Naomi Allura Karina seorang mahasiswi jurusan manajemen yang sering disapa Karina itu meninggal karena ingin menyelamatkan anak kecil yang akan tertabrak mobil.
Bukannya pergi tenang ke surga tapi Karina justru masuk ke dunia novel dan terbangun sebagai Aurora Evangeline Elowen nona keluarga Duke Elowen.
Sialnya lagi dia terkenal sebagai nona yang sangat menggilai putra mahkota yang merupakan calon tunangannya. Dimana dia nanti akan mati ditangan tunangannya sendiri karena dituduh meracuni adiknya.
Karina bertekad untuk menjauhkan diri dari sang malaikat mautnya bagaimanapun caranya dan mendapatkan kebahagiaan yang diinginkannya.
Adelardo Aldric Luca Griffin sang putra mahkota yang berhati dingin dan kejam itu sangat tidak menyukai Aurora karena sikapnya yang selalu menjadi benalu baginya, tetapi suatu hari sang calon tunangannya itu tiba-tiba berubah menjadi membencinya.
Apakah Aurora yang merupakan Karina berhasil menjalankan rencananya dan mendapatkan kebahagiaan???
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wardatus Sholeha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
let's do it
"Apakah Nona akan benar-benar melakukannya ?" Kesatria Dean kembali menanyakan keseriusan nonanya
Aurora menganggukkan kepalanya yakin
"Sebaiknya tidak usah nona, nanti gaun nona jadi kotor"
"Tenang saja Kesatria Dean, saya tidak takut gaun saya akan jadi kotor" ucap Aurora sambil fokus memakai sarung tangannya
Tidak Lily dan Kesatria Dean mereka mempunyai kesamaan, yaitu sama-sama melarang Aurora untuk melakukan sesuatu pekerjaan.
Sekarang Aurora berada dilahan kosong tempat dimana untuk menanam pepohonan, lokasinya tidak terlalu jauh dari tempat pembuatan waduk.
Sudah banyak para pekerja yang menanam pohon disini. Adelardo benar-benar melakukannya, baru saja semalam mereka berbincang, hari ini sudah datang para pekerja yang disuruh oleh Adelardo untuk menanam pohon dilahan kosong ini.
Aurora pun berencana akan membantu para pekerja ini untuk menanam pohon dari pada dia berdiam diri tanpa melakukan apapaun. Sangat membosankan.
"Saya memberi salam kepada Nona Aurora Evangeline Elowen"
"Owh... Tuan Xander" Aurora terkejut tiba-tiba saja pria ini berada di dekatnya
"Nona Elowen apa yang Anda lakukan disini ?"
"Saya ingin membantu para pekerja disini untuk menanam pohon" jawab Aurora enteng
Xander terkejut mendengarnya. Apa dia tidak salah dengar seorang nona bangsawan mau membantu para pekerja apalagi pekerjaan ini dapat mengotori gaunnya yang mahal
"Saya rasa tidak perlu Nona Elowen, sudah banyak para pekerja disini. Jika nona tidak keberatan, nona bisa melihat mereka saja dari sini" bujuk Xander
"Terima kasih tawarannya, tetapi saya ingin membantu mereka menanam pohon. Saya sangat bosan tidak melakukan apapun disini. Apakah Tuan Xander yang memantau para pekerja disini?"
"Benar Nona Elowen, Yang Mulia Putra Mahkota menyuruh saya untuk memantau pekerja disini"
"Kalau begitu, saya izin untuk membantu menanam pohon disini tuan Xander" Aurora langsung saja membantu para pekerja menanam bibit pepohonan tanpa menunggu balasan dari Xander, dia yakin pasti pria itu akan melarangnya, oleh karena itu dia buru-buru pergi.
Banyak para pekerja yang binggung dan terkejut melihatnya ikut membantu mereka tetapi Aurora sama sekali tidak memperdulikannya.
Sudah lama Aurora membantu para pekerja disini, sudah ada banyak pula bibit pohon yang Aurora tanam.
"Nona Aurora Elowen, ternyata Anda sangat pandai bercocok tanam ya" puji Xander, melihat sudah banyak bibit pepohonan yang ditanam gadis itu.
"Terima kasih atas pujiannya, mungkin ini karena saya cukup sering membantu para pekerja kebun menanam bunga di taman kediaman"
Sekali lagi Xander mendengarkan gadis itu mengucapkan terima kasih. Sekarang Xander yakin bahwa gadis ini benar-benar sudah berubah, terlihat dari perilakunya beberapa hari ini.
"Mari beristirahat Nona" Xander mengajak Aurora ke tempat peristirahatan
"Ayo, Aku juga sudah sangat haus" Aurora mengangguk
Setelah sampai Aurora langsung saja minum, tenggorakannya sangat kering sekali ditambah panas matahari yang menyegat. Rasanya sangat lega sekali setelah air minum mengalir di tenggorokannya
"Nona Aurora Elowen saya rasa ini waktunya kita kembali. Kakak anda pasti sedang mencari anda sekarang"
"Panggil saja aku dengan namaku, terlalu kaku sekali memanggil dengan nama keluargaku. Kalau dilihat sepertinya umur kita juga tidak beda jauh"
"Hmm, baiklah kalau anda nyamannya seperti itu Nona Aurora"
"Tidak perlu pakai Nona, cukup Aurora saja"
"Baiklah, kau juga bisa memanggil aku dengan Xander"
"Oke.... sepertinya kau benar hari sudah sore kakakku pasti mencari ku apalagi aku tidak ada bilang kepadanya pergi kesini"
"Apa?....jangan bilang kau juga tidak mengatakan untuk membantu para pekerja menanam pohon" Xander terkejut
Aurora mengiyakan perkataan Xander
"Aku kira kau sudah mengatakannya kepada William, apa tanggapan dia yang melihat penampilan mu seperti ini nanti"
Aurora hanya terkekeh dan menggelengkan kepala mendengarnya.
