NovelToon NovelToon
The CEO'S Secret Architect

The CEO'S Secret Architect

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak
Popularitas:5.6k
Nilai: 5
Nama Author: Blaze Onyx

Aureline Vance mengira pernikahan kontrak dua tahun dengan Zayyan El-Ghazali—sang CEO berdarah dingin penguasa imperium bisnis terbesar—hanya sekadar transaksi demi keselamatan diri. Namun, yang tidak diketahui dunia adalah kehadiran Xavi, putra rahasia mereka yang berusia tujuh tahun dengan kecerdasan siber tingkat genius.
Saat ancaman dari kartel informasi global, *Valerius Syndicate*, dan intrik pengkhianatan dalam keluarga El-Ghazali mulai membidik Xavi sebagai target eliminasi, Zayyan dan Olin terpaksa meruntuhkan dinding pembatas di antara mereka. Di tengah desing peluru dan konspirasi tingkat tinggi, kertas kontrak dua tahun itu akhirnya dibakar menjadi abu. Kini, tidak ada lagi jalan mundur. Zayyan siap mengerahkan seluruh kekuatan imperiumnya demi melindungi takhta, wanita yang dicintainya, dan sang pewaris rahasia yang tak tersentuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blaze Onyx, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 25: Sandi yang Terbaca

Olin menatap buku sketsa bersampul kulit hitam yang kini tertutup di atas meja kayu ek. Kalimat terakhir Xavi menggantung di udara paviliun barat, membawa getaran dingin yang perlahan merayap ke sela-sela jemarinya. Kode enkripsi yang sama? Pikiran Olin berputar mundur, melintasi tumpukan draf kurasi dan rincian log keamanan galeri lamanya. Zayyan tidak mungkin mengetahui sistem sekunder itu kecuali pria itu telah mengawasi pergerakan mereka jauh sebelum insiden di galeri semalam terjadi.

"Kembalilah ke tempat tidur, Xavi," suara Olin melunak, namun ada penekanan samar yang tak bisa dibantah. Dia menuntun putranya yang berpiama rasi bintang kembali melewati pintu interkoneksi. Setelah memastikan selimut katun gading itu membungkus tubuh Xavi hingga rapat, Olin menutup pintu dengan helaan napas yang berat.

Dia tidak kembali ke meja kerja. Kakinya melangkah menuju dinding kaca ruang tengah yang menghadap langsung ke arah pelataran tengah mansion.

Gerimis telah sepenuhnya berubah menjadi hujan lebat. Bulir-bulir air menghantam permukaan kaca dengan ritme yang rapat dan bising, mengaburkan siluet lampu-lampu taman di bawah sana. Namun, di seberang jembatan kaca—tepatnya di lantai dua sayap timur yang menjadi ruang kerja utama Zayyan—seberkas cahaya lampu meja masih menyala benderang, menembus kabut malam yang pekat.

Olin menyilangkan kedua lengannya di dada. Satin hijau zamrudnya terasa dingin menyentuh kulit. Dari posisinya, dia bisa melihat siluet tegap Zayyan berdiri dekat jendela sayap timur, memegang sebuah gelas pendek berisikan cairan amber yang tidak disentuhnya. Pria itu tampak sedang menatap lurus ke arah paviliun barat, seolah tahu bahwa di balik kegelapan kaca seberang, Olin sedang mengurai benang-benang rahasia yang sengaja dia tinggalkan.

Ketukan pelan di pintu luar paviliun memutus kontak mata tak kasat mata itu.

Olin berbalik cepat, melangkah mendekati pintu jati ganda. Ketika selot besi ditarik, Ibu Martha berdiri di sana dengan nampan perak berisi sekochi porselen putih dan sebuah cangkir kecil yang mengepulkan aroma pekat jahe dan madu.

"Tuan Besar meminta saya mengantarkan ini, Nyonya Aureline," ucap Ibu Martha, suaranya sedatar dan sesantun biasanya, seolah mengantarkan minuman hangat di tengah badai pukul dua dini hari adalah rutinitas yang lumrah. "Beliau menyampaikan bahwa udara perbukitan di malam hari sering kali tidak ramah bagi mereka yang terbiasa dengan iklim pesisir."

Olin menatap cairan kuning kecokelatan di dalam cangkir porselen tersebut. Penghinaan terselubung atau perhatian? Di dunia Zayyan, keduanya sering kali berada di dalam cangkir yang sama. "Terima kasih, Ibu Martha. Sampaikan pada Tuan Besar, saya lebih terbiasa dengan udara dingin daripada atmosfer di menara kacanya."

Ibu Martha hanya memberikan anggukan takzim yang dalam tanpa mengubah riak wajah tuanya, lalu berbalik menyusuri selasar yang basah oleh tampias hujan.

Olin membawa nampan perak itu ke meja kerja Xavi. Dia meletakkannya di samping laptop stiker robot putranya yang kini telah mati. Tangannya terulur menyentuh permukaan porselen yang hangat, membiarkan rasa panasnya mengalir ke ujung-ujung jarinya yang beku.

Matanya kembali tertuju pada buku sketsa hitam. Olin membukanya lamat-lamat, menatap garis tebal yang melenceng akibat keterkejutannya tadi. Dengan ujung jarinya, dia mengusap sisa serbuk arang yang mengotori kertas, mencoba menghapus noda hitam itu hingga menyisakan bayang kelabu yang samar.

Zayyan El-Ghazali bukan sekadar CEO yang sedang mengamankan takhtanya dari kudeta Kakek Albert. Pria itu adalah arsitek yang sesungguhnya di dalam lingkaran ini—pria yang sengaja membiarkan Iron Sentry runtuh agar sang Arsitek Kecil keluar dari persembunyiannya, memaksa Olin menandatangani kontrak sipil, dan mengunci mereka berdua di dalam paviliun barat ini.

Olin mengambil cangkir jahe hangat itu, menyesapnya sedikit demi sedikit sembari matanya menatap tajam ke arah jendela sayap timur yang cahayanya perlahan meredup, menyisakan kegelapan malam yang kian pekat di bawah guyuran hujan Pekanbaru. Sandiwara dua puluh empat bulan ini baru saja dimulai, dan Olin tahu, dia harus mulai menyusun sandinya sendiri sebelum Zayyan membaca seluruh isi kepalanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!