NovelToon NovelToon
Dari Perjodohan Yang Salah, Lahir Cinta Yang Benar

Dari Perjodohan Yang Salah, Lahir Cinta Yang Benar

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Perjodohan
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Uzumaki Amako

Sejak ibu kandungku meninggal, aku hidup sebagai orang asing di rumahku sendiri. Saat perjodohan datang, harapanku hancur ketika kakak tiriku merebut segalanya dan aku dipaksa menikah dengan pria lumpuh yang tak kukenal. Namun, dari perjodohan yang tidak adil itu, aku justru menemukan ketulusan dan cinta yang selama ini tak pernah kudapatkan. Ketika kebenaran terungkap dan masa laluku ingin mengklaimku kembali, aku harus memilih—kembali pada yang seharusnya, atau bertahan pada cinta yang telah menjadi rumahku.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uzumaki Amako, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 35

Hari itu seharusnya berjalan tenang.

Setelah semua perkembangan kecil tapi berarti yang kami lewati—latihan rutin, pijatan setiap malam, dan perubahan perlahan pada kaki Adrian—aku mulai percaya bahwa badai sudah mulai menjauh.

Tapi aku salah.

Badai itu… tidak pernah benar-benar pergi.

Sore itu langit tampak mendung. Angin berembus pelan, membawa suasana yang entah kenapa terasa tidak nyaman. Aku sedang di ruang tengah, merapikan beberapa catatan jadwal latihan Adrian, sementara dia berada di dekat jendela, duduk di kursi rodanya sambil membaca dokumen.

Rumah terasa tenang.

Terlalu tenang.

Sampai suara pintu depan terbuka tanpa aba-aba.

Aku langsung menoleh.

Bibi Ratna terlihat sedikit panik di belakang, seolah ingin menghentikan seseorang—tapi sudah terlambat.

Sepasang heels terdengar mengetuk lantai marmer.

Perlahan. Tegas. Penuh percaya diri.

Aku tidak perlu menebak siapa itu.

Vanessa.

Dia masuk seperti pemilik rumah.

Gaunnya hari ini berbeda—tidak terlalu mencolok, tapi justru itu yang membuatnya terlihat lebih “berbahaya”. Senyum tipis di bibirnya, mata tajam yang langsung menyapu ruangan… dan berhenti padaku.

“Wah…” katanya pelan, seolah menilai sesuatu.

“Rumahnya masih sama. Tapi suasananya… beda ya.”

Aku berdiri.

Jantungku berdetak lebih cepat, tapi aku memaksa diriku tetap tenang.

“Untuk apa kamu datang?” tanyaku langsung.

Dia tidak menjawab.

Sebaliknya, dia melangkah mendekati Adrian.

Dan—tanpa izin—menarik kursi di depannya lalu duduk.

“Aku datang menjenguk,” katanya santai.

“Bukannya itu hal yang wajar untuk… orang lama?”

Adrian tidak langsung menatapnya.

Tatapannya tetap pada dokumen di tangannya, tapi aku tahu… dia sadar.

Sangat sadar.

“Kalau sudah selesai menjenguk,” jawab Adrian dingin,

“pintu masih di tempat yang sama.”

Vanessa tertawa kecil.

“Masih dingin ya,” katanya.

“Padahal dulu… kamu nggak seperti ini ke aku.”

Aku melihat jari Adrian sedikit menegang di atas kertas.

Hanya sebentar.

Lalu kembali tenang.

“Dulu,” katanya pelan, “sudah lewat.”

Hening.

Tapi bukan hening yang damai.

Ini… hening yang penuh tekanan.

Vanessa akhirnya menoleh ke arahku lagi.

Dan kali ini, senyumnya berubah.

Lebih tajam.

Lebih… penuh maksud.

“Kamu,” katanya, “masih di sini rupanya.”

Aku menatapnya balik.

“Ini rumahku.”

