NovelToon NovelToon
Sekretaris Palsu

Sekretaris Palsu

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:11.5k
Nilai: 5
Nama Author: REZ Zha

Demi memastikan calon tunangan yang akan dijodohkan orang tuanya, Bella terpaksa menyamar bekerja di perusahaan milik Gilang, pria yang dipilih oleh sang papa untuk menjadi suaminya.

Satria Wijaya,, papa Bella adalah seorang pengusaha kaya raya dan Bella adalah anak semata wayang pasangan Satria dan Hani. Bella tentu tidak ingin calon suaminya, bersedia menikah dengannya hanya karena harta dan ia pun ingin memastikan jika pria yang akan menjadi pendamping hidupnya adalah pria setia.

Namun, kesalahpahaman terjadi. Gilang justru menganggap Bella adalah wanita simpanan Satria karena Satria lah yang meminta Gilang untuk mempekerjakan Bella sebagai sekretaris Gilang tanpa melalui proses pengrekrutan karyawan pada umumnya.

Lantas, bagaimana perjalanan kisah mereka selanjutnya? Ikuti saja kisah Bella dan Gilang dalam novel Sekretaris Palsu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon REZ Zha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bertemu Kathy

Klik

Nafas Gilang tertahan, hatinya berdebar ketika mendengar suara pesan masuk di ponselnya. Pesan masuk itu berasal dari nomer Ibu Hani yang tadi dihubunginya.

Jarinya menyentuh pesan itu hingga terbuka. Dia membaca alamat yang dikirim Ibu Hani. Matanya lalu melirik pada layar laptop di mana ia menyimpan gambar kartu tanda penduduk Bella. Dia mencoba membandingkan alamat tempat tinggal Bella dan Pak Satria.

Darah Gilang berdesir saat melihat ada kesamaan antara alamat di KTP Bella dengan alamat yang dikirim Ibu Hani, hanya alamat yang diberikan oleh ibu Hani tidak mencantumkan RT dan RW saja.

Gilang menghempas nafas panjang, dugaannya ternyata terbukti benar. Memang ada hubungan khusus antara Bella dan Pak Satria, Tapi itu bukan hubungan asmara, melainkan hubungan kekeluargaan.

Setahunya Pak Satria hanya memiliki satu anak, jadi kemungkinan Bella adalah anak Pak Satria sangat kuat, bukan Kathy yang saat ini tinggal di Amerika.

Gilang mengepalkan tangan, seakan merasa tertipu akan sandiwara yang dimainkan oleh Bella.

"Aku nggak tahu apa tujuanmu melakukan ini, Bella? Apa kamu sedang mengujiku?"

Jemari Gilang mengetuk meja kerjanya. "Baiklah, aku akan mengikuti permainanmu! Kita lihat, sampai di mana permainanmu ini!?" Seringai tipis terlihat di ujung bibirnya, memikirkan cara untuk membalas, apa yang telah dilakukan Bella selama ini kepadanya.

Gilang lalu menekan tombol 'Talk' di wireless intercom di meja kerja dan menyuruh Bella untuk menghadapnya. Dia tak memberi kesempatan Bella mendapatkan informasi lebih dulu dari Ibu Hani, jika ia menghubungi mama Bella itu.

"Ada apa, Pak?" tanya Bella ketika masuk ke ruang kerja Gilang.

Gilang menyandarkan punggungnya di kursi. Tatapan matanya tegas mengarah pada Bella yang berdiri di depan meja kerjanya. Jika biasanya ada rasa canggung dan gugup, kali ini dia lebih berani memandang Bella.

Jika dugaannya benar Bella adalah anak dari Pak Satria, artinya wanita yang ada di depannya saat ini adalah sosok wanita yang akan menjadi istrinya.

Gilang memperhatikan setiap bagian wajah Bella. Alis yang tertata rapih, bola mata indah dengan bulu mata lentik. Hidung mancung, bibir merah delima, semua terlihat sempurna menyatu dengan warna kulit putih mulus. Semua itu akan menjadi miliknya. Ya, setelah dilanda kegalauan akan perasaan yang tak menentu karena menyimpan ketertarikan pada Bella, sementara ia sudah terikat kesepakatan dengan Pak Satria untuk menikahi putrinya, semua itu bagaikan beban dan siksaan yang membelenggu hati. Kini, semuanya berangsur terkuak, siapapun yang ia pilih, tetap Bella yang akan menjadi miliknya.

