RCR S1 ~ Bercerita dimana seorang gadis SMA berkepribadian ceria, humoris dan juga ceroboh yang sering mengalami mimpi yang sangat aneh. Yaitu, menjadi seorang Putri Kerajaan Eropa Abad Pertengahan dengan gaun mewah serta permata indah yang terbalut di tubuhnya. Tidak hanya sampai disitu, terdapat seorang lelaki bernama Ken yang tidak lain adalah teman sekelasnya yang memiliki paras sangat serupa dengan Pangeran yang ada dalam mimpinya. Mengapa hal itu bisa terjadi? Apakah ada rahasia di balik itu semua?
RCR S2 ~ Bercerita dimana terbukanya rahasia kepingan puzzle dalam mimpi yang selama ini dialami oleh Ruby. Gadis itu secara ajaib terlempar di kehidupan masa lalunya. Yaitu, Kerajaan Eropa Abad Pertengahan. Disinilah ia harus terjebak dalam dunia kerajaan yang sesungguhnya. Dunia yang penuh dengan rahasia, intrik, dan pengkhianatan. Hingga akhirnya, kepingan puzzle itu akan terbuka seutuhnya. Gadis itu menemukan Reinkarnasi Cintanya. Reinkarnasi Cinta Ruby.
RCR S3 ~ Kembalinya Ruby di kehidupan asalnya. Namun, takdir baru telah siap menyambutnya. Sebuah dunia dimana ia merasa betapa dangkalnya ilmu manusia dan betapa hebatnya kuasa Tuhan. Sebuah profesi yang membuat gadis itu lebih menghargai setiap detak jantung karena ia bisa berhenti tiba-tiba, kapan saja. Profesi yang menuntut pengorbanan besar, demi menyelamatkan nyawa manusia.
(First novel yang acakadulnya akan dibuat sebagai kenang-kenangan 😂)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diar Rochma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
It's Time to Change (3)
Aku terus berjalan melewati tatapan murid-murid di dalam kelas yang masih terus menatapku. Pandangan kedua mata mereka seakan tak mampu berkedip sedikit pun. Seolah kornea mereka sedang menyensor dari ujung kepala hingga kakiku. Entah apa yang sedang mereka pikirkan saat ini, yang jelas perjalananku menuju bangku terasa sangatlah jauh, tatapan tajam mereka seolah membuat langkahku terasa semakin berat.
Akhirnya aku pun kini sudah berdiri di samping tempat dudukku. Disisi lain kulihat Nina, Anggita, dan Sabina yang masih terbengong saat menatapku. Aku pun mencoba bersikap tenang dan mulai meletakkan tas ranselku di tempat duduk yang biasanya kududuki. Namun saat aku mulai duduk, semua mata yang melihatku seakan lebih terkejut dari sebelumnya.
"Ah maaf, tempat ini sudah ada orangnya," ucap Nina menunjuk kursi yang tengah kududuki.
"Iya, itu bukan bangku kosong, biasanya kalau ada murid baru sih lapor ke ruang guru dulu," sahut Anggita.
Seketika aku pun tertegun, ternyata mereka dari tadi menganggapku sebagai orang lain. Apakah sampai sebegitunya pengaruh make up dari penyamaranku sebelumnya? Apakah ini yang dinamakan The Power of Make Up?
"Hahahaha, apaan sih kalian? Aku Ruby kali," jawabku dengan tertawa renyah seperti kerupuk.
"Haaaaaaah? Ruby?" ucap Nina dan Anggita serempak karena terkejut.
"Ru ... Ruby temen kita?" timpa mereka lagi.
"Iya, duh kalian kayak lihat apa'an aja sih, jangan lebay deh!" ucapku seraya menyiapkan bolpoin dan tipe-x untuk ujian yang akan dimulai sebentar lagi.
"Beneran kamu Ruby? Kok bisa sih? Kamu habis operasi plastik ya? Tapi kok cepet amat jadinya? Padahal kemarin wajahmu masih nggak gini lho!" cerca Anggita seakan tak percaya.
"Ceritanya panjang," jawabku.
"Nggak papa cerita aja walaupun panjang, kami mau denger kok," paksa Anggita karena sangat penasaran.
"Iya Ruby cepetan cerita," sahut Nina yang tak kalah penasaran.
