NovelToon NovelToon
Surga Kecil Maya

Surga Kecil Maya

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: ingflora

Berawal dari bertemu kembali dengan anak majikan ibunya yang telah menikah-Alika, Maya yang sudah menjadi tukang jamu akhirnya terpaksa bekerja di rumah Alika sebagai pembantu.

Tanpa ia tidak tahu, pernikahan majikannya ini penuh dengan pertengkaran. Itu semua karena Alika sangat cemburuan. Bahkan sering terjadi, namanya disebut-sebut sebagai bahan pertengkaran. Sebagai puncaknya, Alika meminta Raka menikahi Maya demi agar bisa terus mengontrol suaminya. Tentu saja ide itu ditentang keras oleh Raka.

Maya yang terjepit di antara dua majikannya, tentu saja bimbang. Haruskah ia terus mengamini permintaan Alika, atau menentangnya demi kedamaian?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ingflora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3. Pengertian

Bukan saja Raka, Maya pun tak suka dengan candaan yang keluar dari mulut nyonya rumah itu. Untung saja Ardha mengajak pembantu itu pergi. "Bik, aku mau nonton TV."

Maya mengekor bocah itu ke ruang tengah yang tak jauh dari ruang makan. Ardha menyalakan TV dan ia menemani. Terdengar percakapan berikutnya yang tak kalah tidak mengenakkan. Itu semua karena Alika yang senang cari gara-gara.

"Kamu jangan bicara macam-macam, Alika. Bercandanya tidak lucu!" jawab pria itu tegas. Ia serba salah bila harus menanggapi bercandaan istrinya yang ujungnya entah ke mana.

"Lah, bercanda begitu saja marah," ucap sang istri dengan entengnya. "Aku tidak mencarinya. Aku tak sengaja bertemu dengannya di jalan, jualan jamu. Eh, ternyata dia sudah cerai dari suaminya, jadi ya ... aku ajak aja dia kerja di sini. 'Kan aku baik, 'kan?" ujarnya menyombongkan diri.

Pria itu melanjutkan makannya yang sempat terhenti. "Mmh. Terserah kamu saja," ujarnya sedikit bergumam.

"Tapi kamu suka 'kan?"

Kembali pria itu menghentikan makannya, dengan merapatkan geraham, geram. Maya yang sedang menyuapi Ardha jadi serba salah tapi ia tak bisa melakukan apa-apa.

"Alika, apa maksudnya itu?"

"Bukankah dulu kau selalu memuji masakannya?" goda sang istri.

"Karena kupikir dulu itu kamu yang masak, Alika," terang Raka lagi. Pria itu bingung memulai makannya.

"Jadi, kau tak suka makanannya? Tapi dulu kamu makan dengan lahap, Mas."

Pria itu bingung harus menerangkan bagaimana lagi, ia selalu merasa salah kalau bicara dengan istrinya. Padahal ini hanya masalah kecil saja, tapi kenapa begitu sulit bila menerangkannya pada Alika. "Ya, makanannya tidak buruk."

"Jadi kau suka makanannya?"

Raka kelimpungan. "Aku suka makanan barat," ucapnya asal, untuk menghindar.

Wanita cantik itu mengerut alis. "Kok aku gak tau?"

Karena kesal, Raka meletakkan sendok lagi dengan kasar ke meja makan. Ia menyudahi karena kehilangan selera makannya seketika. Pria itu lalu berdiri.

"Lho, Mas, mau ke mana?"

"Eh, aku sudah kenyang," ucap pria itu melangkah ke arah tangga.

Sang istri mengejarnya. "Bagaimana kalau Maya belajar masak makanan Eropa?"

"Terserah."

"Eh, kamu suka makanan apa, Mas?" Alika terus menginterogasi suaminya sepanjang jalan menaiki tangga. Maya hanya memandangi sepasang suami-istri itu dari bawah.

Betapa menyebalkannya Alika, tapi Raka tetap bersamanya, berarti memang cinta. Alika memang benar, bahwa wanita harus secantik dirinya agar pria tetap bisa bertahan di sampingnya. Tidak seperti dirinya yang berwajah biasa-biasa saja. Sudah tak mampu punya anak, ia anak pembantu pula.

+++

Maya sedang merapikan mainan Ardha ketika Raka masuk. Keduanya terlihat canggung. Wanita itu berusaha fokus dengan pekerjaannya. "Eh, Saya hanya merapikan mainan Ardha saja ...."

"Aku hanya mengecek anakku." Walau canggung, pria itu mendekati Ardha yang sedang tidur nyenyak di atas ranjang. Ia merapikan selimut anaknya sambil memperhatikan Ardha kecil tertidur.

Sekilas terlihat sekali pria itu sangat menyayangi anaknya. Maya yang telah merapikan mainan bocah itu di lantai, segera berdiri. Maksudnya, ia ingin pergi diam-diam tapi yang terjadi malah keduanya hendak keluar bersamaan. "Tu-tuan dulu saja." Wanita itu mempersilakan Raka berjalan lebih dahulu.

"Ladies first."

"Hah?"

"Eh, maksudku, wanita lebih dulu."

Jantung Maya berdetak cepat. Pesona dokter berwajah dingin tapi sopan itulah, yang selalu membuatnya bingung berhadapan dengan pria ini. Dan pesonanya tidak hanya meluluhkan Maya tapi banyak kaum wanita, sehingga tak heran bila Alika jadi mudah cemburu.

