Demi menyelamatkan perusahaan sang papa yang hendak dikuasai oleh pamannya yang tamak, Menta terpaksa menyetujui perjodohannya dengan Raf seorang tuan muda pewaris tahta kerajaan bisnis yang sudah menjadi rekanan sang papa. Pernikahan yang dipaksakan tersebut sesungguhnya membuat Menta sangat tertekan, sikap dingin Raf ditambah kisah cinta pria itu dengan seorang model cantik pun membuat hubungan keduanya semakin seperti orang asing. Mungkinkah Menta dan Raf bisa bersatu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosi Lombe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Panggilan Sayang?
"Kau dijemput kak Raf lagi?" tanya Runi setelah mereka selesai ujian.
"He em" angguknya sebagai jawaban.
"Apa artinya kalian akan bersama selamanya?" Runi sangat kepo.
"Tidak, bukan begitu, kami hanya sudah saling berjanji untuk bisa hidup dengan damai satu sama lain meskipun tidak saling mencintai, setidaknya sampai nanti kami bercerai" meskipun sesungguhnya Menta juga sangat menginginkan kebersamaan mereka untuk selamanya, namun ia tidak berani berharap banyak. Baginya bisa berdamai dan hidup rukun dengan Raf seperti sekarang saja sudah cukup membuatnya bahagia.
"Sayang" Raf memanggil Menta dan melambaikan tangannya.
"Kak Raf" baik Menta maupun Runi berkata serentak.
"Hai Runi" Raf menyapa gadis berpenampilan polos dengan kaca mata tebal dan kawat gigi itu dengan ramah.
"Hai kak" Runi membalasnya.
"Bagaimana ujian kalian?" tanya pria tampan itu sambil mengelus kepala Menta.
"Lumayan" keduanya serentak.
"Oke, karena kalian sudah selesai ujian, bagaimana kalau aku traktir kalian berdua makan siang?" Raf juga berniat mentraktir sahabat sang istri.
"Wah benarkah?" Menta terlonjak kegirangan.
"Tentu saja" jawab Raf.
"Terima kasih kak, tapi maaf aku sepertinya mau pulang saja, aku ngantuk karena semalam begadang" Runi menjawab dengan berbohong, ia sesungguhnya tidak ingin mengganggu Menta dan Raf agar keduanya bisa punya lebih banyak waktu untuk saling mengenal dan pendekatan.
"Yahhh Runi" Menta kecewa.
"Maaf ya, aku janji deh lain kali akan ikut dengan kalian" Runi meminta maaf.
"Tidak masalah, nanti lain kali aku traktir kalian lagi" Raf setuju.
"Nah kan kak Raf saja sudah mau mentraktir lain kali, jadi sekarang aku pulang dulu ya, have fun ya kalian berdua" Runi kemudian berjalan menuju mobilnya.
"Ayo sayang" Raf menggandeng tangan Menta menuju mobilnya.
"Iya ayo" gadis itu menurut.
"Kau mau makan apa sayang?" tatapnya kepada sang istri.
"Apa saja boleh yang penting sehat" Menta memang lebih suka makanan sehat.
"Oke" kemudian Raf melajukan mobilnya ke arah restoran yang memiliki menu sehat.
"Kak, kenapa sekarang jadi panggil aku dengan kata 'sayang' sih? aneh tau!" Menta sangat penasaran, karena beberapa kali Raf selalu memanggilnya dengan sebutan itu.
"Memangnya kenapa? bukannya wajar kalau seorang suami memanggil istrinya seperti itu?" Raf berpura-pura polos.
"Ya tapi kan kita bukan suami-istri sungguhan!" Menta realistis.
"Tapi kan orang lain menganggap kita pasangan sungguhan, jadi supaya terlihat alami kita juga harus berusaha layaknya suami-istri pada umumnya!" pria tampan itu menjelaskan alasannya.
"Tapi kalau lagi berdua gini kan tidak perlu akting segala!" bagi Menta akting di depan orang lain mungkin bisa jadi alasan, tapi jika mereka hanya berdua saja sepertinya sangat aneh.
"Tentu saja perlu, kan bisa buat latihan juga, jadi saat di depan orang lain kita sudah tidak kaku dan terlihat biasa saja!" Raf tetap berkilah dan berusaha meyakinkan.
