NovelToon NovelToon
Incase You Didn'T Know

Incase You Didn'T Know

Status: tamat
Genre:Beda Usia / Pernikahan Kilat / Nikahmuda / Dijodohkan Orang Tua / Nikah Kontrak / Cintapertama / Tamat
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Faza Hira

Demi meraih mimpinya menjadi arsitek, Bunga, 18 tahun, terpaksa menyetujui pernikahan kontrak dengan pria yang ia anggap sebagai kakaknya sendiri. Mereka setuju untuk hidup sebagai "teman serumah" selama empat tahun, namun perjanjian logis mereka mulai goyah saat kebiasaan dan perhatian tulus menumbuhkan cinta yang tak pernah mereka rencanakan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faza Hira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25

Jabatan tangan itu terasa seperti awal dari sesuatu yang jauh lebih rumit, dan jauh lebih nyata. Sore harinya, saat mereka berjalan-jalan di mal bersama orang tua Arga, Bunga merasa lebih ringan. Akting mereka kini terasa berbeda.

Saat Arga dengan santai merangkul bahunya di eskalator, Bunga tidak lagi merasa itu adalah bagian dari naskah. Ia tahu, di balik gestur yang ditujukan untuk orang tuanya itu, ada perasaan tulus yang baru saja diakui. Dan saat ia balas tersenyum pada Arga, senyumnya juga bukan lagi senyum seorang aktris.

Perjalanan ke mal terasa seperti babak baru dalam pertunjukan mereka. Babak di mana para aktornya sudah saling mengetahui perasaan masing-masing, membuat setiap dialog dan gestur menjadi sarat makna.

Ibu Arga, dengan semangat seorang ibu yang sedang mengunjungi anak-anaknya, langsung menarik Bunga ke sebuah toko pakaian.

"Lihat, Ga," kata Ibu Arga, menunjuk sepasang kaus couple berwarna abu-abu dengan tulisan 'He's Mine' dan 'She's Mine'. "Lucu, ya? Kalian beli, gih. Biar serasi."

Bunga menelan ludah. Beberapa hari yang lalu, permintaan ini akan membuatnya panik. Tapi sekarang, ia hanya melirik Arga, menunggu reaksinya.

Arga tersenyum tipis. "Nggak ah, Bu. Norak," katanya, nadanya menggoda. Ia lalu menatap Bunga. "Lagian, nggak perlu pakai kaus kayak gitu orang juga sudah tahu kalau dia punya Arga."

Kata-kata itu diucapkan dengan santai, ditujukan untuk ibunya, tapi matanya menatap lurus ke arah Bunga. Itu adalah sebuah pesan. Sebuah penegasan. Wajah Bunga langsung terasa hangat.

"Halah, dasar anak muda," gerutu Ibunya, tapi Bunga bisa melihat senyum puas di wajahnya.

Arga tidak membeli kaus itu. Sebaliknya, ia menarik Bunga ke bagian jaket. Ia mengambil sebuah jaket jeans berwarna biru pudar yang terlihat nyaman. "Cobain ini," katanya.

"Eh? Buat apa, Mas?"

"Udara di ruang kelas kadang dingin," kata Arga. "Kamu cuma punya blazer pinjaman Vina. Kamu butuh jaket sendiri."

Bunga terpana. Arga memperhatikan hal-hal sekecil itu. Ia ingat blazer yang Bunga pakai saat presentasi adalah pinjaman.

Bunga mencoba jaket itu. Pas. Seakan dibuat untuknya. Saat ia bercermin, Arga berdiri di belakangnya, menatap pantulan mereka berdua. "Bagus," katanya singkat. Ia lalu mengambil dompetnya. "Mas yang bayar. Anggap saja... hadiah karena sudah jadi aktris yang baik."

Bisikan itu hanya untuk Bunga. Sebuah lelucon privat di antara mereka.

Saat mereka berjalan menyusuri mal, Ibu Arga berjalan di depan bersama suaminya. Arga dan Bunga berjalan di belakang.

"Tangannya," bisik Arga tiba-tiba.

Bunga menoleh, bingung. "Kenapa?"

Arga tidak menjawab. Ia hanya mengulurkan tangannya. Bunga ragu sejenak, lalu ia menyelipkan jemarinya di antara jari-jari Arga. Genggaman tangan mereka kini terasa berbeda. Bukan lagi latihan yang kaku. Ini terasa... benar.

