NovelToon NovelToon
Dendam Diatas Materai

Dendam Diatas Materai

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Nikah Kontrak / CEO
Popularitas:534
Nilai: 5
Nama Author: Senjani jingga

Gara-gara wine tumpah Aruna Wijaya harus menikah kontrak dengan seorang iblis berwajah tampan Devara Mahesa.

Tanda tangan kontrak diatas materai menjadi penanda Aruna resmi terjerat dalam pelukan hangat Devara yang mematikan dan penuh dendam rahasia.

Hingga Bayu datang, seorang dokter keluarga Wijaya yang menyimpan kenangan masa lalu kelam Aruna menawarkan kebebasan.

Apakah Aruna akan menerima tawaran Bayu lepas dari iblis?, ataukah akui dendam diatas materai itu sudah menjadi candu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senjani jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DDM|31|Jalan Berbeda

Hari 1. New York.

Aruna kira kebebasan akan terasa ringan.

Ternyata salah, rasanya seperti tenggelam.

Apartemen yang disewakan Marisa kepada Wijaya, kecil, hangat. Bau obat dan kopi. Wijaya tertawa lebih banyak dalam satu hari ini daripada dua tahun terakhir. Bayu bolak-balik beliin makanan, nemenin kontrol dokter, ngatur obat.

Semua sempurna. Semua yang Aruna minta.

Tapi malam pertama di New York, Aruna tidak bisa tidur.

Ia duduk di balkon, selimut melilit badan. Udara dingin menusuk kulit. Di bawah sana, lampu kota berkerlap seperti bintang jatuh.

HP-nya di tangan. Tidak ada notifikasi. Tidak ada telepon. Seharusnya ia lega.

Tapi dadanya terasa seperti ada yang hilang.

...---...

Di Skyline. Jam yang sama

Penthouse lantai 98 gelap. Devara belum tidur. Botol whiskey di meja sudah habis. Laptop masih menyala, menampilkan layar kosong.

Andre masuk tanpa diketok. “Pak, ini laporan—”

“Keluar.”

Suara Devara serak. Andre mundur.

Devara menatap pintu lift. Pintu yang semalam Aruna lewati. Ia bisa masih membayangkan punggung Aruna, tas di bahu, tanpa sekali pun menoleh.

Ia pikir kalau ia melepas, ia akan tenang.

Ternyata kepalanya lebih berisik dari sebelumnya.

HP-nya bergetar. Pesan dari Alana:

“Besok fitting baju pengantin. Jangan telat.”

Devara tidak membalas. Melempar ponselnya jauh diujung ranjang.

...---...

-Hari 3. New York.

Wijaya mulai kuat. Bisa jalan pakai tongkat. Aruna masakin sup ayam, resep dari ibunya. Bayu ketawa liat Aruna belepotan tepung.

“Kamu bahagia, kan?” tanya Bayu pelan saat mereka berdua nyuci piring.

Aruna mengangguk. “Iya.”

Tapi saat Bayu menyentuh tangannya, Aruna refleks menarik diri.

Bukan karena Bayu. Tapi karena sentuhan itu mengingatkannya pada sentuhan lain. Sentuhan yang kasar, posesif, tapi entah kenapa… membuatnya merasa hidup.

“Maaf,” bisik Aruna.

Bayu tidak tanya apa-apa. Ia cuma mengangguk. Lalu melanjutkan aktivitasnya dengan saling diam.

...---...

-Hari 5. New York.

Undangan pernikahan Devara dan Alana sudah tersebar ke media. Foto prewedding mereka terpampang di tabloid online. Alana tersenyum sempurna. Devara menatap kosong ke kamera.

Aruna lihat berita itu tanpa sengaja. Bayu lagi scroll HP, dan judulnya muncul di layar.

“Devara Mahendra dan Alana Wijaya akan menikah minggu depan.”

Tangan Aruna berhenti mengaduk kopi. Kopi tumpah ke meja.

“Run?”

Aruna cepat-cepat lap tumpahan itu. “Nggak apa-apa.”

Tapi jantungnya berdetak terlalu cepat.

Dia yang pergi. Dia yang minta bebas.

Lalu kenapa dadanya sakit lihat Devara akan menikah?

...---...

Malam itu.

Aruna bangun jam 2 pagi. Napasnya sesak. Ia buka HP. Scroll galeri. Ada satu foto lama: foto diam-diam yang di ambil waktu Devara tidur di sofa ruang kerja. Wajahnya lelah. Tidak sangar. Tidak dingin. Hanya capek. Foto yang ada di ponsel ini waktu pertama kali Ia dapat ponsel baru dari Marisa, waktu wanita itu mengusirnya secara halus dari penthouse. Entah sengaja atau tidak, satu poto itu mencuri perhatian Aruna.

Aruna menatap foto itu lama.

“Ini salah,” bisiknya pada diri sendiri. “Aku nggak boleh kangen dia.”

Tapi rindu tidak pernah dengar logika.

Di Skyline, Devara juga tidak tidur. Ia berdiri di balkon penthouse. Angin malam menerpa wajahnya. Di tangannya, segelas whiskey yang tidak ia sentuh.

Ia menatap ke arah bandara. Arah Aruna pergi.

“Kamu bahagia di sana Run?” tanyanya pelan, padahal tidak ada yang dengar.

Tidak ada jawaban. Hanya angin.

