“Di kehidupan ini, Akulah yang memegang kendali takdir.”
"Reinkarnasi sebagai saudara kembar Itachi dengan Supreme System."
"Aku akan mengubah takdir klan uchiha."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wawan wan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 33: Persidangan Berdarah dan Runtuhnya Satu Pilar Tua
Bab 33: Persidangan Berdarah dan Runtuhnya Satu Pilar Tua
Aroma darah dari Kuil Senju belum sepenuhnya kering ketika ruang interogasi utama Departemen Anbu dikunci secara absolut di bawah pengawasan langsung Hokage Keempat. Kali ini, tidak ada satu pun ninja dari divisi Root maupun faksi Yamanaka lama yang diizinkan mendekati area tersebut. Langkah radikal Minato ini dipicu oleh satu hal: dia tahu desa sedang berada di ambang perang saudara birokrasi.
Di dalam ruang interogasi yang remang-remang, agen Root yang sengaja disisakan hidup oleh Veil duduk terikat di kursi besi dengan segel penahan chakra. Di seberang meja, Minato Namikaze duduk dengan wajah yang teramat dingin, didampingi oleh Utatane Koharu yang masih gemetar karena syok, serta Uchiha Fugaku yang berdiri sebagai saksi dari pihak pengamanan luar.
Veil dan Itachi berdiri di sudut ruangan, bayangan mereka memanjang di bawah lampu minyak yang bergoyang.
"Siapa yang memerintahkanmu menyerang Kuil Senju dan membunuh Homura?" tanya Minato, suaranya rendah namun memancarkan niat membunuh yang pekat.
Agen Root itu mendongak. Di bawah pengaruh manipulasi absolut teknik [Phantom Mind] yang telah ditanamkan Veil, kesadaran murninya telah hancur. Otaknya langsung mengeksekusi skrip ingatan palsu yang paling mematikan.
"Perintah... langsung dari Tetua Danzo Shimura," ucap agen itu dengan nada datar namun jelas. "Dokumen rencana operasi... disimpan di kompartemen rahasia di bawah ubin ketiga ruang kerjanya. Target utamanya adalah melenyapkan Penasihat Homura... untuk menciptakan kondisi darurat nasional agar kekuasaan militer dikembalikan pada faksi lama."
DEGG!
Utatane Koharu mendadak berdiri, wajah tuanya pucat pasi bagai mayat. "D-Danzo?! Dia berani membunuh Homura demi kekuasaan?!"
Minato mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Bukti ini terlalu spesifik. Detail tentang kompartemen rahasia di ruang kerja Danzo bukanlah sesuatu yang bisa dikarang oleh ninja pelarian biasa. Minato segera menoleh ke arah komandan Anbu pribadinya.
"Kerahkan seluruh divisi utama Anbu sekarang juga! Kepung markas Root dan segel ruang kerja Danzo!" perintah Minato tegas. "Fugaku-dono, minta kepolisian militer Uchiha untuk mengunci seluruh gerbang keluar desa. Jangan biarkan Danzo melarikan diri!"
"Dimengerti, Hokage-sama," jawab Fugaku dengan kilatan Sharingan yang berputar penuh kemenangan.
Sementara seluruh divisi militer Konoha bergerak dalam kepanikan massal untuk memburu Danzo, Veil perlahan melangkah keluar dari ruang interogasi, diikuti oleh Itachi. Mereka berjalan menyusuri koridor bawah tanah yang sepi.
Sring.
Pola riak air Rinnegan Tahap Keempat (Tendo) berputar anggun di balik mata Veil yang kembali hitam normal. Dengan dibukanya kemampuan Tendo, Veil kini bisa merasakan seluruh struktur gravitasi desa Konoha. Jika dia mau, dia bisa meratakan gedung Hokage saat ini juga dengan satu sapuan Shinra Tensei skala penuh. Namun, logika taktis Bumi-nya tahu bahwa penghancuran fisik terlalu kasar; penghancuran politik jauh lebih elegan.
"Veil," bisik Itachi pelan, memastikan tidak ada sensor ninja di sekitar mereka. "Danzo tidak akan menyerah begitu saja tanpa perlawanan. Dia memiliki segel kutukan pada setiap anggotanya."
