Andra yang jatuh cinta pada pandangan pertama saat bertemu dengan Mila, perempuan yang telah bersuami itu mampu menggetarkan hatinya hingga membuat dia mencari tahu seperti apa kehidupan yang sedang di jalani Mila bersama suaminya. "Mila, kau tak pernah bahagia kan hidup bersama suamimu itu?" tanya Andra menatap serius Mila. "Bapak tidak perlu tahu urusan rumah tanggaku!" sentak Mila. "Ceraikan saja suamimu dan jadilah istriku, kau akan kujadikan ratu dalam hidupku!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PandaMaiden, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7 Arjun Mencari Mila
Bab 7
Arjun Mencari Mila
Arjun menatap jam digital telah menunjukkan angka 3. Namun tanda-tanda Mila akan pulang belum juga muncul. Pria itu mencoba menelponnya tapi nomor wanita itu masih belum aktif.
"Nggak mungkin kehabisan daya, dia selalu bawa charger," ucap Arjun seorang diri.
Dia pun keluar dan pergi untuk menyusul Mila ke kantor. Suasana di luar sangat sunyi, tapi pria itu harus mencari sosok sang istri.
"Awas saja kalau ketemu. Habis kau!" Dumel Arjun sepanjang jalan.
Setibanya di kantor, Arjun bertemu dengan security yang langsung sigap saat dia datang. Pria itu bertanya dengan sopan.
"Ada yang bisa di bantu, Mas?"
"Saya mau menjemput istri saya. Kenapa kantor kalian mempekerjakan seorang wanita selarut ini."
"Maksudnya sedang lembur, Mas?" tanya security tersebut.
"Iyalah, apalagi," ketus Arjun.
"Tapi maaf, Mas. Hari ini tidak ada satu pun karyawan yang lembur. Semua pulang tepat pada waktunya," jelas pria paruh baya tersebut.
"Apa?!" Arjun terkejut. Dia pun langsung naik ke motor dan gas pulang.
"Kurang ajar, aku di bohongi!"
*
Sinar mentari pagi membias hangat di jendela menembus tirai. Mila baru bangun dan dia terkejut begitu melihat jam yang telah menunjukkan angka sembilan pagi.
"Ya ampun, aku bangun kesiangan." Mila beranjak dari tempat tidur dan melihat pantulan tubuhnya di cermin.
"I-ini aku?" Tunjuknya pada diri sendiri.
Kemeja diatas lutut, lengan di gulung sampai siku dan yang lebih membuatnya shock adalah kedua buah melonnya yang menggantung tanpa penyangga serta segitiga bermuda yang tak menutup aset berharganya.
"Astaga, kok bisa. Ya ampun!! Sumpah aku malu banget ..." Mila menutup wajahnya begitu dia sadar dengan hal semalam.
"Gimana aku bisa kayak gini, mau di taruh di mana ini muka?" Gerutu Mila pada dirinya.
Dia ingin keluar kamar tapi malu, belum lagi bangun kesiangan. Entah karena kasurnya yang terlalu nyaman, atau memang dirinya yang terlalu lelah. Entahlah, dia sendiri belum bisa menilai dengan baik. Beruntungnya hari ini libur ke kantor, dan Mila akan pulang ke rumah untuk mengambil barang-barang pentingnya.
Mila melangkah pelan menuju ke pintu, berharap Andra tidak ada di apartemen ini dan dia bisa keluar dengan leluasa. Namun nahas, baru buka pintu, wajah ganteng Andra sudah terpampang nyata di depan pintu dengan tangan menenteng paper bag warna krem.
"Astaga, Bapak! Ngagetin aja, deh." Mila mengusap dadanya yang tiba-tiba berdegup kencang.
Senyum pria itu mengembang sempurna, betapa dia mengagumi Mila. Terlebih melihat wanita itu bangun tidur dengan muka polosnya terlihat sangat cantik alami.
"Cantik sekali istri orang," bisik Andra yang samar di dengar oleh Mila.
"Apa Pak?" Mila ingin memastikan dia mendengar dengan jelas.
"Oh, tidak. Kamu tidur dengan nyenyak?" Tanya Andra sembari memberikan paper bag tersebut.
"Sepertinya sangat nyenyak, jadi ... Saya bangun kesiangan Pak." Mila menggigit bibir bawahnya.
Namun hal itu malah membuat Andra ingin menerkam Mila. "Jangan gigit bibirmu seperti itu, gantilah pakaian kamu dengan ini," titah Andra.