Mereka berjalan seperti itu, berpegangan tangan di belakang orang tua Arga. Bunga merasa seperti remaja yang sedang berkencan sembunyi-sembunyi, padahal mereka adalah pasangan yang sah di mata hukum. Ironi itu membuatnya tersenyum.

Malam harinya, pertunjukan berlanjut di meja makan. Bunga, dengan bantuan Ibu Arga, memasak sayur asem dan ikan goreng. Dapur itu terasa hangat dan penuh tawa. Ibu Arga banyak bercerita tentang masa kecil Arga.

"Dulu, waktu SD," Ibu Arga memulai sambil mengulek sambal, "Arga ini pernah nangis seharian karena maket rumah-rumahan dari kardusnya keinjak sama temannya."

Bunga tertawa. "Masa, sih, Bu? Mas Arga nangis?"

"Nangisnya diam-diam di kamar," kata Ibu Arga. "Dari kecil dia sudah begitu. Kalau ada sesuatu yang penting buat dia rusak, dia nggak akan marah-marah. Dia cuma akan diam dan coba memperbaikinya sendiri."

Bunga terdiam, mencerna cerita itu. Ia teringat sikap Arga saat Bunga berbohong. Arga tidak marah-marah. Ia hanya... diam. Dan mencoba 'memperbaiki' situasinya dengan caranya sendiri.

Saat makan malam, Ayah Arga membuka topik yang lebih serius.

"Gimana pekerjaanmu, Ga?"

"Lancar, Yah. Proyek yang sekarang cukup besar. Mungkin butuh setahun lagi baru selesai."

"Baguslah," kata Ayah Arga. Ia lalu menoleh ke Bunga. "Dan kamu, Nduk. Setelah lulus S1 nanti, rencananya mau bagaimana? Mau langsung lanjut S2? Atau mau kerja dulu?"

Pertanyaan itu membuat Bunga sedikit gugup. Ia belum berpikir sejauh itu.

"Belum tahu pasti, Yah," jawab Bunga jujur. "Mungkin... Bunga mau coba magang dulu, cari pengalaman."

"Ide bagus," kata Ayah Arga.

Lalu, Ibu Arga menimpali dengan pertanyaan pamungkas yang selalu ditakuti oleh setiap pasangan muda. "Kalau sudah lulus, sudah kerja, habis itu... nggak nunda-nunda, kan?"

"Nunda apa, Bu?" tanya Arga, pura-pura tidak mengerti.

"Cucu, lah! Apa lagi!" kata Ibunya. "Ibu sama Ayah kan sudah tua. Pengen juga nimang cucu dari kalian."

Bunga nyaris tersedak nasi. Wajahnya memerah. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Ini adalah improvisasi level dewa. Ia melirik Arga, matanya memohon pertolongan.

Arga meletakkan sendoknya. Ia menatap ibunya dengan tatapan tenang dan penuh hormat.

"Bu," katanya lembut. "Arga sama Bunga sudah pernah bahas ini." (Bohong.)

"Bunga itu punya mimpi besar," lanjut Arga. "Dia kerja keras setengah mati buat bisa masuk ke universitasnya. Sayang banget kalau setelah lulus, ilmunya nggak dipakai. Arga mau Bunga merasakan jadi arsitek profesional dulu. Minimal satu atau dua tahun. Biar dia puas sama hasil kerja kerasnya."

Ia menoleh ke Bunga, matanya melembut. "Arga nggak mau egois, Bu. Arga mau istri Arga juga bahagia dengan kariernya. Soal cucu... pasti akan kami pikirkan. Tapi nanti, kalau Bunga sudah siap. Iya, kan?"

Ia menatap Bunga, seolah meminta konfirmasi.

Bunga terpana. Arga tidak hanya sedang berakting. Ia bisa merasakannya. Kata-kata itu tulus. Ia tidak hanya sedang melindungi "perjanjian" mereka. Ia sedang melindungi Bunga. Melindungi impiannya.

Bunga mengangguk pelan, matanya berkaca-kaca. "Iya, Bu. Mas... Arga benar."

Ayah Arga, yang sedari tadi diam, tersenyum bangga. "Kamu sudah jadi laki-laki yang dewasa, Ga," katanya. "Ayah bangga. Keputusanmu itu bijak."

