"Ingat posisi kita, Elena. Di luar kita adalah pasangan sempurna, tapi di dalam rumah ini, kita adalah dua orang asing yang kebetulan berbagi satu atap. Jangan pernah lupakan itu."
Elena adalah CEO Luminous Beauty yang ambisius. Baginya, hidup adalah tentang citra dan kesempurnaan visual. Namun, sebuah pengkhianatan di dewan direksi memaksanya bersekutu dengan pria yang paling ia benci, Adrian ,
sang penguasa Arsa Food Group yang dingin dan praktis.
Namun, di balik kemewahan hidup mereka, ada rahasia gelap yang terkubur. Saat dinding kebencian mulai runtuh oleh sesuatu yang tak terduga, Elena menyadari bahwa Adrian mungkin bukan hanya rekan bisnis/suaminya, melainkan dalang di balik tragedi masa lalu keluarganya.
Di dunia mereka, cinta adalah kelemahan, dan pengkhianatan adalah strategi. Saat kontrak mulai melanggar logika hati, siapakah yang akan hancur lebih dulu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vanessa_Write, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20: Berpacu dengan Waktu
Lorong ventilasi di bawah penutup besi itu ternyata sangat sempit dan berbau besi berkarat. Adrian turun lebih dulu dengan gerakan yang sangat senyap, disusul oleh Elena, Hendra, dan dua prajurit elit lainnya.
Mereka merangkak melewati jalur kabel horizontal yang meliuk-liuk seperti ular raksasa, hingga akhirnya sampai di sebuah jeruji besi yang langsung menghadap ke bawah. Di bawah sana, ruangan server pusat Syndicate terbuka dengan kemegahan yang dingin dan menakutkan.
Ruangan itu sangat luas, didominasi oleh warna hitam dan putih dengan puluhan rak lemari server raksasa yang berjejer rapi. Jutaan lampu indikator kecil berwarna hijau dan biru berkedip-kedip tanpa henti dalam ritme yang cepat, mengeluarkan suara dengung halus dari mesin pendingin udara yang membuat suhu di dalam ruangan terasa seperti di dalam lemari es. Di sinilah seluruh data digital, bukti transaksi pencucian uang, dan nama-nama anggota rahasia Syndicate di seluruh dunia disimpan dengan aman.
Adrian menggunakan alat pemotong hidrolik mini untuk menggunting engsel jeruji besi di depan mereka dengan sangat hati-hati agar tidak menimbulkan suara bising. Setelah jeruji itu terlepas, Adrian melompat turun dari ketinggian tiga meter, mendarat dengan posisi berlutut yang sangat sempurna tanpa mengeluarkan suara sedikit pun di atas lantai marmer hitam. Ia langsung mengarahkan pistol berperedam suaranya ke segala arah, memastikan perimeter aman. Elena menyusul sedetik kemudian, mendarat tepat di samping suaminya dengan posisi siaga.
"Kombinasi ruang server ini dijaga oleh enkripsi berlapis, Adrian," bisik Elena sambil berjalan cepat mendekati meja konsol komputer utama yang terletak di tengah ruangan. "Kalau kita salah memasukkan kode akses sebanyak tiga kali, sistem bakal otomatis mengunci diri dan menghapus seluruh isi hard disk dalam waktu tiga puluh detik."
Elena duduk di kursi operator, jemari lentiknya langsung bergerak dengan sangat cepat di atas papan ketik mekanis yang menyala biru. Layar monitor raksasa di depannya seketika menampilkan barisan kode keamanan biner yang rumit. Wajah Elena tampak sangat serius. Ini adalah keahlian utamanya sebagai lulusan terbaik di bidang manajemen teknologi bisnis.
Adrian berdiri tegap tepat di belakang kursi Elena, membelakangi wanita itu untuk menjaga area pintu masuk utama yang terbuat dari baja tebal. Sepasang mata gelap Adrian terus bergerak waspada, menatap ke arah koridor luar melalui celah kaca ruang server.
"Berapa lama waktu yang kamu butuhkan untuk menjebol sistem pertahanan mereka, Putri Kecil?" tanya Adrian, suara baritonnya terdengar rendah namun penuh tekanan ketegangan yang nyata.
"Kasih aku waktu lima menit, Adrian. Lapisan pertahanan pertama mereka pakai algoritma enkripsi militer yang sangat ketat," jawab Elena tanpa menoleh sedikit pun dari layar komputer. Keringat dingin mulai tampak menetes di pelipisnya meskipun suhu di dalam ruangan itu sangat dingin.
Sementara Elena berpacu dengan waktu untuk menjebol sistem, Hendra dan dua prajurit lainnya berjaga di dekat sudut-sudut rak server, memasang beberapa peledak taktis kecil berkekuatan tinggi di titik-titik vital ruangan. Rencananya sudah sangat jelas. Setelah semua data penting berhasil disalin ke dalam flash disk taktis milik Elena, mereka bakal meledakkan seluruh ruangan ini agar organisasi Syndicate lumpuh total dan tidak bisa melacak posisi mereka lagi.
Ketegangan makin memuncak saat jarum jam digital di layar monitor menunjukkan waktu telah berjalan selama empat menit. Tiba-tiba, lampu indikator di atas pintu masuk utama yang tadinya berwarna hijau mendadak berubah menjadi warna merah pekat, diikuti oleh suara alarm peringatan yang berbunyi pendek namun berulang-ulang.
