Dua penulis rival.
Dua dunia cerita.
Dua takdir yang seharusnya tidak pernah bertemu.
Namun sebuah kecelakaan mengubah segalanya mereka terlempar ke dalam dunia novel yang mereka ciptakan sendiri.
Mo Chen, pangeran ketiga yang dianggap lemah namun menyimpan kekuatan tersembunyi.
Gu Yanran, putri panglima perang yang difitnah dan ditakdirkan mati demi politik kekaisaran.
Masalahnya… mereka tidak masuk ke dunia mereka sendiri.
Mereka masuk ke dunia satu sama lain.
Dan ketika dua cerita yang berbeda mulai menyatu, alur yang seharusnya sudah ditentukan mulai retak.
Kini tidak ada lagi naskah yang pasti.
Hanya satu pertanyaan yang tersisa:
Apakah mereka bisa mengubah akhir… sebelum cerita mengubah mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhin Pasker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
UMPAN UNTUK PERANG BESAR
Malam telah turun sepenuhnya di Perbatasan Utara.
Markas pertahanan yang siang tadi dipenuhi kesibukan kini mulai tenang. Sebagian besar prajurit sedang beristirahat atau mempersiapkan perlengkapan untuk perjalanan pulang esok hari.
Namun bagi Gu Yanran, masih ada satu urusan yang belum selesai.
Di bawah markas, lorong batu yang menuju penjara bawah tanah terasa dingin dan sunyi.
Langkah kaki Gu Yanran bergema pelan.
Di belakangnya berjalan beberapa prajurit pengawal dengan wajah serius.
Tak lama kemudian mereka tiba di depan ruang tahanan utama.
Dua penjaga yang berjaga segera memberi hormat.
“Salam, Panglima!”
Gu Yanran mengangguk.
“Bagaimana keadaannya?”
“Semenjak ditahan dia hampir tidak berbicara, Panglima.”
“Baik.”
Tatapan Gu Yanran tetap tenang.
“Buka pintunya.”
“Siap!”
Pintu besi perlahan terbuka.
Suara gesekan logam memenuhi lorong.
Di dalam ruangan remang-remang itu duduk seorang pria bertubuh besar dengan kedua tangan dirantai.
Tubuhnya tampak lelah setelah pertempuran, tetapi matanya masih dipenuhi perlawanan.
Dialah pemimpin kelompok bandit.
Zhao Lie.
Gu Yanran masuk tanpa terburu-buru.
Ia menarik kursi dan duduk tepat di depan tahanan itu.
Ruangan menjadi sunyi.
Para prajurit yang ikut masuk saling melirik.
Mereka mengenal ekspresi panglima mereka.
Tenang.
Dingin.
Dan sangat berbahaya.
Gu Yanran menyandarkan tubuhnya.
Tatapannya lurus ke depan.
“Aku hanya akan bertanya sekali.”
Zhao Lie tertawa kecil.
“Kalau begitu tanyakan.”
Gu Yanran berbicara dengan suara datar.
“Siapa yang berada di belakang kalian?”
Ruangan langsung hening.
Untuk sesaat Zhao Lie tidak menjawab.
Lalu ia tertawa.
“Kau pikir aku akan mengatakannya?”
Ia menatap Gu Yanran dengan tatapan menantang.
“Bunuh saja aku.”
Beberapa prajurit saling berpandangan.
Salah seorang berbisik pelan.
“Selesai sudah…”
Yang lain mengangguk.
“Dia tidak tahu sedang bicara dengan siapa.”
Namun Gu Yanran tidak marah.
Ia hanya tersenyum tipis.
Senyum yang membuat suasana semakin dingin.
“Kau kira mati itu mudah?”
Zhao Lie berhenti tertawa.
Gu Yanran bangkit perlahan.
Ia berjalan beberapa langkah.
Kemudian berhenti tepat di depan tahanan itu.
“Aku tidak suka mengulang pertanyaan.”
Tatapannya menekan.
