Black Rose julukannya, ada tatto mawar hitam di punggungnya. Dia agen rahasia XpostOne 06 yang paling ditakuti. Sepak terjangnya terdengar sampai belahan dunia. menyamar sebagai jurnalis dan presenter hot news di sebuah televisi swasta milik ayahnya.
Kini ia ditugaskan untuk menangkap seorang pemb*nuh bayaran yang lari ke luar negeri. Konon pemb*nuh ini sangat licik dan dilindungi oleh sindikat bawah tanah.
Mampukah dia menangkap pemb*nuh itu atau dia malah terb*nuh?
*****
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.33. PULANG
Perasaan Qai sedikit melow saat menginjakan kaki di tanah air. Akhirnya bisa pulang, hampir saja ia tertembak malam itu, bersyukur bisa berkumpul kembali dengan XPostOne.
Adrian tertawa riang ketika mobil taxi meluncur menuju gedung XpostOne. Jhon Meyer menyambut Qai dan Adrian penuh haru.
"Come here, I'm grateful you're safe, we'll meet again." ucap Jhon Meyer terharu. Ia mengembangkan tangannya, matanya berkaca-kaca.
"Aku kangen...." hanya kata itu keluar dari bibirnya, Qai menangis. Dua tahun pergi baru kembali. Ia rindu teman-teman agen.
Jhon Meyer langsung mengambil Adrian dan menggendongnya. Anak itu tidak menangis tapi Jhon Meyer menitikan air mata. Wajah imut itu mirip seperti pria yang datang mencari Black Rose.
Berlin ini putramu...bisik Jhon Meyer dalam hati.
"Tampan dan gemesin, putramu mirip seperti seseorang." ucap Jhon Meyer berusaha memancing emosi Qai.
"Bos..jangan memancing kesedihan ku. Anak ku semangat hidup ku, tanpa dia mungkin aku sudah tiada dan menjadi s*mpah di Thailand."
"Aku hanya mengingatkan mu, manusia tidak ada yang sempurna sebaik apapun kau membawa diri, kadang takdir punya jalan untuk membelokan nasib mu. Tinggal kau bersikap, mau merubah nasib atau tidak?"
"Maaf bos jika waktu itu aku tidak terus terang dan malah lari ke Thailand. Aku punya pertimbangan berbeda dan tidak berani mengungkapkan masalah ini."
"Tidak apa-apa jangan merasa bersalah, aku tahu kau gadis yang punya prinsip dan apapun yang kau lakukan pasti sudah kau pikirkan efeknya. Zaman sekarang banyak yang single parent, tapi jika suatu hari ayahnya ingin bertanggung jawab terimalah, karena anak butuh figur ayah." ucap Jhon Meyer hati-hati.
"Aku tidak menginginkannya, jangan sampai bertemu atau ...ihh aku benci..."
"Sudah-sudah...jangan memendam benci nanti kau cepat tua. Kita bahas tentang kau di Thailand saja."
"Hahaha...aku merasa bos tahu sesuatu." ucap Qai menatap Jhon Meyer dengan cermat.
"Elehhh...kau ìni, ceritalah tentang Anurak apa dia terb*nuh?"
"Tertangkap police yang tertembak Agung dan aku, hampir m*ti untung pakai rompi anti peluru. Bos lihat sendirilah di layar monitor yang menembak Dewi. Kalau dia datang aku ingin tahu alasannya, apa gugup atau tidak sengaja, dasar s*mpah!"
"Kita disini semua kaget saat memonitor peristiwa malam itu. Seperti jebakan ntah bagaimana nasib Agung dan Dewi. Belum ada khabar kedua orang itu. Mungkin Dewi harus terus disitu tapi Agung harus kembali, selamat atau tidak selamat." sahut Jhon Meyer tersendat.
"Kirim satu orang kesana jika meninggal supaya bisa kebumikan dengan baik. Tapi jika masih hidup ajak pulang."
"Aku sudah koordinasi dengan kedutaan dan police disana supaya cepat dapat jawaban."
"Tunggu saja bos, aku mau cuti sebulan setelah itu kita akan rembug lagi. Banyak hal yang harus dibenahi.."
"Baiklah..tapi jika kau ingin resign karena sudah punya anak...pikirkanlah, karena kau seorang agen rahasia dan jiwamu sudah di XpostOne."
Mata Qai berkabut ia mengerti itu dan ada undang-undang yang mengharuskan dia terus mengabdi kecuali mati.
"Oke...senjata hilang semua, tinggal kaca mata. Aku butuh senjata Revolver, pisau putaw dan mobil Bentley anti peluru, aku punya firasat ada yang ingin nyawa ku. Nanti kalau senggang aku telpon."
"Teman adalah maut, siapapun yang ada disampingmu kau tetap jaga rahasia, baik itu anak atau suami. Hidupmu adalah milikmu."
"Baik bos..."
"Tanda tangan nota pemesanan, ntar lagi aku telepon Fikri supaya disiapkan apa yang kau minta..." ucap Jhon Meyer memberikan nota.
"Berarti Fikri yang menyiapkan?"
"Ya, dia sekarang bertugas di bagian logistik. Aku sebenarnya mau banyak bercerita, tapi kau pulang dulu kasihan Adrian, kapan-kapan mau ke apartemen setelah kau tenang."
"Jangan dulu bos aku lagi tertekan." sahut Qai mengambil Adrian dari gendongan Jhon Meyer.
"Aku mengerti...silahkan, Fikri sudah menyiapkan semuanya, kau boleh pergi."
"Trimakasih bos....aku akan mengajak salah satu agen yang free.."
"Oke pilihlah.. .hati-hati di jalan." ucap Jhon Meyer melambaikan tangan.
Di XpostOne Qai kedudukannya sudah tinggi, dia adalah orang nomer dua atau wakil Direktur. Tapi Qai low profile tidak arogan dan mau terjun ke lapangan.
"Kau sudah lama di XpostOne?" tanya Qai saat memilih Fatimah.
"Baru setahun masih tahap persiapan." jawab Fatimah.
"Oh pantas aku tidak mengenalmu, gimana aku memanggil?" tanya Qai lalu menyerah kan Adrian kepada Fatimah
"Nama ku Fatimah panggil saja Imah."
"Oke..kau akan ikut aku beberapa hari bukan sebagai pengasuh tapi aku melatih supaya kau sigap, seperti bodyguard."
"Aku mau belajar, terimakasih telah memilih ku."
"Apapun yang kau lihat dan dengar jangan sampai tahu orang ketiga. Remember to keep your mouth shut."
"Aku mengerti bos." ucap Fatimah.
*****