Cattleya tak menduga pesta kemenangan saat timnya menjuarai kejuaraan akan membuatnya meninggalkan dunianya. Ia terbangun di tubuh seorang antagonis dalam sebuah novel yang dibacanya.
Cattleya yang diketahui mengandung anak kaisar diangkat menjadi selir. Dia tak bisa menjadi permaisuri karena sudah ada Adelle seorang putri Duke yang memang digadangkan jadi calon permaisuri.
Namun bisikan-bisikan yang datang ke telinganya yang mengatakan bahwa dirinya lebih pantas menjadi permaisuri membuat gadis pemalu itu menjadi berambisi. Terlebih Kaisar juga tak pernah mengacuhkan dirinya. Hingga pada akhirnya Cattleya meracuni Adelle dan dirinya dieksekusi mati.
Mengetahui hal tersebut, Cattleya pun memilih jalur aman, dia kabur dan bersembunyi. Namun plot novel tersebut tetap saja membuat dirinya ditemukan.
"Plot novel sialaaaan!!!"
Akankah Cattleya bisa mengubah plot novel tersebut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reyarui, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
One Night 33
Istana Bulan menjadi sibuk karena kedatangan pemiliknya. Pemilik yang sebenarnya tentunya, dimana itu sudah ditasbihkan oleh sang kaisar.
Semua pelayan, dayang, dan juga kesatria dipilih secara khusus melalui seleksi. Mereka harus loyal dan juga bisa menjaga rahasia.
"Jadi, Putri Adelle selama ini bohong. Atau dia yang terlalu percaya diri ya?"
"Iya ya, dia di luar berkoar-koar. Berkata bahwa dirinya adalah calon permaisuri. Waah benar-benar ya."
"Tapi ini akan jadi menarik. Kesombongan keluarga Duke Mortain akan runtuh aku penasaran bagaimana wajah mereka saat Permaisuri yang sesungguhnya muncul. Aku yakin mereka akan malu semalu-malunya."
Beberapa pelayan di Istana Bulan bergosip. Bukan berbicara buruk tentang Cattleya tapi membicarakan tentang Adelle Mortain.
Kedatangan Cattleya dan Leoric tentu disambut dengan sangat baik. Tak ada yang berani menyinggungnya sama sekali.
Sementara Lucien, dia kebingungan dengan apa yang terjadi pada Cattleya. Namun Lucien saat ini tidak bisa memikirkan hal itu terus. Masih banyak yang harus dia pikirkan dan kerjakan.
Sebuah pesta untuk memeringati hari pembentukan negara akan di gelar. Semua orang yang ada di naungan Kallistar akan diundang.
Sebenarnya Lucien ingin mengenalkan Cattleya pada saat itu. Namun mengingat bagaiamana kondisi Cattleya saat ini, tentu hal tersbeut tidak bisa dilakukan. Psikis Cattleya tengah tidak stabil, Lucien tidak mau mengambil resiko terlebih nanti jika Cattleya melihat Cale Winslow.
"Baginda, bagaimana kalau kita menguncang Negara Suci saat perayaan hari pembentukan negara. Dari sana mungkin kita bisa mendapat informasi," ucap Erson.
"Lakukan. Dan jangan lupa untuk mengundang Duke Winter."
"Tapi Baginda, beliau tidak pernah datang selama ini," sanggah Erson. Memang benar setiap undangan yang istana kirimkan, selalu saja dijawab dengan penolakan. Dan alasannya selalu tentang kesehatan.
"Tidak apa, yang penting kirimkan saja undangan itu."
Erson mengangguk paham. Dia mencatat semua hal yang dikatakan oleh Lucien.
Tak hanya soal undangan, tapi semua jamuan juga langsung mereka bahas.
Seharusnya hal seperti ini merupakan tugas permaisuri, akan tetapi saat ini Lucien haru kembali lagi menyelesaikannya sendiri.
"Lalu Baginda, bagaimana tentang rumor yang dibuat oleh Duke Mortain. Bukankah kita tidak bisa membiarkan ini terus berlanjut. Di luar semua sudah sangat berisik tentang putri Duke Mortain yang akan jadi permaisuri. Bahkan para bangsawan pun mulai menjilat mereka."
Kening Erson berkerut, dan beberapa kali menghembuskan nafasnya kasar. Agaknya dia cukup lelah menangani hal itu.
Pasalnya, Erson selalu mendapat pertanyaan tentang soal pendamping Lucien.
Kapan Baginda akan menikah?
Apa Baginda dan Putri Adelle sudah dekat dari dulu?
Apa mereka menikah karena cinta?
Pertanyaan-pertanyaan itu selalu hadir, terlebih jika Erson baru saja melakukan rapat kenegaraan. Para Bangsawan yang duduk di parlemen, tak berani bertanya langsung kepada Lucien. Dan memilih Erson sebagai sasaran empuknya.
"Baginda?"
Erson memanggil Lucien lagi. Dia agaknya sudah sangat kesal mengenai semua hal yang berkaitan dengan Duke Mortain dan putrinya.
"Tenang saja, itu akan aku selesaikan ketika pesta hari pembentukan negara dilaksanakan."
"Baiklah Baginda."
Erson bernafas lega. Meski benar atau tidak Lucien akan membereskan, tapi paling tidak Erson sudah mendapatkan jawaban.
Mulai detik itu, Istana Kekaisaran Kallistar menjadi sangat ramai. Tak hanya Istana, tapi jalan-jalan ibu kota pun dihias sebagai mana mestinya. Dan keriuhan juga terjadi di kediaman Duke Mortain.
Adelle, gadis itu tengah sibuk untuk menentukan gaun yang akan dipakai olehnya nanti.
"Aku harus terlihat paling berbeda dengan semua wanita yang datang di pesta. Gaun ku harus senada dengan pakaian milik Baginda. Dengan itu, aku menunjukkan kepada semua orang bahwa aku memang calon permaisuri yang sesungguhnya."
TBC