Malu terlahir tanpa status? Iya.
Tapi, aku tidak pernah malu terlahir dari rahim perempuan bernama Nimas Ayu. Sosok perempuan cantik mengalami gangguan jiwa yang 18 tahun lalu dihancurkan dan dilecehkan.
Kata-kata itu milik Arundaya Dirandra (Dira). Satu-satunya harapan dari ibu yang dipaksa gila oleh dunia. Dan ketika aib itu dibuka, Dira memilih berdiri. Bukan untuk membantah, melainkan untuk berkata “Aku Bangga Menjadi Putrinya.”
Visual ada di IG author: Cichio23
Bagi yang suka menghayal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cichio23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24 BAKAR!
Dengan keadaan jantung berdetak dua kali lebih cepat dari sebelumnya. Telapak tangan Satria terasa dingin.
Padahal pendingin di ruang kerja itu belum nyala. Dengan keadaan nafasnya terasa pendek Satria menghubungi Faza. Dirinya ingin mengetahui perkembangan penyelidikan yang dilakukan Faza.
“Malam, Ndan.”
Suara Faza terdengar diiringi deru kereta. Jelas kening Satria mengkerut dalam mencoba mengetahui letak keberadaan Faza saat ini.
Tuuut…!
“Perhatian para penumpang. Kereta akan segera diberangkatkan menuju Stasiun Tawangrejo.”
“Faza. Dimana posisi kamu sekarang?” tanya cepat Satria saat sayup-sayup terdengar suara bagian informasi di stasiun kereta.
“Di kereta, Ndan.”
“Kereta? Kamu tidak izin, tidak cuti, tidak lapor. Kamu mau pergi kemana?” tanya Satria mulai menaiki intonasinya.
Pergi tanpa izin maupun cuti saat menjalani tugas. Maka, sudah termasuk pelanggaran kedisiplinan. Pelakunya jelas akan mendapatkan hukuman mulai dari sidang kedisiplinan hingga dipindah tugaskan.
“Izin, Ndan. Saya melaksanakan izin dari Ndan kemarin malam. Tentang penyelidikan kasus ke luar kota.”
Satria langsung terdiam sejenak. Dirinya mencoba mengingat-ingat kata-kata yang diucapkan Faza.
Entah karena banyaknya pekerjaan yang menumpuk, atau memang dirinya kelelahan bekerja melebihi waktu. Membuat Satria melewatkan hal itu.
“Saya mendapatkan izin itu pada hari Minggu jam 20.00 WIB. Tempatnya ruang kerja Ndan dirumah dinas saat memberikan laporan penyelidikan,” jelas Faza.
“Jika, Ndan tidak ingat. Saya bisa meminta tolong untuk mengirim rekaman cctv di ruang kerja. Saya bersedia mendapatkan hukuman jika berani berbohong,” lanjut Faza.
“Kemana kamu pergi? Dan penyelidikan tentang apa yang kamu jalani?”
Satria jelas tidak ingin memperpanjang keteledoran. Malam itu memang ada pembicaraan antara dirinya dengan Faza. Namun, tidak serta merta dirinya percaya dengan Faza.
“Ke Tawangrejo, Ndan. Menyelidiki video kasus 18 tahun lalu yang dialami oleh Nimas Ayu. Berdasarkan informasi yang saya dapatkan. Ada jaringan kriminal yang terorganisir.”
Satria terdiam sejenak saat mendengar nama Nimas Ayu. Apalagi saat Faza dengan jelas menyebut daerah Tawangrejo.
‘Apakah hal ini salah satu alasan Panda menunggu kepulanganku?’ batin Satria.
“Video?”
“Benar, Ndan. Maaf, karena terburu-buru agar tidak kehilangan informasi. Saya sudah mengirim ke Ndan video itu. Ndan bisa mengeceknya.”
Karena rapat dengan para petinggi serta penanganan kasus. Membuat Satria tidak sempat mengecek pesan masuk salah satu dari 3 handphone miliknya secara keseluruhan. Jelas hal ini kesialannya.