Dia memiringkan kepala.

“Benarkah?”

Langkahnya ringan saat dia berdiri, lalu berjalan mendekatiku.

Aku tidak mundur.

Tidak kali ini.

Dia berhenti tepat di depanku.

Cukup dekat untuk membuatku mencium aroma parfumnya yang kuat.

“Kamu tahu,” katanya pelan,

“aku selalu penasaran… apa sih yang kamu lakukan sampai bisa bertahan di sini?”

Aku tidak langsung menjawab.

“Karena setahuku…” lanjutnya,

“kamu dulu bahkan tidak berani menatap orang.”

Aku tersenyum tipis.

“Orang bisa berubah.”

Matanya menyipit.

“Berubah?” dia mengulang.

“Atau… berpura-pura?”

Aku tidak terpancing.

“Kalau kamu datang hanya untuk bicara seperti ini,” kataku,

“lebih baik kamu pergi.”

Dia diam.

Beberapa detik.

Lalu—tiba-tiba—dia tertawa.

Pelan… tapi jelas mengejek.

“Menarik,” katanya.

“Benar-benar menarik.”

Dia mundur selangkah.

Lalu menatap Adrian.

“Sepertinya,” lanjutnya,

“istri barumu ini… jauh lebih berani dari yang aku ingat.”

Adrian akhirnya mengangkat wajahnya.

Tatapan dingin itu langsung mengarah ke Vanessa.

“Kalau kamu datang untuk menguji dia,” katanya,

“kamu salah tempat.”

Vanessa tidak langsung menjawab.

Tapi aku melihat sesuatu di matanya.

Bukan sekadar ejekan.

Ini… rencana.

“Bukan menguji,” katanya akhirnya.

“Hanya memastikan.”

“Memastikan apa?” tanyaku.

Dia menoleh padaku.

Dan kali ini… senyumnya benar-benar tipis.

“Bahwa semua yang terlihat indah…”

“…biasanya punya celah.”

Dadaku terasa sedikit sesak.

Aku tahu maksudnya.

Dia tidak datang tanpa tujuan.

Dia sedang… memancing.

“Atau mungkin,” lanjutnya,

“aku hanya ingin melihat… seberapa kuat kamu bertahan saat semuanya mulai retak.”

Aku mengepalkan tangan.

“Kamu tidak akan berhasil.”

Dia tersenyum lagi.

“Kita lihat saja.”

Vanessa berjalan menuju pintu.

Tapi sebelum keluar, dia berhenti.

Tanpa menoleh.

“Aku dengar,” katanya santai,

“ada beberapa orang yang mulai tertarik dengan… masa lalu keluargamu.”

Jantungku langsung berdetak keras.

Dia tahu.

Atau… dia yang menyebarkan?

“Dunia itu kecil,” lanjutnya.

“Rahasia juga… tidak selamanya tersembunyi.”

Pintu terbuka.

Dan sebelum dia benar-benar pergi, dia menambahkan—

“Jaga apa yang kamu punya… selagi masih bisa.”

Klik.

Pintu tertutup.

Dan rumah kembali sunyi.

Aku tidak langsung bergerak.

Kakiku terasa kaku.

Pikiranku penuh.

Apa maksudnya tadi?

Masa lalu keluarga…?

Apakah dia bekerja sama dengan Celine?

Atau… ini bagian dari rencana mereka?

“Alina.”

Suara Adrian memanggilku.

Pelan.

Aku menoleh.

Dia sedang menatapku.

Tatapan itu… tidak dingin seperti biasanya.

Lebih dalam.

“Dia tidak akan berhenti,” katanya.

Aku mengangguk pelan.

“Aku tahu.”

Aku berjalan mendekat.

Duduk di depannya.

Untuk beberapa detik, kami hanya saling diam.

Lalu aku berkata—

“Aku juga tidak akan mundur.”

Adrian menatapku lebih lama.

Seolah memastikan sesuatu.

