'' Rani Marissa ''
Seorang gadis cantik, yang mandiri baik hati.
'' Leonardo Pratama ''
Pria tampan ,pewaris tunggal perusahaan Pratama . sekaligus pria yang menjadi kekasih Rani Marissa.
'' Disa Andini ''
Sahabat Rani yang menyukai Leon, sejak pertama kali bertemu. Ketika Leon diperkenalkan oleh Rani, sebagai kekasihnya. Tapi demi persahabatan mereka , dia menyimpan perasaan itu dalam htinyaa.
Ada sebuah kejadian yang menyebabkan Leon menikah dengan Dissa
Apa kejadian itu?
penasaran ?.
yuk!! bacaa😍😌
jangan lupa like, comen, vote nya yaahh
😍😘😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raquini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
Kedua insan yang telah berpisah sejak 17 tahun silam kini bertemu disebuah tempat, suasananya terbilang cukup nyaman untuk mereka, Leon dan Rani saling menatap untuk beberapa saat. Lalu dengan perlahan Leon mendekatkan bibirnya dan menempelkannya di bibir Rani dengan perlahan lalu mulai melu**tnya, Rani yang dicium terdiam dan seakan menikmati ciuman itu. Rani kelihatannya menikmati ciuman mereka yang semakin lama semakin bertambah panas, Leon memberhentikan aktivitasnya sebentar dan berbisik di telinga Rani.
" Maafin aku sayang..." lirihnya. "Aku janji gak akan nyakitin kamu lagi, aku akan buat kamu bahagia sama anak-anak kita. Maafin aku, maafin aku..." Rani menganggukan kepalanya terlihat juga cairan bening membasahi pipinya.
Leon lalu menggunakan bibirnya untuk membersihkan wajah Rani, Rani masih terdiam dan berusaha berdamai dengan hatinya untuk menerima Leon kembali.
Leon membaringkan tubuh Rani direrumputan hijau itu dan menindihnya dari atas, untung tidak ada orang jadi mereka berdua aman. Tangan Leon sudah berada di dalam baju Rani berusaha menggapai sesuatu di dalam sana lalu me****snya dengan lembut.
" Aahhhh...." Desahan Rani akhirnya lolos dari bibirnya saat tadi dia berusaha untuk tidak mengeluarkan suara.
Karena sudah tidak tahan Leon lalu bangun kembali dan menggendong Rani ke dalam mobilnya, lalu melanjutkan aksinya yang sempat tertunda.
Hampir setengah jam mereka melakukannya di dalam mobil, hingga akhirnya
" Le-oonnn.... ce-paattt....ce-paaa-ttt." Ucap Rani dengan suara tertahan
" Papaaaa......" teriakan Kayla menyadarkan Leon dari mimpi indahnya.
Leon yang kala itu tertidur di sofa langsung bangun karena mendengar teriakan putrinya, wajahnya dipenuhi dengan keringat dingin. Kayla tadi sudah membangunkan dengan pelan sambil menggoyang punggung ayahnya dia begitu khawatir karena ayahnya berkeringat, dan akhirnya Kayla menggunakan cara terakhirnya dengan berteriak.
" Apa sayanggg.... kenapa teriak-teriak ?" tanya Leon dengan napas terengah-engah
" Tadi Kayla udah bangunin papa tapi papa gak bangun bangun jadi Kayla teriak aja." ujarnya dengan memanyunkan bibirnya. " Papa kenapa keringat dingin, papa sakit?" tanyanya pada sang ayah
Leon yang baru sadar jika dirinya berkeringat langsung ingat akan mimpinya tadi.
" huuuuuhhhh...papa gakpapa sayang." Leon berdiri dari tempat tidurnya dan pergi ke kamar mandi
***
Victor memberhentikan mobilnya di depan sebuah rumah kecil yang sudah ditutupi dengan semak belukar, dia menurunkan kaca mobilnya dan melihat rumah itu.
Vicktor turun dari mobilnya dan berjalan mendekat ke arah rumah itu, dia melihat disekelilingnya yang seperti hutan lebat. Vicktor lalu mengambil pisau tajamnya di dalam bajunya di bagian belakang dan menebas semak-semak yang menghalangi jalannya. Tempat jemuran berupa kawat yang di pakai mereka dulu juga masih kelihatan disana, begitu juga dengan pohon mangga karena saat ini adalah musimnya jadi pohon itu berbuah dengan sangat banyak.
Vicktor mendekat dan memetik beberapa buah dan memakannya, rasa manis dari buah mangga karena matang di pohon langsung terasa saat sepotong mangga masuk ke dalam mulutnya. Dia lalu melanjutkannya dengan memakan beberapa buah lagi dan memasukan sebagian ke dalam mobil .
Kemudian Vicktor berjalan ke bagian belakang dan rencananya dia akan pergi ke sungai dan sesekali membersihkan belukar yang menutupi jalan.
Tampaklah sebuah sungai yang sedang mengalir dengan arus yang lumayan deras dan juga masih sangat jernih karena di dalam hutan dan jarang sekali orang pergi ke sana.
