Dua kali gagal menikah membuat Rellunae berhenti percaya pada cinta. Baginya, semua orang hanya datang untuk pergi, tidak ada pria yang benar-benar mencintai dirinya dengan tulus. Sampai ia bertemu Orion. Seorang pasien dengan masa lalu kelam yang dipindahkan dari satu rumah sakit jiwa ke rumah sakit jiwa lainnya karena tak seorang pun mampu menanganinya.
Awalnya Rellunae hanya ingin menyembuhkan. Namun ia tidak menyadari bahwa setiap senyuman, perhatian, dan kebaikan yang diberikannya perlahan membuat dirinya menjadi pusat dunia pasiennya. Bagi Orion, Rellunae bukan hanya sekedar psikiater, melainkan seseorang yang harus tetap berada di sisinya apa pun yang terjadi. Tapi bagaimana jika satu-satunya orang yang mencintainya dengan tulus adalah seseorang yang mencintainya terlalu dalam hingga berubah menjadi obsesi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xereaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25 | Tempat Bersandar
Ting tong! Ting tong!
"Luna! Buka pintunya, ini aku!"
Luna tersentak hebat. Matanya membelalak sempurna saat menarik napas tajam seolah baru saja muncul dari permukaan air. Dadanya naik-turun memburu, peluh dingin membasahi pelipis dan piyama kasualnya.
Wanita itu memegang dadanya yang berdegup gila-gilaan, lalu menyapu pandangannya ke sekeliling. Tidak ada pilar kayu yang mengurungnya, tidak ada aroma cologne mahal beradu dengan mantel hitam, dan tidak ada sosok Orion.
Ia masih terduduk di atas sofa ruang tamunya, memeluk bantal dengan posisi utuh.
Ting tong... Ting tong!
"Lun? Kamu di dalam, kan? Ini aku, Maya!" suara teriakan samar sahabatnya dari luar pintu diiringi ketukan bertubi-tubi berhasil menarik Luna sepenuhnya dari bayang-bayang ilusi yang teramat nyata tadi.
Dengan paha dan lutut yang masih tremor parah, Luna bangkit dari sofa. Namun, trauma dari mimpinya membuat langkah Luna tertahan. Sebelum menggeser slot besi pintu utama, ia melangkah gemetar mendekati monitor intercom di balik pintu untuk memeriksa kamera teras.
Layar digital itu menyala, menampilkan sosok wanita berkacamata dan berambut pendek rapi dengan pakaian kasual yang sedang memegang koper kecil sambil menatap cemas ke arah kamera. Maya. Itu benar-benar Maya.
Klek!
Luna memutar kunci dan membuka pintu lebar-lebar. Begitu sosok Maya berdiri nyata di hadapannya, pertahanan diri Luna runtuh total.
"Maya!" tangis Luna pecah begitu saja. Tanpa membuang waktu, ia melompat memeluk leher sahabatnya erat-erat, meluapkan seluruh kepanikan, rasa lelah, dan ketakutan yang menumpuk di dadanya.
"Astaga, Luna!" Maya yang terkejut langsung merengkuh tubuh sahabatnya yang bergetar hebat. Ia mengelus punggung Luna dengan lembut, membiarkan wanita itu terisak di bahunya. "Ssstt... pelan-pelan, Lun. Aku di sini. Kamu aman sekarang."
Beberapa saat kemudian, suasana kamar tidur Luna terasa jauh lebih hangat. Maya telah menyeduhkan segelas teh chamomile hangat untuk Luna. Mereka berdua kini duduk berhadapan diatas ranjang king-size milik Luna.
Luna memeluk cangkir tehnya, menunduk menatap cairan bening di dalamnya. Matanya sembap dan merah. Di hadapannya, Maya menatapnya dengan raut wajah penuh kekhawatiran dan kepedulian khas seorang profesional sekaligus sahabat.
"Diminum dulu tehnya, Lun," tutur Maya lembut.
Luna menyesap tehnya sedikit, mencoba menenangkan sarafnya yang kaku. Namun, pikirannya kembali melayang pada rentetan kejadian gila bersama Orion. Ada pergulatan hebat di dalam batin Luna. Haruskah aku menceritakan semuanya pada Maya?
Bayangan Orion di dalam mimpinya, bisikan dingin pria itu yang berjanji akan menghancurkan siapa saja yang mencampuri urusan mereka membuat tenggorokan Luna mendadak tercekik. Bagaimana kalau mimpinya adalah sebuah firasat? Bagaimana kalau Orion benar-benar memata-matai mereka dan membahayakan Maya?
