NovelToon NovelToon
Cinta Di Ujung Senapan

Cinta Di Ujung Senapan

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan Tentara / Beda Usia / Nikahmuda / Office Romance / Romansa / Cintapertama
Popularitas:215.6k
Nilai: 4.8
Nama Author: Mitta pinnochio

Seorang abdi negara yang berusia matang, di pertemukan dengan gadis muda yang tingkahnya mirip petasan.

~

"Okee, kalau gitu kita fix tidak ada apa-apa yaa?"

"Iya, saya fix benar-benar pacar kamu!" jelasnya lagi sambil menirukan gaya bicara gadis di depannya.

"Apa?"

"Ihh, Bapak jangan ngawur yaa!"

"Saya tidak ngawur, sudah kamu sebaiknya cepat istirahat."

"Tidak mau! Saya mau Pak Braja tarik kata-kata barusan."

"Pantang bagi saya menarik ucapan yang sudah saya katakan."

"Uhhh! Ranti over kesal, ia mendelik sambil memukul-mukul dada bidang pria tersebut. "Kalau begitu rasakan bagaimana punya pacar yang rewel dan juga merepotkan, satu lagi jangan sampai siapapun tau perihal ini, kalau tidak saya sunatt ulang burung bapak," ancamnya dengan raut ketus yang sayangnya nampak berkebalikan dan begitu konyol.

Mendengus geli, Braja mengangguk mengiyakan ucapan gadisnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mitta pinnochio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tugas pertama

Lain kemarin, lain hari ini. Kalau kemarin Ranti berangkat dengan perasaan gugup dan juga tegang, tidak dengan hari ini. Dirinya kini sudah mulai rileks, santai dan juga percaya diri. Entah kemana perasaan gugup itu menguap pergi? Yang jelas hari ini moodnya sedang bagus.

Berangkat tepat waktu tanpa ada drama telat atau segala macam. Ranti kini telah dalam perjalanan menuju markas pusat bersama Braja. Duduk dengan tenang di kursi depan dengan kaki tertekuk. Sedikit rasa nyeri ia rasakan di area lututnya gara-gara kejadian semalam.

Lagi dan lagi, karena dirinya yang terlalu pecicilann dan tidak bisa diam. Insiden terjatuh itu terulang lagi, meskipun tidak dari atas pohon dan hanya sebatas kursi, kendati begitu luka yang di sebabkan nyatanya terasa mengganggu. Lututnya sampai lecet dan tak mulus lagi.

Apalagi kalau ingat semalam Pak Braja yang menolongnya untuk kesekian, Ranti sampai meringis malu hingga tak berani menangis.

Ingat saja lelaki itu mengangkatnya dan mendudukkannya di teras belakang. Ia juga mengambil anti septik beserta obat merah untuk mengobatinya. Tak banyak bicara dan langsung sat set sat set.

Beruntung penghuni rumah lainnya tidak terbangun karena teriakannya. Andai saja seisi rumah terbangun dan melihatnya demikian, huhh! Tambah malu tidak karu-karuan lahh pastinya.

Memainkan bibir dengan gerakan lucu, Ranti mengeratkan genggamannya di sabuk pengaman. Ia menatap serius sepanjang jalan yang masih tampak sepih, hingga...

"Lutut kamu masih sakit?"

Ranti menoleh terkesiap. "Uhh?"

"Ahh, tidak! Sudah tidak terlalu sakit. Cuma agak nyeri sedikit," timpalnya cepat, Ranti berucap sembari mengangkat jemarinya memperagakan cubitan kecil.

"Kalau rasa sakitnya cukup menggangu, minta saja obat di bagian farmasi atau kamu juga bisa meminta tolong kepada Jeva atau yang lain."

"Ohh, iya-iya," ia hanya manggut-manggut mendengar ucapan lelaki di sampingnya.

"Tumben-tumbennya mahluk ini bicara sepanjang ini. Biasanya kalau bicara cuma satu dua kata saja, macam orang sakit gigi," ucapnya dalam hati.

Sampai di markas besar Ranti langsung bergegas pergi ke gedung kesehatan. Tak lupa ia juga menyempatkan diri pamit serta salim kecup tangan sebagai wujud menghormati, menghormati karena sudah tua maksudnya hihihi!

Dan seperti biasa, lelaki itu hanya berdehem singkat. Ingin hati ini mulai menjahili, tapi mengingat dirinya yang masih anak baru dan awam akan tugas. Ia memilih lekas pergi.

