Sebelum transmigrasi, Bella adalah mimpi buruk SMA Garuda Bangsa. Ketua geng. Tukang bolos. Suka membuat keributan. Nilai nyaris tidak tertolong.
Setelah transmigrasi?
Ia datang ke sekolah tepat waktu, memakai seragam rapi, membawa agenda, dan mengadakan rapat sebelum pelajaran dimulai.
Teman-temannya mengira Bella sudah bertobat.
Mereka salah.
Bella yang lama ingin menguasai gengnya. Bella yang sekarang ingin mengelolanya.
Karena jiwa yang menempati tubuh itu adalah Sarah, mantan manajer HRD yang bahkan setelah mati pun masih berpikir tentang SOP, KPI, evaluasi, dan restrukturisasi.
Kini, geng paling berandalan di sekolah punya masalah baru.
Ketua mereka bukan lagi preman.
Ketua mereka adalah HRD.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nyvara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Dua minggu kemudian, suasana di SMA Garuda berubah drastis. Ini adalah minggu Ujian Tengah Semester (UTS). Bagi siswa biasa, ini adalah minggu yang penuh tekanan. Bagi Bella Anastasia, ini hanyalah 'Audit Kinerja Kuartalan'. Di perpustakaan, Bootcamp Akademik Unit Manajemen Krisis sedang berlangsung dengan intensitas yang mengerikan. Bella menerapkan Teknik Pomodoro tingkat lanjut yaitu 45 menit fokus absolut, 5 menit istirahat. Siapa pun yang menyentuh ponsel di luar jam istirahat akan didenda lima puluh ribu rupiah dari saldo kas mereka.
"Bos... kepala gue rasanya mau meledak," keluh Bono sambil memegangi buku paket Fisika yang penuh dengan coretan rumus. "Gue nggak ngerti kenapa gaya gesek itu penting dihitung."
"Gaya gesek (Friction) penting untuk dihitung agar kamu tahu berapa banyak tenaga yang harus kamu keluarkan untuk mendorong sesuatu tanpa membuang energi secara percuma. Sama seperti organisasi ini," jelas Bella tanpa mengalihkan pandangannya dari buku Akuntansi miliknya. "Jika kamu tidak paham fundamentalnya, kamu akan gagal dalam audit besok. Dan jika kamu gagal, tidak ada pencairan bonus."
Mendengar kata 'Bonus', Bono langsung menampar pipinya sendiri dua kali untuk memaksakan matanya tetap terbuka, lalu kembali menatap rumus Newton tersebut. Tidak ada yang lebih ampuh membangkitkan semangatnya selain kata bonus itu.
Hari-hari ujian berlangsung dengan ketat. Pak Surya telah menempatkan Dion, Riko, Tono, dan Bono di ruang ujian yang terpisah-pisah di barisan paling depan, diawasi langsung oleh pengawas silang. Bu Ratna diam-diam berharap mereka akan ketahuan menyontek, sehingga ia memiliki alasan sah untuk memberikan skorsing. Namun, SOP yang ditanamkan Bella terlalu kuat. Bella telah melakukan Predictive Analytics dengan menganalisis bank soal dari lima tahun terakhir, ia tidak menyuruh anak buahnya menghafal seluruh isi buku yang tebalnya ratusan halaman (yang mustahil dilakukan oleh otak berandal mereka dalam dua minggu). Sebaliknya, Bella mengajarkan mereka pola probabilitas soal mana yang paling sering muncul, dan melatih mereka menggunakan Flashcard.
Saat ujian Sejarah, Dion menatap soal esai tentang Penyebab Perang Dunia II, remaja itu tersenyum miring. Ia ingat persis Fishbone Diagram yang digambar Bella di papan tulis sebulan yang lalu, tangannya bergerak lancar menuliskan analisis kausalitas dengan rapi.
Hari Jumat, hari pembagian hasil UTS sementara.
Ruang kelas 11 IPS 2 sunyi senyap saat wali kelas menempelkan lembar rekapitulasi nilai di papan pengumuman belakang. Begitu wali kelas keluar, para siswa langsung berkerumun.
"Mustahil..." terdengar suara bisikan dari salah satu siswa pintar di kelas itu.
Dion, Riko, Tono, dan Bono berjalan santai mendekati papan pengumuman, membuat siswa-siswa lain otomatis minggir.
Mata Rindi membelalak menatap barisan namanya.
Rindi Pratama
Matematika: 78
Sejarah: 82
Bahasa Inggris: 75
Ekonomi: 85.
Rata-rata nilainya melampaui Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang berada di angka 75. Untuk pertama kalinya sejak ia masuk SMA, tidak ada tinta merah di kolom nilainya. Hal yang sama terjadi pada Dion, Tono, dan Bono. Mereka tidak mendapatkan nilai sempurna, namun mereka semua lulus dengan aman.
Di barisan paling atas klasemen kelas, nama Bella Anastasia bertengger kokoh.
Bella Anastasia, rata-rata: 96.5. Peringkat 1 Kelas.
"Kita... kita lulus KKM, Bos," bisik Tono dengan mata berkaca-kaca, menatap Bella yang masih duduk di bangkunya sedang merapikan binder. "Gue... orang tua gue nggak bakal dipanggil ke ruang BK semester ini..."
Bella hanya tersenyum tipis. "Sebuah sistem yang dirancang dengan presisi akan selalu menghasilkan output (keluaran) yang sesuai dengan target. Selamat atas keberhasilan kalian melewati Sertifikasi Kompetensi Dasar ini. Sore ini, bonus kuartal cair beserta tambahan uang makan malam."
Kantin meledak dalam sorak-sorai dari meja sudut sore itu. Namun, di balik euforia keberhasilan akademis Geng Bone Breakerz, sebuah pengakuan sosial (Social Recognition) mulai terbentuk di SMA Garuda. Para guru yang awalnya skeptis kini harus menelan ludah mereka sendiri, data empiris tidak bisa dibohongi. Sistem yang Bella terapkan terbukti berhasil, dan keberhasilan itu mulai menarik perhatian manajemen level menengah sekolah.