Belum sempat aku menceritakan semuanya kepada Nina dan Anggita, namun sayangnya Bu Enny sudah terburu masuk ke dalam kelas dengan membawa setumpuk kertas ujian dalam rengkuhan tangannya untuk dibagikan. Kami pun kembali duduk di tempat kami masing-masing dan bersiap memulai ujian hari ini. Aku fokus mengisi lembaran kertas ujuan yang ada di depanku. Kulupakan sejenak apa yang baru saja terjadi, apa yang terjadi hari ini. Baru beberapa jam aku tiba di sekolah, namun rasanya sudah seperti satu minggu lamanya. Terasa lebih lama dari biasanya.
Sebenarnya aku juga sudah sedikit menduga reaksi apa yang akan terjadi ketika aku melepaskan penyamaranku seperti ini, namun aku tidak menyangka akan seperti ini dalam artian lebih dari yang aku bayangkan. Disisi lain, hanya ada satu orang yang tidak terkejut sama sekali ketika melihatku. Yah, hanya satu orang, dia masih tetap sama dengan sikapnya yang dingin dan cuek seperti biasanya. Siapa lagi kalau bukan Ken? Seseorang yang sudah mengetahui wajah asliku tanpa penyamaran sejak awal. Bahkan saat dia mengetahui sebelumnya pun, dia tetap bersikap biasa saja seolah tidak ada yang berubah dariku. Apakah karena dia terlewat cuek dan tidak peduli? Entahlah.
Hari ini kami akhirnya telah menyelesaikan ujian akhir semester dengan tidak ada masalah yang berarti. Kini hanya tinggal menunggu hasil yang keluar dari apa yang terukir dalam kertas jawaban milik kami masing-masing. Aku sungguh tidak sabar untuk segera mengetahui hasil yang keluar dari belajarku selama ini, akankah aku mendapat peringkat lagi sama seperti di sekolah lamaku dulu? Ataukah menurun drastis saat disini.
Di Kantin Setelah UAS Berakhir
Seperti biasanya, kami selalu duduk dan menyantap makanan yang ada di atas meja saat jam istirahat. Urusan perut adalah number one alias nomor satu. Selain itu, selalu ada cerita saat jam istirahat di sekolah seperti sekarang ini. Seperti canda, gurau, curhatan, gosip, bahkan pertengkaran yang menambah warna warni persahabatan diantara kita.
Berbagi makanan, berbagi contekan, dan berbagi kekonyolan, seakan menjadi rutinitas dan kenangan indah yang kita lewati bersama. Apakah benar jika masa yang paling berharga dan tak pernah terlupakan adalah masa-masa di SMA? Entahlah. Yang jelas aku ingin melewatinya bersama mereka, sahabat ataupun seseorang yang benar-benar menyayangiku dengan setulus hati.
"Hei Ruby, kamu belum cerita lho sama kita, kenapa kamu bisa tiba-tiba berubah gini sih?" tagih Anggita.
"Iya, bener tuh ayo cerita!" sahut Sabina sambil melihatku dengan seksama dengan menyantap kuah bakso yang ada di depannya.
"Hmm jadi gini ...,"
Mereka menatapku dalam-dalam, mereka sangat bersunguh-sungguh menunggu kelanjutan dari ceritaku.
"Jadi ... aku cuman iseng aja sih, aslinya ya emang gini wajahku, hahahahaha." Aku melanjutkan cerita sambil terkekeh melihat ekspresi Anggita, Nina, dan Sabina yang sangat bersungguh-sungguh mendengarkan ceritaku.
"Ish ... ish ... kurang kerjaan banget sih kamu Ruby iseng-iseng gitu," gerutu Sabina.
"Tau tuh! Punya wajah cantik gini ngapain diumpet-umpetin coba," sahut Anggita.
"Iya, tapi lihat deh Ruby beneran cantik yah, kulit aslinya putih bersih, kemarin kamu pake abu gosok ya bisa keliatan kucel gitu? Wajahmu juga nggak ada bintik-bintiknya lagi, kamu hapus pake apa? Ternyata gaya rambut juga berpengaruh banget ya? Terus matamu juga indah banget, kemarin ketutupan kaca mata tebel ya?" cerca Anggita seakan mengintrogasiku.
"Hehe maaf ya aku nggak bilang sama kalian dari awal," ucapku yang sedikit merasa bersalah.
"Hmm Ruby gimana ya caranya biar aku bisa cantik kayak kamu gitu! Kan aku juga pingin hiks," gumam Anggita dengan wajah ditekuk.
"Duh kamu juga cantik kok Nggit, semua wanita itu cantik kali, tinggal mata siapa yang melihatnya, kalau mata yang melihat adalah orang yang benar-benar tulus sama kita, wajah tuh nggak penting lagi," ucapku sok bijak dengan alasan klise berusaha menenangkan Anggita.
