NovelToon NovelToon
Pijar Hati

Pijar Hati

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama
Popularitas:240
Nilai: 5
Nama Author: Isshabell

Dimas Anggara laki-laki yang berusia sekitar 33 tahun, nama dan wajahnya akan selalu membuat hati seorang Ratih terhenyak betapa tidak karena sudah lebih dari sepuluh tahun ini orang yang selalu mengisi hari-hari nya itu tiba-tiba pergi begitu saja meninggalkan dirinya tanpa ada salam dan kata perpisahan untuknya.

Dan kini di tengah Ratih sudah mulai bangun dari kerapuhan hatinya tiba-tiba saja dia bertemu kembali dengan Dimas Anggara.

yuk baca kisahnya di sini

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isshabell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab.26 penemuan surat lama

Setelah hari yang melelahkan karena dipaksa resign oleh Regan, Ratih memilih pulang ke rumah ibunya.

Di dalam taxi yang membawanya pergi ke rumah ibunya, terlihat Ratih yang sedang duduk di kursi belakang sopir itu sedang melamun sambil menatap ke luar jendela.

Sepanjang perjalanan pulang ke rumah orang tuanya, Ratih terus saja memikirkan Dimas. Ratih takut Regan akan berbuat hal-hal yang tidak di inginkan pada Dimas, karena Regan menganggap Dimas adalah ancaman bahaya baginya.

Setelah hampir setengah jam di dalam taxi, akhirnya Ratih pun sampai di depan rumah orang tuanya. Rumah sederhana yang terletak di pinggiran jalan kota.

Ratih keluar dari taxi, setelah dia membayar ongkosnya ," Terima kasih pak," ucap Ratih yang kemudian berjalan menuju pintu pagar rumah tua itu.

Rumah Ayah dan Ibunya yang sudah lama tidak pernah dia kunjungi. Di halaman itu masih terdapat banyak bunga-bunga yang beraneka macam dan juga tanaman-tanaman yang lainnya.

Ibunya memang senang merawat tanaman, dia orang yang sangat telaten kalau merawat bunga. Biasanya kalau pagi Ibunya selalu menyirami tanaman-tanaman itu.

Tapi pagi ini Ratih tidak melihat kelebat bayangan Ibunya di teras rumahnya itu. Perlahan Ratih membuka knop pintu depan rumahnya dan melangkah masuk ke dalam berjalan menyusuri ruang tamu yang tampak sepi.

Ratih melangkah lagi menuju ke ruang tengah, Di ruang tengah itupun tampak sepi. Dia tidak melihat Ayah ataupun Ibunya di sana, Ratih mulai celingukan dan akhirnya dia melangkah lagi menuju ke kamar utama kamar Ayah dan Ibunya.

Dari jauh Ratih melihat pintu kamar utama itu pintunya terbuka, Ratih bergegas menuju ke kamar tersebut.

Di ambang pintu Ratih melihat Ibunya sedang duduk di sisi pembaringan dan dia melihat Ayahnya yang sedang berbaring di sana.

Ratih berjalan mendekat ke arah kedua orang tuanya yang tidak mendengar dan melihat kedatangan dirinya ke kamar itu.

"Ibu," sapa Ratih pada Bu Dewi, Ibunya.

Bu Dewi menoleh, Dia terkejut melihat Ratih yang sudah berdiri di belakangnya itu.

"Rat. kapan kamu datang? Kok gak bilang-bilang kalau mau pulang ke rumah?" Bu Dewi langsung bangkit dari duduknya dan memeluk putri semata wayangnya itu penuh kerinduan yang terpendam.

"Aku baru saja nyampek rumah Bu," Ratih memeluk dan mencium pipi perempuan yang mulai menua itu.

"Kamu gak kerja hari ini?" tanya Bu Dewi menatap Ratih.

"Aku lagi ambil cuti Bu," Ratih tersenyum dan sengaja tidak berkata jujur pada ibunya. Dia takut ibunya kaget dan syok kalau tahu dia resign gara-gara Regan.

"Ooh...," Bu Dewi mengangguk-anggukkan kepalanya pelan.

"Ayah kenapa Bu?" tanya Ratih yang melihat ayahnya masih memejamkan mata itu.

"Tadi malam ayahmu tiba-tiba saja sakit kepala setelah menerima telepon dari Regan," ucap Bu Dewi membuat Ratih menggeram kesal dengan sikap Regan.

"Regan. Apa yang sudah kamu katakan pada Ayah sampai dia begini. Keterlaluan kamu!" umpat Ratih menahan amarahnya.

"Regan ngomong apa ke Ayah Bu?" tanya Ratih berusaha menyembunyikan kekesalannya.

"Ayah tidak cerita, Dia cuma mengkhawatirkan kamu Rat," Bu Dewi menatap Ratih.

"Aku tidak apa-apa Bu. Ibu dan ayah tidak usah mengkhawatirkan aku. Aku baik-baik saja, Ratih tersenyum menyembunyikan kecamuk di dadanya.

"Regan. Dia tidak pernah bersikap kasar ke kamu?" tanya Bu Dewi menyelidik.

"Ibu tenang saja, Aku bisa mengatasinya," lagi-lagi Ratih tersenyum untuk menenangkan hati wanita yang sangat dia cintai itu.

Bu Dewi pun tersenyum lega mendengar penuturan Ratih.

...----------------...

Sore ini suasana rumah terasa sepi dan melankolis. Untuk mengalihkan pikirannya yang kalut memikirkan keselamatan Dimas, Ratih membantu ibunya berbenah di salah satu gudang penyimpanan barang-barang bekas.