"Lun?" panggil Maya pelan, memegang pergelangan tangan Luna yang dingin. "Kamu kelihatan ragu banget. Kalau kamu belum siap cerita, ngga papa. Tapi ingat, aku ke sini bukan sebagai psikolog klinis yang mau menghakimimu. Aku ke sini sebagai Maya, sahabatmu."
Sentuhan dan kehangatan dalam nada bicara Maya perlahan mengikis benteng ketakutan Luna. Pikirannya yang tadi kalut mulai menyadari bahwa ia tidak bisa terus-terusan menanggung beban gila ini sendirian.
Luna menghela napas panjang, mereset keberaniannya, lalu menatap manik mata Maya dengan pasrah. "May..." bisik Luna parau. "Aku... aku beneran butuh kamu."
Maya mengangguk tegas. "Aku dengerin, Lun. Ceritain aja semuanya."
Dengan suara bergetar dan sesekali terhenti oleh napas yang sesak, Luna mulai menumpahkan segalanya. Ia menceritakan betapa batas antara profesionalitas dan obsesi gila Orion sudah hancur lebur.
Luna menceritakan perlakuan intim Orion yang makin tak terkendali, tentang bagaimana pria itu berani merengkuh, mencium bibirnya, bahkan menyerang lehernya hingga meninggalkan bekas kemerahan yang terpaksa ditutupinya dengan plester medis. Ia menceritakan aksi nekat Orion yang pernah mengancam ingin mengakhiri hidupnya sendiri jika Luna mencoba berpaling atau menjauh, hingga kejadian gila di rooftop RS Silver Oak siang tadi saat Orion kabur hanya untuk memangku, mengancam dengan pelacak GPS, dan memaksanya mengaku.
Luna juga menceritakan mimpi buruk mengerikan yang baru saja dialaminya beberapa menit sebelum Maya datang.
Maya mendengarkan setiap detail cerita itu tanpa menyela sedikit pun. Raut wajahnya yang semula tenang perlahan berubah menjadi makin tegang, terkejut, dan sarat akan kecemasan mendalam.
"Jadi..." lirih Luna di akhir ceritanya, mengusap sisa air mata di pipinya, "...pria itu benar-benar terobsesi sama aku, May. Dia ngga segan-segan nyakitin dirinya sendiri atau orang lain demi mengikat aku. Aku... aku takut banget."
Maya menghela napas panjang setelah mendengar seluruh penuturan Luna. Wajah psikolog muda itu berubah sangat serius, menyadari betapa berbahayanya situasi yang dihadapi sahabatnya saat ini.
"Luna, dengerin aku," panggil Maya tegas, memegang kedua bahu Luna agar wanita itu menatap matanya. "Ini udah bukan sekedar masalah pasien obsesif atau batasan profesional yang kabur. Tindakan Orion itu udah masuk kategori intimidasi, pelecehan, bahkan ancaman keselamatan jiwa. Baik buat kamu maupun dia sendiri. Kamu harus lapor ke Direktur RSJ Silver Oak. Kamu harus bilang sama Pak Noah."
Luna tersentak pelan begitu mendengar nama itu disebut. Ia menggelengkan kepala dengan raut ragu yang terpancar jelas dari wajah pucatnya.
"N-ngga, May... aku ngga bisa bilang ke Pak Noah," cicit Luna pelan sembari menundukkan kepalanya dalam-dalam.
"Kenapa ngga bisa, Lun?!" cerca Maya tak habis pikir. "Pak Noah itu pemilik rumah sakit! Dia punya wewenang mutlak buat nambah pengawasan, mindahin Orion ke fasilitas yang lebih ketat, atau bahkan ngeluarin kamu dari kasus berbahaya ini!"
"Tapi dari awal aku sendiri yang menyanggupi kasus Orion, May!" potong Luna dengan suara serak bergetar. Tangannya mengepal rapat di atas pangkuan.
"Waktu Pak Noah nyerahin berkas Orion dan ngasih peringatan kalau pasien ini manipulatif dan berbahaya, aku yang sesumbar bilang bisa nanganin dia. Aku yang yakin bisa bikin Orion kooperatif!" Luna menahan isak tangisnya yang hendak pecah lagi. "Dimana aku mau naruh mukaku kalau sekarang aku mendadak menghadap Pak Noah dan bilang aku ngga sanggup? Belum apa-apa aku udah menyerah... Aku malu banget, May. Karir dan reputasiku sebagai dokter bakal hancur kalau Pak Noah tau aku gagal total nanganin Orion disana."
Maya menatap Luna dengan tatapan prihatin sekaligus gregetan. "Luna... ini bukan masalah gengsi atau malu soal karir lagi!"