Ibu Arga terlihat sedikit kecewa, tapi ia mengangguk mengerti. "Ya sudah. Ibu ngerti. Yang penting kalian bahagia."

Malam itu, saat Bunga mencuci piring bersama Ibu Arga, mertuanya itu berbisik, "Kamu beruntung sekali, Nduk. Arga benar-benar memprioritaskanmu. Jaga dia baik-baik, ya."

Bunga hanya bisa mengangguk, hatinya terasa penuh.

Malam itu, saat mereka kembali ke kamar tidur mereka, suasana terasa sangat berbeda. Tidak ada lagi kecanggungan. Tidak ada lagi ketegangan. Hanya ada... kesadaran.

Setelah pengakuan Arga semalam, dan pembelaannya di meja makan tadi, Bunga merasa semua tembok di antara mereka telah runtuh.

Bunga selesai menyikat giginya dan keluar dari kamar mandi. Arga sedang berdiri di dekat jendela, menatap keluar.

"Mas," panggil Bunga pelan.

Arga berbalik. "Ya?"

"Makasih," kata Bunga tulus. "Makasih buat yang tadi... di meja makan."

Arga tersenyum tipis. "Mas nggak bohong. Mas beneran mikir gitu."

"Bunga tahu."

Mereka berdiri di sana, saling menatap.

"Masuk angin nanti," kata Arga, menunjuk ke jendela yang sedikit terbuka. Ia berjalan dan menutupnya.

Waktunya tidur.

Bunga naik ke sisi ranjangnya. Arga mematikan lampu. Kegelapan kembali menyelimuti mereka.

Bunga berbaring. Kali ini, ia tidak langsung membelakangi Arga. Ia berbaring telentang, menatap langit-langit. Jantungnya berdebar, tapi bukan karena takut. Karena... antisipasi.

Ia merasakan kasur bergerak. Arga juga berbaring telentang di sisinya.

Mereka berbaring berdampingan di dalam gelap. Begitu dekat, tapi tidak bersentuhan. Bunga bisa merasakan kehangatan yang terpancar dari lengan Arga.

"Bunga," bisik Arga.

"Iya, Mas?"

"Besok... hari terakhir."

"Iya."

"Besok lusa, mereka pulang."

"Iya," bisik Bunga.

"Dan kita..." Arga berhenti. "Kita akan kembali ke... kamar kita masing-masing."

Kalimat itu terdengar seperti sebuah perpisahan. Hati Bunga terasa perih mendengarnya. Ia tidak mau. Ia tidak mau kembali ke kamarnya yang sepi. Ia sudah terbiasa. Terbiasa dengan kehadiran Arga di sebelahnya. Terbiasa dengan suara napasnya yang teratur. Terbiasa dengan rasa aman yang aneh ini.

Bunga tidak menjawab. Ia hanya diam.

Keheningan itu adalah jawaban yang paling jelas.

Arga menghela napas pelan di kegelapan. Ia berbalik, menghadap Bunga. Bunga bisa merasakannya.

"Kamu... nggak mau kembali ke kamarmu?" tanya Arga, suaranya sangat pelan.

Bunga memberanikan diri. Ia juga berbalik, menghadap Arga. Di dalam kegelapan yang temaram, ia bisa melihat siluet wajah Arga. Matanya menatapnya.

"Bunga... nggak tahu," jawab Bunga jujur.

Dan itu sudah cukup.

Arga mengulurkan tangannya. Bukan untuk mencium. Bukan untuk mengusap. Ia hanya mengulurkan tangannya di atas sprei di antara mereka. Sebuah undangan tanpa kata.

Tangan Bunga yang gemetar keluar dari balik selimut. Perlahan, ia meletakkan tangannya di atas telapak tangan Arga.

Jari-jari Arga langsung melingkupinya. Menggenggamnya erat. Hangat. Mantap.

Mereka berbaring di sana, berhadapan, berpegangan tangan di dalam gelap. Tidak ada ciuman. Tidak ada kata-kata. Hanya ada detak jantung mereka yang terdengar di keheningan kamar.

"Perjanjian baru kita," bisik Arga. "Katanya... 'kita lihat saja nanti'."

"Iya," balas Bunga.

"Mungkin... 'nanti' itu sudah datang."

