NovelToon NovelToon
Balas Dendam Sang Putri Buangan

Balas Dendam Sang Putri Buangan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi Wanita / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: novi niajohan

Jiang Qiuye, putri tabib Jiang begitu sedih setelah tahu bahwa dirinya bukanlah putri kandung dari orang yang telah membesarkannya selama lima belas tahun.

Apalagi saat ia tahu bahwa ayah kandungnya tidak menginginkannya bahkan tega membuangnya begitu saja.

Untuk itu Qiuye berusaha agar bisa masuk ke dalam istana dan berharap mendapatkan informasi mengenai dirinya dan keluarga aslinya itu.

Akan tetapi perjuangannya tidak lah mudah, Qiuye harus menghadapi berbagai macam rintangan. Bahkan ayah kandungnya yang telah mengetahui bahwa dirinya masih hidup pun, menjadikannya sebagai buronan istana.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novi niajohan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33. Surat dari ayah.

Karena mencoba pakaian yang diberikan oleh Xin dan terlalu lama memamerkannya pada semua orang di dalam kediaman ini, aku jadi terlambat membawa makan siang untuk tuanku.

Aku berjalan sedikit berlari membawa makan siang tersebut ke dalam ruangannya, karena teringat akan penuturan Xin, dimana sang tuan muda paling tidak suka menunggu apapun terlalu lama.

Kau pasti akan dihukum lagi.

Entah sedang menakuti atau memang kenyataannya akan terjadi seperti itu, namun ucapan Xin mampu membuatku berdebar hebat karena takut.

Setibanya aku di tempat tujuan, aku mencoba mengatur nafasku terlebih dahulu untuk meredam rasa takutku saat berhadapan dengannya. "Tuan, makan siang anda telah siap," ucapku dari depan pintu.

"Masuk!" sahutnya dari dalam.

Aku lalu masuk dan melihat ia tengah duduk sambil membaca buku dan enggan menoleh padaku.

"Kenapa terlambat? Apa Xin tidak memberitahumu kalau aku paling tidak suka menunggu apapun terlalu lama?" ucap Guan Yu dingin.

"M-maaf Tuan, Xin sudah memberitahu hamba."

"Lalu katakan, apa yang membuatmu terlambat datang kesini?" tanyanya kemudian tanpa menoleh dari buku-bukunya.

Aku menghirup nafas panjangku terlebih dahulu untuk menyiapkan mental, sambil tertunduk merendah lalu menjawab pertanyaan itu. "Maaf Tuan, hamba terlambat karena memakai pakaian yang baru saja diberikan oleh Xin."

Mendengar jawaban tersebut, Guan Yu menoleh lalu menatapi penampilanku yang masih menunduk padanya. "Seberapa lama memakai pakaian sampai mengabaikan waktu seseorang?"

"Maaf Tuan," jawabku merasa bersalah dan tidak berani mengatakan alasan yang sebenarnya kalau tadi aku sempat memamerkan pakaian ini terlebih dahulu kepada semua orang sehingga lupa pada jam makan siangnya.

Guan Yu menghela nafas panjang, lalu menyingkirkan semua bukunya agar aku bisa menaruh makan siangnya diatas meja.

"Baiklah, kali ini aku memaafkanmu. Tapi tidak ada lain kali lagi," balasnya.

Aku menghela nafas lega karena akhirnya Guan Yu mau memaafkanku dan tidak menghukumku kali ini. "Terima kasih Tuan," jawabku menghampiri lalu mulai bersimpuh untuk menata makan siangnya diatas meja.

"Silahkan Tuan," balasku setelah menyendok lauk untuknya.

"Hmm ..." jawab Guan Yu hanya mengangguk lalu mulai memakan makan siangnya.

Selama ia makan aku tidak sengaja menatap wajahnya dan jika dilihat-lihat lebih dalam lagi, ternyata wajah tuan Guan Yu itu sangatlah tampan. Pantas saja banyak wanita tergila-gila padanya, bahkan ada rumor menyebutkan bahwa putri Xu juga terpikat dengan ketampanan tuanku ini.

Tapi aku segera menurunkan pandanganku ketika ia menoleh ke arahku.

Guan Yu menatapi penampilanku mengenakan pakaian pelayan wanitanya dari atas hingga ujung kaki. "Kau terlihat pantas memakai itu," ucapnya.

"Terima kasih Tuan," balasku cukup senang.

"Setelah memakai pakaian ini, aku telah memutuskan, mulai sekarang kau telah resmi menjadi pelayan wanita pertama di kediamanku ini. Dan mengenai apa saja tugas-tugasmu disini, akan ku beritahu nanti melalui paman Xuan," ucapnya kemudian.

"Baik Tuan, terima kasih."

Setelah mengumumkan statusku sebagai pelayan wanita pertama dikediaman ini, Guan Yu mengeluarkan sebuah amplop dari balik pakaiannya. "Ini untukmu," ucapnya memberikan padaku.

"Apa ini Tuan?" tanyaku menerimanya.

"Ini surat untukmu dari tabib Jiang, ayahmu," jawab Guan Yu.

"Surat dari ayah ... " ucapku merasa senang sekaligus terharu. Dan segera memeluk surat itu karena merasa rindu padanya.

"Hmm ... Aku sudah selesai, kau bisa membereskannya," ucap Guan Yu menyudahi makan siangnya karena mengerti pasti saat ini Qiuye ingin membaca surat tersebut.

"Baik, Tuan!" patuhku bersemangat.

Aku segera duduk mendekat untuk membereskan peralatan dan sisa lauk bekas makannya. Lalu pamit undur diri sambil membawa nampan, dan tak lupa membawa surat dari ayahku yang ingin segera ku baca.