"Bu aku bantuin ya," ucap Ratih sambil memunguti barang-barang yang berserakan di lantai.

Tiba-tiba saja di selipan buku tua penyimpanan milik ibunya, jemari Ratih menyentuh sebuah amplop usang yang warnanya sudah mulai menguning. Ratih menarik amplop itu dan menatapnya dengan cermat.

Jantung Ratih seolah berhenti berdetak saat melihat tulisan tangan di depan amplop itu. Dia sangat mengenali guratan pena tersebut: Itu tulisan tangan Dimas.

Surat itu ditujukan untuk Ratih, tertanggal tepat di hari-hari kritis saat keluarga Ratih bangkrut beberapa tahun lalu (hari di mana Dimas tiba-tiba menghilang). Segel amplopnya masih utuh, tanda belum pernah dibuka oleh Ratih.

Dengan tangan gemetar dan air mata yang mulai menggenang, Ratih merobek amplop itu dan membaca isinya.

Di dalam surat itu, Dimas menulis dengan sangat emosional. Dimas menjelaskan bahwa dia dipaksa pergi dan diancam oleh Regan. Regan mengancam akan menghancurkan sisa bisnis ayah Ratih dan mencelakai keluarga Dimas jika Dimas tidak pergi menjauh dari Ratih hari itu juga.

Isi surat Dimas ,"Rat, aku terpaksa mundur hari ini demi keselamatanmu dan keluargaku. Tapi tolong jangan pernah berpikir aku tidak mencintaimu. Aku pergi untuk mengumpulkan kekuatan. Aku berjanji akan kembali setelah aku bisa berdiri di atas kakiku sendiri untuk merebutmu lagi dari Regan. Tunggu aku, Rat."

Tepat saat Ratih sedang menangis histeris memeluk surat itu, ibunya masuk ke dalam kamar. Melihat surat di tangan Ratih, sang ibu langsung luruh dan ikut menangis bersimbah penyesalan.

Ibu Ratih meminta maaf sambil menangis. Dulu, sang ibu terpaksa menahan surat itu karena diancam oleh Regan. Regan berjanji hanya akan memberikan suntikan dana bantuan modal jika Ratih bersih dari bayang-bayang Dimas dan bersedia bertunangan dengannya. Demi kesembuhan suaminya (ayah Ratih) yang sekarat dan demi uang Regan, sang ibu terpaksa menyembunyikan kebenaran itu dari Ratih.

"Maafkan ibu Rat. Ibu memang salah, Dulu ibu yang menahan surat itu agar tidak sampai ke kamu dan ibu yang menyembunyikan sendiri surat itu dulu," Bu Dewi masih menangis karena telah membohongi Ratih.

Ratih merasa dunianya hancur seketika saat mendengar penjelasan dari ibunya tentang surat dari Dimas itu.

Selama bertahun-tahun dia hidup dalam kebencian, mengira Dimas mencampakkannya saat dia miskin. Ternyata, Dimas justru berkorban begitu besar demi melindunginya.

Rasa bersalah Ratih kepada Dimas berubah menjadi kekuatan dan amarah yang luar biasa besar kepada Regan.

Ratih menghapus air matanya dengan tegas. Dia meremas surat itu, menatap keluar jendela dengan tatapan penuh dendam.

"Cukup bertahun-tahun aku dijebak oleh iblis itu. Kali ini, aku sendiri yang akan memastikan Regan hancur." Ratih langsung mengambil ponselnya untuk menghubungi Dimas.

Ratih menelpon Dimas ke nomor rahasia Dimas, dengan hati bergetar dia menunggu Dimas mengangkat telepon darinya itu.

"Iya Rat. Ada apa kamu telepon aku?" tanya Dimas lembut mengetahui kalau yang menelpon dirinya adalah Ratih.

"Dim. Aku...aku... Minta maaf kalau selama ini aku sudah salah sangka sama kamu," suara Ratih terdengar berat karena menahan tangis.

"Maksudmu A-apa Rat, Aku gak ngerti?" Dimas kebingungan mendengar perkataan maaf dari Ratih yang tiba-tiba.

"Sepuluh tahun yang lalu tepat di hari kepergian kamu, Ternyata kamu mengirim sepucuk surat buat aku tapi ternyata surat itu tidak pernah aku terima karena Ibu menahan surat itu dan menyembunyikannya. Ibu bilang Regan mengancam ayah dan Ibu kalau sampai aku masih berhubungan sama kamu dan itulah yang membuat Ibu terpaksa menyembunyikan surat itu dari aku. Maafkan aku Dim, Dulu aku berpikir kamu pergi karena sudah tidak mencintaiku lagi tapi setelah aku membaca isi surat itu aku baru sadar semuanya dan pengorbananmu yang cukup besar buat aku dan keluargaku." Tangis Ratih pecah.

Dimas menarik napas dalam-dalam, sebenarnya sepuluh tahun yang lalu dia sudah mengira kalau surat darinya itu memang tidak pernah sampai pada Ratih tapi dia berusaha untuk tetap tenang demi keselamatan Ratih dan keluarganya.

"Rat. Kamu tidak usah minta maaf, aku tahu siapa kamu dan aku tahu kamu tidak akan dengan mudah melabuhkan hatimu pada pria lain tanpa alasan yang kuat, Aku maklum akn hal itu. Sekarang karena kamu sudah tahu semuanya mari kita bersama-sama melawan kekejaman yang sudah Regan lakukan pada keluarga kita," ucap Dimas dengan bijak membuat Ratih lega dan tidak terbebani perasaan bersalah lagi pada Dimas.

"Iya Dim, Aku ikut kamu," ucap Ratih patuh.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!