Alika dipilih Raka sebagai istrinya pun masih menimbulkan tanda tanya besar, karena banyak yang tidak setuju dengan pilihan pria itu. Bahkan Maya sekali pun. Bukan berarti Maya cemburu dengan anak majikannya itu, tapi Raka pasti punya banyak pilihan yang lebih baik dari Alika. Karena wanita itu, selain cantik ia tidak punya kelebihan apa pun.

Wanita itu menganggukkan kepalanya. "Permisi, Tuan." Dengan cepat Maya bergerak membuka pintu dan keluar.

Pria itu menyusul dan menutup pintu. Dilihatnya wanita itu turun dan Raka masuk ke dalam kamar. Sang istri ternyata belum tidur.

"Kenapa kamu belum tidur, Alika?" tanya Raka yang kemudian menutup pintu.

"Kenapa kamu belakangan ini mau lembur? 'Kan kamu pemilik rumah sakit. Ada orang lain yang bisa mengerjakan tugasmu 'kan?"

"Tidak bisa semuanya, Alika. Kebetulan ada konferensi para dokter-dokter bedah di hotel Renoir jadi aku harus datang. Aku rencananya ingin kuliah lagi untuk mengambil spesialis bedah, tapi bidangnya masih belum tahu. Jadi aku ikut datang untuk mengobrol dengan mereka tentang keahlian mereka masing-masing."

Mulut wanita itu mengerucut. "Sekretaris barumu itu ikut juga 'kan?"

"Apa? Aku 'kan pemilik rumah sakit Islam Sehati, jadi wajar aku membawa sekretarisku karena dia akan mempromosikan rumah sakitku juga di sana. Juga mendata dokter spesialis yang ada. Mungkin saja ada dokter spesialis langka yang tertarik bekerja di rumah sakitku."

"Setelah itu?"

Pria itu memperlihatkan wajah bingungnya. "Apa maksudmu setelah itu? Kalau sudah selesai, ya pulang. Kecuali ada pembicaraan lain lagi dengan dokter-dokter spesialis di sana."

Wanita itu masih merengut kesal. Jilbabnya sudah ia buka hingga rambutnya yang ikal bisa tergerai ke samping. "Bohong 'kan, Mas?"

"Bohong apanya?" Pria itu bergerak ke lemari. Ia mengambil pakaian tidurnya di sana.

"Memang konferensinya sampai jam berapa?"

"Mungkin jam sembilan malam." Raka meletakkan pakaian tidurnya di atas ranjang.

"Kalau kamu belum pulang jam setengah sepuluh, aku nyusul ya?"

Pria itu, yang tengah membuka kancing kemejanya, terhenti. "Untuk apa? Kenapa kamu selalu mencurigaiku seperti anak kecil sih, Alika?" Ia malas berurusan lagi seperti kejadian waktu itu. Orang lain mungkin senang istrinya menyusul, tapi ia tidak. Alika selalu membuat masalah ke mana pun ia pergi.

Seperti bertanya-tanya apa yang dilakukannya tiap hari, atau siapa yang sering ia ajak bicara. Terlihat sekali istrinya pecemburu dan berusaha menginterogasi siapa saja yang dianggap dekat dengannya. Ini sangat memalukan sekali buat Raka karena seharusnya Alika bisa menjaga martabat suaminya sebagai pemilik rumah sakit.

"Sudah, Alika. Hentikan kecemburuanmu ini. Lama-lama aku susah bekerja di manapun, dan aku tidak bisa bekerja bebas sesuai dengan profesiku sebagai dokter."

Sang istri yang sudah menarik selimutnya, kembali duduk. "Oh, jadi kamu ingin bebas ke mana-mana dan tak ingat pulang? Iya? Kau tak ingin bertemu istrimu lagi?" ledek wanita itu ketus. Matanya mulai memerah.

Raka yang telah mengganti pakaiannya, segera naik ke atas ranjang, mendekati istrinya ini. "Alika, ya ampun. Mana mungkin aku seperti itu, Sayang. Aku mencintaimu. Hanya saja pekerjaan dokter itu tak kenal waktu. Ada saja hal yang aku harus kerjakan, jadi aku minta pengertianmu."

Baru disentuh saja, wanita itu menghempas tangan suaminya karena kesal. Air matanya mulai menggenang di pelupuk mata.

"Alika ...." Dengan pelan pria itu mulai meraih tubuh sang istri. Ia mendekapnya dengan lembut. "Sayang, aku takkan begitu padamu. Kamu tahu 'kan perjuangan aku selama ini padamu? Apapun kata orang aku tetap memilihmu, tapi kenapa sekarang kau seperti meragukan cintaku?" Suara lembut Raka berusaha menenangkannya.

Setiap hari pria itu harus ektra kerja keras di rumah karena Alika sering ngambek kalau ia telat atau izin telat pulang ke rumah. Padahal pekerjaannya di kantor juga melelahkan, tapi setiap pulang ke rumah selalu ada saja pertengkaran dan ia harus mengalah, dengan banyak bersabar. Kadang ia lelah terus memberi pengertian pada istrinya, tapi ia tetap berusaha agar sang istri tetap nyaman bersamanya.

Bersambung ....

1
sunaryati jarum
Selalu dicemburui dan dicurigai itu susah
Shofwa Arzita
Bagus
Shofwa Arzita
update tiap hari dong thor
Baby_Miracles: author semangat kalo ada yang komen dan like. Jangan lupa likenya ya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!