Bella mengeryitkan kening. Merasa tatapan Gilang terasa berbeda dari biasanya, membuat dirinya sedikit gugup.

"Kenapa tatapan gitu banget, ya? Apa dia berpikiran buruk lagi tentang aku?" Bella membatin.

"A-ada apa ya, Pak?" Karena Gilang tak cepat membalas, Bella kembali menanyakan alasan Gilang memanggil ke ruangan pria itu

"Ehemm ..." Gilang terkesiap, terlalu asyik menikmati kecantikan wajah calon istrinya itu. "Duduklah!" perintahnya.

Bella menuruti apa yang diminta Gilang darinya. Tangannya menarik kursi dan mendudukinya kemudian.

"Kamu dekat dengan keluarga Pak Satria, pasti sedikit banyak tahu kesukaan istri Satria, kan?" tanya Gilang, setelah Bella terduduk.

Netra Bella membeliak, bola matanya bergerak ke kiri dan ke kanan, menerka-nerka tujuan Gilang menanyakan soal mamanya.

"Saya ingin memberi beliau hadiah, sebagai ucapan terima kasih, karena beliau menerima saya sebagai calon menantu, tanpa melihat status sosial saya yang jauh di bawah keluarga Pak Satria." Saat Bella masih asyik menerka-nerka, Gilang sudah menjelaskan alasannya.

"Ummm, Saya kurang tahu apa yang disukai istri Pak Satria, Pak." Bella berdalih, sebagai putri semata wayang Pak Satria dan Ibu Hani, tentu saja ia tahu apa yang disukai oleh papa dan mamanya. Mamanya sangat suka dengan barang-barang antik dan mengoleksinya di rumah. Bahkan ada ruangan khusus yang digunakan Mamanya itu sebagai tempat untuk menyimpan barang-barang koleksinya.

"Tapi, biasanya wanita itu sangat suka dengan perhiasan, Pak. Kenapa Bapak tidak coba beri perhiasan saja untuk istri Pak Satria?" Bella menyebut hal yang umum disukai oleh wanita, apalagi itu sebuah pemberian.

"Perhiasan? Tapi, apa beliau akan menerimanya? Beliau istri pengusaha besar, pasti punya banyak koleksi perhiasan." Gilang ragu, khawatir perhiasan yang dipilihnya tidak cocok dengan selera Ibu Hani.

"Bapak cari perhiasan yang bagus dan mahal, kalau perlu yang limited edition, Pak. Walaupun mungkin harganya nggak sebanding dengan yang dimiliki istri Pak Satria, setidaknya pemberian Bapak nggak memalukan." Bella sengaja menyarankan Gilang memberi perhiasan kepada mamanya.

"Pintar sekali dia, menyuruh aku membelikan barang mewah untuk ibunya," gumam Gilang menanggapi jawaban Bella tadi.

"Baiklah, kalau begitu kamu nanti bantu saya memilih perhiasan yang cocok untuk Ibu Hani." Gilang akhirnya menyetujui barang yang disarankan oleh Bella. Namun ia meminta Bella mengantarnya mencari barang tersebutm Itu juga dia jadikan kesempatan untuk bisa pergi bersama Bella di luar jam.

Sudah tak ada lagi perasaan bersalah yang membelenggu hatinya jika ia sering berdua dengan Bella, setelah ia tahu, kalau Bella adalah wanita yang akan dijodohkan dengannya, karena itu ia ingin selalu menghabiskan banyak waktu dengan calon istrinya.

"Saya, Pak?" Bella menunjuk dirinya sendiri.

"Iya, saya butuh saran untuk memilih perhiasan yang bagus, karena saya tidak tahu soal perhiasan." Gilang menjawab, "Seandainya anak Pak Satria ada di sini, mungkin dia yang saya ajak untuk memilihkan perhiasan yang cocok untuk mamanya," sambungnya. Sementara tatapan matanya masih mengunci sosok Bella di hadapannya.

"Umm, baik kalau begitu, Pak. Saya akan membantu Bapak." Tak ada pilihan lain, Bella terpaksa bersedia membantu Gilang.