“Bicara.”
Zhao Lie mengangkat kepala.
“Aku tidak akan mengatakan apa pun.”
Gu Yanran diam beberapa saat.
Lalu berkata pelan.
“Baik.”
Ia memberi isyarat kepada prajurit.
Interogasi dimulai.
Tidak ada teriakan marah.
Tidak ada kemarahan berlebihan.
Hanya pertanyaan yang terus diulang.
Dan keheningan yang semakin menekan.
Beberapa saat kemudian—
Gu Yanran kembali duduk.
Tatapannya tidak berubah sedikit pun.
“Masih ingin diam?”
Zhao Lie mengangkat kepala.
Napasnya mulai berat.
Namun ia masih tertawa.
“Tidak ada siapa pun di belakang kami.”
Gu Yanran memandangnya beberapa saat.
Kemudian berdiri lagi.
Kali ini ia mengambil sebilah besi yang sebelumnya digunakan untuk menempa perlengkapan.
Besi itu diletakkan di atas meja.
Zhao Lie menelan ludah.
Gu Yanran tidak menyentuhnya.
Ia hanya memandang tahanannya.
“Orang sering mengira aku mengandalkan kekuatan.”
Ia berhenti sejenak.
“Padahal aku lebih suka mendapatkan jawaban.”
Ruangan kembali sunyi.
Beberapa prajurit bahkan ikut menahan napas.
Zhao Lie mulai kehilangan ketenangannya.
Tatapan dingin wanita di depannya jauh lebih menakutkan dibanding hukuman apa pun.
Akhirnya—
“Aku bicara!”
Semua orang diam.
Gu Yanran duduk kembali.
“Lanjutkan.”
Zhao Lie menunduk.
“Kami… bukan bergerak sendiri.”
Tatapan Gu Yanran berubah sedikit.
“Teruskan.”
Zhao Lie menggertakkan gigi.
“Kami berada di bawah kendali suku barbar dari Kekaisaran Heiyuan.”
Mata beberapa prajurit langsung berubah.
Gu Yanran mengangkat alis.
“Kekaisaran Heiyuan?”
“Benar…”
Zhao Lie menarik napas.
“Mereka memerintahkan kami membuat kerusuhan di Perbatasan Utara.”
“Tujuannya?”
“Mengalihkan perhatian.”
Gu Yanran tidak memotong.
Ia membiarkan pria itu berbicara.
“Mereka juga meminta kami mengumpulkan informasi.”
“Informasi tentang siapa?”
Zhao Lie menelan ludah.
“Jenderal Gu Zhengyuan…”
Ia berhenti.
Dan menunduk lebih dalam.
“…dan Panglima Gu Yanran.”
Ruangan mendadak sunyi.
Tatapan Gu Yanran menjadi semakin dalam.
Ia memandang Zhao Lie.
“Kau tahu siapa aku?”
Zhao Lie terdiam.
Ia menggeleng.
Gu Yanran tersenyum tipis.
“Kalau begitu tebak.”
Zhao Lie membeku.
Ia mulai memperhatikan wajah wanita di depannya.
Panglima wanita.
Muda.
Dingin.
Sangat kuat.
Tiba-tiba sesuatu muncul di pikirannya.
Panglima wanita…
Perbatasan…
Nama keluarga Gu…
Matanya perlahan membesar.
Tubuhnya mulai gemetar.
Ia langsung menunduk.
“Panglima Gu…”
Napasnya menjadi tidak teratur.
“Gu Yanran…”
Baru sekarang ia sadar.
Wanita yang sejak tadi menginterogasinya…
adalah orang yang namanya sering disebut di antara kelompok bandit.
Putri Jenderal Gu Zhengyuan.
Panglima yang dikenal tidak pernah membiarkan ancaman terhadap rakyat lolos begitu saja.
Keringat dingin mulai turun.
Zhao Lie langsung menunduk lebih rendah.