"Nanti-nanti saja lahh kalau semuanya sudah aman terkendali, ok gass! Ok gass!" pikirnya.

Berbeda dengan kemarin yang hanya sekedar melihat dan memperhatikan pekerjaan para tenaga kesehatan. Hari ini ia sudah suguhi dengan tugas wajib, yaitu pemeriksaan kesehatan para taruna! Yang secara langsung, seharian ini ia akan berkutat dan beragumen langsung dengan banyak tentara ganteng.

Alhamdulillah!

Masuk ke salah satu ruangan untuk para perawat. Di dalamnya sudah ada 3 orang yang tengah bersenda gurau nan bersiap-siap dengan atribut kerjanya.

"Permisi, kak," Ranti masuk nan berucap lembut.

"Ya, masuk." salah satu dari mereka menyaut dengan ramah. Namanya adalah Niko, taruna muda berkulit putih dengan postur jangkung tak begitu besar. Orangnya ramah dan manis, persis tentara-tentara muda yang seliweran di fyp.

Berjalan segan, Ranti langsung melesat di depan loker menaruh tas nya sambil menggunakan medical wears. Hanya berupa jas putih simple. Ranti yang notabennya bertubuh mungil nampak tenggelam akan baju tersebut.

Berputar ke kiri nan ke kanan, ia memperhatikan penampilannya yang lebih mirip menggunakan jas hujan dari pada jas medical.

"Sepertinya khusus untuk kamu harus di jahit ulang," celetuk kak teddy yang sedari tadi memperhatikan tingkahnya yang terkesan lucu.

Ranti menoleh nan mengangguk setuju. "Iya! Aku lebih mirip pakai karung beras dari pada outer perawat," sautnya sembari mecucu lucu.

Yang seketika mengundang kekehan kecil orang-orang di dalam ruangan itu.

"Ayo, cepat! Ada banyak taruna gagah yang menunggu belaian kita," gurau kak Dio tak kalah lucu. Lantas merekapun tertawa renyah mendengar gurauan tersebut.

"Dasar gila kamu!"

Melangkah keluar lengkap dengan atribut medicalnya. Mereka layaknya boyband lokal yang siap tebar pesona. Ranti berjalan di belakang tubuh-tubuh gagah itu hingga tak nampak wujudnya. Sebelumnya salah satu dari mereka mengajaknya untuk berjalan beriringan, tapi Ranti menolak, sebab ia masih belum terbiasa dan terlalu malu.

Bukan malu sih, tapi pura-pura malu! Mode jaim maksudnya.

"Pagi ini yang bertugas kita aja ya, kak?" celetuk Ranti di belakang tubuh para lelaki itu.

"Iya, yang lain sedang di tugaskan di divisi lain," jawab Dio ramah sambil menengok kebelakang sekilas. "Kenapa? Kamu keberatan?"

"Ahh, tidak-tidak! Aku sanggup kok," Jawab Ranti cepat sambil tersenyum manis.

"Beneran kamu sanggup? Bebannya berat lohh."

Mereka masuk ke salah satu ruangan periksa.

"Udah, Berhenti! Pipinya dah merah kaya tomat rebus tuh!" Tegur Niko sambil menepuk pundak temannya itu, sebab melihat Ranti yang telah tertunduk malu menyembunyikan wajahnya.

Maklum rekannya satu ini memang terkenal giat menggoda, 11 12 dengan Jeva yang saat ini bertugas di ruangan lain.

Menyiapkan peralatan medis yang akan mereka gunakan, Ranti hanya diam terpaku melihat mereka. Bingung juga mau ngapain? Mereka juga diam saja, tak meminta bantuan atau sekedar menegur.

"Ada yang bisa aku bantu gak kak?"

"Ada, sini kamu pijitin saya," jangan tanya siapa yang menjawab, pastilah itu Dio si taruna genit.

Teddy serta Niko yang melihat hanya mengerling jengah melihatnya.

Ranti berdecak, "Ihh, kak Dio! Yang bener, kan akunya pengen kerja juga," cicitnya cemberut.

"Hahaha!" Dio tertawa.

"Sini kamu bantu saya Ranti," Niko menyahut. "Ambil kain kasa dan jarum suntik yang ada di laci itu, jangan lupa beserta alcoholnya juga." lanjutnya seraya menunjuk laci di belakang tubuh Ranti.

