Judul sebelumnya: Obsesi Sahabat Suami.
Regan Han Sebastian dikirim Dady-nya dari Singapura ke Indonesia untuk belajar bisnis di bawah bimbingan Alvero Halim Winata, sahabat sekaligus orang yang paling ia hormati.
Semua berjalan sesuai rencana... hingga Alvero mulai selalu melibatkan kehadiran Regan dalam rumah tangganya.
Kehangatan sebuah keluarga. Tawa seorang anak kecil. Dan perhatian sederhana dari seorang wanita bernama Veyra Alettha, istri dari Alvero.
Regan berusaha menjaga jarak, saat ada perasaan yang tak bisa ia jelaskan kepada siapapun. Ia bahkan memilih kembali ke Singapura demi melupakan semuanya.
Namun saat kembali ke Indonesia, yang pulang bukan lagi Regan yang sama.
Ia membawa perasaan yang tak pernah ia inginkan.
Perasaan yang perlahan berubah menjadi pengkhianatan terhadap satu-satunya sahabat yang paling ia hormati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lautan Ungu_07, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31: Ziarah
Minggu pagi itu Farhan tidak ada di toko. Hanya ada beberapa karyawan yang sudah di percaya.
Ibadah minggu baru saja selesai. Jemaat mulai meninggalkan greja satu per satu. Udara Sukabumi masih sejuk. Veyra berjalan diapit oleh Farhan dan Elea.
Sementara Alvero dam Mbak Rini yang tengah menggendong Renzio mengekor dibelakang mereka.
"Vey, mau sekalian ziarah ke makam, Vania?" Bisik Farhan.
Langkah Veyra langsung behenti. Ia diam beberapa detik, sebelum akhirnya menoleh ke arah Farhan yang ikut berhenti di sampingnya.
"Iya Ayah. Mumpung aku di sini juga." Suara Veyra lirih.
Elea yang sudah ada di depan mereka, ia ikut berhenti. Tubuhnya berbalik menatap mereka yang masih diam.
"Mau kemana?"
"Kita ke makam Vania dulu," jawab Farhan cepat. Dan itu membuat ekpresi wajah Elea berubah.
"Vania? Dia masih hidup, Yah."
"Ahh, maksud Ayah... ke makam... temennya Vania," jawab Farhan gelagapan.
"Jangan ngomong sembarangan." Kata Elea, ia kembali berjalan lebih dulu.
Veyra dan Farhan saling melempar pandangan. Pria paruh baya itu mengelus punggung putrinya pelan. Senyumnya lembut, tapi sorotnya jelas ada rasa capek di sana.
Mereka kembali berjalan. Menuju mobil Alvero yang terparkir rapi. Alvero duduk di kursi kemudi, di kursi sebelahnya Mbak Rini dan Renzio. Sementara, Elea, Farhan dan Veyra di kursi belakang.
Perlahan, mobil melaju pelan. Keluar dari kawasan greja menuju jalan raya utama arah ke pemakaman.
Bayangan pohon melaju cepat di kaca depan mobil. Di dalamnya tidak ada yang benar-benar mengobrol, mereka hanya fokus pada pikirannya masing-masing.
Mobil berhenti di depan gerbang pemakanan. Begitu melangkah masuk, deretan salib putih yang berdiri di kepala setiap makam langsung menyambut pandangan mereka.
Jalan setapak membelah area pemakaman yang tenang. Rumput hijau tumbuh rapi di sela-sela batu nisan.
Langkah mereka akhirnya berhenti di salah satu makam, tepat di bawah pohon mahoni. Daun-daunnya terus bergerak karena semilir angin lembut.
Elea yang pertama jongkok di sisi makam. Tangannya mengusap nisan yang menampilkan nama Vania Alsyenna. Tanggal lahir, serta tanggal wafatnya.
Alisnya mengernyit bingung. Tapi degup jantungnya berdetak cepat. "Ayah, ini bukan Vania, kan? Kenapa namanya sama?"
Farhan tidak langsung menjawab. Ia ikut jongkok di sebelah istrinya. Belum sempat ia menjawab. Air mata Elea sudah menggenang.
"Apa-apaan ini... ini bukan makam Vania. Dia masih kuliah..." Kalimatnya terhenti, ia menatap Farhan dan Veyra bergantian. "Bunda tanya sama kalian. Kapan Vania meninggal, dia masih hidup, kan? Kenapa kalian bikin makamnya seperti ini?" Lanjutnya. Air mata semakin berjatuhan. Napasnya memburu.