Vicktor yang saat itu sedang menggunakan kaos berwarna abu-abu dan celana jeans, menggulung ke atas celananya dan mencuci tangan serta membasuh mukanya. Dia melihat batu besar yang ada di depan sana, dulu jika dia dan Usman menemani Rani untuk mandi mereka akan berc***a disana lalu mandi bersama.
Napas yang dibuang secara kasar menandakan jika suasana hati seseorang sedang dalam kondisi tidak baik.
" Yaa Tuhan... ampunilah aku dari segala kebengisanku." ucapnya pelan
" Tuhan akan mendengar doa anda pak."
Sebuah tepukan di pundaknya membuat Vicktor menoleh dengan cepat, tangan kanannya bahkan sudah memegang gagang pisau yang sempat dia sisipkan kembali di tempatnya.
Vicktor berbalik dan mendapati 3 orang anaknya sedang berdiri di depannya. Apakah dia bermimpi? Vicktor menepuk wajahnya dan mengucek matanya siapa tau memang dia sedang berhalusinasi.
Hari ini Nandi, Nando dan Nindhy memutuskan untuk berpetualang di alam, mereka tentunya sudah meminta izin pada sang ibu. Tapi tujuan utamanya mereka bukan untuk berpetualang namun untuk mencari dan melihat rumah yang pernah menampung ibunya dan tempat terjadinya tindakan asusila
" Papaaa....." lirih Nando. Dia bahkan sudah tau jika itu ayahnya karena dari mereka bertiga hanya wajah Nando-lah yang mirip dengan salah satu preman yang tak lain ialah Vicktor.
Perkataan Nando membuat dua saudaranya menoleh dan akhirnya paham.
Bugggghhhh
Sebuah tinju di layangkan Nandi tepat di wajah ayahnya, padahal sebenarnya dia ingin memeluk ayahnya itu tapi mengingat perbuatan mereka pada sang ibu membuatnya mempunyai pertanyaan besar dalam hatinya. Apakah ayah mereka mempunyai hati atau tidak?
Vicktor terlihat meringis kecil dan berusaha bangkit karena pukulan Nandi di wajahnya membuatnya tersungkur namun dia tidak ada niat untuk memukul balik karena dia yakin jika sakit yang dia rasakan saat ini tidak sama dengan apa yang sudah di alami Rani.
" Papaaaaa..... huhuuuuuuu." Tangis Nindhy pecah, dia langsung memeluk ayahnya dengan erat. Perasaan yang sama waktu dia di dekap sang ayah beberapa hari lalu kembali di rasakannya.
Nandi yang nelihat Nindhy memeluk Vicktor pun akhirnya tidak bisa lagi menahan tangisnya hingga akhirnya tangisan pun terdengar dari mulutnya. Dahaga batiniah bagaikan sudah disiram hingga terasa sangat menyejukan.
Nando melihat dua saudaranya berpelukan dengan ayah mereka, menarik bibirnya hingga terlihat tersenyum tipis. Di satu sisi dia ingin menghajar semua ayah mereka namun disisi yang lain dia juga ingin merasakan pelukan dan dukungan seorang ayah.
Vicktor melihat Nando yang masih berdiam di tempatnya merentangkan tangannya. Nando yang melihat itupun langsung berjalan mendekat dan ikut memeluk saudara serta ayahnya itu. Mereka menangis bersama hingga akhirnya Vicktor mengajak anak-anaknya kembali ke mobilnya.
Nindhy tidal mau lepas dari sang ayah, meskipun umurnya sudah mulai dewasa tapi tindakannya sangat kekanak-kanakan, mengharuskan sang ayah untuk menggendongnya hingga ke mobil.
Entah apa yang membuat ketiganyalangsung dekat saat itu, yang pasti mereka mengobrol tentang banyak hal dan sesekali bercanda.
Matahari sudah mulai kembali ke tempat peraduannya, membuat Vicktor tersadar jika anak-anaknya masih bersamanya di tengah hutan. 'Apa kata Rani nanti? Pasti dia sangat cemas saat ini' Ucap Vicktor dalam hati
" Ayooo papa antar pulang kalian, hari sudah sangat sore. Papa minta maaf karena tidak menyadarinya." Sesal Vicktor
" Nindhy mau ikut sama papa aja." Rengek Nindhy, daritadi dia memang tidak bergeser sedikit pun karena merasa sangat nyaman di pelukan ayahnya
Nando dan Nandi menoleh ke arah Vicktor dan Nindhy
" Nanti yaa sayanggg, papa coba ngomong dulu samaa mama." Vicktor berusaha membujuk sang putri
" Nanti mama gak mau pah, Nindhy mau sama papa....huhuhuuuu..."
Air mata Nindhy kembali lolos, dia sangat nyaman jadi dia tidak akan melepaskan ayahnya begitu saja.
Nandi memijit pangkal hidungnya dan hendak memarahi Nindhy. Tapi Vicktor langsung meletakkan jari telunjuknya di bibir agar Nandi berdiam diri saja.
•\=•\=•\=•\=•\=•
Jangan Lupa Vote yaahh