Namanya Sekar Senjani Paramitha-gadis berparas lembut yang tengah menapaki tahun terakhir kuliahnya di sebuah universitas ternama di ibu kota. Namun, menjelang akhir perjalanannya, hidup justru berbalik arah. Sang ayah terjerat mabuk dan judi, meninggalkan luka yang tak kasatmata, sementara sang ibu yang rapuh harus berbaring di rumah sakit akibat hipertensi yang kian memburuk.
Di tengah hari-hari yang penuh sesak dan nyaris tanpa cahaya, hadir seorang lelaki dengan tatapan teduh sekaligus menyimpan misteri-Althaf Arsakha Dirgantara. Ia menawarkan sebuah kesepakatan pernikahan: pernikahan tanpa cinta, hanya ikatan di atas kertas, namun dengan konsekuensi yang tidak bisa Senja bayangkan.
Kegundahan pun menyeruak di hati Senja. Sebab lelaki itu bukan hanya orang asing... melainkan dosennya sendiri.
Akankah Senja menerima tawaran pernikahan yang bisa menyelamatkan keluarganya, meski harus mempertaruhkan masa depannya sendiri? Atau menolak, dan menyaksikan hidupnya runtuh perlahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mikaelach09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB TIGA PULUH TIGA
Rak-rak minimarket itu tampak padat, penuh dengan warna-warni kemasan snack yang menggoda. Aroma roti panggang dan kopi instan samar-samar bercampur dengan dinginnya AC yang menusuk kulit. Aku berdiri cukup lama di depan deretan snack, mataku bergeser antara roti isi cokelat dan biskuit gandum.
"Ambil aja dua-duanya, Senja. Nanti kalau lapar di jalan kan enak ada pilihan," suara Revan terdengar ringan di sampingku, penuh nada santai.
Aku melirik keranjang belanja yang ia tenteng. Sudah setengah penuh-keripik berbagai rasa, permen, minuman energi, hingga sekotak susu rasa stroberi yang jelas-jelas terlalu manis untuk ukuran seorang laki-laki seperti Revan. Aku mengangkat alis sambil menahan senyum.
"lo yakin mau makan semua itu? Kayaknya kebanyakan deh."
Revan terkekeh kecil, bahunya terangkat seakan tak peduli. "Nggak apa-apa. Namanya juga study tour, kan? Harus ada bekal biar nggak bete di jalan." Ia menoleh ke arahku, matanya menyipit karena senyumnya yang lebar. "Lagian... siapa tahu lo yang butuh banyak cemilan di jalan. Jadi nggak perlu repot-repot turun lagi."
Ucapannya sederhana, tapi caranya bicara-santai, hangat, tanpa tekanan-membuat hatiku sedikit goyah. Aku berpura-pura fokus pada rak, jari-jariku meraba plastik roti isi cokelat. Namun, di dalam hati aku tak bisa menolak perasaan hangat itu.
"Kalau gitu gue ambil air mineral aja deh. Nggak mau banyak-banyak." Aku meraih botol bening dari rak dingin, embunnya langsung membuat jemariku dingin.
Tanpa menunggu, Revan malah menambahkan sebotol jus jeruk ke keranjangku. "Ini juga. Vitamin C. Biar lo nggak gampang capek."
Aku menatap botol itu lama, lalu menghela napas. Wajahku refleks mengernyit, setengah kesal, setengah bingung. "Lo tuh ya, sok perhatian banget."
Revan hanya tersenyum tipis, lalu mendekat sedikit. Bahunya hampir menyentuhku, membuatku terpaksa mundur setapak. Suara tawanya terdengar rendah, seakan sengaja hanya untuk kupingku. "Emang kenapa? Lo keberatan kalau gue perhatian?"
Aku menoleh, menatapnya dengan tatapan pura-pura tajam, tapi detak jantungku malah makin kacau. "Iya, keberatan. Soalnya bikin orang salah paham."
Revan mengangkat alis, ekspresinya jahil tapi ada sesuatu yang lebih serius tersembunyi di balik sorot matanya. "Salah pahamnya ke arah mana dulu nih?"
Aku mendengus, cepat-cepat mengalihkan pandangan ke rak minuman lain agar tidak terus terjebak di bawah tatapan itu. "Udahlah, jangan sok-sok manis gitu deh."
Namun, Revan malah menyusul langkahku. Suaranya kembali terdengar ringan, tapi nadanya menyiratkan kesungguhan yang tidak bisa kuabaikan.
