Berawal dari niatan membantu sang kekasih mencari uang tambahan melamar, Alina justru harus kehilangan kehormatannya.
Ya, gadis itu terlalu mencintai kekasihnya. Sampai-sampai ia rela ikut menanggung beban yang harusnya bukan menjadi tanggung jawabnya. Sebuah pengorbanan untuk pria yang salah, yang atas kuasa Tuhan justru membawanya menemukan cinta yang benar.
Apa yang terjadi padanya?
Baca selengkapnya hingga selesai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aldiantt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26. Makanan Gratis
Hari berganti hari, minggu demi minggu juga berlalu. Gadis desa itu tak pernah kembali ke kampung halamannya. Ia tak pernah memberi kabar pada keluarganya, ataupun orang-orang di kampungnya. Adit memblokir nomornya. Begitu juga sang ayah. Dulu, dua atau tiga minggu lalu, sang ibu masih sempat bertanya tentang keadaannya. Ia juga sempat mengatakan bahwa ia sudah bertemu pria yang merampas mahkotanya. Namun, kini sang ibu sudah tak pernah menelepon ataupun mengirimkan pesan untuknya lagi. Mungkin, sang ayah tahu komunikasi ibu dan anak itu, dan mungkin juga ia melarang istrinya berhubungan dengan Alina lagi. Yah, mungkin semarah itu Pak Herman pada Alina.
Siang ini, di apartemen luas namun sepi. Alina diam. Menatap langit ruang televisi yang kian hari kian membosankan. Terhitung satu bulan lebih ia tinggal di tempat ini. Keluar apartemen hanya sekali. Itu pun berujung salah paham lantaran ia tak sengaja bertemu tukang ojek yang juga kurir pizza itu. Sejak saat itu, ia tak pernah keluar apartemen lagi. Satu bulan tinggal di apartemen, Vincent juga baru dua kali datang menengoknya. Laki-laki itu terlalu sibuk, atau mungkin malas menemui Alina.
Lagian memangnya siapa Alina? Hanya mantan babuu yang tak sengaja ditiduri. Yang tentu saja sangat tidak penting di mata seorang Vincent Louis Oliver.
Alina membuang nafas kasar. Ia bangkit dari posisinya lalu menggerakkan kakinya berjalan jalan di ruangan itu. Satu-satunya olah raga yang bisa ia lakukan selama sebulan ini.
Tak lama, ia menyudahi aktifitasnya. Bosan lagi! Wanita itu kemudian memainkan ponselnya.
"Apa pesen makanan aja, ya?" gumamnya. Semenjak hamil, na f su makan Alina memang meningkat drastis. Tiap menit bawaannya pengen makan. Alhasil, berat badannya pun kian hari kian bertambah.
Alina mulai mencari-cari makanan yang enak melalui ponselnya. Toh uang pemberian dari ibunya masih ada. Alina memang sangat jarang mengeluarkan uang selama tinggal bersama Vincent. Lantaran semua keperluannya sudah disediakan oleh laki-laki itu.
Alina menggerakkan jari-jarinya. Mengusap layar mencari cari cemilan yang menurutnya enak untuk dimakan siang ini.
Ting... tong....
Bel apartemen berbunyi. Alina diam. Siapa yang memencet bel? Harusnya bukan Vincent. Laki-laki itu tak bilang jika akan mampir ke apartemen. Lagi pun, ini masih siang. Laki-laki itu pasti masih di kantor.
Alina meletakan ponselnya. Ia berjalan menuju pintu lalu membukanya.
"Hai!"
Alina terdiam. Seorang laki-laki berjaket ojek online dengan sebuah kantong kresek di tangan nampak tersenyum di depan pintu.
Itu ojol sekaligus kurir pizza itu. Yuda! Ya, Yuda namanya. Ia masih ingat. Tapi sedang apa dia di sini. Ia bahkan belum sempat pesan makanan online. Kok orang ini sudah ada di depannya sambil bawa kresek?
"Yuda?" ucap Alina.
Yuda terkekeh. "Kirain lupa lagi," jawabnya.
Alina tersenyum ramah. "Enggak, kok."
"Kamu ngapain di sini?" tanya wanita hamil itu lagi.
"Abis nganterin orderan di unit sebelah. Aku ingat kalau ini juga apartemen tempat kamu tinggal. Makanya aku mampir. Mau ngasih ini," jawab Yuda seraya mengangkat rendah kantong kresek di tangannya. "Nih, ambil!"
Alina terdiam. Dia belum order loh. Kok udah diantar.
"Ini apa?"
"Buat kamu. Gratis! Ambil aja!"
"Hah?" ucapnya. "Kok pakai ngasih segala?" tanyanya kemudian. Atas dasar apa pria ini tiba-tiba memberikan makanan untuknya.
"Lagi ada rejeki. Nggak apa-apa, kan, ngasih teman?"
