Jatuh ke danau setelah tahu pacarnya berkhianat, Juwita malah dibawa melintasi waktu ke abad sebelumnya. Abad di mana kerajaan masih kokoh berdiri. Peradaban dunia kuno yang masih kental, yang tentunya tidak terjamah oleh teknologi modern sedikitpun.
Di dunia kuno ini, Juwita malah memasuki tubuh seorang putri cantik yang sangat dicintai oleh seorang adipati. Sayangnya, sang putri malah mencintai pria lain. Tidak sedikitpun menganggap indah keberadaan Adipati yang sangat tulus memberikan semua kasih sayang terhadapnya.
Bagaimana kisah hidup Juwita di samping Adipati dunia kuno ini? Akankah Juwita mengikuti apa yang putri kuno ini lakukan? Atau, malah sebaliknya. Berbalik, lalu mencintai Adipati? Atau, adakah hubungannya dunia kuno ini dengan kehidupan Juwita sebelumnya? Ikuti kisah seru Juwi di sini!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode #34
"Dinda. Jangan berpikir yang jauh. Karena dinda harus tau, racun yang kanda derita adalah racun langka. Ada banyak kemungkinan yang kanda masih tidak memahaminya. Karena itu, jangan membebankan diri dengan berpikir terlalu jauh, istriku."
"Tidak. Dinda tidak memikirkannya, kanda. Hanya saja ... dinda berusaha mencerna dengan baik apa yang tadi kanda katakan. Kenapa racun itu bisa di katakan sebagai racun asmara? Dan, mengapa pula harus cinta suci dari orang yang memberikannya yang menjadi penawar dari racun itu?"
Satya malah tersenyum.
"Racun itu adalah racun unik dan langka. Entah penyihir mana yang punya racun tersebut. Dan, racun itu sebenarnya tidak akan berbahaya untuk orang yang saling mencintai, Dinda. Hanya saja, akan sangat berbahaya jika di berikan pada orang yang hanya mencintai sebelah pihak. Racun itu diibaratkan racun waktu untuk mengikat kedua pasangan agar saling setia. Atau, bisa juga diberikan untuk balas dendam pada orang yang tidak mau membalas cinta. Singkatnya, racun itu tidak akan bekerja untuk pasangan yang saling mencintai."
"Tapi .... "
"Dinda ingin bilang kenapa sekarang racun ini masih berbahaya untuk kanda, padahal kita sudah bersama? Iya, bukan?"
Juwita mengangguk pelan. Itulah yang saat ini ingin ia katakan. Tapi sayang, bibir terasa sangat berat. Sementara Satya malah kembali mengukir senyum manis di bibirnya.
"Karena racun itu sudah terlalu lama bersarang di tubuh kanda, Dinda. Seperti yang kanda katakan sebelumnya, racun ini tak ubah seperti racun waktu. Jika terlambat memberikan penawar, maka efeknya akan sangat berbahaya. Tapi, jangan cemas. Sekarang kanda sudah baik-baik saja." Satya menyentuh pipi Juwi setelah selesai berucap.
"Maaf, kanda. Dinda yang salah."
"Tidak. Kanda tahu kalau dinda tidak bermaksud membunuh kanda. Kanda percaya dinda."
Mata Juwi berkaca-kaca. Entah bagaimana, dan entah seperti apa cinta yang Satya punya. Tapi pria itu begitu tulus dalam memperlakukan Juwi selama ini. Meski ia tidak punya ingatan si pemilik asli dari tubuh yang ia rasuki, tapi dia percaya, kalau selama ini, Satya memang sangat menyayangi Juwita Sari.
Setelah obrolan itu, Juwi berusaha memahami semua yang telah terjadi. Dia pun menemani Satya untuk beristirahat.
Sebenarnya, ada yang Juwi tidak ketahui tentang racun itu. Racun tersebut punya penawarnya. Tapi, Satya tidak mengatakan seluruhnya tentang racun yang ia derita, karena Satya tidak ingin Juwi pergi untuk mencari penawar tersebut. Karena selama ini pun, dia sudah tahu di mana letak penawar dari racun yang sedang bersarang di tubuhnya.
Dulu, Satya pasrah dengan racun yang menggerogoti tubuhnya. Dia jadikan racun itu sebagai imbalan atas cintanya pada Juwita. Dan, dia bersedia pergi karena racun tersebut. Bagi Satya, mati karena racun dari orang yang ia cintai adalah pilihan yang paling tepat. Dari pada ia melepaskan orang yang dia cintai saat ia masih hidup, itu akan lebih menyakitkan baginya.
Singkatnya, Satya tidak sanggup untuk melihat Juwi bersama dengan pria lain. Hal yang ia janjikan untuk melepaskan Juwi saat pertama kali Juwi bangun dari pingsan akibat jatuh ke danau juga adalah kematian. Bukan setelah perselisihan selesai.