“Kalau dia menyerang,” lanjutku,

“aku akan hadapi.”

“Bukan sendiri,” jawabnya.

Aku sedikit terdiam.

Lalu tersenyum tipis.

“Ya,” kataku pelan,

“bukan sendiri.”

Tanganku perlahan menyentuh tangannya.

Hangat.

Nyata.

Dan kali ini…

aku benar-benar sadar.

Ini bukan lagi tentang bertahan.

Ini tentang… melawan.

Dan Vanessa—

Sudah memulai langkahnya.

Malam itu tidak lagi terasa seperti malam biasa.

Setelah kepergian Vanessa, suasana rumah berubah… bukan karena suara, tapi karena perasaan yang tertinggal. Kata-katanya seperti menggantung di udara, menekan tanpa terlihat.

Aku duduk di tepi tempat tidur, masih mengenakan pakaian yang sama sejak sore. Tanganku diam di pangkuan, tapi pikiranku tidak berhenti berputar.

Masa lalu keluargaku…

Kenapa dia membawa itu?

Dan bagaimana dia tahu?

“Alina.”

Suara Adrian dari arah pintu membuatku sedikit tersentak. Aku tidak menyadari sejak kapan dia masuk ke kamar.

Dia tidak langsung mendekat.

Hanya berdiri beberapa langkah dariku, memperhatikan.

Aku mengangkat wajah.

“Aku nggak apa-apa,” kataku cepat, bahkan sebelum dia bertanya.

Dia tidak langsung percaya.

Aku bisa melihatnya dari tatapannya.

“Kamu tidak terlihat seperti itu.”

Aku tersenyum kecil, lelah.

“Cuma… mikir.”

Dia perlahan mendekat, lalu berhenti di depanku.

“Dia sengaja bilang seperti itu,” katanya tenang.

“Untuk bikin kamu goyah.”

Aku menunduk sebentar.

“Aku tahu…”

Tapi mengetahui dan merasakan… itu dua hal yang berbeda.

“Aku cuma nggak suka,” lanjutku pelan,

“kalau dia mulai masuk ke hal-hal yang… seharusnya nggak dia sentuh.”

Adrian diam.

Lalu—

“Apa ada sesuatu yang memang bisa dia pakai?” tanyanya langsung.

Aku sedikit terkejut.

Bukan karena pertanyaannya kasar.

Tapi karena… jujur.

Aku menarik napas.

“Ada,” jawabku akhirnya.

Hening sejenak.

“Aku nggak pernah cerita semuanya ke kamu,” kataku.

Dia tidak memotong.

Tidak juga mendesak.

Hanya menunggu.

“Ayahku…” aku berhenti sebentar, mencari kata,

“bukan orang yang… bersih.”

Tatapan Adrian berubah sedikit.

Lebih fokus.

“Banyak keputusan bisnisnya… yang sebenarnya nggak sepenuhnya benar,” lanjutku.

“Dan dulu… itu hampir jadi masalah besar.”

Aku menggenggam tanganku sendiri.

“Aku pikir semuanya sudah selesai,” bisikku.

“Tapi kalau Vanessa mulai cari…”

“Dia akan menemukannya,” potong Adrian pelan.

Aku mengangguk.

Rasanya pahit mendengarnya diucapkan.

Tapi itu kenyataan.

“Kamu takut?” tanyanya.

Aku terdiam.

Lalu… mengangguk.

“Iya.”

Ini pertama kalinya aku mengakuinya tanpa menutupi.

“Aku takut bukan karena diriku,” lanjutku,

“tapi karena… ini bisa berdampak ke kamu juga.”

Hening.

Lalu—

Adrian mengulurkan tangannya.

Perlahan.

Menggenggam tanganku.

“Kamu pikir aku belum pernah menghadapi hal seperti itu?” katanya.

Aku mengangkat wajah.

Tatapannya tenang.