Bunga tidak menjawab. Ia hanya meremas genggaman tangan Arga lebih erat.

Malam terakhir dari pertunjukan besar mereka. Tapi Bunga tahu, ini bukanlah akhir dari sebuah akting. Ini adalah awal dari sesuatu yang nyata.

Ia menatap mata Arga di kegelapan. Ia tahu, ia tidak lagi berakting.

Dan yang paling menakutkan, sekaligus paling membahagiakan, ia rasa Arga juga tidak.

Esok harinya adalah hari perpisahan.

Pagi itu, Bunga memasak opor ayam spesial untuk mertuanya. Arga membantunya di dapur, mengupas bawang, memarut kelapa. Mereka bergerak dengan sinkron, seolah sudah terbiasa melakukannya selama bertahun-tahun. Ibu Arga yang melihat mereka dari meja makan hanya bisa tersenyum penuh haru.

"Kalian benar-benar pasangan yang serasi," katanya.

Saat mengantar orang tuanya ke stasiun, suasana terasa berat.

"Jaga diri baik-baik ya, Nduk," kata Ibu Arga sambil memeluk Bunga erat. "Sering-sering telepon Ibu. Kalau Arga nakal, laporin."

"Iya, Bu."

"Ga," Ayah Arga menepuk bahu putranya. "Jaga istrimu. Dia tanggung jawabmu sekarang."

"Pasti, Yah," kata Arga mantap.

Kereta berangkat, meninggalkan Bunga dan Arga berdiri berdampingan di peron yang ramai.

Pertunjukan telah selesai.

Mereka berjalan kembali ke mobil dalam diam. Arga yang menyetir.

"Jadi..." Bunga memulai, memecah keheningan. "Besok... Bunga pindah lagi ke kamar Bunga?"

Pertanyaan itu menggantung di udara.

Arga tidak langsung menjawab. Ia terus menyetir, matanya fokus ke jalanan yang padat.

"Kamu... mau pindah?" tanyanya balik, tanpa menoleh.

"Bunga... nggak tahu," jawab Bunga, persis seperti semalam.

Arga menghela napas. "Mas juga nggak tahu."

Mobil berhenti di lampu merah. Arga menoleh, menatap Bunga.

"Gimana kalau... kita nggak usah pindah?" katanya pelan. "Gimana kalau... kamar tamu itu kita biarkan jadi kamar tamu sungguhan?"

Jantung Bunga berdebar begitu kencang hingga terasa sakit. "Maksud Mas...?"

"Maksud Mas," kata Arga, matanya menatap lurus ke dalam mata Bunga. "Perjanjian kita soal 'pura-pura' sudah selesai. Sudah saatnya kita mulai... perjanjian yang sesungguhnya."

Lampu berubah hijau. Mobil di belakang mereka membunyikan klakson.

Arga kembali fokus ke jalan. Tapi tangannya yang bebas terulur ke samping, mencari tangan Bunga.

Bunga menyambutnya.

Mereka berkendara pulang, berpegangan tangan. Tidak ada lagi penonton. Tidak ada lagi naskah. Hanya ada mereka berdua, dan sebuah jalan baru yang terbentang di depan.

1
indy
Selamat arga bunga adam. tadi kirain ada plot twist arga pingsan pas arga lahir😄
indy
bahagia sekali bunga...
Alyanceyoumee: Assalamualaikum. Thor permisi, ikut promo ya.🙏

Hai Kak, Baca juga di novel ku yang berjudul "TABIR SEORANG ISTRI"_on going, atau "PARTING SMILE"_The End, Biar lebih mudah boleh langsung klik profil ku ya, Terimakasih 🙏
total 1 replies
indy
sudah end ya
Faza Hira: tunggu special chapter nya kak 🤭
total 1 replies
indy
jangan sampai diana jadi ulet bulu
indy
jadi degdegan...
indy
lanjut...
indy
sebentar lagi...
indy
semangat arga bunga
indy
bikin penasaran
indy
lanjut kakak, suka banget
indy
Ceritanya bikin senyum-senyum sendiri. arga latihan sekalian modus ya...
minsook123
Suka banget sama cerita ini, thor!
Edana
Sudah berhari-hari menunggu update, thor. Jangan lama-lama ya!
Ivy
Keren banget sih ceritanya!
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!