun urung, “aku sangat mengkhawatirkanmu, jika tidak kembali dalam waktu 24 jam aku akan melapor pada polisi kalau kau hilang,” dia tak menanggapi ucapan Elvira barusan, dia tahu wanita itu hanya menyindir.
“Ponselmu pun mati.”
“Sengaja aku matikan,” jawabnya fasih.
Zavian berusaha tak peduli, “Lain kali jika kau pergi kabari aku dulu agar aku tidak cemas.”
“Cemas?” Elvira tertawa pelan, “ada orang yang menjagaku, untuk apa kau cemas. Dia bersamaku semalaman, bahkan kami tidak tidur karena ingin menghabiskan waktu bersama.”
Zavian menghela nafas berat, dia berusaha bertahan agar tak terpancing emosi dengan kata-kata Elvira, “Mengenai Raisa,” mendengar nama itu disebut tatapan mata Elvira berubah tajam, Zavian pun langsung merubah topik pembicaraan.
“Bima bilang, kau datang ke kantor kemarin.”
Mengalihkan pandangan kearah lain.
“Lain kali jika datang lagi, masuklah dulu dan temui aku. Kau yang terpenting bagiku, ruanganku terbuka sepenuhnya untukmu.”
Elvira diam tak memberi tanggapan.
“Vira. Aku serius ingin memperbaiki hubungan pernikahan kita, aku tidak mungkin mengingkari itu dan bermain-main dengan wanita lain. Bagitu pun kau, aku percaya padamu.”
Lagi-lagi Elvira hanya diam. Saat itulah Zavian melihat lengan baju Elvira basah, meski warna bajunya hitam Zavian tetap bisa melihatnya.
“Vira, kenapa bajumu basah?”
“Bukan apa-apa."
Zavian maju dan langsung memeriksanya, betapa terkejutnya ia melihat lengan bagian atas sang Istri terbalut perban dengan darah yang merembes keluar.
“Kau terluka? Kenapa bisa terluka?” dia panik seketika.
“Bukan urusanmu, minggir aku mau mandi.”
“Tidak. Katakan dulu, kenapa kau bisa terluka?”
“Aku gak sengaja jatuh,” dustanya.
“Hanya jatuh tidak mungkin bisa berdarah sebanyak itu. Kita pergi ke dokter sekarang,” dia menarik tangan Elvira yang langsung wanita itu tepis saat itu juga.
“Jangan berlebihan Zavian, ini hanya luka kecil. Tidak mungkin sampai membuatku mati.”
“Bisa, jika luka itu infeksi. Jadi luka mu harus di obati dengan benar jika kau tidak ingin mati muda.”
“Tidak perlu, aku bisa mengurus diriku sendiri,” tolak Elvira. Bisa gawat, jika Dokter mengenali lukanya sebagai luka tembak, kepemilikan senjata ilegalnya pun akan tercium oleh polisi.
“Jangan keras kepala dan ikut aku sekarang.”
“Jangan menguji kesabaranku Zavian.”
“Kau yang menguji kesabaranku, Elvira.”
Mereka berdua mendengus hampir bersamaan.
Akira sudah terlatih mengobati luka sendiri, hidup di dunia gelap yang penuh bahaya, dirinya wajib mempelajari Ilmu kedokteran untuk berjaga-jaga jika terluka dia tidak perlu mengandalkan orang lain untuk mengobati lukanya, kecuali jika luka itu parah. Sedang ini hanya luka tembak kecil, dia sering kali mendapatkan luka seperti ini jika sedang menjalankan tugas ataupun latihan, jadi dia sudah terbiasa dengan darah dan rasa sakitnya.
Elvira berjalan cepat naik ke lantai atas, berdebat dengan Zavian tak akan ada habisnya. Dia tak menggubris teriakan-teriakan Zavian yang terus-menerus memanggil-manggil mamanya.
Dia melucuti pakaiannya, lalu menggantinya dengan jubah mandi, kemudian masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri, dia ingin berendam dengan air hangat untuk melepas penatnya.
Zavian mengusap wajah kasar. Hampir saja emosinya terpancing, dia beralih mengambil kotak P3K kemudian membawanya ke lantai atas menuju kamar Elvira.
Dia mengetuk pintu dua kali diiringi panggilan, namun Elvira tak menyahut, seakan sang pemilik sedang tak ada di kamarnya. Zavian mencoba memutar gagang pintu, lalu pintu pun terbuka.