BIP! BIP! BIP!
"Sial! Sistem mendeteksi ada perangkat asing yang mencoba menyedot data!" seru salah satu prajurit taktis dengan nada panik. "Tuan! Pintu gerbang utama terkunci otomatis dari luar! Kamera pengawas di koridor menunjukkan ada satu peleton tentara bayaran musuh sedang bergerak cepat menuju ke arah ruangan ini!"
"Elena, sudah selesai?" tanya Adrian, suaranya mendadak berubah menjadi sedingin malam, tangannya mencengkeram erat senjata api berperedamnya, bersiap untuk baku tembak jarak dekat yang brutal.
"Satu lapisan lagi... kunci terakhir ada di folder tersembunyi milik mendiang ayahku!" teriak Elena, jarinya menekan tombol enter dengan sentakan yang sangat keras.
TING!
Sebuah bar kemajuan berwarna hijau langsung muncul di layar monitor dengan tulisan besar: COPYING DATA - 85%... 90%... 95%... COMPLETED.
"Selesai! Semua data keuangan, bukti pembunuhan ayahku, dan daftar nama anggota mereka sudah masuk ke dalam flash disk ini!" seru Elena sambil mencabut perangkat penyimpanan kecil berwarna hitam itu dari lubang fungsional komputer dengan gerakan cepat.
BOOM!
Detik itu juga, pintu baja utama ruang server dihantam ledakan hebat dari arah luar hingga jebol dan terlempar ke lantai dengan dentuman keras yang memekakkan telinga. Asap putih tebal sisa ledakan langsung merayap masuk ke dalam ruangan, disusul oleh rentetan tembakan senapan serbu otomatis dari pasukan tentara bayaran musuh yang berhasil menerobos masuk dengan brutal.
TATATATATATATATA!
Peluru-peluru tajam berukuran besar berterbangan di udara, menghancurkan kaca-kaca pelindung rak server hingga serpihan kristal tajam beterbangan ke segala arah. Adrian dengan gerakan refleks yang super cepat langsung menerjang tubuh Elena, menarik wanita itu jatuh dari kursi dan mengurung tubuh ramping Elena di bawah lindungan dada bidangnya yang kokoh di balik meja konsol marmer yang tebal.
Adrian membalas tembakan musuh dengan sangat presisi menggunakan tangan kirinya yang sehat, sementara tangan kanannya yang terbalut kain kasa memeluk erat pinggang Elena agar istrinya itu tidak terkena serpihan kaca panas.
"Hendra! Ledakkan bom gas air mata di depan pintu! Kita harus mundur lewat jalur ventilasi atas sekarang juga!" teriak Adrian memberikan komando mutlak di tengah bisingnya suara baku tembak.
"Siap, Tuan!" Hendra melemparkan dua buah tabung gas kecil ke arah pintu masuk. Dalam hitungan detik, asap putih pekat yang bikin mata perih dan sesak napas langsung memenuhi seluruh ruangan, mengacaukan pandangan mata pasukan tentara bayaran musuh.
Adrian membantu Elena berdiri, lalu mendorong tubuh wanita itu dengan lembut agar naik lebih dulu ke arah tangga darurat jalur ventilasi udara tempat mereka masuk tadi. "Naik sekarang, Elena! Jangan nengok ke belakang!"
"Adrian, kamu juga harus naik!" teriak Elena di antara kepulan asap gas air mata yang makin menyesakkan dada, menatap wajah suaminya dengan rasa cemas yang luar biasa takut kehilangan.
"Aku tepat di belakangmu, Putri Kecil. Cepat naik!" balas Adrian sambil menembakkan sisa peluru di pistolnya untuk menekan pergerakan musuh yang mencoba merangkak maju di antara rak-rak server yang mulai terbakar.
Elena memanjat tangga besi itu dengan kecepatan penuh, mengabaikan rasa perih di matanya. Begitu tubuhnya berhasil masuk kembali ke dalam lorong ventilasi yang sempit, Adrian menyusul sedetik kemudian bersama Hendra. Sebelum mereka merangkak menjauh, Hendra langsung menekan tombol detonator jarak jauh di tangannya.
BOOM! BOOM! BOOM!
Serangkaian ledakan dahsyat beruntun langsung mengguncang hebat fondasi bawah tanah Pulau Karang Hitam. Seluruh ruang server pusat Syndicate hancur lebur menjadi lautan api jingga yang besar, menghanguskan semua sisa teknologi dan tentara bayaran yang ada di dalamnya. Guncangan hebat itu membuat lorong ventilasi tempat Adrian dan Elena merangkak sempat bergetar keras, namun mereka terus bergerak maju dengan sisa kekuatan yang ada menuju jalan keluar tebing timur.
Jantung seluler organisasi paling berbahaya di dunia itu resmi dihancurkan malam ini oleh kekompakan taktis sang power couple. Bukti sudah di tangan, sarang musuh sudah diledakkan, dan sekarang tinggal satu langkah terakhir lagi bagi Adrian dan Elena.
Mereka berhasil meloloskan diri dari pulau neraka ini hidup-hidup sebelum bala bantuan musuh mengepung mereka dari segala penjuru mata angin.
......BERSAMBUNG......