"Oh ya, ngomong-ngomong, apa kamu pernah bertemu dengan Kathy, anak Pak Satria yang tinggal di luar negeri?" Gilang menangkap keterkejutan dari ekspresi Bella ketika ia menyebut nama Kathy.

"Saya memang tahu Kathy anak Pak Satria, tapi saya nggak terlalu mengenal dekat, karena sudah lama sekali nggak bertemu dengan Kathy, Pak," sahut Bella.

"Kenapa dia tiba-tiba membahas soal Kathy? Biasanya dia menolak kalau aku singgung soal wanita yang akan dijodohkan dengannya." Bella terheran, karena kini topik pembicaraan mereka justru mengarah pada sosok wanita yang dikenalkan pada Gilang sebagai anak Pak Satria.

"Hmmm, terus aja menutupi kebohonganmu!" Sudut bibir Gilang membiaskan senyum tipis.

"Sayang sekali, saya pikir kamu juga kenal akrab dengan Kathy." Gilang berpura-pura memperlihatkan ekspresi kecewa.

"Memangnya kenapa, Pak?" tanya Bella penasaran, karena Gilang menanyakan soal Kathy kepadanya.

"Saya berencana ingin bertemu dengan dia dan tentu saja saya ingin memberi hadiah kepada calon istri saya." Gilang terus memperhatikan perubahan demi perubahan dari gestur Bella setiap mendengar kalimat yang keluar dari mulutnya.

Mata indah Bella seketika membeliak, mendengar Gilang ingin bertemu dengan Kathy, padahal Gilang sendiri belum pernah berinteraksi dengan Kathy.

"Dia mau ketemu Kathy? Gawat!"

❤️❤️❤️

Bersambung ...

1
ρυтяσ kang'typo✨
uhuuuuyy... Bella g bisa lupain bentuk tubuh Gilang🤣🤣🤣
ρυтяσ kang'typo✨
hayoooo mala u yang mikir mecuuuuuum Bel😄😄😄
Juwitae
cieee.. cieeee🤣🤣
Ernalita Sitompul
seru bangeet thor..trmksh
lanjuut😄
Dest Cookies
bella.. udah ngaku aja.. kamu suka banget kan dipeluk gilang.. diambil orang baru tau rasa..untung gilang udah bisa nebak kl bella calon istrinya..
𝓡⃟⎼ᴠɪᴘᵇᵃˢᵉ fjR ՇɧeeՐՏ🍻
pagi2 udah di kasih tontonan gratis Bel.pasti bakal teringat terus oleh Bella.
Juwitae
Ayo lho Bella rahasiamu udh ketahuan sama Gilang. Jimmy jadi malu kan sama Bella 😄
ρυтяσ kang'typo✨
itu udah paten Jim.... Bella milik Gilang 🤣🤣🤣
ρυтяσ kang'typo✨
yaaaaa, Jimmy kau g ada kesempatan untuk. mendekati Bella kembali🤣🤣🤣🤣
Esther
Bella milik Gilang seorang, ingat itu Jimmy😂
Ernalita Sitompul
ah nanti terbongkarlah gara2 jimmy keceplosan😄😄😄
𝓡⃟⎼ᴠɪᴘᵇᵃˢᵉ fjR ՇɧeeՐՏ🍻
udah di hak paten Bella cuma untuk Gilang😄
maju terus Gilang😁
sri susanti
lanjut,, sore up lagi kak,,
Dest Cookies
akhirnya bella menyadari juga kl gilang itu baik dan tampan.. gilang makin posesiif aja sama bella....
ρυтяσ kang'typo✨
kaaaaan.....malah sekarang u yang ketakutan kalo Gilang beneran suka sama Kathy🤣🤣🤣
Esther
nah sekarang kamu yang takut Bella.....ayo lanjutkan sandiwaramu Gilang.😂
Ernalita Sitompul
bella pusing sendiri😄😄😄
Dest Cookies
aduh.. mam zha aku jd gemes nih... duble up dong.. bella pasti panik dengar gilang mau ke amrik ketemu katty..
Popo Hanipo
makanya jangan kelamaan bersandiwara bel
𝓡⃟⎼ᴠɪᴘᵇᵃˢᵉ fjR ՇɧeeՐՏ🍻
gantian sekarang Bella yang ketar-ketir. dan Gilang yang menikmati peran sandiwaranya sekarang
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!