Rania adalah seorang gadis kelas 3 SMA, berusia 17 tahun. Ia di utus oleh abangnya meminjam uang untuk keselamatan ibu mereka yang saat itu sakit parah, kepada pria pemimpin di perusahaan tempat dirinya bekerja. Pria yang di katakannya baik itu ternyata memiliki sifat asli yang sombong dan kejam. Namum, di balik semua itu ada alasannya mengapa ia seperti itu.
Rania harus menikahi pria itu untuk melunasi hutangnya, bukan karena pria itu mencintainya. Tapi Bagas menjadikan pernikahannya untuk kepentingan dirinya sendiri. Rania rela berkorban demi keselamatan ibunya. Bahkan ia rela meninggalkan sekolahnya yang sudah ia pertahankan mati-matian sebelumnya, agar tidak pernah putus sekolah.
Ig: windyrahmawati26
Follow ya guys.
Selamat membaca.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wind Rahma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masalalu
Rania menggibas-gibaskan telapak tangannya ke depan wajah bi Asih yang seketika melamun.
"Bi, bi" panggil Rania lagi untuk memastikan bi Asih tidak kenapa-kenapa.
Rania menepuk pundak bi Asih pelan, "Bi"
Tubuh bi Asih tersentak kaget dan lamunannya buyar.
"I-iya non, tadi apa?"
Kenapa dia? Tadi dia bilang akan menjawab pertanyaan apapun yang akan aku tanyakan. Baru satu pertanyaan saja belum juga sempat di jawab.
"Bi, apa bibi tahu sesuatu tentang kakak ipar?" Rania mengulang kalimatnya.
"Iya non iya, bibi tahu" jawab bi Asih, "Tapi" bi Asih menggantung kalimatnya.
"Tapi apa bi?" Rania semakin penasaran dengan jawaban dari pertanyaannya.
Bi Asih mendekatkan mulutnya ke telingan Rania, "Jangan berisik ya, non!" pinta bi Asih. Kemudian memundurkan kepalanya seperti semula.
Dari permintaan bi Asih barusan, aku jadi curiga. Ada rahasia di balik kehidupan kakak ipar.
"Iya, bi. Tenang aja!"
"Jadi begini non, non Arsilla itu sudah jadi janda sejak 7 tahun yang lalu"
"Hahhh?" Rania reflek dan segera membungkam mulutnya.
"M-maaf bi, terus?"
"Dia pisah karena, dulu suaminya selingkuh dengan wanita lain" Rania setia mendengarkan cerita bi Asih.
"Suatu hari, non Arsilla melihat suaminya selingkuh dengan wanita itu dengan mata kepalanya sendiri. Terus, tidak lama setelah itu non Arsilla resmi berpisah dengan suaminya. Non Arsilla sempat depresi, karena dia sudah gila-gilaan memberikan semua yang di inginkan suaminya, karena suaminya itu masih termasuk orang biasa yang sederhana. Tidak tajir melintir sepertinya. Setelah itu non Arsilla sangat membenci sebuah rumah tangga. Itu salah satu sebab, kenapa non Arsilla begitu membenci non Rania saat ini. Dan, maaf ya non sebelumnya"
"Iya, bi. Lanjutkan saja!"
"Penyebab lain, karena non Rania juga bukan termasuk dari keluarga yang sebanding dengan materi keluarga non Arsilla. Non Arsilla takut, takut kejadian masa lalu yang menimpanya akan menimpa adiknya, tuan Bagas. Dan setelah sembuh dari depresinya, non Arsilla banyak menyita waktunya hanya untuk mengurung diri di kamar. Begitu, non!"
Rania mengangguk paham.
Oh, jadi itu alasan kenapa selama ini kakak ipar selalu memberi sorot mata penuh kebencian padaku. Ia melampiaskan semuanya ke aku yang tidak tahu apa-apa.
"Aku sekarang mengerti bi. Terima kasih ya atas penjelasannya"
"Iya, non. Tapi ingat ya, jangan berisik!" bi Asih mengingatkan.
"Iya, bi. Ingat juga, tenang aja!"
"Hehe, iya non".
"Ya sudah, kalau begitu lanjut saja bi istirahatnya! Saya kembali ke atas" pamit Rania yang bersiap untuk berdiri dari duduknya.
"Siap, non"
"Semangat, bi"
"Terima kasih, nona"
Rania beranjak dari sana, berjalan menaiki anak tangga untuk kembali ke kamar.
******
Rania membuka pintu kamar, dan berjalan menuju sofa setelah menutup pintu kamarnya. Ia duduk di sofa, punggungnya ia sandarkan di sandaran sofa. Rania mengingat sesuatu, kemudian ia berjalan menuju lemari pakaian khusus pakaiannya.
Ia membuka pintu lemari besar itu, dan mengambil sebatang coklat yang tadi pagi di beri oleh Bagas. Rania kembali ke sofa dan kali ia ini membaringkan tubuhnya.
"Cok-lat" ucap Rania yang sengaja di eja, sambil memutar-mutar batang cokelat itu.
Rania mengingat sesuatu tentang cokelat.
Tubuh kecil Rania di peluk hangat oleh sang ibu, wanita itu begitu menyayangi puteri bungsunya.
"Rania, sayang. Tidak apa-apa tahun ini kamu tidak memdapat juara kelas. Masih ada kesempatan tahun depan, kamu harus lebih giat dan rajin ya, nak, belajarnya!" pesan bu Sari pada Rania.
