Mengisahkan tentang dua orang anak kembar yang memilki dunia yang sama. Karena sejak kecil mereka memang tidak pernah terpisahkan.
Rean Arya Partama, kakak dari Sean Kingston yang terkenal sebagai dokter playboy, padahal dirinya bahkan tidak pernah berpacaran sebelumnya. Sosok hangat yang selalu menjadi partner terbaik dalam hidup adik kembarnya, Sean.
Sean Aryo Pratama, seorang dokter muda yang memiliki kesabaran seluar lautan, namun berubah menjadi dingin saat sebuah kecelakaan merenggut seluruh masa depannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tessa Amelia Wahyudi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 33
Karena terlalu mengantuk, Embun sampai ketiduran di meja dekat sana. Membuat Sean yang sedang bekerja tiba-tiba saja merasa hening.
Dia turun dari tempat tidurnya, dan menghampiri gadis itu disana. Di tatapnya lamat-lamat wajah cantik Embun dengan penuh kelembutan.
Tangannya terulur untuk menyentuh pipi lembut tersebut, dan perasaannya langsung menghangat.
"Maaf karena membencimu tanpa alasan yang jelas." ucapnya dengan lembut
Tatapannya penuh cinta, karena sejak dulu dia hanya datang untuk Embun saja. Sean benar-benar betah berada di posisinya saat ini. Menatap wajah cantik yang tengah terlelap dalam damainya itu membuat hati Sean semakin kukuh untuk mendapatkannya.
Cup...
Sebuah kecupan lembut yang begitu dalam Sean hadiahkan di kening Embun.
Namun, saat dia melakukan hal itu tiba-tiba saja pintu ruangannya terbuka dan berdiri ibu dan Papa-nya disana.
"Sean, kamu-?" ucapan ibunya menggantung begitu saja saat melihat apa yang di lakukan Sean disana. Ada seorang gadis yang tertidur di dekat meja dengan setumpuk berkas kerja.
Tatapan ibunya penuh dengan pertanyaan, sedangkan Sean hanya bisa menghela nafasnya dengan berat. Kenapa ibu dan Papa-nya datang di waktu yang tidak tepat?
"Sean, siapa dia nak? Atau jangan-jangan -?" tanya ibunya menatap curiga.
"Ibu sudah melihatnya, jadi jangan membuatnya tidak nyaman." jawab Sean kembali ke atas tempat tidurnya.
Sedangkan sang Papa hanya tersenyum saja. Sean memang sangat luar biasa menurutnya.
"Sudah ku bilang kamu terlalu mengkhawatirkan keadaan Sean. Tapi yang kamu khawatirkan sedang berlayar di atas kapal pesiar nya." ucap Papa Pradana membuat Sean tersenyum.
Papa-nya ini, walau bukan Papa kandungnya, tapi benar-benar mengerti dirinya dan juga Rean.
"Tapi kan, Pa-"
"Sudah, ayo letakan makan malamnya disana. Kita pulang sekarang." ajak Pradana pada istrinya yang sepertinya enggan untuk pulang.
"Aku belum kenalan dulu, Pa. Sebentar lagi ya, kita tunggu sampai dia bangun baru pulang." pinta Rieka pada suaminya.
"Bu..." panggil Sean dengan suara beratnya.
Dia takut Embun merasa tidak nyaman karena kehadiran orang tuanya, yang membuat tidak nyaman nantinya. Dan benar saja, tak lama setelah itu Embun terbangun.
Dia terkejut ketika dia sadar, bahwa dia tertidur di sana.
"Maaf, Pak. Saya-" ucapannya menggantung saat melihat bukan hanya ada Sean disana.
Tapi ada dua orang lainnya lagi. Satu perempuan yang kemungkinan seumuran dengan sang mama, dan seorang pria disana.
Di tambah lagi masuk seorang laki-laki yang memakai aja dokter, dengan wajah yang mirip seperti Sean.
"Loh, kok rame-rame ada apa?" tanya Rean yang baru saja datang membawa satu cup kopi di tangannya.
Tatapannya tertuju pada sosok gadis yang ada di ujung sana. Tatapan gurita Rean membuat Sean menatap kesal padanya.
"Jangan macam-macam!" ucap Sean dengan penuh ancaman membuat Rean hanya tersenyum saja.
Dia yakin, jika ini adalah perempuan yang membuat saudaranya datang ke perusahaan.
"Aku hanya ingin memberikan ini untukmu, tapi aku lupa jika kau tidak suka kopi. Tapi sepertinya nona ini membutuhkan kopi bukan?" sumpah demi apapun Embun benar-benar sangat malu saat ini.
Penampilannya terlihat berantakan. Dia benar-benar merutuki kebodohannya yang tidak bisa mengendalikan diri dan malah tidur.
"Pak, kalau begitu saya permisi dulu." ucap Embun bergegas membereskan semuanya, lalu bersiap pergi.
Sean yang melihat itu hanya bisa menatap kesal pada keluarganya. Lihat, bahkan saat ini Embun tidak ingin menatapnya.
"Eh, tunggu sayang. Biar di antar sama supir ya. Rumah kamu dimana? Kita juga belum kenalan." kata ibunya menghentikan Embun.
"Bu..." tegur Sean pada aksi ibunya.
"Panggil saja Tante, atau ibu sama seperti Sean juga boleh." ucap ibunya lagi membuat Sean semakin tidak habis pikir dengan ibunya itu. Benar-benar luar biasa cepatnya reaksi wanita kesayangan mereka ini.
"Oh i-iya, Tante. Saya Embun, bawahan Pak Sean di kantor. Kalau begitu saya pamit dulu ya, Tante, Om. Dokter." ucapnya berpamitan pada mereka semua.
Sangking malunya, Embun bahkan sampai melupakan Sean disana.
"Astaga, aku bahkan lupa pamitan sama Pak Sean." gumamnya setelah menyadari perbuatannya.
Sedangkan Sean masih menatap keluarganya disana dengan tatapan yang sulit untuk di jelaskan.
"Apa dia gadis itu?" tanya Rean penasaran.
"Demi Tuhan aku akan merobek mulut mu dengan pisau bedah Rean!" ucap Sean dengan penuh ancaman yang membuat Rean hanya tersenyum saja.
"Cantik, tapi lebih cantik Jasmine lagi."
"Monyet saja pun pasti akan mengatakan istrinya cantik karena dia cinta!" sahut Sean cepat, membuat Rean ingin mengumpat untuk itu.
Tapi memang benar, jika laki-laki jatuh cinta maka mereka akan mengatakan jika pasangan mereka yang tercantik.
Jadi tidak salah dengan hal ini, pikir Sean.
***
jevan lho up sn... kok trs di tgl kn
eee jevan noh