Selama tujuh tahun, Reani mencintai Juna dalam diam...meski mereka sebenarnya sudah menikah.
Hubungan mereka disembunyikan rapi, seolah keberadaannya harus menjadi rahasia memalukan di mata dunia Juna.
Namun malam itu, di pesta ulang tahun Juna yang megah, Reani menyaksikan sesuatu yang mematahkan seluruh harapannya. Di panggung utama, di bawah cahaya gemerlap dan sorak tamu undangan, Juna berdiri dengan senyum yang paling tulus....untuk wanita lain.
Renata...
Cinta pertamanya juna
Dan di hadapan semua orang, Juna memperlakukan Renata seolah dialah satu-satunya yang layak berdiri di sampingnya.
Reani hanya bisa berdiri di antara keramaian, menyembunyikan air mata di balik senyum yang hancur.
Saat lampu pesta berkelip, ia membuat keputusan paling berani dalam hidupnya.
memutuskan tidak mencintai Juna lagi dan pergi.
Tapi siapa sangka, kepergiannya justru menjadi awal dari penyesalan panjang Juna... Bagaimana kelanjutan kisahnya?
Jangan Lupa follow penulis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aerishh Taher, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34 : Obrolan Rea dan Gerald
Angin laut berembus lebih kuat ketika matahari makin condong ke garis horizon. Cahaya jingga memudar perlahan, digantikan warna tembaga yang lembut.
Reani masih menunduk, jemarinya saling bertaut tanpa sadar.
Gerald memperhatikannya sejenak, lalu berdehem pelan.
“Kalau aku terlalu cepat barusan… bilang saja.”
Reani menggeleng kecil. “Tidak.”
Ia mengangkat wajah, menatap laut lagi. “Aku hanya… jarang diberi ruang untuk menentukan pilihanku sendiri.”
Gerald terdiam. Ombak memecah di pasir, ritmenya stabil.
“Kamu selalu terlihat seperti orang yang tahu apa yang akan kamu lakukan,” kata Gerald akhirnya. “Aku lupa kalau di balik itu, kamu juga lelah.”
Reani tersenyum tipis. “Lelah itu sudah jadi kebiasaan.”
Gerald menoleh. “Dan aku tidak ingin jadi beban baru untuk kehidupanmu.”
“Kamu bukan beban,” jawab Reani pelan. “Kamu justru… membawa ketenangan untukku.”
Gerald tertawa kecil. “Itu pujian yang jarang kudapat.”
Mereka berjalan menyusuri garis air, sepatu dilepas, pasir dingin menyentuh telapak kaki. Jarak di antara mereka tidak terlalu dekat, tapi juga tidak jauh.
“Rea,” Gerald memecah hening, “tentang Juna… kamu yakin dengan semua langkah yang kamu ambil?”
Reani berhenti melangkah. Ombak membasahi ujung kakinya.
“Aku yakin.” katanya tenang. “Aku sedang dia mendapatkan ganjaran dari semua perbuatannya.”
Gerald mengangguk perlahan. “Aku mengerti.”
Ia menatap Reani lebih lama. “Dan aku tidak akan menghalangimu.”
Reani menoleh. Tatapan mereka bertemu—sunyi, jujur.
“Itu yang membuatku mempertimbangkanmu,” kata Reani jujur. “Kamu tidak mencoba menyelamatkanku, tapi berjalan di sampingku.”
Gerald tersenyum, kali ini lebih tulus dari sebelumnya.
“Kalau begitu… setahun bukan waktu yang lama.”
Reani melangkah lagi. “Bagi sebagian orang, iya. Tapi bagiku, setahun cukup untuk tahu apakah seseorang bertahan atau hanya sekedar tertarik.”
Gerald mengangguk mantap. “Aku akan bertahan.”
Mereka kembali berjalan. Langit mulai menggelap, bintang pertama muncul malu-malu.
“Rea,” Gerald berkata pelan, “kalau suatu hari nanti kamu ingin mundur—”
“Aku akan mengatakannya,” potong Reani lembut. “Aku tidak suka memberi harapan palsu.”
Gerald tersenyum lega. “Itu adil untukku.”
Reani berhenti sekali lagi, lalu menoleh padanya.
“Dan kalau kamu yang berubah pikiran…”
“Aku juga akan jujur,” jawab Gerald tanpa ragu.
Reani mengangguk kecil.
“Baik.”
Hening beberapa saat sampai Gerald memecah keheningan.
“Rea,” katanya pelan, tanpa menoleh. “Sebenarnya… waktu pertama kali aku tahu kita dijodohkan, tujuh tahun lalu.”
Tangannya sedikit mengepal.
“Aku bahagia.”
Reani menoleh. Gerald masih menatap kedepan,.tapi ada sesuatu di rahangnya yang mengeras—bekas perasaan lama yang tidak pernah benar-benar hilang.
“Tapi ketika aku dengar kamu menolak,” lanjutnya, “dan pertunangan itu dibatalkan… aku terluka.” Ia tersenyum tipis. “Meski begitu, aku tetap harus menghargai keputusanmu.”
Reani menurunkan pandangan jarinya saling bertaut, lalu terlepas lagi.