Tapi kuat.

“Dunia yang aku jalani…” lanjutnya,

“nggak pernah bersih.”

Aku terdiam.

“Kita nggak bisa mengontrol apa yang orang lain bongkar,” katanya lagi,

“tapi kita bisa menentukan bagaimana kita berdiri saat itu terjadi.”

Jantungku berdetak sedikit lebih tenang.

Aneh.

Hanya dengan kata-katanya.

“Jadi…” aku menatapnya,

“kita tunggu saja?”

Dia menggeleng pelan.

“Tidak.”

Aku mengernyit.

“Kita bersiap.”

Keesokan paginya, suasana rumah berubah drastis.

Bukan karena panik.

Tapi karena… strategi.

Adrian mulai menghubungi beberapa orang kepercayaannya.

Nada suaranya kembali seperti dulu—tegas, dingin, penuh kontrol.

Aku duduk di dekatnya, mendengarkan sebagian percakapan.

“…cek ulang semua arsip lama.”

“…aku mau tahu siapa saja yang sudah akses.”

“…dan pastikan tidak ada yang bocor tanpa aku tahu.”

Dia menutup telepon.

Lalu menatapku.

“Kalau Vanessa bergerak,” katanya,

“aku mau tahu dari mana dia mulai.”

Aku mengangguk.

Untuk pertama kalinya, aku tidak merasa hanya sebagai “orang yang dilindungi”.

Aku… ikut berdiri di sini.

“Kalau dia pakai Celine…” gumamku.

“Dia pasti pakai,” potong Adrian.

Aku menghela napas pelan.

“Berarti… mereka sudah siap.”

Adrian menatapku.

“Sekarang giliran kita.”

Sore harinya, sesuatu benar-benar terjadi.

Bukan serangan besar.

Tapi… cukup untuk membuatku mengerti arah permainan mereka.

Sebuah pesan masuk ke ponselku.

Nomor tidak dikenal.

Aku membuka.

Dan jantungku langsung terasa jatuh.

Itu foto.

Foto lama.

Sangat lama.

Aku… dan keluargaku.

Di depan sebuah gedung perusahaan lama ayahku.

Tapi itu bukan yang membuatku terdiam.

Melainkan… tulisan di bawahnya.

“Menarik ya… bagaimana keluarga sederhana bisa tiba-tiba naik begitu cepat.”

Tanganku gemetar.

Aku tahu ini.

Ini bukan sekadar ancaman.

Ini… pembuka.

Pesan berikutnya masuk.

“Kita mulai dari yang ringan dulu.”

Aku menutup layar.

Napas terasa berat.

Adrian yang melihat langsung mendekat.

“Apa?”

Aku menunjukkan ponselku.

Dia membaca.

Dan ekspresinya langsung berubah dingin.

Lebih dingin dari biasanya.

“Mereka mulai,” katanya pelan.

Aku menggigit bibir.

“Ini baru awal…”

Dia mengangguk.

“Ya.”

Hening sejenak.

Lalu—

Dia menatapku.

“Kamu masih mau maju?”

Pertanyaan itu sederhana.

Tapi… berat.

Aku menarik napas panjang.

Mengingat semua yang sudah terjadi.

Semua yang sudah kulalui.

Dan semua yang ingin mereka hancurkan.

Aku mengangkat kepala.

Menatap Adrian.

“Kali ini…” kataku pelan tapi pasti,

“aku nggak akan mundur.”

Untuk pertama kalinya—

Aku tidak hanya bertahan.

Aku siap menghadapi.

Dan di luar sana—

Vanessa mungkin sedang tersenyum.

Karena permainannya sudah dimulai.

Tapi dia lupa satu hal.

Aku bukan lagi Alina yang dulu.

Dan kali ini—

Aku tidak akan jatuh semudah yang dia kira.

1
Siti Jubaedah
trima kasih karyanya semoga lebih semangat membacanya...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!