Tapi, sikap Juwi yang malah berubah seratus delapan puluh derajat itu ternyata membuat racun dalam tubuhnya sama sekali tidak memberikan kemajuan. Alhasil, dia malah bisa bertahan hingga sejauh ini dengan kebahagiaan bersama dengannya.
.....
"Brama. Apakah kita bisa bicara?"
"Ampun, Gusti putri. Yang mulia mau bicara apa dengan hamba?"
Juwi yang baru keluar dari kamar Satya, langsung menemui Brama yang kebetulan ada tak jauh dari kamar tersebut. Dia yang sangat ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Satya di istana raja, langsung saja mengajak Brama untuk bicara.
"Ini soal ... kanda Satya yang menerima hukuman cambuk tempo hari. Katakan padaku, Brama! Apa kesalahan kanda Satya sampai harus menerima hukuman. Apakah ini semua gara-gara aku?"
"Gusti. Tidak, ini semua tidak ada hubungannya dengan gusti putri."
"Lalu?"
Brama tentu saja merasa kebingungan saat ini. Dia benar-benar berada dalam dilema. Antara harus berkata jujur untuk menjawab pertanyaan Juwita, atau harus berdiam diri saja. Karena dia tidak tahu, apakah gusti junjungannya itu akan marah atau tidak jika ia katakan.
"Brama. Kenapa kamu diam saja? Apakah aku tidak kamu anggap ada sekarang?"
"Ah! Ya Tuhan, gusti putri. Tidak seperti itu. Hamba ... hamba hanya ... anu, gusti maafkan hamba. Kenapa ... kenapa tidak bertanya langsung pada gusti adipati saja. Ampun, yang mulia. Maafkan kelancangan hamba."
"Brama. Kanda Satya tidak akan mengatakan masalahnya padaku. Karena itu aku menemui mu, Brama. Katakanlah! Aku jamin dia tidak akan marah padamu. Jika pun dia marah, aku yang akan menanggung semuanya. Tolong percaya padaku, Brama. Aku mohon."
Tentu saja Brama tidak berdaya lagi untuk menolak permintaan Juwita sekarang. Apalagi jika sudah makhluk terkuat di bumi melepaskan kata permohonan, siapa yang bisa tega?
Brama pun menceritakan semua yang telah terjadi. Juwita kini merasa sedih dan bangga sekaligus. Karena ternyata, di dunia ini masih ada yang mengagungkan cinta dari pada harta dan tahta.
"Terima kasih, Brama." Juwi berucap sambil menunduk sedikit tanda memberi hormat pada orang yang sudah memenuhi apa yang ia inginkan.
Tentu saja Brama langsung panik. Maklum, dunia ini perbandingannya sangat jauh dari dunia Juwi berasal. Mana boleh junjungan membungkuk pada pengikut. Itu sama saja dosa bagi pengikut.
"Ya Tuhan. Jangan seperti ini, Gusti. Saya tidak bisa gusti hormati seperti ini."
Juwi yang baru sadar akan kesalahan yang tanpa sengaja itupun seketika tertegun sesaat. Kemudian, dia langsung mengakhiri obrolannya dengan Brama setelah menyelesaikan masalah simpel yang baru saja terjadi. Simpel menurut Juwita saja sebenarnya. Sedangkan menurut Brama, itu masalah yang besar.
Dan, karena masalah simpel dengan Brama barusan pulalah Juwi teringat akan sesuatu. Dia pun hanya bisa berkata dalam hati prihal ingatan dari masalah tersebut.
'Cinta suci. Mungkinkah kalau Juwita yang asli mencintai Satya dengan setulus hati, racun yang Satya derita bisa pulih dengan sepenuhnya?'
'Tapi bagaimana caranya? Apa yang bisa aku lakukan untuk mengembalikan Juwita yang asli?'
Sedih terasa menyusup ke dalam hati. Juwi tidak ingin meninggalkan Satya, tapi demi keselamatan Satya dia akan melakukan segala cara. Termasuk, mengorbankan hati yang ingin tetap berada di sisi Satya hingga ia tiada kelak.
Seketika, air mata kesedihan melintasi pipi. Juwi menyekanya dengan cepat.
'Tidak, Juwi. Jangan menangis. Sadarlah. Ini sebenarnya memang bukan milikmu. Kau tidak terlahir dari dunia ini. Jadi, jika kamu harus pergi hanya demi kebaikan orang yang kamu sayangi, seharusnya kamu bahagia untuk melakukan hal itu, bukan? Bukan malah bersedih, lalu menangis.' Juwi berusaha tersenyum untuk menguatkan hati.