Demi menghindari hal yang tidak diinginkan, Andra segera meninggalkan Mila. Sungguh, ini sangat berbahaya. Dia tidak bisa berlama-lama berada di dekat Mila.
Setelah memastikan sarapan yang dia siapkan aman, Andra keluar dari apartemen. Dia akan mencari udara segar. Mobilnya sudah terparkir rapi di basemen. Pria itu siap mengantarkan kemana Mila akan pergi.
Usai berganti pakaian, Mila pun keluar dan mendapati ruangan itu kosong. Bosnya itu entah pergi kemana. Tapi saat mendekat ke meja, dia melihat kertas.
"Sarapan dulu sebelum kamu ingin melakukan sesuatu. Semoga kamu suka dengan menunya,"
Mila membaca pesan itu dengan mata berkaca-kaca. Entah kenapa dia merasa terharu mendapat perhatian dari sosok bosnya yang kadang aneh menurutnya itu. Padahal itu hal biasa saja bagi orang lain.
Tapi hatinya tak bisa di bohongi bahwa mendapat perhatian khusus seperti ini adalah impiannya sejak lama. Arjun belum pernah melakukan hal seperti ini. Mila tersenyum tipis, lalu menggeleng pelan.
"Ini salah, aku salah. Tapi, hatiku tak bisa menolak. Apakah karena terlalu lama tidak mendapat perlakuan hangat seperti ini?" Bisiknya pelan.
*
"Pak, terimakasih atas bantuan yang telah Bapak berikan pada saya. Hari ini saya akan pulang ke rumah untuk mengambil barang, dan juga mobil kantor."
"Ini di luar jam kerja bahkan hari libur, bukankah kita sudah sepakat untuk tidak perlu formal seperti ini?" Peringat Andra.
Mila nyengir mendengar ucapan Andra, rasanya setelah di pikir-pikir kok tidak sopan jika memanggil dengan sebutan seperti yang sudah di sepakati.
Andra menjentik kening Mila karena wanita itu malah bengong, bukannya menjawab pertanyaannya.
"Ah, saya sungkan Pak. Nanti Bapak bisa potong gaji saya untuk mengganti biaya yang sudah Bapak keluarkan untuk menolong saya, ya," ujar Mila.
"Kamu ini ngomong apa, sih. Pagi-pagi sudah ngelantur. Untuk urusan kamu kembali ke rumah apa sudah siap?"
Mila mengangguk, tapi mobil yang di kemudikan oleh Andra belum juga di nyalakan. Malah memandangi wajah Mila yang semakin bersemu saat di tatap terus menerus.
"Pak," panggil Mila.
"Panggil Mas dulu, baru kita jalan." Andra membuat kesepakatan yang tak boleh di tolak.
"Tapi ..."
Andra tetap diam dan terus menatap wajah Mila yang semakin salah tingkah.
"Huh... Baiklah, em-mas Andra," ucap Mila pelan.
"Coba ulangi, saya tidak dengar." Andra menuntut.
"Mas, Andra." Mila mengatakan dengan suara yang mantap.
Sungguh, ternyata ini sisi lain dari sosok Andra yang selama ini Mila kenal dengan tegas di kantor, tapi dia tidak bisa menolak dengan keanehan yang sering terjadi. Itulah sifat Andra.
Mila tak memiliki sahabat dekat seperti wanita lainnya. Semua seperti dia hindari sejak menikah dengan Arjun.
Mobil pun tiba di seberang jalan depan rumah Mila. Pintu tertutup rapat dan suasana sepi, sepertinya orang yang tinggal di sana sedang pergi.
"Sepertinya aman ya, Mas. Aku masuk dulu,"
"Perlu bantuan?" Tawar Andra.
"Saya bisa sendiri, makasih ya, Mas." Mila pun turun.
Tanpa dia tahu bahwa orang yang ada di rumah itu memang sedang keluar karena sudah di atur oleh orangnya Andra agar Mila bisa aman.
Setengah jam berlalu dan Mila keluar dengan koper dan dia memasukkan barang ke bagasi mobil kantor yang terparkir di halaman rumah.
"Mas, kamu bisa pulang, saya mau cari kontrakan saja hari ini." Mila menghampiri Andra tapi pria itu menolak.
"Tidak perlu Mila, kamu cukup ikuti saya saja. Nanti kamu akan tahu jawabannya. Sekarang kita langsung jalan saja biar lebih cepat," titah Andra.
"Baiklah," lebih baik menurut dari pada nanti berdebat. Pikir Mila.