"Tunggu!" titah Guan Yu sebelum aku melangkah keluar.

"Ya Tuan," balasku berbalik badan.

"Jangan lupa nanti malam, kau harus datang dan melayaniku kembali di kamar tidur," ucapnya kemudian dengan sedikit senyum lembut diwajahnya.

Aku membalas senyum itu. "Baik Tuan," patuhku memberi hormat.

...***...

Malam harinya.

Seperti malam sebelumnya, Guan Yu memasuki kamar pribadinya tepat pada saat tengah malam.

Pria itu berhenti didepan pintu masuk dan mengedarkan pandangan ke sekitar ruang kamar, lalu perlahan melangkah masuk seperti mencari keberadaan seseorang.

Namun sebelum ia sempat mengeluh karena orang yang dicari tidak berada didalam kamarnya, Guan Yu mendengar suara langkah kaki dari lorong.

Suara lonceng tembaga bergemerincing membuatnya seketika menoleh, dan sejenak ia terdiam menatapi seorang gadis yang memakai pakaian tidur panjang nan sederhana berwarna putih bersih.

Warna kesukaannya.

Gadis itu berjalan anggun melangkah masuk sambil membawa sebaskom air hangat, ditambah hembusan angin malam menerbangkan helaian rambut panjangnya yang terurai bebas, membuat Guan Yu menatapinya tiada henti.

"Tuan," sapa Qiuye hormat.

Guan Yu tidak bergeming dan terus mengikuti pergerakan Qiuye yang terus mendekat kearahnya. Menaruh baskom dan menyuruhnya agar duduk.

"Tuan, hamba mohon duduklah. Biarkan hamba membasuh kedua kaki Tuan," ucap Qiuye bersimpuh menunggu Guan Yu duduk pada kursi yang ada didekatnya.

Lalu setelah Guan Yu duduk, Qiuye melepaskan kedua sepatu tuannya dan mulai membasuhnya dengan air hangat.

Guan Yu tak berkata apapun, walau dalam hati ia terus bertanya ada apa dengan sikap pelayan wanitanya malam ini. Namun ia merasa senang karena kali ini Qiuye lebih menurut dan juga pengertian, gadis itu juga seakan mengerti keinginannya tanpa harus diperintah terlebih dahulu.

Seperti menuangkan teh hangat dan menemaninya menulis kata-kata sastra tanpa tertidur seperti kemarin malam, bahkan Qiuye selalu sigap mengisi tinta bila tinta dalam wadah telah habis.

"Ada apa denganmu malam ini?" tanya Guan Yu pada akhirnya.

"Tuan, setelah hamba membaca surat dari ayah. Hamba mengerti kenapa hamba harus berada disini, ayah berkata hamba harus melayani Tuan dengan sepenuh hati. Karena balas budi yang harus hamba lunasi setelah Tuan menyelamatkan nyawa hamba."

"Benarkah karena alasan itu?"

"Benar Tuan. Untuk itu hamba berterima kasih karena selain telah menyelamatkan hamba saat terluka parah, anda juga telah membantu ayah mengobati penyakit hamba."

"Baguslah kalau begitu, setidaknya kau bisa bekerja dan tinggal disini tanpa paksaan dari siapapun."

"Iya, Tuan. Setelah mendapat kabar dari ayah dan ibu, setidaknya kekhawatiran hamba kepada mereka telah menghilang. Jadi hamba bisa fokus bekerja disini tanpa harus merasa khawatir lagi pada kondisi mereka."

Guan Yu mengangguk paham. "Jadi setelah mendapat kabar dari ayah dan ibumu, apa kau yakin untuk bekerja di kediamanku ini?"

"Ya Tuan, hamba yakin."

"Apa yang membuatmu begitu yakin?"

"Karena hamba percaya pada Tuan."

Guan Yu terdiam sejenak mendengar jawaban tersebut, dan menatap lebih dalam pada kedua bola mata Qiuye yang bersih. Ia melihat ketulusan dan kejujuran dari kedua mata itu, lalu ia kembali tersenyum.

"Kau begitu percaya padaku, bagaimana jika suatu saat aku mengecewakanmu?"

Qiuye menggeleng. "Hamba percaya Tuan tidak akan pernah mengecewakan hamba."

Guan Yu mengangguk senang walau ada sedikit kekhawatiran dalam dirinya mengenai kebenaran yang ia tutupi dari Qiuye.

...Bersambung....

1
Joan
guan yu meriang itu, 🤣
Joan
makin seru kk
Joan
waduh percaya diri bener anak gundik satu ini
Joan
ya pelakunya si qiuye itu🤣
Joan
guan yu cuma milik Qiuye seorang. titik gk pake koma
Noviyanti
terima kasih sudah membaca karyaku, jangan lupa berikan like dan komen ya.
Joan
keren thor satu persatu mulai terungkap. gk sabar sama reaksi qiuye pas dia tahu guan yu ngerawat dia🤣
Joan
semakin seru lanjut thor
Joan
semakin pnasran. lanjut thor💪
Joan
parah banget kaisarnya /Panic/
Joan
makin seru thor, lanjutkan💪
Joan
lanjut thor
Noviyanti
Selama menunggu kelanjutan cerita ini, kalian bisa baca karya yang lain dulu ya
Lina Zascia Amandia: Sama2 Kak Nov.... selamat aktif menulis kembali ya.
total 3 replies
Joan
ceritanya bagus dan cukup menarik. terus semngat
Noviyanti: terima kasih semangatnya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!