"Tapi buat aku ini penting, May!" sela Luna pasrah, menatap sahabatnya dengan mata berkaca-kaca. "Kalau aku lapor ke Pak Noah tanpa bukti konkret dan cuma berdasar pada ancaman-ancaman Orion, Pak Noah juga bisa mempertanyakan profesionalitasku. Bagaimana kalau dia mikir aku yang memicu respons obsesif Orion?"
Maya mengusap wajahnya kasar, tampak begitu gemas sekaligus iba melihat sahabatnya yang masih terbelenggu oleh rasa ego dan harga diri profesionalnya.
"Luna... dengerin aku baik-baik," tegas Maya, suaranya melunak namun penuh penekanan. "Kamu itu dokter, bukan pahlawan yang harus menanggung kegilaan pasien sendirian! Orion itu bukan sekedar pasien manipulatif biasa, dia itu bahaya nyata! Pria itu kabur dari RSJ, manjat sampai ke rooftop RS, memangkumu secara paksa, dan bahkan tau kalau kita sempat teleponan siang tadi. Kamu sadar ngga seberapa mengerikannya itu?!"
Luna terdiam kaku. Cairan bening kembali menetes melintasi pipinya yang pucat. Apa yang dikatakan Maya memang benar seratus persen, tetapi rasa takut akan tanggapan Pak Noah masih menyumbat tenggorokannya.
"Kalau kamu malu menghadap Pak Noah sendirian..." Maya menggenggam erat kedua tangan Luna yang dingin, "...aku yang bakal nemenin kamu besok pagi. Kita bicarakan ini baik-baik di ruangannya. Kita minta penanganan ekstra atau minimal pengalihan dokter penanggung jawab."
"Maya, tapi..."
"Ngga ada 'tapi-tapi', Rellunae Keller," pangkas Maya tak terbantahkan. "Ini demi keselamatan kamu. Lagipula, kamu pikir Pak Noah ngga bakal curiga kalau suatu hari Orion benar-benar nekat melakukan hal yang lebih gila dari ini? Sebelum semuanya terlambat dan lepas kendali, kita harus stop Orion."
Luna memejamkan matanya erat-erat, membiarkan dadanya naik-turun mengatur napas yang terengah. Bayangan iris abu-abu Orion yang tajam, bisikan posesifnya yang membakar kulit, hingga kilatan gila saat pria itu mengancam orang-orang di sekitarnya kembali menari-nari di ingatan Luna.
Setelah hening yang cukup lama, Luna akhirnya mengangguk pelan. "Okey..." lirih Luna parau. "Besok pagi... kita temui Pak Noah."
Maya bernapas lega, merengkuh bahu Luna dan menariknya ke dalam pelukan hangat. "Anak pintar. Malam ini kamu tidur, ya? Aku bakalan tidur disebelah kamu. Ngga bakal ada yang usik kamu malam ini."
☆☆☆
Keesokan harinya, pukul 07.00 WIB.
Suasana di lantai teratas gedung administrasi RSJ Silver Oak terasa begitu tenang dan intim. Aroma kayu cendana mewarnai ruang kerja mewah milik Pak Noah sang direktur utama sekaligus pemilik RSJ Silver Oak.
Pak Noah, seorang pria setengah baya dengan aura kepemimpinan yang karismatik dan kacamata berbingkai tipis, tampak duduk di balik meja kerjanya yang megah. Di hadapannya, Luna dan Maya duduk berdampingan.
"Jadi... ada hal penting apa sampai dokter Luna memboyong rekan psikolognya untuk menemui saya pagi-pagi begini?" tanya Pak Noah ramah, meletakkan cangkir kopinya dan menatap kedua wanita di hadapannya dengan binar ingin tau.
Luna mengepalkan jemarinya rapat-rapat di atas paha, merasakan cengkeraman halus Maya di sampingnya yang memberikan dorongan keberanian.
"Pak Noah..." panggil Luna dengan suara yang diusahakan setenang mungkin, meski getaran tipis tetap tak bisa disembunyikan. "Saya... saya ingin membicarakan perkembangan pasien Orion."
Alis Pak Noah terangkat sebelah. "Ah, pasien Orion. Bagaimana perkembangannya? Bukankah kemarin siang dia sempat mengalami kemunduran kondisi dan harus dibius total di bangsal VIP?"
"Justru karena itu, pak," sela Maya diplomatis, mengambil alih pembicaraan agar Luna tidak terlalu tertekan. "Kami ke sini ingin menyampaikan bahwa respons obsesif dan tingkat manipulasi pasien Orion terhadap dokter Luna sudah melewati batas aman profesionalitas medis."
Raut wajah Pak Noah seketika berubah serius. Ia menyandarkan punggungnya di kursi eksekutif, menatap Luna secara mendalam. "Jelaskan pada saya, dokter Luna. Apa yang sebenarnya terjadi?"