Ranti lantas mengangguk antusias dan mengerjakan apa yang dituturkan kak Niko barusan. Ia menata benda tersebut di atas meja konsol di depan lelaki itu. Tak sampai di situ, lelaki itu pun memintanya duduk di sebelahnya untuk memperhatikan dan membantunya.

Tak lama setelah itu beberapa taruna mulai berdatangan untuk melakukan medical check up, tak jarang dari mereka yang baru pertama kali bertemu dengan Ranti menaruh tatapan heran dan ingin tau akan siapa gadis itu. Terlebih sosok Ranti yang rupawan dan terlihat manis, sangat berbeda dengan rata-rata penghuni di tempat ini.

Mulai dari cek tensi darah, kolesterol, kenaikan berat badan, kadar gula hingga unsur kesehatan lainnya secara mendetail. Ada juga yang melakukan donor darah, atas hal itu ia mengambil jarum suntik barusan. Ia sampir meringis ngeri melihatnya, bahkan sampai menutup wajahnya dengan kedua tangannya.

Sang taruna yang sedang di ambil darahnya pun tak ayal terkekeh samar melihat perilakunya. Sungguh manis dan serasa ingin menggigit bawaannya.

Waktu terus berputar hingga tak terasa jam istirahat telah tiba.

"Ahh ... Akhirnya!" desahnya lega sambil meregangkan tubuhnya.

"Capek?"

Tersenyum malu, Ranti mengangguk kecil. "Huum!"

"Yasudah, langsung istirahat saja, kami masih harus menyelesaikan beberapa rekapan data."

"Beneran kak! Gapapa?"

Mengangguk singkat bersamaan, Ranti lantas tersenyum senang. Meskipun ada rasa tidak enak sedikit sihh, karena beristirahat terlebih dahulu sementara mereka masih belum selesai. Tapi mau bagaimana lagi, perutnya sudah terlalu lapar, matanya pun mulai terasa berat.

Beranjak berdiri dan pamit kepada yang lainnya. Belum sempat ia melangkah, tau-tau pintu kembali terbuka dan menampakkan sosok yang seketika membuatnya terdiam.

...----------------🍁🍁🍁----------------...

1
Enz99
bagus
ˢ⍣⃟ₛ ❥␠⃝ ͭ🍁𝐓𝐞𝐬𝐚🤎 𝔰𝔩⃟🦖
Brajaaaaa memang paling bisa aja wkwkwwk
Lala Kusumah
itulah seninya berumah tangga, jadi jangan egois harus tahu sifat pasangan kita masing-masing, semangat Ranti 💪💪😍😍
Atik Dinul Qoyimah
semngat
Lala Kusumah
lanjuuuuuuuuut, tambah seruuuu nih...
Sukemi Nak Murtukiyo
trima kasih Upnya kak,,,,,,,
Lala Kusumah
Alhamdulillah akhirnya update juga, semangat sehat ya 💪💪
Mitt²🍒⃞⃟🦅: /Heart//Pray/
total 1 replies
Sukemi Nak Murtukiyo
kak upnya kok lama bagett,,,,,,,,,ayooo usahain up nya jangan lama".
Mitt²🍒⃞⃟🦅: /Heart//Pray/
total 1 replies
Atik Dinul Qoyimah
ahirnya up jg kau thor... hampir lupa sama ceritanya..
Atik Dinul Qoyimah: semngat ya thor.... sayang bagus soalnya ceritanya...
total 2 replies
jumirah slavina
istri'y wwoooiii
jumirah slavina
hheeeiiii kamu liatttt punyaaa sapaaa
jumirah slavina
khodam rawarontek ya Mbok

🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
jumirah slavina
Ranti : mau... mau...

hhuuuuaaaaaaa 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
jumirah slavina
ya ampunnnnnn dua orang tua ini ya..

🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
jumirah slavina
astogehhhhh....
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
jumirah slavina
klo smp SatriaBajaHitam datang sendiri...

wesss tabok ae Ran....
jumirah slavina
itu nama'y obsesi wwoooiii
jumirah slavina
hilihhh...

jan macam² kamu BajaHitam...
jumirah slavina
wahhh... waahhh...

s' BajaHitam ini ya...

klo smp rindu beneran ku tabok pake teflon keramat...
jumirah slavina
Ranti : mata'ku ternoda... mata'ku ternoda... hhuuuuaaaaaaa

🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤭🏃🏃
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!