Alina tersenyum haru. "Kamu baik banget," ucapnya. "Makasih banyak, ya"
"Astaga! Ini cuma minuman sama snack aja, Al," ucap laki-laki itu.
Alina mengangguk haru. Jauh daripada itu, ia bukan melihat apa yang Yuda bawa. Tapi inisiatif kecil yang datang tanpa diminta adalah sebuah hal sederhana yang bisa membuat wanita merasa dihargai. Bukan tentang apa yang dibawa, tapi ini tentang inisiatif nya. Niat hati untuk memberikan sesuatu tanpa menunggu pemintaan. Alina yang hidupnya kesepian benar-benar tersentuh karenanya. Sudah lama ia tak mendapatkan perhatian seperti ini.
"Al, kamu nggak apa-apa?" tanya Yuda pada Alina yang justru terlihat sedih. Mungkin ini juga salah satu efek kehamilannya. Wanita ini jadi gampang tersentuh sekarang.
Alina tersenyum lagi. Terlihat sangat manis di mata Yuda.
"Nggak, kok. Aku nggak apa-apa. Terharu aja. Makasih, ya," jawabnya.
"Ya ampun, Al. Iya, loh. Cuma snack. Kebetulan ada rejeki. Tadi adik perempuanku yang lagi hamil minta dibeliin jajanan. Ya udah, aku beliin. Sekalian aku beli buat kamu soalnya aku ada orderan di sekitar sini. Sekalian mampir," ucap Yuda.
Alina diam sejenak. Ternyata adiknya Yuda sedang hamil juga.
"Oh, adik kamu hamil?" tanya Alina.
Yuda diam sejenak. Menampilkan sebuah senyuman yang terlihat miris, lalu mengangguk.
"Wah, calon Om. Selamat, ya. Titip salam buat adik kamu," ucap Alina.
"Hm...ya...nanti aku salamin," ucapnya terdengar tak bersemangat. Namun Alina tak menyadarinya
Suasana hening sejenak.
"Kamu sendirian?" tanya Yuda kemudian.
Alina mengangguk.
"Majikan kamu kemana?"
"Ke kantor," jawabnya. "Maaf, ya. Sebenarnya aku pengen nawarin kamu mampir. Tapi lagi nggak ada orang. Nggak enak."
Yuda terkekeh. "Santai aja, Al. Nggak usah repot-repot. Lagian aku juga buru-buru. Mau lanjut cari duit," lanjutnya.
"Oh, ya. Aku boleh minta nomor hp kamu?" tanya laki-laki itu lagi.
"Buat apa?" tanya Alina.
"Ya...buat disimpan," ucapnya santai. Alina mengernyitkan keningnya.
"Buat tambah-tambah teman. Kan banyak teman banyak silaturahmi banyak rejeki juga. Siapa tahu kamu butuh sesuatu mendadak nggak ada yang dimintai tolong. Kamu bisa ngabarin aku. Aku mitra ojol aktif dua puluh empat jam. Kecuali pas ketiduran. Hehehe..." ucap Yuda sedikit melawak.
Alina terkekeh. Laki-laki ini menyenangkan sekali. Humoris, ramah, dan cepat akrab. Membuat orang-orang yang berbicara dengannya pasti merasa nyaman.
"Ya, udah, boleh," jawab wanita itu kemudian. Yuda mengulum senyum sumringah. Diam-diam ia menarik tangannya yang mengepal. Seolah tengah melakukan selebrasi atas sesuatu yang berhasil ia menangkan.
Alina pun menyebutkan nomornya. Yuda menuliskannya di daftar kontak. Ia kemudian mencoba menelpon nya untuk memastikan bahwa itu benar nomor Alina.
Laki-laki itu tersenyum lebar. "Makasih, ya!"
Alina mengangguk. "Aku yang makasih, udah dikasih makanan," jawabnya.
"Santai aja! Aku emang orangnya se-dermawan itu, Al," jawabnya begitu enteng sambil memasukkan ponsel ke dalam saku jaketnya.
"Ya, udah. Kalau gitu aku lanjut, ya. Jangan lupa dimakan"
Alina mengangguk. "Pasti!"
Keduanya pun berpisah. Yuda pergi meninggalkan tempat itu dengan nomor ponsel Alina yang berhasil ia dapatkan. Sedangkan Alina kini masuk kembali ke dalam apartemennya dengan sebuah kantong kresek berisi makanan dan minuman pemberian Yuda.
Tanpa ia sadari, sepasang mata memantau pergerakannya melalui kamera pengawas yang terpasang di setiap sudut apartemen.
Vincent mengangkat satu sudut bibirnya di atas kursi kantornya.
"Jajan terus. Nggak sadar apa kalau badannya makin melar," ucapnya tanpa melepaskan pandangan dari layar laptop itu.
Wah, tanpa mama Theressa sadari, Vincent udah memberi dia cucu loh.. Di perutnya Alina.. 😜