Di usia dua puluh lima tahun, Gurkha pergi meninggalkan keluarganya dan habitatnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PULANG KE HABITATNYA
Gurkha tidak mau memaksa Devi, ia hanya menatap wanitanya dengan senyum bulan sabit. Kemudian ia turun dari ranjang menuju kamar mandi. Devi juga turun dari ranjang untuk mengambil pakaian. Disini pakaiannya sudah lengkap, jadi dia tidak perlu khawatir.
"Sayank...mandi bareng yuk." teriak Gurkha membuka pintu kamar mandi. Wajahnya nongol sedikit.
"Tidak mau!" sahut Devi menunduk. Wajahnya bersemu merah melihat Gurkha sepintas cuma memakai handuk. Ia tetap tidak mau walaupun Gurkha memaksanya.
"Bukankah tadi kau ingin mandi, lebih baik mandi bareng untuk menghemat waktu." ajak Gurkha.
"Tidak mau, jika akhirnya kau akan memaksaku lagi." protes Devi.
"Tidak akan sayank, kecuali kau yang memintanya, ayo donk." Gurkha keluar dari kamar mandi menarik tangan Devi.
"Kamu janji tidak akan mengganggu dan membiarkan aku mandi dengan aman."
"Ini momen terakhir, aku tidak mau meninggalkan kesan buruk dihatimu. Bila perlu aku ingin supaya kamu selalu merindukan kejahatanku di balik cintaku yang menggoda."
"Najis!! aku tidak mau mengingatmu, lebih baik mencari yang baru."
"Langkahi dulu mayatku, kalau ingin merebut istriku."
"Tidak ada yang merebut, siapa berani dengan Gurkha Gamayo yang doyan wanita."
"Cihh..wanitaku hanya ada satu, yaitu Devi Laxsmi Dewi."
"Yach, semoga kau selamat di medan perang, aku tidak mengerti siapa yang kau lawan, perasaan negara kita aman-aman saja, tidak pernah berperang, walaupun latihan perang terus diadakan."
"Trimakasih doamu." kata Gurkha.
"Tapi untuk mandi berdua aku tidak mau." kata Devi nyengir.
"Suwer...aku tidak mengganggumu." sahut Gurkha menyeret tangan Devi.
Tapi Devi berusaha menahan kakinya agar Gurkha berhenti menyeretnya masuk ke dalam kamar mandi.
Sulitlah melawan Gurkha yang bertubuh tinggi tegap dan tampan. Dengan enteng Devi di gendong oleh pria itu tanpa basa basi. Dengan dada berdebar dan lutut seperti jeli, Devi terpaksa terpengaruh oleh gelembung cinta yang ditiupkan oleh Gurkha.
Air shower membasahi badan Devi yang sengaja berdiri membelakangi Gurkha.
"Yank...aku melamarmu dibawah air shower, berbaliklah."
"Moduss..aku sudah selesai mandi, lamaranmu aku tolak mentah- mentah."
"Apa yang kau inginkan dariku? apapun yang kau minta aku akan kasi, walaupun jiwa ragaku. Aku akan memberikan apa yang kau inginkan." ujar Gurkha tanpa melepas tatapan matanya ke tubuh sexy Devi. Sorot matanya genit dengan ekspresi wajah yang penuh hasrat.
"Tidak ada yang menarik darimu, aku semua punya. Satu saja aku belum punya yaitu cinta." pekik Devi.
Gurkha memeluk Devi dari belakang, daripada banyak cingcong, lebih baik bertindak. pikir Gurkha. Tidak ada penolakan yang berarti dari wanita itu, tubuh Naganya membelit serta mengunci, bergerakpun sulit. Menit demi menit Gurkha lalui dengan bermain basah-basahan bersama Devi, membuat Gurkha menjadi semakin gila. Ia tidak bisa bertahan dan pura-pura tak melihat keindahan tubuh yang berada dihadapannya malam ini.
Sementara di posisi, Devi, tubuh nya tampak semakin gemetaran, kakinya seperti jeli. Ia sudah berusaha untuk bertahan pada dinding agar tetap berdiri tegak, hanya demi memenuhi keinginan sang gladiator. Wanita itu semakin hanyut dan terbuai dalam sentuhan mesra Gurkha yang sudah berusaha memperlakukannya lemah lembut dan santun.
Tidak ingin kehilangan momen yang sangat berharga tersebut, Gurkha melancarkan aksinya, berusaha perbuatannya ini menjadi moment yang ia percayai akan membuat Devi tidak akan pernah melupakan malam ini sampai kapanpun.
"Kau berhasil membuatku melayang ke langit, terbuai indah. Aku seolah terbang tanpa sayap." bisik Gurkha dengan nafas memburu, ia kembali mengunci mulut wanitanya dengan bibirnya. Terakhir ia mulai akselerasi dalam permainan laknatnya. Suara air shower seperti tak berarti ketika
******* keduanya bersahutan. Posisi baru dengan rasa yang baru. Semua ini dapat membuat keduanya berada di puncak kenikmatan dalam permainan yang mendebarkan.
Malam ini di pergunakan oleh Gurkha dengan maksimal, sengaja membuat wanitanya lelah dan tertidur. Dengan sedih ia turun dari ranjang menuju kamar mandi.
Semua kartu ATM beserta PIN sudah tercatat rapi dan ia taruh di atas meja Kemudian ia menutupi tubuh wanita itu dengan selimut. Air mata buaya nya tumpah tanpa bisa di tahan. Ia begitu sedih akan meninggalkan kekasih hatinya.
