Yang dia inginkan hanyalah kehidupan normal sama seperti yang lainnya, sesekali ia berdoa pada Tuhan untuk mengabulkan keinginan sederhananya namun masih juga di abaikan.
Sejenak ia berhenti bertanya pada mereka yang memburunya, ia selama ini lari dari tanggung jawab namun saat ia lelah ia berhenti berlari, berbalik kemudian menyambut mereka.
"Saya lelah jadi akhiri saja di sini"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ananda Dina oktafia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 34
"Hubungi keluarganya" ujar seseorang dari dalam ruang UGD yang samar-samar bisa Rio dengar, layaknya sebuah kaca tubuhnya benar-benar sudah hancur setelah mendengarkan kenyataan pahit itu, "Keluarga? siapa keluarga ku? dan apa itu keluarga sebenarnya?" keputus asaannya semakin menjadi-jadi tatkala dirinya harus bisa menerima kenyataan yang begitu pahit itu, tak ada harapan lagi bagi dirinya untuk menyelamatkan satu-satunya keluarga yang ia miliki saat ini, semuannya seperti akan hilang saja.
"Benarkah?" lirih seseorang dari sebuah ruangan yang berada tak jauh darinya, yang rupanya berhasil menarik perhatian Rio.
Samar-samar terlihat ada beberapa orang yang sepertinya adalah dokter di sini tengah berbincang-bincang sekilas di dalam ruangannya, jarak Rio dengan mereka lumayan jauh hingga membuatnya tidak bisa mendengar begitu jelas mengenai apa yang sebenarnya tengah mereka bicarakan.
"Hah sayang sekali" ujar seseorang menghela nafas panjang seakan-akan kecewa setelah mendengar apa yang mereka bicarakan, tidak bisa melihat wajah mereka karena tertutup oleh kaca buram di depan pintu rupanya tak membuat Rio menyerah, entah kenapa ia begitu penasaran dengan apa yang sedang mereka bicarakan, layaknya mata-mata ia berdiri tepat di depan pintu sembari mendengarkan.
"Tak ku sangka pemerintah mulai bertindak" gumamnya lagi.
"Tapi bukankah penelitian itu sudah lenyap saat kejadian itu? aku mendengarnya dari salah satu temanku dulu" ujar yang lain mengimbuhi.
"Penelitian?" gumam Rio masih mendengarkan.
"Tapi bukankah sudah jelas kalau di sini tertulis adanya kelinci percobaan yang melarikan diri dan hidup?" memperkecil suaranya, Rio semakin penasaran.
"Tapi tidak ada bukti kalau dia benar-benar masih hidup kan? dan kalau memang dia benar-benar hidup aku pasti akan segera menangkapnya, karena hanya dengan mendapatkan sedikit darahnya saja kita bisa hidup lebih lama lho" gumam yang lain menghela nafas seakan-akan kehilangan sesuatu yang amat berharga.
Mendengar sesuatu mengenai perpanjangan umur seseorang, rupanya membuat Rio memiliki sebuah harapan yang ada, "Kalau aku menemukannya apa itu berarti kakakku akan hidup lebih lama?" pikir Rio masih menguping pembicaraan mereka, hingga tiba-tiba saja dari dalam ruangan terdengar langkah kaki yang langsung membuat Rio kelabakan dan bergegas pergi.
"Kenapa?" tanya salah seorang rekannya dari dalam ruangan saat tiba-tiba saja temannya membuka pintu serta menengok ke segala arah seakan-akan tengah mencari sesuatu, "Hem tidak ada" sahutnya lalu kembali menutup pintu.
TES TES TES
Tiba-tiba saja tetes demi tetes air mata kembali mengucur dari pelupuk matanya, "Apa ini?" gumam Rio menyeka sesuatu yang tak lain adalah air matanya perlahan, "Ini sama sekali tidak menyakitkan seperti tadi" lirih Rio menggertakan gigi, "Apa ini berarti kakakku masih bisa hidup?" mengepalkan tangannya erat, "Syukurlah" menghela nafas panjang yang seketika membuat dirinya menjadi lega.
Dan semenjak saat itu Rio memutuskan untuk mencari kelinci percobaan yang mereka maksud, walaupun Rio sama sekali tidak tahu itu adalah berita hoax atau asli tapi jauh di dalam lubuk hatinya Rio masih saja berpikiran kalau suatu saat Rio pasti bisa menemukannya dan membuat kakaknya menjadi sembuh total.
"Apa terjadi sesuatu?" lirih seseorang yang tengah terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit, "Tidak ada" balas Rio tersenyum hangat, Glen yang sangat khawatir dengan adiknya itu mulai berkaca-kaca membuat Rio khawatir, "Ayolah jangan cengeng seperti anak kecil, kau pasti akan sembuh" ujar Rio menyemangati kakaknya yang sebenarnya sudah tahu kalau dirinya akan segera pergi jauh.
"Aku takut" pekik Glen dengan suaranya yang tersekat, "Kenapa? apa ada yang tidak nyaman?" tanya Rio mengecek tubuh Glen, "Rio" panggil Glen memegang lengan adiknya dengan lemah, "Apa?" memicingkan mata.
"Apa kau akan baik-baik saja kalau aku pergi?" layaknya sebuah palu yang di hantamkan pada dadanya Rio langsung sesak, nafasnya memburu tatkala Glen mengatakan hal yang sangat Rio benci, "Apa maksud mu?" menjaga jarak dari Glen.
Rio tahu betul apa yang dimaksud oleh Glen sebenarnya namun ia berpura-pura tidak tahu, "Bukankah tadi dokter sudah bilang kalau-" kata-kata Glen terhenti seketika saat melihat Rio yang memasang senyuman hangat diwajahnya, "Apa kau baik-baik saja?" sambung Glen memperkecil suaranya.
"Apanya yang baik-baik saja sialan, apa kau pikir bisa pergi dengan mudah heh? jangan harap" Kata Rio dalam hati.
"Menurut mu?" balas Rio tersenyum, selama ini Glen tidak pernah melihat adiknya itu tersenyum, semenjak kematian orang tua mereka hanya ada kesedihan serta perasaan terpukul yang Rio tunjukkan padanya namun kali ini Rio malah menunjukan sebuah senyuman yang mana membuatnya sesak, "Hah, jadi begitu" mulai meneteskan air mata.
Glen adalah satu-satunya keluarga asli yang Rio miliki saat ini mendengarnya mengatakan hal itu tentu saja membuat Rio frustasi, "Tak apa" kata Glen ikut tersenyum dengan perasaan sesak di hatinya.
"Bertahanlah sebentar lagi, dan aku akan membuatmu berada di sisiku untuk waktu yang lama, kakak" Batin Rio menghela nafas.