"Iya, bu. Rania sedih, tidak bisa membuat ibu bangga. Tapi Rania janji. Rania akan terus belajar agar Rania bisa jadi orang pintar dan sukses!"
"Aamiin. Do'a ibu mengalir di nadimu, Rania sayang".
Bu Sari melepaskan pelukannya pelan, kedua buah tangannya memegangi pipi cubby Rania.
"Rania sayang, ingat juga ya! Kunci sukses yang utama itu menjadi orang jujur. Percuma pintar, jika kepintarannya hanya di jadikan untuk membodohi orang lain!"
Rania mengangguk, "Iya, bu. Ibu wanita hebat. Aku sayang ibu" Rania memeluk bu Sari kembali.
Bu Sari sangat bangga memiliki puteri bungsu seperti Rania, walaupun dia tidak mendapat juara kelas tahun ini. Bu Sari mengusap pangkal rambut Rania, dan mencium kening Rania dengan penuh kasih sayang setelah melepaskan pelukannya.
"Ibu punya sesuatu untuk Rania"
"Wah, apa bu?"
"Tunggu sebentar, ya!"
Bu Sari pergi ke kamar meninggalkan Rania di ruang tamu. Tidak lama, bu Sari kembali, sebelah tangannya di sembunyikan ke belakang tubuhnya.
"Apa itu bu?" tanya Rania penasaran dan sudah tidak sabar dengan apa yang akan ibunya berikan.
"Taraaaa" bu Sari mengacungkan sebatang cokelat di depan wajah Rania. Rania begitu senang mendapat cokelat kesukaannya sampai ia lompat-lompat setelah menerima cokelat pemberian sang ibunda tercinta.
"Terima kasih, ibu" ucap Rania kembali memeluk sang ibu.
"Sama-sama, sayang" bu Sari membalas pelukan hangat puteri bungsunya.
Rania sampai tidak sadar, air matanya menetes dan menderas di pipinya ketika mengingat kejadian itu di masa lalunya. Masa lalu yang begitu indah ketika ia berada di sekitar orang-orang yang begitu mencintai dan di cintainya. Karena baginya, harta yang paling berharga adalah keluarga.
Tapi, sekarang harus berada di sekitar orang-orang yang begitu membencinya. Orang-orang yang sama sekali tidak mengharapkan kehadirannya. Tapi Rania tidak bisa pergi begitu saja dari tempat itu. Tempat dan orang yang menjebaknya menjadi buah simalakama. Maju kena mundur kena.
"Aku rindu padamu, ibu" tangis Rania semakin pecah, kali ini ia membiarkan air matanya yang berbicara tentang keadaannya saat ini.
Mengingat keluarga, Rania jadi ingat abangnya yang sempat memberi pesan "Jangan lupa untuk segera membicarakan itu padanya. Abang akan menunggu kabar darimu."
Saat itu Radit kekeh meminta Rania supaya ia di naikan jabatan di perusahaan milik Bagas. Tapi bagi Rania, itu semua akan sia-sia meskipun ia sudah memohon dan berlutut pada suaminya. Tidak sembarang orang Bagas menjadikan karyawan di perusahaannya. Di tambah lagi rencana kakaknya yang akan melamar kerja di sana juga. Pasti ia akan di posisikan sama persis dengan abangnya, itupun jika di terima.
Rania menghapus air mata yang tersisa di pipi dan pelupuk matanya. Ia bangun dan duduk. Mengambil ponsel yang ada di saku celana depan. Ia sedang mencari sebuah kontak yang akan ia hubungi saat ini. Setelah ketemu, Rania meng-klik dan mendekatkan ponsel ke telinganya.
"Hallo, sekretaris Frans! Apa aku bisa bicara sebentar dengan tuan?" seseorang yang di hubungi Rania ternyata sekretaris Frans.
"Maaf nona, tuan dan saya sedang sibuk. Ada meeting sebentar lagi. Bicarakan nanti saja atau anda bisa membicarakannya melalui pesan!" suara dari seberang sana dan,
TUUTTT TUTTT
Sambungan terputus.
Ah, dasar orang besar, sibuk saja terus. Cukup jadi orang besar saja, jangan sampai besar kepala!
Rania memilih untuk membicarakan soal ini melalui pesan saja saat ini. Karena jika ia memilih untuk membicarakan nanti secara langsung, takutnya ia lupa lagi.
Setelah mengirim pesan pada sekretaris Frans, Rania menggenggam ponsel itu kuat-kuat. Rasanya ia juga harus lebih kuat lagi untuk bertahan hidup di bumi ini.
Semoga sabarku jadi mobil 9 unit, rumah 17 tingkat, dan kebun kurma 8 hektar. Katanya buah dari kesabaran itu manis. Dan aku akan memanen kurmanya jika sudah matang.
Bersambung...
#CUAP-CUAP_AUTHOR
Jangan lupa like, vote, dan tambahkan ke favorit ya.
Terima kasih untuk semua dukungan kalian para readers yang selalu setia pada TUAN TAJIR. Terima kasih kepada akun yang bernama adik vs abang, yang telah memberi tip 100 koin. Itu sangat bermanfaat dan senang sekali pokoknya ketika saya mendaat poin perdana😊
Duo absurd and somplak
yang visual cowoknya hampir mirip Eza Gionino artis indo ya. 🤭😂
jangan biarkan pelakor merusaknya. Kak Wind ntar hempaskan pelakornya ya.
ngakak aku
Ginjalku bergetar thor, saat Arshilla menggebrak meja itu. kaget cuuyy.. 😱🤣🤣🤣🤣🤣