“Hamba bersalah…”
“Hamba tidak tahu itu Anda…”
Gu Yanran tetap tenang.
“Aku tidak tertarik pada penyesalan.”
Ia menyilangkan tangan.
“Aku hanya tertarik pada kegunaan.”
Zhao Lie langsung mengangkat kepala.
“Kegunaan?”
Gu Yanran mengangguk.
“Jika kau berguna.”
“Aku akan mempertimbangkan membiarkanmu hidup.”
Kalimat itu seperti cahaya bagi Zhao Lie.
Matanya langsung berubah.
“Aku berguna!”
“Aku tahu sesuatu!”
Gu Yanran memberi isyarat.
“Bicara.”
Zhao Lie menarik napas panjang.
Kemudian berkata pelan.
“Di dalam istana… ada mata-mata.”
Tatapan para prajurit langsung berubah.
Gu Yanran tetap diam.
Zhao Lie melanjutkan.
“Suku barbar sudah lama menyusup.”
“Mereka mengumpulkan informasi dari dalam.”
“Termasuk pergerakan militer.”
Gu Yanran mengetukkan jarinya pelan.
“Lanjut.”
Zhao Lie berkata dengan cepat.
“Target mereka sebenarnya bukan Perbatasan Utara.”
Ruangan menjadi sunyi.
“Mereka ingin menyerang Perbatasan Selatan.”
Beberapa prajurit langsung menoleh.
Zhao Lie melanjutkan.
“Karena mereka menerima laporan bahwa Anda dan Jenderal Gu Zhengyuan sudah meninggalkan wilayah selatan.”
“Mereka ingin memancing perhatian ke utara…”
“Lalu bergerak ke tempat lain.”
Tatapan Gu Yanran berubah sedikit.
Potongan-potongan informasi mulai tersusun.
Bandit.
Jumlah terlalu besar.
Persenjataan terlalu rapi.
Pergerakan yang tidak wajar.
Semua mulai masuk akal.
Ia perlahan menyandarkan tubuh.
“Jadi…”
“Perang sebenarnya belum dimulai.”
Zhao Lie mengangguk cepat.
“Benar.”
“Kami hanya umpan.”
Ruangan kembali hening.
Gu Yanran menutup mata sesaat.
Kemudian membukanya kembali.
Tatapannya sudah berubah.
Lebih tenang.
Namun jauh lebih serius.
Ia berdiri.
Berjalan mendekati Zhao Lie.
Lalu berhenti.
“Kau cukup berguna.”
Zhao Lie langsung menatapnya penuh harap.
Gu Yanran berkata tenang.
“Jika kau benar-benar ingin bertobat…”
“Aku akan memberimu kesempatan hidup.”
Mata Zhao Lie langsung membesar.
“Benarkah?”
Gu Yanran mengangguk.
“Tapi jika kau berbohong…”
Ia berhenti.
Tatapannya dingin.
“Aku tidak akan memberimu kesempatan kedua.”
Zhao Lie langsung menunduk.
“Aku mengerti.”
Ia menarik napas panjang.
Kemudian berkata dengan suara serak.
“Aku… Zhao Lie…”
“…bersumpah setia kepada panglima Gu.”
Gu Yanran tidak langsung menjawab.
Ia memandang beberapa saat.
Lalu berbalik.
“Kalian berdua.”
Dua prajurit segera maju.
“Rawat lukanya.”
“Pastikan dia tetap hidup.”
“Besok pagi kita berangkat ke ibu kota.”
Para prajurit memberi hormat.
“Siap, Panglima!”
Gu Yanran berjalan keluar dari ruang tahanan.
Langkahnya tenang.
Namun pikirannya bergerak cepat.
Suku barbar.
Mata-mata di istana.
Perbatasan Selatan.
Jika semua ini benar—
maka kemenangan di Perbatasan Utara hanyalah permulaan.
Dan musuh yang sebenarnya…
mungkin sudah berada jauh lebih dekat dari yang mereka bayangkan.