"Masak sih? Kamu merendah ya? Jangan-jangan kamu merendah untuk meroket?" sahut Anggita dengan cemberut.
"Hahahaha apa'an sih Nggit, ya nggaklah, ngawur aja kamu tuh." ucapku.
"Oh ya kalian udah belanja persiapan buat liburan ke Bali besok belum?" tanyaku kembali.
"Udah dong, aku kemarin udah belanja di supermarket sama Rio, hmmm aku nggak sabar banget deh bisa foto-foto di pantai, gendong-gendongan sama Rio, nanti kalian tolong fotoin aku yah heheheh," gumam Sabina sambil cengar-cengir sendiri dan membayangkannya.
Sementara nasib kami bertiga sebagai para jomblo hanya bisa bergeming, dan memasang wajah datar melihat Sabina yang sudah membayangkan teramat jauh. Apalagi kami jadi ikut membayangkan saat dimana dia meminta foto ketika bergendongan ria bersama Rio sedangkan salah satu diantara kita akan memegang kamera dan memotret setiap momen romantis mereka dengan mirisnya. Sungguh tega. Semoga saja bukan aku si pembawa kamera sial itu.
Tiba-tiba saat tengah asyik mengobrol bersama, nampak segerombolan murid-murid tengah berlarian. Mereka berlari menuju ke papan pengumuman. Mereka saling berebut untuk melihat sesuatu yang terpasang di papan pengumuman itu. Ternyata ada sesuatu yang baru saja ditempelkan di papan, dan itu adalah hasil dari Ujian Akhir Semester yang sudah keluar. Kami pun bersama membangkitkan diri dan ikut berlari menuju papan pengumuman.
Kami ikut berdesak-desakan agar dapat melihat nilai ujian yang ada di papan pengumuman. Aku ingin melihat apakah diantara kami semua lulus ataukah ada yang harus mengulang. Semoga saja tidak. Aku mulai melihat urutan peringkat dari yang tertinggi ke urutan paling rendah, dan yang menjadi urutan pertama adalah siapa lagi kalau bukan si genius di kelas kita, Ken. Aku sudah tidak kaget, justru akan sangat aneh jika bukan dia yang ada di peringkat pertama. Pandanganku pun turun ke peringkat di bawahnya, dan ternyata yang ada di peringkat nomer dua adalah aku.
Lega rasanya, jerih payahku untuk belajar tidak sia-sia, apalagi mengingat harus belajar di rumah Ken, demi ujian Matematika. Namun untungnya Timus yang mengajari kami, bukan Ken. Bisa-bisa mati menggigil kalau dia yang mengajari kami. Aku lanjut memfokuskan pandanganku pada peringatan nilai yang ada di depanku. Aku mulai mencari nama dari teman-temanku yang lainnya untuk melihat hasil ujian mereka.
Setelah aku melihatnya, ada berita baik dan berita buruk yang kuperoleh. Berita baiknya adalah Nina dan Anggita lulus ujian, namun berita buruknya adalah Sabina tidak lulus dan harus mengulang. Sungguh sangat disayangkan, namun bagaimana lagi, sepertinya dia tidak belajar dan masih sibuk telpon-telponan dengan Rio di malam hari. Nampaknya kali ini Sabina tidak dapat ikut liburan bersama ke Bali seperti yang sudah di katakan mamanya sebelumnya jika tidak lulus ujian.
"Hah apa? Aku nggak lulus? Kok bisa? Salah deh ini kayaknya! Aku nggak bisa ikut liburan ke Bali dong huaaaaa ... huaaaaa ...," rengek Sabina seperti bayi yang sedang menangis mencari botol susu.
Semua matapun sontak melihat ke arah kami dan menatap Sabina yang sedang merengek dan menghentak-hentakkan kakinya seperti anak kecil. Kami pun sampai malu sendiri dibuatnya. Karena kami adalah teman yang baik, akhirnya kami memutuskan untuk berpura-pura tidak mengenal Sabina dan dengan cepat meninggalkannya yang sedang membuat malu di tengah kerumunan. Hehe.
***
.
.
.
.
.
.
Mohon dukungan untuk Author dengan klik Like, favorit, komen, dan vote ya :)...
cinta yg sangat menyentuh hati
tetap semangat berkarya
TRUE BEAUTY
lah klo pantasi itu nama MC di sebut tanpa ada kata AKU ,