"Heemmmm begitu ya?" namun Menta masih belum yakin.
"Tentu saja!" angguk Raf supaya Menta lebih yakin.
"Baiklah, terserah kakak sajalah!" yang diyakinkan hanya manggut-manggut.
..........
"Makannya pelan-pelan saja, tidak ada yang minta kok" Raf berkata saat melihat sang istri makan dengan lahap.
"Aku sangat lapar kak, soal matematika tadi membuat aku kehilangan banyak tenaga" berbicara dengan mulut yang masih penuh.
"Apa kau bisa menjawab semuanya?" Raf memicingkan mata untuk memastikan jawaban sang istri.
"Sepertinya sih bisa, mungkin paling banyak hanya lima soal yang salah jawab" meskipun tidak sepandai Raf dalam soal matematika, namun Menta juga tergolong siswa cerdas yang selalu mendapatkan nilai nyaris sempurna setiap kali ujian.
"Good girl" Raf mengacak-acak rambutnya.
"Kaakkkkk, berantakan!" Menta protes dengan mimik wajah yang lucu, membuat sang suami tergelak saking gemasnya.
"Habis makan kita nonton yuk?" tiba-tiba Raf mengajak Menta.
"Loh memangnya kakak tidak kembali ke kantor?" ia terkejut mendengar ajakan sang suami.
"Aku sudah minta ijin sama ayah untuk pulang lebih awal karena mau menjemputmu sekaligus mengajak kau jalan sebagai reward kerja kerasmu selama ujian sekolah ini" jawab Raf sambil membersihkan pinggiran bibir Menta yang ada sisa sausnya.
"Ohhh" gadis itu pun hanya ber oh ria saja.
..........
"Kenapa genrenya mesti horor sih kak? kenapa tidak komedi saja?" Menta protes saat Raf memilih filmnya.
"Ini juga ada komendinya kok" Raf meyakinkan sang istri.
"Tapi tetap saja ada horornya, aku kan takut!" gerutunya.
"Kalau kau takut, nanti tinggal peluk aku saja seperti biasanya" senyum jahil mengembang di wajah Raf.
"Ishhh males banget, kalau tidak terpaksa sih aku ogah!" Menta mencebikkan bibirnya.
"Benarkah? tapi yang sudah-sudah setiap malam kan kau baru bisa tenang kalau sudah memeluk aku!" pria itu menggoda istrinya.
"Tau ah!" karena yang dikatakan Raf adalah sebuah fakta, Menta pun jadi merasa malu.
"Hey mau kemana?" Raf sangat puas menggoda sang istri sampai wajahnya jadi merah merona.
..........
"Aaaaaaa takutttt" Menta langsung bersembunyi di balik tubuh suaminya saat wanita berwajah buruk rupa muncul di layar besar dengan latar suara yang menggelegar.
"Kakk itu hantunya seram sekali" katanya lagi masih dengan merangkul erat lengan suaminya.
"Itukan hanya bohongan sayang!" Raf tergelak melihat sang istri yang ketakutan.
"Tetap saja menakutkan!" jawabnya masih dengan mengintip penasaran.
"Kau itu lucu sekali sih kalau sedang takut begini hemmm!" Raf benar-benar menikmati ekspresi lucu yang muncul di wajah sang istri saat ketakutan.
"Kakkkkk!" yang ditertawakan protes. Sepanjang film diputar, Menta terus saja bersembunyi dibalik tubuh suaminya sambil metangkul lengan kokohnya.
"Huffff akhirnya selesai juga filmnya, jantungku sudah hampir merosot ke jempol kaki tau!" Menta mengelus-elus dadanya saat film yang ditontonnya sudah habis.
"Benarkah? coba mana aku lihat?" Raf pura-pura ingin memegang dada Menta.
"Kakk kau mesum ih!" gadis itu menepuk tangan suaminya, membuat yang ditepuk tergelak.
"Ayo kita pulang" kemudian Raf menggandeng tangan sang istri menuju parkiran mobil.
"Ayo" Menta pun mengikutinya.
Suasana cair sudah semakin terasa diantara keduanya. Obrolan santai seputar hobi dan kegiatan sehari-hari pun terjadi di sepanjang mereka pulang menuju kediaman Mike Anderson.
biar ray kelimpahan sendiri...
Aku suka sama mehta yg tegas dan engga menye menye /Kiss/