“Tetap laporkan perkembangan kasus itu!”
“Siap, Ndan.”
Setelah mengakhiri panggilan telepon. Satria langsung menuju meja kerjanya. Membuka video serta file yang dikirim oleh Faza.
Tek.
Karena tidak ingin video didengar oleh orang lain. Satria memutuskan menggunakan headset untuk mendengarkannya.
“Usir dia!”
“Dasar pembawa sial.”
“Perempuan tidak tahu malu.”
“Bisa-bisanya dia hamil diluar nikah.”
“Kampung kita akan terkena bencana.”
Rentetan kemarahan penduduk yang terdengar jelas. Membuat mata tajam Satria menatap tanpa berkedip sedikitpun.
Matanya terus mengawasi layar laptopnya. Dua orang perempuan dengan usia berbeda jauh diarak kampung.
Meskipun jarak kamera cukup jauh. Namun, Satria bisa merasakan ketakutan yang dirasakan oleh kedua perempuan itu.
“JANGAN SAKITI PUTRIKU!” teriak sosok perempuan paruh baya sambil memeluk putrinya.
Sosok itu adalah Mbah Sekar yang tenang memeluk erat Nimas. Mencoba melindungi putrinya yang tengah hancur jiwa dan raganya.
“PUTRIMU NIMAS ITU SUDAH BIKIN MALU KAMPUNG INI, SEKAR!”
Saat nama Nimas disebut. Tangan Satria terkepal kuat menahan emosi pada dirinya.
“PUTRIKU KORBAN ORANG TAK BERTANGGUNGJAWAB! DIA KORBAN,” teriak histeris Mbah Sekar tanpa sedikitpun melepaskan pelukan ke Nimas.
“USIR DIA!”
“TOLONG JANGAN SAKITI PUTRIKU! KAMI AKAN KELUAR DARI KAMPUNG INI. AKU MOHON TOLONG BIARKAN KAMI PERGI?” teriak Mbah Sekar kembali.
“KELUAR SEKARANG JUGA!”
Teriakan kembali terdengar yang ditujukan untuk Mbah Sekar beserta putrinya. Membuat Nimas, yang sebelumnya berlindung dalam pelukan Mbah Sekar menunjukkan wajahnya hingga tertangkap kamera.
Deg!
Satria langsung menghentikan rekaman video itu. Memperbesar gambar yang langsung tertuju pada wajah cantik Nimas.
Detak jantung yang sebelumnya berdetak tidak karuan. Kini semakin tak terkendali saat melihat wajah sembab serta luka di kening Nimas. Wajah yang samar-samar masuk ke ingatan tentang kejadian buruk 18 tahun lalu.
“Nimas? Jadi nama lengkap perempuan itu Nimas Ayu,” lirih spontan Satria.
Matanya kini kembali tertuju pada kalung inisial dua huruf yang diawali N. Salah satu barang bukti di malam kelam 18 tahun yang lalu. Kalung yang masih Satria pegang dan simpan hingga detik ini.
Tidak hanya tangan Satria terkepal erat meluapkan amarah yang tersimpan. Melainkan mata merah berkaca-kaca sebagai reaksi melihat video itu. Rasa sakit itu kembali terasa hingga menusuk jantung.
Meski terasa sangat sakit, Satria mencoba melanjutkan menonton video itu. Menyelesaikan video yang masih tersisa beberapa menit.
Tek.
Satria kembali memencet tombol laptopnya. Matanya kembali fokus pada video yang memperlihatkan video semakin bringas.
“BAKAR!”
“JANGAN SAMPAI ADA JEJAK MEREKA DI KAMPUNG INI!”
SRRR… BYUR!
Minyak tanah langsung disiram ke seluruh bangunan rumah Mbah Sekar oleh penduduk desa. Mbah Sekar maupun Nimas sama sekali tidak bisa berbuat apa-apa.
Yang terpenting bagi mereka cepat-cepat keluar dari desa itu. Mereka lebih memilih kehilangan harta benda dibandingkan nyawa.
“BAKAR!”