"Gue nggak sok, Ran. Gue serius."
"Lo nggak perlu salah paham," suara Revan terdengar pelan, tapi mantap. Tatapannya nggak bergeser sedikit pun dariku. "Apa yang ada di pikiran lo itu bener..." ia berhenti sebentar, menelan ludah, lalu melanjutkan, "gue sayang sama lo, Sen."
Aku menatap Revan lama, bibirku terbuka sedikit, tapi tak ada kata yang berhasil keluar. Semua rasanya campur aduk-kaget, bingung, dan... takut kalau benar-benar berharap.
Daripada menjawab, aku buru-buru menoleh ke rak sebelah, pura-pura sibuk memperhatikan deretan biskuit. "Eh... lo suka yang rasa cokelat atau keju, Van? Gue lagi pengin nyetok camilan." Suaraku sengaja kubuat biasa saja, meski jelas gemetar.
Revan hanya terdiam sejenak, seakan menunggu jawaban yang sebenarnya dari aku. Tapi ketika yang kudapatkan hanya pengalihan, ia terkekeh pelan. "Ran, Ran... lo kira gue nggak sadar lagi dihindarin?" suaranya merendah, ada nada geli bercampur kesal.
Aku cepat-cepat meraih sekotak biskuit dan meletakkannya ke keranjang. "Nggak ada yang gue hindarin. Gue cuma nanya biskuit."
Revan mendekat lagi, kali ini jaraknya hampir membuatku mundur, tapi aku tahan. Tatapannya menelusuri wajahku, penuh makna.
"Lo boleh pura-pura nggak denger, tapi hati lo nggak bisa bohong."
Aku terdiam, jari-jariku mencengkeram keranjang erat-erat. Langkahku langsung terhenti. Aku menoleh cepat, menatapnya dengan mata membelalak. Seolah semua suara di supermarket tiba-tiba lenyap, hanya tersisa detak jantungku yang berdentum kencang di telinga.
Aku tercekat. Kata-kata itu sederhana, tapi tatapannya... terlalu serius. Ada sesuatu di sorot matanya yang membuat dadaku berdebar aneh. Aku buru-buru mengalihkan pandangan, pura-pura sibuk membaca kandungan gizi di bungkus cokelat, berharap ia tidak menyadari wajahku yang mulai panas.
Aku terdiam. Dadaku makin sesak. Aku tahu hubungan Revan dan Althaf memang dingin sejak lama, tapi melihat langsung reaksinya begini membuat suasananya semakin menekan.
"Revan, gue masih-"
"Ayo, Senja." Kali ini ia menatapku lurus, suaranya tegas, tak memberi ruang untuk menolak. Tangannya bahkan sempat menyentuh lenganku, lembut tapi penuh maksud, seakan ingin segera menarikku keluar dari sana.
Aku menelan ludah, lalu menurut. Kami melangkah ke arah kasir dengan cepat, meninggalkan rak-rak makanan yang masih penuh. Tapi di setiap langkah, aku bisa merasakan tatapan Althaf yang mengikuti. Tatapan yang menusuk, membuat punggungku seperti terbakar.
Namun di sela-sela kebingungan itu, ada sensasi lain yang tiba-tiba merayap. Seperti ada sesuatu yang berat menekan dari kejauhan. Bukan dari Revan. Dari arah lain.
Tanpa sadar aku menoleh ke sisi rak yang lebih jauh. Dan di sana, samar di antara cahaya lampu minimarket, aku melihat sosok itu. Tegap, rapi, dengan tatapan yang tajam dan dingin. Althaf.
Langkah kaki Althaf terdengar jelas di lantai minimarket yang licin. Suasana seketika berubah. Aku berusaha menunduk, berpura-pura sibuk memasukkan air mineral ke keranjang. Tapi dari ekor mataku, aku tahu Revan menoleh, dan sorot matanya langsung berubah dingin begitu melihat siapa yang baru saja masuk.
"Senja," suara Revan terdengar lebih rendah dari biasanya, nyaris seperti bisikan tapi sarat nada kesal. Tangannya meraih keranjang belanja. "Udah cukup kan? Ayo kita ke kasir sekarang."
Aku sedikit terkejut dengan nada tegasnya. "Loh, tapi aku-"
"Nggak usah lama-lama di sini." Revan memotong cepat, matanya sekilas melirik ke arah Althaf yang sedang berdiri di rak minuman. Wajahnya jelas menunjukkan ketidaksukaan.