“Maaf, Gerald,” ucapnya pelan. “Aku—”
Gerald memotong dengan lembut, “Aku sudah mencintaimu sejak dulu, Rea. Bahkan sebelum aku tahu kita akan dijodohkan.”
Kepala Reani terangkat. Matanya membesar sedikit. “Sejak… dulu?”
Gerald akhirnya menoleh sekilas, senyum kecil muncul di sudut bibirnya. “Kamu sudah lupa, ya? Kita pernah bertemu beberapa kali. Waktu kamu masih kecil.”
Reani mencoba mengais ingatan. Wajah-wajah samar, suara tawa, potongan masa lalu yang tidak pernah benar-benar utuh.
“Ingatan itu… samar-samar,” katanya jujur.
“Tidak apa,” jawab Gerald. Nada suaranya ringan, seolah sudah berdamai dengan itu. “Yang penting sekarang aku bahagia.” Ia berhenti sejenak. “Karena akhirnya kamu mau menerimaku.”
Reani menarik napas panjang. Dadanya terasa penuh, tapi bukan sesak. Lebih seperti bingung yang hangat.
“Aku…” suaranya mengecil. “Aku tidak tahu harus merespons bagaimana. Aku memang sulit mengekspresikan perasaanku sendiri.”
Gerald tersenyum, kali ini lebih tulus. “Aku mengerti, Rea. Aku tidak keberatan.”
Ia menghela napas kecil. “Aku akan memberitahukan keluargaku tentang kita, mama papa ku pasti seneng dengar kabar ini.”
Reani mengangguk pelan. “Hm… ya.”
“Dan ada satu hal penting,” tambah Gerald. Nada suaranya berubah sedikit—lebih serius, tapi tetap lembut. “Kamu harus bertemu psikolog. Aku akan membuatkan janji temu dan menemanimu.”
Reani terdiam beberapa detik. Matanya menatap lurus ke depan.
“Belum bisa,” katanya akhirnya. “Aku harus menghadiri sidang tuntutanku pada Juna. Tentang pemalsuan dokumen pernikahan.” Ia menghela napas. “Mungkin setelah semua ini selesai… aku akan mulai berkonsultasi.”
Gerald mengangguk, tanpa mendesak. “Baiklah, aku akan mendukung segala keputusan mu.”
Hening kembali turun di antara mereka. Langit kini benar-benar gelap, hanya sisa cahaya senja yang bertahan di ujung laut.
Reani menatap pasir di bawah kakinya, lalu berkata pelan,
“Gerald…”
“Ya?” jawabnya tanpa menoleh.
“Kamu… apa kamu pernah mencintai orang lain selain aku?”
Langkah Gerald melambat, lalu berhenti. Ia menoleh sepenuhnya kali ini.
“Tidak,” jawabnya tanpa ragu. “Hanya kamu.”
Reani mengerjap. “Sungguh?”
Gerald mengangguk kecil. “Ya. Aku tidak pernah, dan tidak mungkin mencintai orang lain selain kamu, Rea.”
Reani terdiam. Angin laut mengibaskan rambutnya, menyingkap wajah yang jarang menunjukkan kebimbangan.
“Hm…”
Gerald menatapnya, sabar. “Tidak percaya?”
Reani menggeleng pelan. “Bukan tidak percaya padamu.”
Ia menarik napas, lalu menghembuskannya perlahan.
“Hanya saja… aku pernah terluka. Dan luka itu membuatku hati-hati. Tapi aku yakin kamu tidak akan seperti—”
“Rea…”
“Ya?” Reani mengangkat wajah.
“Apa pun yang pernah melukaimu,” kata Gerald tenang, “aku tidak akan mengulanginya dan aku tidak akan menuntutmu untuk sembuh cepat.”
Reani menelan ludah. “Itu yang aku butuhkan.”
Gerald tersenyum tipis.
“Apa boleh aku hadir di persidanganmu nanti?” tanyanya pelan.
Reani terdiam sejenak, lalu mengangguk.
“Tentu.”
Gerald menghela napas lega. “Aku ingin ada di sana, untuk mendukungmu—”
“Terima Kasih Gerald.”
“Ya,” jawab Gerald. “Aku akan selalu berada disampingmu.”
Reani menatap laut sekali lagi.
Ia melangkah lebih dekat, bahu mereka hampir bersentuhan.
“Kalau suatu hari nanti,” kata Reani lirih, “aku akhirnya siap menikah…”
Gerald menoleh.
“Aku ingin itu karena aku benar-benar memilih mu,” lanjutnya. “Bukan karena keadaan.”
Gerald tersenyum, hangat.
“Dan aku akan menunggumu sampai kamu yakin.”
Reani mengangguk kecil, sambil menatap senyum hangat yang Gerald sugguhkan untuknya. "Sudah waktunya untuk pulang."
Gerald mengangguk menelusupkan jemarinya di jari Rea dan berjalan beriringan menuju ke mobilnya yang terparkir tak jauh dari mereka.
"Hati sangat bahagia saat ini, andai saja waktu dapat berhenti di momen ini. Mungkin aku akan jadi pria paling bahagia di bumi ini." bisik Gerald di samping telinga Reani membuat Wanita cantik itu menahan senyum bahagianya.
bersambung.....