"Sepertinya kau sangat akrab dengan kakakku"
"Ya begitulah.... Aku, William, Alves dan Putra Mahkota sudah berteman dari kami kecil"
Aurora mengganguk paham. Dulu dia tidak terlalu memperhatikan hubungan antara mereka, dia hanya memikirkan bagaimana menjadi istri Putra Mahkota.
Tidak disangka hubungan mereka sudah ada dari kecil, ia kira hanya hubungan sebatas atasan dan bawahan saja.
Sedangkan didalam ruangan ada dua orang pria yang sedang berdiskusi, mereka berdua terlihat sedang fokus.
"Pembuatan waduk ini kira-kira akan selesai dalam waktu tiga hari lagi"
"Bagus"
"Aku tidak menyangka bahwa kau mengikuti solusi dari adikku lagi"
Adelardo mengalihkan pandangannya yang semula berada di dokumen ke arah pria di depannya.
"Aku rasa itu bukan hal yang buruk"
"Ya ya aku yakin padamu. Pasti kau sudah melakukan pertimbangan yang matang sehingga menyetujuinya"
"Hmm"
Ck, William berdecak. Katakan saja dia tidak sopan, tapi pria yang diajak bicara ini hanya menjawab pertanyaannya dengan singkat. Dia lebih irit bicara daripada dirinya.
"Yang Mulia, aku rasa ini waktunya kita kembali ke penginapan" ucap William yang melihat ke arah luar melalui celah jendela tenda yang sudah menampilkan langit senja.
"Ayo" ucap Adelardo sambil merapi-rapikan dokumennya.
William langsung saja mencari Aurora untuk mengajaknya pulang, tetapi dia melihat sekeliling tidak menemukan sosok gadis itu dan Dean. William langsung saja menyuruh beberapa pengawal untuk mencari adiknya.
Setelah beberapa menit menunggu akhirnya orang yang di tunggunya datang juga dengan penampilan yang kotor dan berantakan.
Sementara itu Aurora masih asik mengobrol dengan Xander sepanjang jalan, ternyata pria itu tidak sekaku yang Aurora pikirkan. Bahkan meraka sudah akrab dengan memanggil nama satu sama lain tanpa kaku.
"Salam kepada Yang Mulia Putra Mahkota" ucap Xander, Aurora dan Dean ketika sampai di tempat Adelardo dan William berada.
Sementara itu Adelardo menjawab salam mereka hanya dengan menganggukan kepalanya saja.
"Kenapa gaun mu bisa sekotor ini?" tanya William heran melihat penampilan adiknya
"Aku membantu para pekerja menanam bibit pohon" ujar Aurora polos
William terkejut kemudian menghela nafasnya, dia baru ingat adiknya sudah berbeda tidak seperti dulu yang selalu menjaga penampilannya.
"Yasudah, ayo kita pulang ke penginapan"Aurora menganggukan kepalanya dan langsung menuju ke kereta kudanya.
Adelardo mengernyitkan dahinya, sungguh dirinya menemukan sesuatu yaang berbeda lagi dari gadis itu kali ini.
Yang Adelardo tau bahwa Aurora adalah seorang nona bangsawan yang melihat derajat dan kedudukan seseorang, tapi lihatlah sekarang gadis itu malah membantu para pekerja sampai gaunnya kotor.
Walaupun Adelardo tidak pernah memperhatikan gadis itu tetapi dia sudah bisa menilai bagaimana sifat gadis itu selama ini.
"Apakah kau yang menyuruhnya untuk membantu para pekerja?" tanya Adelardo setelah sadar dari pemikirannya mengenai Aurora
"Tidak Yang Mulia. Saya sudah melarangnya, namun nona Elowen tetap ingin membantu" jawab Xander
Adelardo diam setelah mendengar jawaban dari Xander, kemudian dia beranjak ke arah kudanya untuk kembali ke penginapan.
Aurora setelah sampai dari penginapan langsung saja mandi tubuhnya sudah kotor dan lengket sekali juga banyak tanah-tanah yang menempel.Setelah beberapa menit akhirnya dirinya selesai, tinggal mengeringkan rambutnya. Aurora melihat ke jendela hari sudah malam perutnya sudah lapar minta di isi.
Aurora sudah menyuruh pelayan untuk mengantar makanannya ke kamar. Dia tidak ingin makan bersama kakaknya di bawah karena disana pasti ada Putra Mahkota, dia tidak akan bebas melahap makanan lezat disana ditambah harus menjaga etikanya ketika makan bersama Putra Mahkota. Itu membuat rumit saja.
Aurora menghela nafasnya, Tidak sadar saja besok sudah hari terakhirnya berada di wilayah Timur dia sudah tidak sabar pulang dan bertemu kedua orang tuanya, jujur saja dia sangat merindukan mereka dan juga satu kakaknya yang cukup menyebalkan yaitu Alves.
injak tuh kaki pangeran sombong