Obor yang menyala dilempar penduduk desa ke rumah Mbah Sekar. Karena rumah terbuat dari kayu serta siraman minyak tanah, membuat api langsung menyambar membakar keseluruhan bangunan.
TREK-TAK-TAK!
WUOOO.
Malam gelap dan tenang yang biasanya menghiasi desa. Kini berubah terang dengan kobaran api membumbung tinggi.
“Yeeeee!”
Prok… prok… prok!
“Memang gak pantas perempuan kotor itu berada di desa ini.”
Suara riuh penuh kegembiraan serta tepuk tangan memenuhi suara video itu. Tampak jelas jika rasa puas terlihat. Karena bisa meluapkan kekesalan dengan cara membakar rumah Mbah Sekar.
Satria yang masih fokus memperhatikan rekaman video itu hanya bisa memalingkan wajahnya. Rasa sesak dan leher tercekik membuat dirinya kesulitan bernapas. Tangannya terulur langsung mengambil botol air mineral di mejanya.
Srek…
Glek…
Tek!
Hanya sekali teguk air itu habis tak bersisa. Berharap rasa sesak itu menghilang meski terasa sangat sulit.
“Cukup Bu Siti!”
Video kompilasi antara tragedi 18 tahun dengan waktu sekarang. Membuat perhatian Satria teralihkan saat mendengar suara sosok perempuan muda. Sosok itu adalah Dira yang tengah dihina oleh Siti.
Olok-olokan serta hinaan yang diberikan oleh Siti untuk Dira diakhiri dengan kata-kata ‘Histeris setiap subuh’. Untaian kata-kata yang langsung mengunci Satria tentang kejadian itu.
Satria terdiam, jarinya mengetuk meja kayu. Pikirannya berkelana mencoba mengingat-ingat kejadian tempo dulu.
Tuk… tuk…!
Potongan video yang ditujukan untuk menghina sekaligus merendahkan Dira, beserta keluarganya sudah selesai. Meninggalkan pertanyaan yang saat ini menggelayuti pikiran Satria.
“Nimas histeris setiap subuh?” gumam Satria.
“Tunggu dulu. Bukankah kejadian itu terjadi sebelum subuh? Dan aku mulai tersadar saat pagi menjelang,” gumam Satria bertanya-tanya.
“Jadi, ada waktu kosong tepat sebelum subuh. Benar-benar masuk akal. Aku harus memastikan sendiri segala praduga ku ini,” ucap Satria sambil mengambil handphone miliknya. Satria ingin menghubungi bawahan lainnya.
“Malam, Ndan.”
“Intai dan pasang kamera cctv di alamat yang akan aku kirim. Lakukan sekarang juga!”
“Siap, Ndan.”
“Pastikan tidak ada satupun orang yang curiga.”
“Baik, Ndan. Tugas diterima.”
Satria mengirim alamat yang akan dipasang kamera cctv. Kamera pengintai yang terhubung langsung dengan handphonenya.
“Aku harus memastikan segala praduga tentang sosok Nimas. Apakah benar dia perempuan di malam sialan itu. Atau hanya kebetulan saja,” ucap Satria setelah meraup wajahnya.
Mencoba menghilangkan stres yang semakin kuat. Tangannya masih gemetar hingga tanpa sadar sudut matanya mengarah ke laci bawah lemari yang bagian atas berisi penghargaan.
Wajah merah padam serta tidak tenang yang sebelumnya menyelimuti Satria. Berubah menjadi sendu saat mengingat isi dari laci bagian bawah.
Sangat kontras dan berbanding terbalik. Karena di dalam laci itu tersembunyi barang bukti kejadian 18 tahun lalu yang juga menimpa dirinya.
“Barang itu?” gumam Satria sambil tersenyum pahit. Lalu mengangkat wajahnya menatap langit-langit ruang kerjanya.
Bukan tentang kalung berinisial N saja. Melainkan barang yang akan menimbulkan luka sekaligus kemarahan bagi siapapun yang terlibat.
Ceritanya keren 👍