Dan untuk pertama kalinya dalam dua tahun, Devara Mahendra merasa… kalah.

Bukan kalah sama Wijaya. Bukan kalah sama Mahesa. Tapi kalah sama perasaannya sendiri, yang baru muncul setelah orangnya pergi.

-Hari ke-7. Bandara JFK.

Aruna menggenggam tangan Wijaya erat saat mereka berjalan menuju gate. Seminggu di New York rasanya cepat dan lambat bersamaan. Cepat karena rindu akhirnya terobati. Lambat karena setiap malam ia tidur sambil memikirkan Skyline.

Wijaya sudah bisa jalan tanpa kursi roda. Wajahnya lebih cerah. “Pulang ke Skyline, ya, Nak?” tanyanya dengan senyum.

Aruna mengangguk. “Iya, Pa.”

Bayu di sebelahnya sibuk urus koper. Tapi matanya sesekali melirik Aruna. Ia tahu seminggu ini Aruna terlalu sering melamun.

Pesawat lepas landas. Aruna menatap awan dari jendela. Dalam hatinya ada lega, ada takut. Lega karena bisa pulang. Takut karena Skyline berarti kembali ke kota yang sama dengan Devara.

Sore itu, Skyline. Mobil berhenti di depan sebuah rumah baru. Cat putih, halaman kecil, pagar kayu. Bukan rumah Wijaya yang lama. Ini rumah baru.

Wijaya terkejut. “Ini rumah siapa?”

Pintu rumah terbuka. Dan di sana, Marisa berdiri dengan senyum lebar. Mengenakan dress sederhana, tanpa perhiasan berlebihan.

“Selamat datang kembali, Wijaya,” katanya pelan.

Aruna menahan napas.

Marisa melangkah maju, memeluk Wijaya hati-hati. “Ini rumah buat kalian. Hadiah kecil dari aku. Sebagai terima kasih karena kamu masih mau hidup, Wi. Karena kamu kasih aku kesempatan buat nebus kebaikan kamu dulu.”

Wijaya terdiam. Matanya berkaca. “Marisa…”

Aruna berdiri di belakang, menatap pemandangan itu. Ada haru. Ada lega. Tapi ada juga sesak yang tidak ia mengerti.

Rumah ini berarti mereka benar-benar pulang. Benar-benar menetap. Benar-benar kembali ke kehidupan lama.

Kehidupan sebelum ada Devara, sebelum Aruna mengenal pria itu, Ia sudah bisa tersenyum bahagia bersama ayahnya, tanpa memikirkan hutang, makan apa besok, jenguk papa di rumah sakit, namun lagi-lagi ada kehampaan yang dirasa kurang di benak Aruna saat melihat tawa Wijaya bersama Marisa.

Marisa mendatanginya di sofa saat Wijaya sudah masuk kedalam kamarnya, Ia duduk disamping Aruna yang terlihat diam mematung, menyentuh bahu Aruna perlahan yang membuat gadis itu terperanjat.

"Eh tante.." katanya lirih, matanya sayu, terlihat jelas beban pikirannya.

Marisa tersenyum. "Bukannya kamu bahagia sudah bisa bebas..." Ujarnya seraya mengalihkan pandangan. "Kalian sama-sama saling merasa kehilangan" Tambahnya sambil tertawa hambar.

Aruna hanya melirik lewat ujung matanya, "Aku tidak menyesal, tidak pernah menyesal pergi dari sana" Ucapan Aruna berbeda dengan apa yang Ia rasakan, perasaan yang membuatnya bingung, tapi harus ditahan agar tak melewati batas wajar.

..........

-Jam yang sama. Restoran di pusat kota Skyline.*

Devara duduk kaku di kursi panjang. Di sekelilingnya keluarga Alana. Tertawa. Membahas dekorasi pernikahan. Menu hidangan. Daftar tamu.

HP-nya bergetar di saku. Pesan dari Andre:

"Pak, Bu Aruna dan Pak Wijaya sudah mendarat. Mereka sekarang di rumah baru di daerah Skyline Utara.”

Devara membaca pesan itu sekali. Lalu mengunci layar.

Alana menyentuh tangannya. “Sayang, kamu dengerin aku nggak? Aku bilang bunga mejanya mau pakai lily putih.”

Devara mengangguk. “Terserah kamu.”

Suaranya datar.

Dalam kepalanya, ia membayangkan Aruna berdiri di depan rumah baru itu. Bersama Wijaya. Bersama Marisa. Bersama Bayu.

Ia tahu ia harusnya tenang. Ini yang ia mau. Aruna bebas. Aruna pulang.

Tapi dadanya seperti diikat. Ia ingin berdiri. Ingin keluar dari ruangan ini. Ingin nyetir ke Skyline Utara, lihat dengan matanya sendiri.

Tapi ia tidak bisa.

Karena malam ini ia punya peran. Calon suami Alana. Calon menantu keluarga Alana yang baru. Pria yang harus tersenyum di depan semua orang.

Devara meneguk wine. Rasanya pahit.

Di luar sana, Aruna sudah pulang.

Dan ia hanya bisa duduk diam, berpura-pura bahagia.

1
andra screet love
lanjut trus 🙏🙏🙏💪💪
senjani jingga: siap😁
total 1 replies
pєkαᴰᴼᴺᴳ
semagat kk💪
senjani jingga: iya makasih, kamu juga semangat💪
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!