"Itu tidak akan berguna lagi, Itachi," jawab Veil datar, seulas senyuman kejam terukir di wajah enam tahunnya. "Memori Homura yang aku ekstrak melalui Ningendo telah memberikan kita semua daftar hitam sekutu Danzo di luar desa. Danzo mengira dia sedang bersiap untuk bertarung di atas meja hijau, padahal dia sudah melangkah masuk ke dalam peti matinya sendiri."
Veil membuka kesadarannya, menatap 7.000 Poin Sistem yang baru saja dia dapatkan dari keberhasilan Fase 1 misi pembersihan ini.
Sistem, tukarkan 5.000 Poin untuk [Manual Teknik: Ruang Isolasi Gravitasi (Tendo Zone)], perintah Veil.
【Ding! Berhasil membeli [Manual: Tendo Zone] seharga 5.000 Poin! Sebuah teknik penghalang berbasis gravitasi murni yang mampu mengisolasi ruang dan waktu dalam radius tertentu, mencegah target menggunakan teknik Ruang-Waktu (seperti Kamui atau Hiraishin) serta mematikan seluruh fungsi komunikasi chakra luar.】
Rencana: Teknik ini akan digunakan Veil untuk mengunci ruang pelarian Danzo malam ini, memastikan sang tikus tua tidak bisa menggunakan mata Sharingan curian miliknya atau melarikan diri ke dimensi lain jika sekutu bertopengnya mencoba menolongnya.
【Sisa Poin Tuan Rumah: 2.000 Poin.】
Malam itu, badai besar kembali mengguyur Konoha, seolah langit tahu bahwa darah akan kembali tumpah.
Di kediaman pribadinya yang telah dikepung oleh ratusan Anbu Minato dan kepolisian Uchiha, Danzo Shimura berdiri di tengah ruangan dengan napas memburu. Di depannya, ubin ketiga ruang kerjanya telah hancur, memperlihatkan kompartemen rahasia yang kini kosong—seluruh dokumen aslinya telah diganti oleh dokumen palsu yang ditaruh oleh Uchiha Yashiro atas perintah Veil.
"Minato... kau menjebakku!" raung Danzo dalam kegelapan, matanya merah penuh kemarahan. Dia menyadari bahwa seluruh jalur logistik, agen, bahkan ruang rahasianya telah ditelanjangi secara sempurna.
Sret.
Pintu ruang kerja Danzo hancur berkeping-keping oleh hantaman angin kencang. Di ambang pintu yang runtuh, Minato Namikaze melangkah masuk dengan jubah Hokage yang basah oleh hujan, didampingi oleh Uchiha Fugaku dan dua sosok anak kecil yang berdiri di barisan paling depan: Veil dan Itachi.
"Danzo Shimura," ucap Minato dengan suara yang bergaung membunuh di antara gemuruh petir. "Atas tindakan pengkhianatan tingkat tinggi, pembunuhan Penasihat Homura, dan konspirasi kudeta... Malam ini, otoritasmu sebagai Tetua Konoha dicabut secara mutlak. Menyerahlah, atau kau akan dieksekusi di tempat."
Danzo menatap mereka semua, lalu pandangannya terkunci pada Veil yang menatapnya dengan wajah tanpa ekspresi yang teramat dingin. Untuk pertama kalinya, insting binatang tua Danzo merasakan ada sesuatu yang teramat mengerikan di balik tubuh bocah berusia enam tahun itu—sebuah bayangan raksasa yang selama ini telah memotong setiap cakar Root dari kegelapan.
"Menyerah?!" Danzo tertawa gila, tangan kanannya perlahan membuka perban yang menutupi mata kanannya, bersiap melepaskan kekuatan terlarang yang dia sembunyikan selama ini. "Konoha adalah milikku! Aku tidak akan membiarkan desa ini jatuh ke tangan anak-anak ingusan seperti kalian!"
Pertempuran terakhir untuk meruntuhkan faksi lama Konoha resmi pecah di bawah guyuran hujan badai malam itu.