NovelToon NovelToon
Perjuangan Calista

Perjuangan Calista

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Selingkuh / Dokter
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Wisye Titiheru

Dalam keadaan hamil besar Calista harus menerima kenyataan bahwa sahabatnya yang bekerja sekantor dengan suaminya berselingkuh. Dalam perjuangan membesarkan anaknya, ternyata dia harus menerima kenyataan anaknya mengidap penyakit Kanker Leukimia, sebagai dokter dia juga ketakutan. Apakah Calista yang seorang dokter mampu mengatasi semua cobaan ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wisye Titiheru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Penugasan Terakhir

Hari baru semangat baru. Tahun pelajaran baru bagi anak - anak. Daniel Caleb Wijaya sudah kelas dua belas sedangkan Liam Imanuel Wijaya sudah berumur tiga belas tahun kelas delapan. Oleh papa mereka Christian Wijaya, Daniel dan Liam disekolahkan pada satu yayasan sekolah internasional yang sama. Sedangkan Elina Pratama baru masuk sekolah taman kanak - kanak. Sengaja Tama papinya memasukan dia sekolah satu yayasan dengan kedua kakaknya. Agar jika maminya menjemput mungkin dia bisa melihat keberadaan kedua kakaknya Daniel dan Liam.

Lisa masih menjalankan hukumannya di rumah tahanan perempuan. Dia dengan Christian sudah resmi bercerai.

"Sayang.... mas mau tugas di Afganistan setahun."

"Mas jauh sekali, satu tahun??"

"Iya satu tahun. Mas terpilih menjadi tentara perdamian bangsa - bangsa."

"Kenapa bisa lama?? Kenapa ngak beberapa bulan saja. Kenapa harus satu tahun."

Ezra Pratama mendengar ocehan dari istrinya. Saat ini mereka sedang berada di kamar mereka sudah mau tidur malam. Tadi di rumah sakit, Tama tidak sempat memberitahukan pada saat surat keputusan itu di berikan. Tama mau saat diberitahu kepada istrinya Calista berada dalam pelukannya.

Dengan berat hati, Calista merelakan suaminya kolonel dokter Ezra Pratama spesialis onkologi ini bertugas di Afganistan. Malam ini Calista mengantar suaminya menuju ke bandara. Daniel dan Liam juga ada. Sebenarnya Tian mengijinkan Daniel dan Liam selama setahun menemani mami mereka. Namun Calista yang tidak mau, dia mau hidup berjalan seperti biasa, seperti yang sudah di atur dari awal. Kapan waktu dia bersama anak - anaknya.

Tama sering menghubungi Calista dan menceritakan situasi disana, juga sering memperlihat lingkungan rumah sakit yang dibangun bagi mereka yang merupakan bagunan yang terbuat dari peti kemas dalam ukuran besar.

Satu bulan dilalui, dua bulan juga dilalui sampai enam bulan. Sudah waktu Calista dan Tama berpisah. Dalam waktu enam bulan ini Daniel dan Liam selalu datang menemaninya. Kalau telepon, setiap hari bahkan setiap saat dilakukan oleh mereka.

Masuk bulan kedelapan, berita pos pelayanan kesehatan dunia di Afganistan di bom dan dokter ada yang di sandera. Oleh pasukan radikal disana. Hati Calista semakin was - was karena dia tidak tahu siapa saja yang meninggal dan siapa yang di tawan. Dari kemarin malam sampai pagi hari belum ada kabar berita. Christian yang kuatir dari semalam meminta Daniel dan Liam ada bersama mami dan adik perempuan mereka.

Anak - anak pergi kesekolah. Dan pukul sembilan pagi. Calista mendapat kabar, jika suaminya Kolonel Ezra Partama adalah salah satu dari korban meninggal akibat rudal yang diarahkan oleh kaum radikal menghancurkan tempat itu. Hasil ola tempat kejadian kenemukan beliau tertidur sambil memeluk foto istri dan ketiga anak mereka.

Berita meninggalnya Kolonel dokter Ezra Pratama sudah masuk berita. Christian langsung ke rumah sakit. Dan benar Calista Gunawan sedang pingsan. Tian sudah meminta kakaknya menjemput Elina anaknya Calista dari sekolah bersama Liam. Dia meminta agar tidak memberitakan apa yang di alami oleh papi mereka. Elina anak yang supel, sopan dan manis, dia sekarang tertidur dalam pelukan mamanya Christian.

"Kak, anak - anakku."

"Elina sudah aman bersama mama di rumah. Ada Liam juga."