Dadanya seperti di robek, jantungnya seolah tercabut dari pokoknya. Gurka mencium kening wanitanya dengan penuh perasaan. Ia berharap bisa kembali, tapi jika ia gugur di medan perang, ia berdoa supaya Devi dapat lelaki yang baik dan setia.
Pukul satu dini hari, sudah lebih dari kata larut dan itu artinya Gurkha harus mengundurkan diri dari Villa dan dari hadapan wanitanya. Ia berharap besok lusa, bisa berjumpa kembali dalam suasana yang lebih romantis.
Ia berdiri menatap seluruh bangunan itu yang terlihat seperti gundukan bukit kecil dalam bayangan sinar bulan purnama.
"Kau harus iklas meninggalkannya, jika kau terus bersedih inergimu akan terkuras, bahaya bagi dirimu. Aku akan menemanimu, sebagai penyemangat." kata Arima berusaha membuat Gurkha lepas dari rasa sedih yang menyelimuti hatinya.
"Hiks.. hiks...aku sangat berat untuk melangkah, aku sangat mencintainya dan memujanya. Aku takut sesuatu hal buruk terjadi padanya." sahut Gurkha menangis.
Ada rasa cemburu yang bergelora dalam hati Arima, tapi untuk saat ini rasa itu ia coba enyahkan demi rasa tanggung jawab terhadap Gurkha sebagai panglima perang.
"Gurkha saatnya untuk pergi, jangan menunda lagi, walaupun sedetikpun." Arima memberi peringatan.
Gurkha menghapus air matanya dan mulai transformasi secara harfiah menjadi Naga, kemudian ia memekik terbang ke awan. Kembali air mata bergulir, beberapa kali ia berputar tinggi di atas Villanya, berharap wanitanya keluar serta melambaikan tangan mencegah kepergiannya, tapi harapan tinggal harapan.
Gurkha terbang di awan di ikuti oleh Arima yang sangat setia menemani kemanapun pujaan hatiñya melayang ia mencoba melupakan dunianya dan kembali ke habitatnya. Ia harus cepat sampai di Bukit Tunder tempat Trah Naga Api bersemayam, sebelum Matahari terbit.
Gurkha tidak ingin di pergoki oleh bangsa manusia yang usil ingin menembaknya atau usil mengambil gambarnya untuk di pertontonkan di Instagram atau Facebook. Ia berpacu dengan waktu, sayapnya mengepak melintasi Samudra dan deretan Bukit tandus. Setelah Matahari menyinari Bukit Tunder akhirnya sampai juga mereka berdua di Bukit Tunder.
Suara pekikan yang sangat nyaring bergema membuat Bukit Tunder bergoyang, bebatuan jatuh akibat getaran yang hebat. Para Naga Api bersorak menyambut Pangeran mereka. Gurkha melayang beberapa kali di udara, kemudian menukik turun ke Bumi, begitu juga Arima, ia mengikuti Gurkha turun dan menginjakkan kakinya di sebuah tonjolan batu yang biasa dipakai sebagai tempat pijakan Naga.
"Selamat datang pangeran kami, semoga tidak ada halangan di jalan yang bisa membuat hati pangeran bersedih. Kami menyambutmu dengan sangat gembira, kami mempersilahkan teman wanitamu mengenal kami satu persatu."
"Salam sejahtra semuanya, maaf aku baru bisa datang karena sibuk menyelesaikan tugas. Bagaimana khabar Ketua dan Ayah serta para Goreon semua, semoga kalian dalam keadaan baik-baik saja." suara Gurkha menggelegar, membuat nyali para Naga Goreon ciut nyalinya. Sayapnya yang tebal dan hitam berkilau diterpa sinar Matahari pagi. Tapak kakinya membuat tanah bergoyang.
"Ini adalah putri tunggal dari Caligula Naga Emas yang bersemayam di Gunung Tidar. Aku sempat di ajak sowan kesana untuk memperlihatkan sejurus ilmu Semburan api." jelas Gurkha kepada yang hadir.
"Kenalkan namaku Arima putri tunggal Caligula, jodoh dari pangeran Gurkha Gamayo." kata Arima dengan pongah.
Semua Naga yang hadir agak kaget juga mendengar perkataan Arima, setahu Goreon, Gurkha punya wanita dari turunan ningrat dari Pulau Nusa Dewata.
"Arima jaga adabmu, kami adalah bangsa Naga yang paling tinggi kasta dan derajatnya. Turunan kami sudah banyak berbaur di lingkungan bangsa manusia, walaupun otaknya masih setengah binatang, hanya pangeran Gurkha yang bisa seperti manusia seutuhnya dan badannya tidak bersisik. Jadi tolong bicara tidak ngelantur..." teguran pedas di lempar oleh Kakek Ketua. Sekali melirik ia sudah tahu bahwa Arima tidak sesuai derajatnya dan cucunya hanya boleh mencari wanita ningrat dari bangsa manusia.
*****
penasaran sama lanjutannya
KARYA NYA BAGUS SAYA SUKA😍👌👌👌
SEMOGA MAKIN SUKSES KARYA NYA
GOOD JOB👍👍👍
aku merasa blm puas thooooor ceritanya gantung bgm si gukha
ktnya mau menikahi Devi
terus Devi kerja apa dan pd akhirnya mereka bs bersatu apa gk