“Tumben dia gak ngunci pintunya?” gumamnya pelan, dia melangkah masuk tanpa suara, kamar Elvira terlihat kosong hanya baju bekasnya yang teronggok di tepi ranjang.
Zavian menaruh kotak P3K itu di atas nakas, kemudian berkeliling, menilik seisi kamar. Dia menggeser pintu walk-in closet bermaksud melihat baju-baju Elvira, dia ingin membelikan baju untuk sang Istri, namun bingung warna apa yang Elvira sukai.
Zavian terpaku, rahangnya jatuh, matanya terbelalak, melihat penampakan di ruang pakaiannya. Isi disanaa bukan lagi deretan baju dan tas, atau pun perhiasan. Melainkan layar komputer yang memonitor seluruh rumah, belum lagi senjata api yang di pajang, rak-rak yang berisi tas branded sebelumnya kini beralih pungsi menjadi tempat penyimpanan senjata api.
Zavian menelan Salivanya, dia mundur perlahan, tubuhnya limbung dan hampir terjatuh keluar pintu, kemudian lekas menutup pintu itu kembali, takut sang pemilik curiga.
‘Kenapa Elvira menyimpan senjata api di kamar, darimana dia mendapatkannya?'
Belum sempat Zavian mengatasi rasa keterkejutannya, Elvira keluar dari kamar mandi.
“Kau... Sedang apa kau di kamarku?” geramnya sambil menggosok rambut menggunakan handuk kecil.
“A-aku, aku,” Zavian terbata, tubuhnya reflek mundur seketika.
Elvira menyeringai, dia melempar handuk dalam genggamannya ke atas ranjang. Kemudian berjalan ke pintu, klik... Suara pintu terkunci nyaring terdengar.
“Vira, aku membawakan kotak obat untuk luka mu,” Zavian berusaha mengendalikan rasa takut nya.
Elvira tersenyum, senyum yang tak pernah Zavian lihat sebelumnya, senyum seorang psikopat.
“Kau melihatnya?”
“Hah?”
“Katakan dengan jujur, kau melihatnya atau tidak?”
“A-aku tidak mengerti maksudmu,” Zavian berdalih.
Elvira duduk bertumpang kaki, “tadi kau masuk kedalam sana kan? Jujurlah, jika kau jujur mungkin aku akan sedikit berbelas kasih padamu.”
Zavian menghembus nafas kasar, “kau benar aku memang melihatnya. Darimana kau mendapatkan senjata-senjata itu, apa itu asli? Atau itu hanya mainan koleksimu?”
“Mainan?” Elvira tertawa keras, kemudian bangkit. Dia berjalan mengitari ranjang kemudian mengambil sesuatu dari bawah bantal.
Mata Zavian membulat sempurna, dia mulai waspada saat Elvira memainkan benda itu.
“Vi-vira, benda itu sangat berbahaya, letakkan oke. Aku tahu kau marah padaku, aku minta maaf. Aku bersumpah tidak punya hubungan apa pun dengan Raisa, kini yang ada di hatiku hanya kamu seorang,” ujarnya dengan kaki gemetar, sekuat apa pun seorang Zavian Arkatama, dia tetap gemetar jika sudah berurusan dengan senjata api.
ternyata zavian semakin cinta am akira..
😍😍💪💪🙏🙏
😍😍💪💪🙏
😍😍💪🙏🙏
betapa ia rindukan cinta zavian..
🤣🤣😍💪🙏🙏
andai ia tau elvira adalah akira ...
🤣😍😍😍💪💪🙏🙏
jatuh cinta sejatuh jatuhnya..
😍😍😍💪🙏🙏
pasti elvira lebih terpingkal2
jadi penasaran..
kebiasaan kecil Akira apa yg diingat oleh caviar..
🤣🤣😍😍💪💪🙏🙏
akira apa sdah pasamh cctv di kmarnya yaaa????
akira masih kasih kesempatan pada Lea..
apa tujuannya..
akira masih penasaran pada Lea ..
🤣🤣😍😍💪🙏🙏
elvira cemburu..
🤣🤣😍😍💪🙏🙏
😍😍💪🙏🙏🙏
apa yg akan terjadii..
😍😍💪💪🙏🙏
ikutan tegang
😍😍💪💪🙏🙏
😍😍😍😍💪💪💪💪🙏🙏🙏
apa selama ini akira jga memanipulasi dana amal?
😍😍😍😍💪💪💪💪