"Kak.... Ezra.....??"

"Iya... Aku turut berdukacita ya Ita."

"Aku tidak tahu bagaimana aku bisa hidup tanpa dia."

"Hey.... Kamu punya tiga anak hebat. Jadi kamu harus kuat."

Daniel yang tahu berita tentang kematian papinya langsung ke rumah sakit. Dia tahu pasti maminya sedang bersedih. Dia menggunakan taksi online. Begitu tahu ruangan dimana maminya berada di langsung memeluk maminya. Dia tidak peduli dengan papanya yang ada di samping.

Mereka menangis sambil saling berpelukan. Setelah Tian menitip maminya kepada Daniel, Tian berkordinasi dengan pihak tentara perihal kepulangan jenasah Ezra Pratama yang rancananya akan diterbangkan sore ini, setelah di mandikan. Calista hanya bisa melihat tubuh kaku suaminya lewat vidio waktu mereka membersihkan tubuhnya. Dia melihat Ezra pergi dalam keadaan senyum.

"Kamu jahat mas... Kamu tega. Kamu tahu aku tersiksa." Daniel terus memeluk maminya. Mamanya Calista dari Belanda juga datang. Dan kemungkinan dia akan satu pesawat dengan jenasah anak mantunya. Rumah kediaman Keluarga Ezra Pratama sudah di dekorasi menantikan kedatangan jenasah. Calista sudah pulang. Liam dan Eliana juga sudah berada di rumah mereka. Kediaman ini dijaga ketat, oleh anggota tentara. Christian dan orangtuanya menyiapkan catering buat ibadah malam ini. Calista tidak sendiri. Dia dihibur oleh mantan mertua dan kakak iparnya.

Firasat Calista dia rasakan pada malam hari kemarin waktu dia mendapat vidio call dari suaminya. Banyak sekali yang dia bicarakan. Sampai dia mengatakan bahwa hanya kak Tian yang dia percaya menjaga anak - anak. Laki - laki lain tidak. Dan malam yang sama, ternyata Tama juga menghubungi Tian menitip Calista dan anak- anak.

Flasback pembicaraan Tama dengan Tian.

"Kak aku titip Calista dab anak - anak ya."

"Iya selama kamu ada di sana, aku berusaha menjaga mereka buat kamu."

"Hanya kakak yang aku percaya."

"Tama, kamu mau kemana??" ditanyai oleh Tian, Tama hanya tertawa dan tersenyum.

"Kan aku ada di Afganistan."

"Iya selama kamu berdinas aku akan menjaga mereka."

"Kak, jangan sakiti mereka ya. Apalagi Elina anakku."

"Elina punya papi yang hebat." Malam itu, Christian Wijaya, atau yang di panggil Tian ini tidak bisa tidur, dia masih mengingat pembicaraan Ezra Pratama suami Calista yang sedang bertugas di Afganistan. Sampai pada pagi hari kira - kira pukul sepulu, dia mendengar berita tentang rudal dari kelompok militan yang menghancurkan rumah sakit milik tentara perdamaian dan juga menyerang rumah sakit itu.

Seketika air matanya jatuh. Prasangka buruk mulai menari - nari di pikiran Tian mengingat pembicaraan Tama dengannya semalam. Tama sangat aneh. Namun pikiran itu dia tepis dan berdoa. Namun ketika di evakuasi Kolonel dokter Ezra Pratama ada dalam daftar nama korban yang meninggal di tempat. Tian menangis sangat keras. Sampai Melany dan asistennya menghampiri. Ketika ditenangkan Tian langsung kerumah sakit dan Melany menjemput Eliana.

Calista Gunawan dengan mengunakan setelan berwarna hitam didampingi ketiga anaknya sedang menerima berita kebenaran firman Tuhan, agar mereka kuat mengerti apa maksud Tuhan ketika mengambil orang yang mereka cintai. Daniel yang duduk memangku adiknya menangis. Dia sudah dewasa tahu apa yang di alami. Dia mencium adik perempuannya. Yang sudah kehilangan sosok papinya. Di usia lima tahun. Sementara Liam duduk memegang tangan maminya. Sesekali dia mencium maminya. Memberi kekuatan lewat ciumannya di kening maminya.

"I love you mami."

"Love you more Liam Imanuel Wijaya anak hebat mami." Liam tersenyum, dibalik luka batin yang dia pendam. Terlihat dari mata - mata mereka yang membengkak. Christian melihat pemandangan dari orang - orang yang dia cintai, sangat terpukul atas kehilangan sosok laki - laki yang mereka cintai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!