"Shuttt..." Farhan mengelus pelan punggung Elea. "Bunda tenang dulu. Iya, ini bukan Vania kita. Ini..." Farhan menelan ludah keras. "Ini... Vania anaknya saudara Ayah." Dusta Farhan.
Beberapa detik berlalu, hanya sunyi yang kini menggantung. Napas Elea mulai stbail, ia tidak lagi menangis.
"Bunda pikir... Vania... Vania benar-benar pergi. Ternyata, dia masih kuliah, ya?" Katanya pelan.
Farhan cuma mengangguk. Karena kalau ia menjelaskan, berkata jujur kalau ini makam Vania. Elea akan mengalami kepanikan berat. Menangis hebat, yang akan memicu ia depresi berat.
Jadi Farhan memilih untuk memukul dosa kebohongan itu sendirian. Demi melindungi istrinya, dari depresi.
"Udah, ya. Kita doain." Kata Farhan lirih.
Elea hanya menoleh sebentar. Lalu, ia menggenggam kedua tangannya. Matanya terpejam.
Sementara Veyra, ia akhirnya ikut berjongkok di sisi lain makan. Tangannya menyimpan bunga Krisan dan Anyelir berwarna putih.
Dan Farhan, ia membersihkan daun-daun kering di sekitar makam.
Alvero hanya berdiri cukup jauh. Mbak Rini mengejar Renzio yang aktif berjalan cepat kesana-kemari.
Elea selesai berdoa lebih dulu. Sebelum berdiri, ia mengelus nisan itu. "Bunda pulang dulu, ya. Mau masak, buat titip bekal Vania."
Farhan dan Veyra hanya terkekeh getir. Veyra semakin menunduk, menyembunyikan air mata yang benar-benar akan jatuh. Sementara Farhan membuang muka.
Elea berjalan sendirian, meninggalkan Farhan dan Veyra yang masih di sana.
Setelah Elea di pastikan menjauh. Pundak Veyra akhirnya bergetar keras. Tangisnya keluar begitu saja. Ia memeluk makam itu, "Van, kamu lihat... Bunda masih berpikir... kamu masih kuliah..." Kata-katanya terhenti, Veyra menarik napas walaupun tersendat. "Padahal... waktu terus jalan. Tapi ingatan Bunda..."
Alvero langsung mendekat, ia mengelus perlahan punggung Veyra. Dan Farhan, mengelus lengannya.
Setelah tangis Veyra perlahan mereda. Ia menatap batu nisan, mengelus ukiran nama adiknya. "Vania, kakak pulang ke Jakarta, ya. Maafin kakak, jarang jenguk kamu."
Dengan sigap, Alvero membantu Veyra untuk berdiri.
"Mas, kamu sama Mbak Rini duluan, ya."
Alvero diam seperkian detik. Sebelum ia menjawab, "tapi kamu..."
"Ada Ayah," potong Veyra. Ia paham kekhawatiran suaminya.
Alvero akhirnya mengangguk. Lalu, ia mengikuti langkah Mbak Rini yang sudah pergi sejak awal.
Veyra masih terpaku di sana. Tatapannya jatuh ke Farhan.
"Nak, Ayah pamit pulang dulu, ya." Pria paruh baya itu mengecup permukaan nisan. Seolah itu kening putrinya.
Farhan akhirnya berdiri, matanya sudah merah. Tapi wajahnya tetap kering, ia menahan agar air mata tidak keluar.
Veyra dan Farhan jalan beriringan. Langkahnya sama-sama berat.
"Yah," panggil Veyra lirih.
Farhan menoleh sebentar.
"Sampai kapan... seperti ini?"
"Sampai Bunda sanggup menerima kenyataan. Dan... selama Ayah masih hidup."
Langkah Veyra seketika berhenti. Ia menatap Farhan lama sambil kembali menangis.
Farhan mengusap pipi Veyra lembut, lalu menarik pelan kepala Veyra ke pelukannya. "Masih ada Ayah yang ingat semuanya."
"Tapi aku capek harus pura-pura terus." Jawab Veyra.
Farhan melepaskan pelukannya, tangannya beralih mengelus perut Veyra. "Jangan nangis terus. Kasihan dia ikut sedih."
Veyra hanya membuang napas. Tangannya mengusap wajahnya.
Mereka kembali melanjutkan langkahnya menuju mobil. Dan tak lama, mobil itu kembali melaju. Meninggalkan pemakaman yang sunyi.
hati-hati lidah tak bertulang vey
kebanyakan suami kan ga suka istrinya dekat dengan pria lain walaupun sahabatnya sendiri